Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Seminggu berlalu. Hari ini, ibu mertua Dian bersiap kembali ke Batam karena dua hari lagi Arif dan Nuri akan melangsungkan pernikahan.
Sejak pagi, perasaan Dian terasa ganjil. Ia heran—tak ada ajakan, bahkan sekadar pemberitahuan resmi untuknya ikut menghadiri pernikahan adik iparnya. Malam sebelumnya, dengan mengumpulkan keberanian, Dian akhirnya bertanya.
“Bu, Dian ikut ya… Dian juga ingin menghadiri pernikahan Arif,” ucapnya pelan, nyaris ragu.
Bu Minah langsung mendelik tajam.
“Loh, sejak kapan saya ngajak kamu? Memangnya saya pernah bilang mau ajak kamu?” katanya ketus. “Sudah, kamu di rumah saja. Jangan aneh-aneh. Andi juga tidak bisa datang, katanya sibuk. Ini saja ibu minta sepupu lain,” lanjutnya tanpa memberi ruang bagi Dian untuk bicara.
“Ta— tapi, Bu…” Dian belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Bu Minah keburu berlalu. Mobil penjemput sudah tiba.
Dian hanya berdiri mematung. Ada rasa sedih yang menekan dadanya, namun bersamaan dengan itu, muncul pula kecurigaan yang sulit ia tepis—seakan ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya.
Ponsel Dian berdering, memecah lamunannya. Ia segera mengangkat panggilan itu.
“Assalamualaikum, Bu,” ucap Dian lirih.
“Waalaikumsalam. Gimana kabarmu, Nak?” suara Bu Eni terdengar hangat di seberang sana.
“Alhamdulillah, Bu. Semua baik,” jawab Dian.
“Oh iya, hari ini kamu sibuk nggak?” tanya Bu Eni hati-hati.
“Enggak, Bu. Ada apa?” Dian mulai penasaran.
“Kalau bisa hari ini kamu ke bank ya, buat rekening baru. Tanah kita sudah laku, Nak,” ujar Bu Eni pelan namun tegas.
Dian langsung terdiam. “Ibu nggak usah repot-repot, Bu. Uangnya ibu simpan saja,” katanya menolak halus.
“Tidak, Ian. Kamu yang harus simpan. Ibu sudah membaginya. Kamu tenang saja,” jawab Bu Eni penuh keyakinan.
Dian menarik napas dalam-dalam. “Baiklah, Bu. Nanti Dian kabari lagi,” ujarnya akhirnya.
Telepon pun berakhir, meninggalkan Dian dengan perasaan campur aduk—haru, cemas, sekaligus sedikit lebih kuat dari sebelumnya.
Setelah bersiap, Dian menggendong Naya dan melangkah keluar rumah. Ia hendak menutup pagar ketika tiba-tiba terdengar suara memanggilnya.
“Eh, Dian,” sapa Bu Ningsih, tetangga samping rumah.
“Iya, Bu,” jawab Dian singkat sambil menoleh.
“Mau ke mana kamu? Oh iya, kemarin anak ibu dapat undangan dari kantornya si Arif. Mau nikah, ya, Ian?” tanya Bu Ningsih santai.
Ucapan itu membuat dada Dian terasa sesak. Ada perih yang tiba-tiba menyelusup, sebab orang lain justru tahu dan diundang, sementara dirinya tidak. Namun Dian memilih menahan perasaan itu. Ia tak ingin larut dalam kesedihan di depan orang lain.
“Iya, Bu, benar,” jawabnya tetap sopan. “Maaf ya, Dian pergi dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Dian segera menutup pagar dan melajukan motornya, meninggalkan pertanyaan dan perasaan yang bergemuruh di dadanya.
Sesampainya di bank, suasana tampak cukup ramai. Dian menghela napas pelan sambil menurunkan Naya dari gendongan dan menggendongnya kembali dengan lebih nyaman.
Seorang satpam menghampiri.
“Mau ke bagian apa, Bu?” tanyanya ramah.
“Mau buka rekening baru, Pak,” jawab Dian sopan.
“Silakan ambil nomor antrean dulu, Bu, di mesin sana,” ujar satpam sambil menunjuk ke arah mesin antrean.
Dian mengangguk, lalu melangkah sesuai arahan. Ia menekan tombol pada mesin antrean, mengambil secarik kertas bernomor, lalu mencari kursi kosong di ruang tunggu.
Sambil duduk, Dian mendekap Naya yang mulai gelisah. Ia menatap sekeliling—orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Dalam hati, Dian berharap urusannya hari ini berjalan lancar, sebab langkah kecil ini terasa begitu penting bagi masa depannya dan Naya.
Pukul sebelas siang, semua urusan Dian di bank akhirnya selesai. Ia melangkah keluar dengan perasaan lega, seolah ada beban yang perlahan terangkat dari dadanya.
Dian menatap Naya yang ada dalam gendongannya, lalu tersenyum tipis.
“Yuk, Nak… kita makan bakso,” ucapnya lembut.
Hari ini ia ingin menikmati waktu sederhana bersama putrinya—tanpa omelan mertua, tanpa sikap dingin suami. Hanya ia dan Naya.
Sesampainya di warung bakso langganan, Dian memilih duduk di pojok. Semangkuk bakso hangat terhidang di hadapan mereka. Naya tampak antusias, matanya berbinar melihat mangkuk di depan ibunya.
“Bakso, Bu,” ujar Naya riang.
“Iya, sayang,” jawab Dian sambil tersenyum.
Di tengah kesederhanaan itu, Dian merasa tenang. Untuk sesaat, ia lupa pada semua luka dan kekecewaan. Ia hanya menikmati hari—hari kecil yang terasa begitu berarti, hanya bersama anak yang menjadi alasannya untuk terus kuat.
Sesampainya di rumah, Dian langsung mengabari ibunya bahwa rekening baru sudah berhasil dibuat. Ia menarik napas lega, setidaknya kini ia memiliki pegangan untuk masa depan—sesuatu yang benar-benar atas namanya sendiri.
Tak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Sinta masuk.
Sinta mengabarkan bahwa adiknya juga mendapat undangan pernikahan Arif karena mereka berada di satu divisi di kantor. Membaca pesan itu, hati Dian terasa nyeri sesaat. Ia tersenyum getir—orang lain diundang, sementara ia yang masih berstatus keluarga justru tak pernah dilibatkan.
Namun Dian memilih membalas singkat dan seadanya.
“Iya, Sin,” hanya itu yang ia ketik.
Ia memang tidak tahu apa-apa, dan tak ingin ikut campur dalam urusan yang sejak awal tak pernah melibatkannya. Dian meletakkan ponsel, lalu menatap Naya yang tengah bermain di lantai.
Dalam hati ia berbisik pelan, Tak apa, Dian. Fokus saja pada hidupmu dan anakmu.
Saat sedang bersantai menemani Naya, notifikasi ponsel Dian kembali berdenting satu per satu. Beberapa pelanggan menanyakan hal yang sama—apakah cilok dan cireng masih tersedia.
Dian menatap layar cukup lama. Tubuhnya terasa lelah, kepalanya masih berat sejak semalam kurang tidur, namun di sisi lain ia tahu inilah sumber penghidupan yang bisa ia andalkan tanpa bergantung pada siapa pun.
Akhirnya ia menarik napas pelan dan membalas satu per satu pesan pelanggan.
“Ready ya, Kak. Stok terbatas.”
Keputusan itu ia ambil dengan setengah ragu. Beberapa bahan memang sudah habis, tapi Dian berpikir untuk kali ini ia akan meminta kurir langganannya sekalian membelikan bahan yang kurang. Ia benar-benar tak punya tenaga untuk keluar rumah lagi.
Dian menyandarkan punggung, memejamkan mata sejenak.
Sedikit lagi saja, batinnya menguatkan diri.
Ia tahu, lelah ini bukan alasan untuk menyerah—terutama ketika ada Naya yang selalu menjadi alasannya bertahan.
Sore itu, setelah memandikan Naya dan memastikan semua pesanan yang tadi diantar kurir sudah tertata rapi, Dian menghela napas panjang. Tubuhnya terasa remuk, pikirannya pun lelah. Malam ini aku lembur lagi, batinnya lirih. Namun sebelum memikirkan pekerjaannya, satu hal tetap menjadi prioritas—Naya harus makan dan tidur lebih dulu.
Saat Dian sibuk menata belanjaan di atas meja dapur, langkah kecil Naya menyusulnya. Anak itu menatap ibunya dengan wajah polos.
“Ibu… makan, ibu makan,” ucap Naya pelan.
Hati Dian langsung menghangat. Ia menoleh dan tersenyum lembut.
“Iya, sebentar ya, Nak. Ibu buatkan telur goreng dulu,” jawabnya sambil mengusap kepala Naya penuh sayang.
Meski lelah, Dian tetap bergerak ke kompor. Bagi dirinya, lelah bisa ditunda—asal anaknya kenyang dan tenang.
Setelah salat Isya, Naya sudah terlelap di kamar. Inilah waktu Dian kembali bergulat dengan pekerjaannya—mencari rezeki saat dunia kecilnya tertidur tenang.
Malam ini ia bertekad membuat delapan kilogram cilok dan cireng. Ia menarik napas dalam, merapikan jilbab seadanya, lalu melangkah ke dapur yang kini menjadi saksi perjuangannya setiap malam.
Sebelum mulai menguleni adonan, Dian lebih dulu menyiapkan saus. Ia memilih membuat saus kacang dan saus rujak terlebih dahulu, agar nanti pekerjaannya lebih teratur. Kacang tanah disangrai hingga harum, cabai dihaluskan, gula merah disisir pelan—semuanya ia kerjakan dengan telaten. Tangannya bergerak cepat namun hati-hati, seolah setiap adukan membawa harapan.
Di sela bunyi sendok yang beradu dengan wajan, Dian melirik ke arah kamar. Ia memastikan Naya tetap tertidur nyenyak.
“Bismillah,” gumamnya pelan.
Malam kembali panjang, tapi Dian sudah terbiasa. Selama ada Naya dan harapan akan hari esok yang lebih baik, lelah bukan alasan untuk berhenti.
Pukul satu dini hari, semua akhirnya rampung. Dian mengemas satu per satu dengan rapi, memastikan setiap plastik tertutup sempurna sebelum disusun ke dalam freezer.
“Besok tinggal posting saja… alhamdulillah, semua sudah ready,” lirihnya, hampir tak terdengar.
Ia merapikan meja dapur, mengumpulkan peralatan yang berserakan, lalu membawanya ke tempat cuci piring. Tangannya bekerja meski tubuhnya terasa sangat lelah. Setelah semuanya bersih, Dian mengambil sapu, menyapu lantai dapur, lalu mengepel hingga tak ada sisa adonan atau cipratan air.
Dapur kembali rapi dan sunyi.
Dian berdiri sejenak, mengusap keringat di pelipis, lalu menatap sekeliling.
“Gak apa-apa… besok bangun siang,” ucapnya pelan, mencoba menghibur diri.
Ia mematikan lampu dapur, melangkah menuju kamar dengan langkah berat namun hati sedikit lega. Malam ini ia sudah berusaha sekuat tenaga—untuk Naya, dan untuk hari esok yang ia harapkan akan lebih baik.