"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runi di rawat
"Kondisi bayinya baik-baik saja, tetapi Runi harus menjalani rawat inap untuk beberapa hari, agar kondisinya benar-benar pulih."
"Aku udah nggak apa-apa, Bang. Aku ingin pulang saja," ucap Runi tak ingin di rawat.
"Jangan membantah, Runi. Semua demi kebaikan kamu dan si bayi. Dan aku minta setelah pulih nanti, jangan berhubungan b4dan dulu. Karena kandungan Runi sangat lemah," jelas dokter Vano.
Yandra mengangguk paham. "Baik, Bang. Sekarang lakukan saja yang terbaik untuk Runi dan bayinya."
"Baiklah, kalau begitu sebentar lagi Runi akan di pindahkan ke ruang RANAP."
Vano keluar sebentar menemui suster untuk menyediakan kamar rawat inap untuk Runi.
Sementara itu Yandra masih menemani Runi di dalam ruang praktek dokter Vano. Kejadian beberapa menit yang lalu membuat pasangan itu menjadi canggung. Yandra tidak menyangka ia kembali tergoda oleh sang istri. Bahkan percintaan itu terasa lebih syahdu, karena mereka saling menikmati satu sama lain.
"Mas, aku mau minum," ucap Runi dengan suara serak.
"Ah, baiklah." Yandra segera mengambil air mineral, lalu membantu Runi untuk minum.
"Apakah perut kamu masih sakit?" Tanya Yandra.
Runi menggelengkan kepala. "Alhamdulillah sudah nggak sakit lagi, Mas."
"Syukurlah. Aku harap kamu jangan seperti tadi lagi. Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali," ujar Yandra memperingatkan agar Runi tak lagi menggodanya.
Runi tersenyum lembut. "Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah menyesali, Mas. Terimakasih mas sudah baik sama aku."
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Emangnya selama ini aku tidak baik?" protes Yandra.
"Sebenarnya mas itu adalah lelaki baik yang pernah aku temui. Pertama kali aku datang ke rumah, mas adalah teman yang aku punya. Karena saat itu aku merasa canggung karena baru pertama kali berpisah dengan kedua orangtua. Aku merasa nyaman karena ada mas Yandra yang selalu menghiburku. Tetapi kejadian malam itu membuat semuanya berubah. Maaf jika aku harus masuk kedalam kehidupan kamu, mas. Aku tahu cinta tidak bisa di paksakan," ungkap Runi dengan suara tercekat.
Yandra menghela nafas pelan. Perlahan tangannya mengusap kepala Runi dengan lembut. "Jangan menangis, semua sudah menjadi takdir. Jalani saja bagaimana semestinya."
Runi mengangguk sembari mengusap air matanya. "Mas, jika nanti mas pergi ke kota Medan, apakah mas akan memberiku kabar?" tanyanya menatap sendu.
"Tentu saja aku mengabarimu. Sudahlah, jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu di pikirkan," timpal lelaki itu.
"Tapi bagi aku sangat penting. Aku hanya takut tidak ada lagi yang akan membela aku jika papa tidak di rumah. Biasanya kan mas Yandra," imbuh wanita itu.
Yandra tersenyum mendengar ucapan Runi. "Aku rasa kamu tidak butuh perlindungan aku. Karena tanpa aku kamu bisa mengatasi mama dan Gracia. Bahkan kata-kata mama dengan mudah kamu hentikan, karena kamu sudah memiliki kunci kelemahan mama. Yaitu tuan Saga," ujarnya sudah paham sekali senjata yang di gunakan oleh Runi setiap menghadapi sikap mama yang julid.
Runi terkekeh kecil mendengar ucapan Yandra. "Bukankah mas juga sama?"
"Ya, bahkan aku dapat ilmunya dari kamu," jawab Yandra ikut terkekeh.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Runi di pindahkan ke ruang RANAP. Yandra pamit ke luar untuk membeli makanan.
Setelah Yandra pergi, dokter Vano menghampiri Runi. Rasanya ia tidak sanggup bila harus menutupi masalah serius yang tengah di hadapi oleh Runi.
"Runi, Abang rasa kita tidak perlu lagi menutupi ini semua. Keluarga harus tahu penyakit yang tengah kamu derita," ucap Vano meminta pengertian adik iparnya itu.
"Bang, aku mohon jangan sekarang. Karena aku takut semua keluarga akan setuju untuk menggugurkan kandungan aku. Aku ingin bayiku tetap hidup, bang. Rasanya jahat sekali bila aku harus menyingkirkannya, apalagi penyakit aku sudah sangat parah seperti ini. Biarkan bayiku tetap hidup Bang, aku mohon." Runi memohon pada sang kakak.
"Tapi mau sampai kapan, Runi? kondisi kamu semakin melemah. Dan jika terjadi sesuatu padamu, maka Abang yang akan di salahkan oleh keluarga."
"Biarkan kandungan aku berusia lima bulan, nanti setelah itu kasih tahu keluarga tentang penyakit aku."
Vano menghela nafas dalam. Ia tak sampai hati melihat wajah Runi sendu dan memohon.
"Baiklah, Abang akan coba untuk menahannya. Tapi Abang tidak janji bila sewaktu-waktu kamu harus menjalani tindakan, dan semua keluarga harus tahu semua ini."
Runi mengangguk. Ia berdoa agar kandungan tetap kuat dan fisiknya mampu bertahan beberapa bulan ini.
Yandra masuk kedalam ruang rawat Runi. Terlihat Vano masih betah duduk di sana. Entah apa yang tengah di bicarakan oleh kedua ipar itu.
"Ayo makan, Bang." Yandra membuka makanan yang sengaja ia beli untuk Vano juga. Yakin sekali Vano juga melewatkan makan malamnya, karena terburu-buru harus balik ke RS.
"Tahu aja kalau aku lagi laper," jawab Vano tak menolak. Ia segera menerima.
"Ya tahulah, kan nggak sempat makan malam," jawab Yandra sembari menyediakan makan untuk Runi.
"Ayo makan dulu buburnya." Yandra menyerahkan bubur ayam yang sengaja ia beli untuk Runi.
"Ini terlalu banyak porsinya, mas. Nanti aku tidak habis," ujar Runi.
"Nggak pa-pa, nanti biar aku yang ngabisin," jawab Yandra membuat Runi menatap tak percaya.
"Emangnya kamu sanggup ngabisin? Itu porsi makan kamu sebegitu banyaknya," timpal Vano tidak yakin.
"Ya sangguplah. Perut aku itu kayak karet, tapi senengya makan banyak tidak membuat badan gemuk," jawab Yandra bangga pada dirinya sendiri.
"Nggak usah sombong, kalau begitu terus porsi makan kamu, nggak yakin aku badanmu tetap ideal."
"Hahaha.... Bodo amat. Yang penting perut aku kenyang." Yandra menanggapi dengan kekehan.
Runi hanya tersenyum mendengar celotehan kedua lelaki itu. Ia senang karena bisa melihat senyum dan tawa Yandra lagi. Sejak masalah terjadi diantara mereka, senyum Yandra sempat hilang.
Bersambung....