"DAVINNNN!" Suara lantang Leora memenuhi seisi kamar.
Ia terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang terasa aneh.
Selimut tebal melilit rapat di tubuhnya, dan ketika ia sadar… sesuatu sudah berubah. Bajunya tak lagi terpasang. Davin menoleh dari kursi dekat jendela,
"Kenapa. Kaget?"
"Semalem, lo apain gue. Hah?!!"
"Nggak, ngapa-ngapain sih. Cuma, 'masuk sedikit'. Gak papa, 'kan?"
"Dasaaar Cowok Gila!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan
Davin pun duduk kembali di kursi rodanya. Ia membiarkan Leora pergi kali ini, setidaknya sampai Leora meredam amarahnya.
"Oh iya, Bi... Kalian datangnya cepat banget. Apa enggak ada kendala sebelumnya?" tanya Davin, baru sempat membahas hal itu.
"Aman Den. Bibi ikutin semua intruksi Aden waktu di Rumah Sakit" ucap Bi Marni, jujur.
Davin mengangguk, namun masih ada gurat penasaran di wajahnya. "Emang, di sana gak ada yang coba halangi Bibi?"
"Ada Den. Satu orang. Katanya sih, pacarnya Non Leora itu"
Davin terdiam sebentar. Ada sesuatu yang janggal dari cara bicara Bi Marni.
"Satu orang?" ulang Davin, memastikan.
Bi Marni mengangguk, tangannya sibuk membereskan sesuatu di meja makan.
"Bibi yakin, enggak ada orang lain lagi di sana? Bibi enggak salah tempat kan?"
"Yakin, Den. Kalo Bibi salah tempat, mungkin Non Leora gak akan Bibi bawa pulang."
Benar juga.
Namun, tetap saja hal itu sedikit mengganggu pikirannya.
Davin yakin, tempat itu adalah tempat yang sama beberapa waktu lalu yang sempat ia datangi. Ya, basecamp Rey. Tidak mungkin, pria itu hanya sendirian di sana. Tidak, setelah Davin menyaksikannya sendiri waktu itu.
"Den? Apa ada yang salah?" kata Bi Marni, kembali bertanya.
"Iya, Bi. Tapi kayaknya, gak akan terjawab kalo aku cuman berdiam diri di sini"
Davin segera beranjak dari kursi rodanya. Ia berjalan sedikit tertatih. Sambil membawa infusan, Davin melangkah menuju ke kamar Leora.
"Den–" Bi Marni sempat melarang. Tapi, langkah Davin sudah mantap.
Saat tiba di depan kamar. Pintu terkunci, suara musik begitu keras memenuhi ruangan.
Davin menggedor dengan sebelah tangannya.
Suara itu cukup keras, namun Leora tetap tak keluar.
"Leora!!!" Davin meneriaki namanya.
Bi Marni menyusul dari belakang. "Den–"
"Suruh dia buka pintu Bi. Telepon sekarang!" ucap Davin lantang.
Mendengar suara Davin yang tegas, Bi Marni tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintahnya.
Nada dering menggema di kamar Leora. Panggilan pertama, tidak dijawab. Lalu, kedua kalinya...
Suara musik di dalam terdengar mengecil.
Leora mengangkat telepon, bersamaan dengan itu Davin kembali menggedor pintu kamar.
"Bi? Ada apa?" tanya Leora.
Belum sempat Bi Marni menjawab. Suara tegas Davin membuat Leora muak.
"Ngapain lagi sih? Lo gak bisa ya, bikin gue tenang sebentar aja?" kata Leora, berteriak.
"LEORA. BUKA PINTUNYA!!!"
"Enggak."
"Gue dobrak."
"Kalo bisa–"
Rahang Davin mengeras. Hari itu benar benar membuatnya lelah sekaligus khawatir.
"Lo mau, gue lapor ke orang tua gue, atau lo turut–" ucapannya terhenti ketika Leora berdiri di depannya.
Pintu sudah terbuka. Ancaman itu membuat Leora ketakutan.
"Apa lagi, hah?!" tanya Leora dingin, tangan di lipat dengan santai.
"Lo ngapain berduaan sama Rey di basecamp?" selidik Davin.
Leora enggan menjawab. Ia membuang muka, malas.
Lalu, ia memilih masuk lagi ke kamarnya dengan tenang, tanpa menutup pintu. Seakan membiarkan Davin untuk mengikutinya.
"Leora?"
"Mau gue jawab jujur, apa gimana?" kata Leora, dingin.
Davin mengikuti. Bi Marni kembali ke dapur. Hawanya berbeda. Sepertinya memang ada hal serius yang sedang mereka bicarakan.
"Duduk." Kata Leora, menepuk seprai di sebelahnya.
"Jangan bilang kalo kalian–"
"Apa?"
"Kalian enggak segila itu kan?" tanya Davin, wajahnya memerah karena menahan amarah.
"Ya... Menurut lo kalau ada pasangan berduaan–"
"CUKUP!" Davin menggertak.
"Katanya, lo mau gue cerita. Tapi lo sendiri yang gak siap"
Darah Davin mendesir lebih deras dari biasanya. Memang benar, mereka menikah atas kemauan orang tua. Tapi, melihat Leora seperti ini, justru membuat Davin murka.
"Lo boleh gak anggap gue suami. Lo boleh anggap gue gak ada. Tapi, satu hal. SAYANGI DIRI LO, LEORA." tegas Davin, lebih ke peringatan tegas.
"Gue sayang kok sama diri gue sendiri. Makannya gue lakuin hal itu"
"Lo udah gila?"
"Lo cemburu?" selidik Leora.
Davin tertawa tipis, "Cemburu?"
"Buktinya lo semarah itu?"
"Leora. Gue gak ada waktu buat cemburu. Gue cuma gak suka kalo lo gegabah!"
“Gegabah gimana?” Leora menantang, “Gue gak ngelakuin hal ilegal. Gue gak nyakitin siapa-siapa.”
“Lo nyakitin diri lo sendiri,” balas Davin cepat. “Dan itu jelas.”
Leora tertawa kecil, “Lucu ya. Baru sekarang lo ngerti.”
Davin terdiam. Kalimat itu seperti pisau kecil yang menusuk tepat di titik paling rapuh.
“Sejak kapan lo ngerasa gue gak peduli?” suaranya turun, bukan lagi bentakan.
“Sejak awal,” jawab Leora tanpa ragu. “Sejak pernikahan ini cuma jadi formalitas. Sejak tiap hari kita hidup kayak dua orang asing di satu rumah.”
Davin melangkah mendekat, kini jarak mereka hanya sejengkal. “Gue sakit, Leora. Fisik gue mungkin gak stabil, tapi bukan berarti perasaan gue mati.”
“Dan lo pikir gue gak capek?” Leora membalas, matanya mulai memerah. “Gue capek pura-pura terus kayak gini. Capek jadi istri di usia muda. Capek harus bohongi orang setiap hari.”
“Rey?” tebak Davin lirih.
Leora terdiam sesaat.
Lalu mengangguk pelan. “Dia slalu ada buat gue. Itu aja.”
Davin menghela napas berat. Ada amarah, ada kecewa, tapi lebih banyak rasa takut kehilangan yang tak berani ia akui.
“Selalu ada bukan berarti bebas ngelakuin apa aja,” katanya akhirnya. “Lo berhak bahagia. Tapi bukan dengan cara yang nyeret lo ke jurang.”
“Dan lo?” Leora menatapnya lurus. “Lo pernah nanyain gue bahagia atau enggak?”
Pertanyaan itu membuat Davin kehilangan kata-kata.
Hening menyelimuti kamar. Musik yang tadi keras kini hanya jadi gema pelan dari ponsel yang masih tergeletak di kasur.
“Fine. Gue masih banyak kekurangan,” ucap Davin akhirnya, pelan. “Gue terlalu fokus sama kondisi gue sendiri. Sama ego gue.”
Leora terkejut. Ia tak menyangka pengakuan itu akan datang.
“Tapi satu hal,” lanjut Davin, “Selama status itu masih ada, gue akan tanggung jawab soal hidup lo.”
Leora memalingkan wajah, menahan air mata yang mulai menggenang.
“Gue gak minta lo cinta gue,” sambung Davin. “Gue cuma minta lo jangan hancurin diri lo sendiri, cuma buat ngerasa didengerin.”
Sunyi kembali turun.
Akhirnya, Leora duduk di tepi kasur. Bahunya turun, pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit.
“Gue capek, Vin…” suaranya serak. “Gue cuma pengin berhenti jadi seorang istri.”
Davin perlahan berlutut di hadapannya, meski lututnya gemetar.
"Dengerin gue. Please. Lo gak perlu jadi istri. Lo cukup, tau batasan aja. Lo harus tau Rey sikapnya gimana." kata Davin melemah. "Persetan dengan cinta. Gue tau, cinta itu buta. Tapi, lo enggak bisa beri semuanya ke dia"
"Kenapa? Lo takut gue pergi?" tantang Leora lagi.
"Gak, sama sekali. Gue cuma takut lo disia-siakan. Lo ingat, waktu itu... Waktu dimana lo bangun di kamar, dengan pakaian yang udah berbeda?" ucap Davin, tenang.
"Ya? Kenapa?"
"Malam itu, lo gak sadar. Lo bahkan enggak akan percaya, kalo orang yang selama ini lo bangga-banggakan yang jadi dalangnya"
Leora tertawa getir. "Oh, jadi sekarang lo udah mulai pintar ngarang juga ya?"
Davin memeluk Leora dengan sebelah tangannya. "Leora. Gue tau, lo gak bisa terima semua itu. Tapi lo juga gak bisa terus terusan kayak gini..."
banyak" in update kak
*kenapa di novel2 pernikahan paksa dan sang suami masih punya pacar, maka kalian tegas anggap itu selingkuh, dan pacar suami kalian anggap wanita murahana, dan suami kalian anggap melakukan kesalahan paling fatal karena tidak menghargai pernikahan dan tidak menghargai istrinya, kalian akan buat suami dapat karma, menyesal, dan mengemis maaf, istri kalian buat tegas pergi dan tidak mudah memaafkan, dan satu lagi kalian pasti hadirkan lelaki lain yang jadi pahlawan bagi sang istri
*tapi sangat berbanding terbalik dengan novel2 pernikahan paksa tapi sang istri yang masih punya pacar, kalian bukan anggap itu selingkuh, pacar istri kalian anggap korban yang harus diperlakukan sangat2 lembut, kalian membenarkan kelakuan istri dan anggap itu bukan kesalahan serius, nanti semudah itu dimaafkan dan sang suami kalian buat kayak budak cinta dan kayak boneka yang Terima saja diperlakukan kayak gitu oleh istrinya, dan dia akan nerima begitu saja dan mudah sekali memaafkan, dan kalian tidak akan berani hadirkan wanita lain yang baik dan bak pahlawan bagi suami kalau pun kalian hadirkan tetap saja kalian perlakuan kayak pelakor dan wanita murahan, dan yang paling parah di novel2 kayak gini ada yang malah memutar balik fakta jadi suami yang salah karena tidak sabar dan tidak bisa mengerti perasaan istri yang masih mencintai pria lain
tolong Thor tanggapan dan jawaban?