Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Kehilangan.
Di sekolah Naraya, suasana telah kembali ke ritme hari-hari biasa. semua nya normal, tidak ada keributan, hanya bunyi langkah kaki siswa dan obrolan ringan di sela jam pelajaran.
Di ruang klub, Kris, Riko, Arya, Liam, dan Eliza duduk bersama di kursi panjang yang sudah sering mereka tempati. Namun meski sekolah tampak normal, tapi ada satu kekosongan. Rio tidak ada.
Riko terlihat murung, Ia bersandar ke meja, lalu menjatuhkan kepalanya perlahan, wajahnya menghadap ke permukaan kayu yang dingin.
“Bahkan hari ini Rio tidak masuk sekolah,” katanya pelan. Suaranya berat, seperti membawa sebuah beban.
Kris melirik ke arah Riko sambil tetap fokus pada laptopnya. Jarinya bergerak cepat di atas keyboard, membuka dokumen dan menyusun tulisan.
“Kau benar,” katanya santai.
“Padahal sebentar lagi ujian. Tadi aku sempat lihat ke kelasnya. Rio tidak ada… dan Rivaldo juga.” Nada bicaranya datar, karena dia tidak fokus pada pembicaraan.
Arya menyilangkan tangan, bersandar ke sandaran kursi. Matanya menatap kosong ke depan, jelas tenggelam dalam pikiran sendiri. Ketidakhadiran itu bukan kebetulan baginya.
Ada sesuatu yang belum selesai, dan ia menyadari betul bahwa luka di kepala Rio bukan luka yang bisa sembuh hanya dengan waktu.
Sementara itu, Kris tersenyum kecil melihat layar laptopnya. Sebuah artikel tentang insiden Rivaldo dan Rio sudah hampir selesai.
Judulnya provokatif, isinya rapi. Notifikasi terus bermunculan.
“Setidaknya klub koran dapat pemasukan besar,” katanya ringan, setengah bercanda.
“Rio benar-benar headline berjalan.” Senyum itu jujur, tapi di baliknya ada rasa pahit yang tak ia ucapkan.
Eliza dan Liam hanya saling pandang. Tidak ada yang menertawakan lelucon Kris, tidak ada yang menyela. Di ruang klub yang biasanya penuh suara kali ini terasa sepi.
Saat jam sekolah hampir berakhir, Eliza akhirnya memecah keheningan di ruang klub. Suaranya lembut, tapi ada tekad di dalamnya.
“Saat pulang nanti… ayo kita temui dia.” Ucapannya bukan pertanyaan, melainkan ajakan yang jelas. Ia menatap satu per satu anggota klub koran, seolah memastikan tidak ada yang berpaling.
Arya mengangguk pelan. Pandangannya terangkat ke langit-langit ruangan, kosong namun serius.“Ya, aku setuju,” katanya singkat.
Ada banyak hal yang belum sempat ia katakan pada Rio, dan membiarkannya sendirian sekarang terasa seperti kesalahan.
Liam ikut mengangguk, bahunya sedikit terangkat.
“Aku juga. Aku tidak punya alasan untuk tidak datang.” Tidak ada yang membantah. Keputusan itu mengendap di antara mereka, berat tapi perlu.
Sementara itu, di rumah, Rio tidak benar-benar tidur. Tubuhnya terbaring, namun pikirannya terus berlari tanpa arah. Kantung matanya menghitam, wajahnya pucat, rambutnya berantakan. Ia menatap langit-langit kamar dengan senyum tipis yang terasa salah tempat.
“Kenapa aku tertawa…?” gumamnya lirih. “Kenapa…?” Pertanyaan itu tidak mencari jawaban, hanya keluar dari mulutnya.
Tawanya pecah pelan, rapuh. “Apa aku ini sudah gila…?” katanya, lalu tertawa lagi, lebih panjang.
Ia menutup mata, senyum itu tetap bertahan, anehnya terasa tulus di tengah kesedihan yang menekan dadanya.
“Jadi aku memang sudah gila…” bisiknya.
Tiba-tiba, sebuah suara berat menyela pikirannya. Bukan datang dari luar kamar, melainkan langsung mengguncang kepalanya.
“Kenapa kau lemah sekali.”
Mata Rio terbuka lebar. Napasnya tersendat, jantungnya berdetak tak beraturan.
“Siapa kau?!” serunya, tubuhnya menegang. Pandangannya berkeliling, tapi kamar itu kosong seperti sebelumnya.
Kesadaran menyambar pikirannya.
“Aku ingat…” katanya terbata.
“Kau suara yang muncul saat aku mendapatkan King’s Sense. Kau yang bilang… kau yang memberikannya.” Suaranya gemetar, antara marah dan panik. “Siapa kau sebenarnya?!”
Suara itu kembali terdengar, lebih tenang namun dingin.
“Kau akan segera mengetahuinya… itu pun jika kau tidak terus lemah seperti ini.”
Lalu, seperti asap tertiup angin, suara itu menghilang, meninggalkan Rio sendirian dengan kebingungan yang semakin dalam.
Rio memegangi kepalanya. Wajahnya mengeras, karena kebingungan yang dingin.
“Siapa dia sebenarnya…?” gumamnya pelan, takut jawabannya akan muncul kalau suaranya terlalu keras.
Baru saat itu ia sadar. Dadanya tidak lagi terasa panas. Tidak ada dorongan balas dendam, tidak ada amarah yang menggelegak. Semuanya… tenang. Terlalu tenang.
“Aku kembali seperti biasa,” katanya lirih. Ia menatap tangannya sendiri, membuka dan mengepalkannya perlahan.
“Kenapa rasa hilang arah itu menghilang hanya karena suara itu?”
Ia menarik napas panjang. “Bahkan King’s Sense tidak menyala…, artinya ini karena mental ku sendiri, bukan karena King's Sense.."
Rio berdiri dari kasur. Ia memeriksa tubuhnya, dari lengan, bahu, hingga dadanya, seakan mencari retakan atau bekas luka yang tak kasatmata.
“Tidak ada yang berubah,” katanya. “Semuanya terasa… normal.” Kata itu terdengar asing di telinganya sendiri.
Tiba-tiba, suara dering menghilangkan keheningan di kamarnya.
Kringg! Kringg!?
Rio menoleh, lalu melangkah mendekat dan meraih ponselnya. Alisnya mengernyit saat melihat layar.
“Nomor tidak dikenal…?” Ia ragu sesaat, lalu menjawab. “Halo.”
...“Ini aku.”...
Suara itu. Hanya dua kata, tapi cukup membuat mata Rio membesar. Rahangnya mengeras. Giginya bergemeletuk.
“Kau…!” napasnya berat. “Rivaldo, kan?” Nada suaranya penuh tekanan, seperti menahan sesuatu agar tidak meledak.
Di seberang sana, suara Rivaldo terdengar tenang, nyaris menjengkelkan.
“Tidak perlu semarah itu,” katanya datar. “Aku ingin bicara serius.” Ada jeda singkat, cukup lama untuk membuat dada Rio terasa sesak. “Ayo bertemu di kafe.”
Rio masih ragu. Ponsel itu menempel di telinganya, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Tujuan yang selama ini menuntunnya sudah lenyap, seperti kompas yang kehilangan arah."
Ia terdiam cukup lama, sampai keheningan itu memenuhi kamar nya.
Rio menarik napas panjang, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya perlahan. Bahunya turun, wajahnya melunak.
“Ya… baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lebih ringan dari yang ia kira. “Memaafkanmu tidak terdengar terlalu buruk.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa perhitungan, tanpa beban.
Di seberang sana, Rivaldo terdiam. Keheningan singkat itu justru terasa lebih berisik dari teriakan.
“Apa kau serius… memaafkanku?” tanyanya, jelas terdengar ragu, seolah takut kata itu hanya jebakan lain.
Rio tersenyum. Senyum yang tidak dibuat-buat, tidak pahit, tidak juga sinis. Ia memejamkan mata.
...“Jika aku terus menyimpan kebencian,aku hanya akan terjebak di satu bab yang sama selamanya.”...
Kata-kata itu bukan untuk Rivaldo semata, melainkan juga untuk dirinya sendiri.
Sebelum panggilan itu berakhir, Rio menambahkan, “Aku akan datang.” Lalu sambungan terputus. Di sisi lain, Rivaldo menatap ponselnya yang gelap, bibirnya bergerak pelan.
“Terima kasih…” katanya, meski tahu tak ada lagi yang mendengar.
Rio bangkit dan bersiap pergi. Ia mengenakan kaus hitam sederhana dan celana putih, tanpa berpikir panjang, tidak ada simbol. Hanya dirinya apa adanya.
“Entah apa yang akan dia katakan,” gumamnya sambil melangkah menuju pintu, “tapi ini terdengar serius.”
Ia keluar rumah dengan langkah tenang. Sandal slip-on menggantikan sepatu yang biasa ia pakai.
"Tidak perlu terlalu rapi." , pikirnya. Ini bukan sebuah pertempuran.