Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motif Si Bedebah
“Kediaman ini sangat kecil dan sempit, kau mungkin akan 'tak nyaman," kata Anjani sesaat setelah melepas pasang sepatu dari kakinya.
“Tidak masalah. Aku hanya ingin beristirahat beberapa saat saja," tanggap Jeong, tak keberatan.
Pintu sudah tertutup rapat karena udara semakin dingin.
Ya, keputusannya adalah membawa lelaki itu pulang ke rumah.
Jeong memang tidak meminta secara spesifik tempat lain yang dimaksudnya, tapi Anjani memutuskan sendiri karena tidak mendapat ide yang lebih bagus dibanding ini. Rumah Nam Jisu terlalu jauh dan itu termasuk ide yang buruk. Jisu terlalu bawel, akan banyak pertanyaan sinting yang harus dihadapi Anjani nantinya.
Sementara teman dari sisi Jeong, pria itu mengaku tidak punya yang dianggap bisa menolong.
Jadi rumah atap adalah pilihan akhir.
“Pegangan saja ke dinding, biar kubantu melepas sepatumu.”
Jeong sedikit limbung, mungkin merasa pusing, inisiatif Anjani menahan tubuhnya, atas dasar kasihan sajaーhanya!
Namun tanpa disadari wanita itu, bibir Jeong menyunggingkan seulas senyum, senyum penipu ulung.
Apakah dia sedang bermain peran? Apakah darah dan lebam hanya dempulan make up?
Tidak akan terjawab kecuali Jeong mengaku sendiri.
Usai lepas keduanya, Anjani menaruh pasang sepatu Jeong berdampingan dengan sepatunya tadi, lalu tertegun.
“Sepatunya ... sepatu dari merek terkenal dengan harga yang aku tidak akan pernah berpikir untuk membelinya. Meski aku tidak begitu paham urusan fesyen, setidaknya aku tidak buta membedakan barang yang berkualitas dan barang rongsok seperti milikku.” Sesaat dia menatap sepatunya sendiri. “Siapa sebenarnya lelaki ini? Apakah dia keturunan sultan? Tapiー”
“Jangan berpikir untuk menjual sepatuku! Aku meminjamnya dari seorang teman.” Suara Jeong mengentak perbedaan kontras yang sedang dipikirkan Anjani. Itu terlalu kentara saat tatapan Anjani tidak berpaling dari sepatu.
“Apa?!” Anjani melengak. “Kau bilang apa?"
"Wajahku sakit!" Jeong mengalihkan segera sebelum lebih jauh Anjani mendebat pasal yang demi apa pun dia lupa mengatur bagian itu.
Wajah Anjani seperti ingin memukul karena tidak terima.
Tapi Anjani tidak seperti itu. “Baiklah. Ayo kuobati lukamu dulu.” Dia adalah orang yang paling malas berdebat untuk hal-hal yang tidak perlu. Sekarang sedang memapah tubuh jangkung itu ke tengah rumah.
Lagi-lagi, bibir Jeong melengkung senang mendapat tambahan perhatian yang menghangatkan.
Bukankah ini menyenangkan? Iya.
"Duduklah di sini. Aku masak air sebentar untuk mengompres."
“Ya. Terima kasih.”
Anjani melenggang ke dapur yang dari posisi Jeong masih terlihat, langsung berkutat dengan kompornya.
Saat itu, Jeong yang duduk bersandar dinding mulai nakal memainkan mata, diedarnya pandang ke sekeliling ruangan.
Tidak ada televisi, radio, bahkan penghangat ruangan pun tidak nampak wujudnya. Padahal ini sedang musim dingin dan semua orang di Korea membutuhkannya. Hanya ada sebuah meja dengan setangkai bunga di tengahnya, dan nakas kecil berisi beberapa judul buku berbahasa Indonesia yang sudah pasti milik Anjani.
Akan tetapi yang mencolok bukan itu.
Ruangan ini terlalu polos untuk kategori rumah yang pernah ditinggali berdua oleh sepasang suami istri. Biasanya sesuatu milik berdua akan tertinggal walau hanya sesuatu yang tidak bermakna.
Menghubungkan itu, tatapan Jeong kini lurus menyorot ke ambang pintu dapur yang hanya tertutup tirai. Bayangan Anjani nampak bergerak-gerak saat sibuk dengan kegiatannya.
"Kau sungguh sudah menghilangkan semua jejak tentang si berengsek itu, berengsek yang bahkan tidak mampu membeli penghangat ruangan."
Perasaan geram dilukis dengan mata menajam, marah mengingat itu. Penyesalan dibanting seiring membuang wajah ke sisi lain.
“Ahn Woojun yang tidak berguna," umpatnya belum merasa puas. Namun kemudian tertegun ketika sesuatu memberi cerah dalam pikirnya. Pandangan dikembalikan ke ambang dapur, menatap bayangan Anjani.
“Tapi aku merasa lega, setelah memastikan sendiri bahwa Anjani bukan wanita tolol yang sibuk mengenang kisah cinta naif dengan bajingan yang pantas mati.”
Tak lama, wanita itu muncul dengan sebuah nampan berisi satu mangkuk besar air panas dan secangkir minuman beraroma teh, madu dan perasan lemon.
“Minumlah dulu selagi panas, ini akan membantu tubuhmu lebih hangat dan segar. Aku ke kamar sebentar untuk mencari handuk kompres dan kotak obat.”
Jeong mengangguk dengan senyuman tipis. “Terima kasih.”
“Hmm.” Anjani beranjak, masuk ke kamar yang pintunya tidak terkunci.
Hanya lima menit, dia sudah muncul kembali.
Jeong yang sedang tenang menyeruput tehnya langsung terkesima dengan tampilan lain dari wanita itu.
Long coat-nya sudah dilepas, menyisakan tubuh semampai berkaos rajut ketat dengan kerah tinggi meliput leher. Bawahnya hanya celana jeans biasa yang tidak ketat, masih yang tadi. Seperti itu saja Jeong merasakan jantungnya mendadak rusuh, khususnya karena buah dada yang berukuran lebih pada umumnya wanita Korea.
Bagaimana pun dia lelaki normal.
Psss!
Lekas membuang wajah sebelum ketahuan wajahnya mengalirkan pikiran tolol.
“Sini, hadapkan wajahmu, biar kubersihkan. Lebamnya juga harus dikompres supaya tidak membengkak.”
Kali ini Jeong benar-benar ingin meninju dadanya yang mulai sulit dikondisikan, atau menghilang.
Kaku dan berat dia menuruti permintaan itu seolah baut-bautnya sudah berkarat.
Sekarang, wajahnya dan wajah Anjani berjarak dekat saling berhadap, hangat napas saling membentur, matanya bergulir resah di mata Anjani yang indahnya seperti percikan embun.
Sementara Anjani, dia tetap fokus dengan pertolongannya tanpa memikirkan apa pun, apalagi yang keruh-keruh seperti si bedebah Ryu Jeong.
Pada akhir ....
“Biar aku sendiri saja.”
Anjani terentak saat kainnya direbut dari genggaman oleh lelaki itu, lalu tersadar sekian detik kemudian. "Oh ... ya, silakan! Maaf, aku sedikit lancang," ujarnya sambil bergeser ke belakang.
Salah lagi, Jeong terkesiap.
“Ah, tidak! Tidak apa-apa. Aku hanya tak nyaman terus menyusahkanmu.”
Ck!
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!