Ariel tak menyangka pernikahannya dengan Luna, wanita yang sangat dicintainya, hanya seumur jagung.
Segalanya berubah kala Luna mengetahui bahwa adiknya dipersunting oleh pria kaya raya. Sejak saat itu ia menjelma menjadi sosok yang penuh tuntutan, abai pada kemampuan Ariel.
Rasa iri dengki dan tak mau tersaingi seolah membutakan hati Luna. Ariel lelah, cinta terkikis oleh materialisme. Rumah tangga yang diimpikan retak, tergerus ambisi Luna.
Mampukah Ariel bertahan ataukah perpisahan menjadi jalan terbaik bagi mereka?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;👇
"Setelah Kita Berpisah" karya Moms TZ bukan yang lain.
WARNING!!!
cerita ini buat yang mau-mau aja ya, gaes.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27#. Dukungan teman
Ariel bergegas keluar setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia. Begitu dirinya hendak berjalan menuju lobi kantor, seseorang berteriak memanggilnya, "Woiii... Riel!"
Ariel menoleh, senyum lebar terukir di bibirnya saat mengetahui siapa yang berteriak memanggilnya.
"Widiiih, penampilan baru, nih?" komentarnya sambil mengacak rambut cepak Ariel.
"Apa sudah putusan? Sampai dirimu memangkas cepak rambutmu?" tanyanya lagi dengan penasaran.
Ariel mengangguk singkat. "Buang sial," jawabnya kemudian.
"Waahhh, duren sekarang!" Andre tertawa lebar sambil menepuk pundak Ariel.
"Apanya yang duren? Kalau aku keren nggak mungkinlah Luna menggugat aku," sahut Ariel memprotes ucapan Andre.
"Ya itu Luna-nya saja yang nggak bersyukur punya suami kayak kamu," kata Andre. "Terus gimana perasaanmu sekarang setelah menjadi duda? Lebih hepi atau masih ada yang mengganjal?"
"Entahlah...." Ariel mengangkat bahunya, raut wajahnya menunjukkan ketidakpedulian.
Andre merangkul Ariel, membawanya berjalan menuju lift. "Oke, kita bisa ngobrol nanti saat makan siang."
Selanjutnya mereka pun masuk ke dalam lift yang mulai terisi dengan karyawan lain. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara musik latar yang lirih. Tak lama kemudian lift berhenti di lantai tempat kerja mereka. Kemudian keduanya keluar dari lift dan berpisah menuju ruangan kerja masing-masing.
Saat jam makan siang tiba, Andre benar-benar menghampiri Ariel. "Bro, cabut makan siang, yuk? Ada tempat makan baru yang enak, aku yang traktir."
Ariel mengangguk, lalu mengikuti Andre keluar dari ruangannya. Dengan mengendarai mobil Ariel mereka menuju tempat makan yang direkomendasikan oleh Andre.
"Oke, sekarang kamu bisa ceritakan apa yang masih mengganjal dihatimu," kata Andre ketika mereka telah selesai makan. "Atau mungkin kamu menyesali perceraianmu dengan Luna?"
Ariel menghela napas, matanya menatap jalanan yang ramai oleh kendaraan berlalu lalang. "Aku sama sekali nggak menyesalinya. Aku hanya nggak nyangka nasib rumah tanggaku bakal begini, Ndre. Aku pikir bisa menghabiskan seluruh hidupku bersama Luna, tapi ternyata jodohku sama dia hanya seumur jagung," kata Ariel pelan.
"Aku sudah coba yang terbaik buat Luna, tapi tetap saja nggak pernah cukup. Padahal aku merintis clothing line itu kan, juga buat masa depan kami. Tapi hanya karena cemburu yang berlebihan bisa membutakan hati dan pikirannya," lanjutnya sambil tersenyum kecil.
Andre menepuk bahu Ariel. "Aku tahu kamu sangat mencintai Luna, Riel. Perceraian kalian bukan kamu yang menginginkan. Ingat, Riel, hidup harus terus berlanjut. Lupakan masa lalu dan raih masa depanmu."
"Terus bagaimana nasib bisnis clothing line yang sudah kamu rintis itu? Masih jalan, kan? Aku nggak lihat kamu live beberapa minggu ini?" tanyanya kemudian.
"Untuk sementara Dian yang ambil alih, agar aku bisa fokus pada masalahku sama Luna," jawab Ariel.
"Nah, sekarang kan, kamu sudah bebas. Jadi kamu bisa menata kembali bisnis clothing line-mu agar makin besar dan terkenal. Tunjukkan ke Luna, kalau kamu bisa sukses tanpa dia."
"Hmmm, aku juga sudah berpikir ke sana, tapi aku masih harus banyak belajar lagi," jawab Ariel.
"Benar sekali, Ini kesempatanmu buat menunjukkan diri kamu! Dari sini kamu bisa belajar semua aspek bisnis, dari desain, produksi, marketing, sampai sales. Kamu bisa jadi the real CEO!" kata Andre, menyemangati.
"Aku yakin, Luna pasti bakalan menyesal karena sudah ninggalin kamu!"
Ariel menatap Andre dengan penuh rasa terima kasih. "Makasih ya, Ndre. Kamu memang sahabat terbaikku. Selalu ada di saat aku terpuruk sekalipun."
"Sudah, jangan kamu pikirkan itu. Yang penting sekarang, kamu harus punya semangat dan kemauan untuk melangkah lebih maju. Jangan biarkan masa lalu menghambat jalanmu buat sukses," kata Andre, meyakinkan. "Anggap saja ini terapi buat kamu. Dengan fokus pada pekerjaan, kamu bisa melupakan masalalu."
Ariel tersenyum kecil, dia mulai merasakan secercah harapan di hatinya. Mungkin, dengan dukungan dari sahabatnya, dan fokus pada pekerjaan serta bisnis clothing line, dia bisa melewati masa sulit ini dan meraih kesuksesan yang lebih besar.
*
*
*
Tak berbeda dengan Ariel, ketika baru masuk ke dalam ruangannya, Luna langsung mendapat pertanyaan dari temannya.
"Eh, Lun! Gimana persidanganmu, lancar?" tanya Wina, ia merangkul lengan Luna dan membawanya duduk di kursi kerjanya.
"Trus, gimana dengan harta gono-gini? Kamu tetap dapat, kan?" celetuk Runi, ikut nimbrung.
Seperti biasa, Luna akan berakting seolah dirinya terzalimi untuk menarik simpati teman-temannya. Ia menggeleng lemah dengan mimik wajah mengsedih.
"Hahhh...!" Wina membeliakkan mata, sambil menutup mulutnya yang ternganga. "Serius? Kok bisa? Bukannya kalian sudah menikah lumayan lama? Harusnya dapat harta gono-gini, dong?"
Luna menghela napas panjang. "Itulah masalahnya, Win. Ariel itu pinter banget ngelesnya. Dia bilang semua aset atas nama dia pribadi, jadi nggak bisa dibagi dua. Pengacara aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tetap saja kalah."
"Tapi Lun, kamu kan, juga kerja selama nikah sama Ariel? Bukankah itu artinya juga termasuk andil dalam menambah aset dia?" tanya Runi.
Luna memasang ekspresi lebih sedih. "Iya, Run. Tapi.. tetap saja ditolak sama hakim."
Wina mengusap-usap punggung Luna. "Yang sabar ya, Lun. Emang kadang cowok tuh, suka gitu, lupa sama jasa istri."
Luna tersenyum tipis. "Makasih ya, Win. Padahal aku cuma pengen hakku saja, nggak minta lebih dari itu."
Runi mengerutkan kening. "Tapi, Lun, bukannya Ariel itu juga punya bisnis sampingan clothing line, ya? Itu nggak termasuk harta gono-gini memangnya?"
Luna memasang wajah terkejut. "Hah? Clothing line? Aku baru tahu malah. Dia nggak pernah cerita apa-apa soal itu."
Wina menimpali. "Wah, parah sih, Ariel. Udah nggak ngasih harta gono-gini, bisnis sampingan juga disembunyikan. Itu mah, udah keterlaluan, Lun."
Luna tersenyum sinis dalam hati. "Bagus, umpan sudah dimakan. Sekarang tinggal kuatkan dramanya."
Luna menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku nggak nyangka dia bisa setega itu sama aku. Dulu waktu pacaran, janjinya manis banget. Giliran sudah nikah, beda jauh."
Luna menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai dipenuhi air mata palsu. "Aku nggak tahu lagi harus gimana. Aku merasa sudah dibuang dan nggak dihargai sama sekali."
Wina dan Runi langsung memeluk Luna, berusaha menenangkannya.
"Sudah, Lun, jangan sedih gitu. Kita semua akan selalu ada buat kamu," kata Wina.
"Iya, Lun. Kamu harus kuat. Jangan biarkan Ariel menang begitu saja. Kita akan bantu kamu cari cara buat bales dia," timpal Runi.
Luna mengangkat wajahnya, menatap Wina dan Runi dengan tatapan penuh harap. "Kalian beneran mau bantu aku?"
Wina dan Runi mengangguk serempak. "Tentu saja, Lun. Kita kan, temen. Apa sih, yang nggak buat kamu?" kata Wina.
Luna tersenyum licik dalam hati. "Sempurna. Sekarang aku punya dua kaki tangan untuk menghancurkan Ariel."
Nde.. dikasih tambahan hurup O di depanya, bisa di makan nih..🤭