( DALAM TAHAP REVISI)
Bibit, bebet dan bobot seringkali menjadi tolak ukur pernikahan di kalangan Ningrat tanah Jawa. Tapi, apa jadinya jika cewek metal pegawai laundry menjadi istri seorang Ningrat? Akankah dia diterima menjadi bagian dari keluarga darah biru dan sanggup mengenyahkan sifat liarnya demi sang suami tercinta? Ataukah dia hanyalah wanita dengan status yang di pertanyakan?
“Bahkan jika kakiku sampai berdarah-darah, aku tetap akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Mas!” ~ Rinjani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. [ Pacaran dengan Kaysan ]
"Jani, mau bicara apa?" Nina bisik-bisik ke telingaku. Kami duduk di depan toko, sambil menggenggam makanan di tangan kami masing-masing. Aku menyantap bubur sum-sum gula jawa. Sedangkan Nina , jangan ditanya. Semua jenis makanan dia bawa ke depan. Sempat tatapan sinis dari ibu Rosmini menyerangnya, tapi Nina cuek saja.
Ya 15 menit yang lalu Nina datang, ia terkejut dengan kedatangan anak raja yang ditahan oleh majikan temannya. Ku lihat daritadi Kaysan slalu tersenyum, menganggukkan kepalanya.
Aku tak peduli dengan yang mereka bicarakan. Aku lebih asik duduk berdua dengan Nina, menyandarkan kepalaku dilengannya yang sintal.
"Kami terikat."
"Pacaran?"
"Ya."
"Yakin?"
"Tidak tahu."
Nina menjentikkan jarinya di jidatku, "Gak yakin, kenapa pacaran!"
"Kamu lihat sendiri, Bu Ros senang sekali. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikannya."
"Rinjani, Rinjani. Bilang saja tidak ada alasan itupun kamu mau menerimanya." Nina menjentikkan jarinya lagi ke jidatku.
"Kamu tidak tahu, Nin. Dia bahkan sudah meminta restu orangtuanya untuk mendekatiku."
Kini Nina yang terbelalak, "Edan, Edan." Nina menyilangkan tangannya di depan keningnya.
"Jangan keras-keras, suaramu koyo bledek."
"Siap-siap dilamar kamu Rinjani. Hati-hati."
"Sembarangan! Masih 20 tahun aku, mana ada nikah muda. Bapak aja gak ketemu."
Nina menepuk jidatnya, "Kamu tidak tahu, bapakmu jarang pulang ke rumah. Bahkan santer terdengar bapakmu pergi kerja ke luar kota."
"Kata siapa?" tanyaku tidak yakin dengan penjelasan Nina.
"Warga di kampung, Jani. Bapakmu minta surat izin kepala desa untuk mencari SKCK dan identitas lainnya."
"Jadi bapak pergi ninggalin aku, Nin. Sendiri disini." ucapku lirih, ada kesedihan dari kata yang terucap, "Jadi aku anak sebatang kara." Mataku berair tidak tahan jika bapakku yang menyebalkan itu memilih untuk kerja diluar kota, semoga saja dia tidak membuat ulah. Semoga di mengingatku.
"Ada aku, ada pacarmu, ada Bu Rosmini." Jelas Nina menepuk pundakku berkali-kali, "Berbeda Nina."
"Jani, biarkan bapakmu memilih jalannya, paling tidak dia tidak berulah dan berhutang dengan Broto Dimejo."
"Lalu siapa yang akan menganggapku, Nin. Jika bukan keluargaku."
"Makanya cepetan nikah."
Aku bersorak, mengutuk mulut Nina yang begitu enteng membicarakan pernikahan.
"Kamu saja sana sama Aswin."
"Aku gak akan nikah, Jani. Sebelum lulus jadi perawat dan kerja di rumah sakit."
"Aku juga gak akan nikah, Nina. Sebelum utangku dikeluargamu lunas."
Kami sama-sama terdiam, saling bersandar. Bahkan sum-sum gula jawa ini rasanya tidak manis lagi.
"Kalian berdua masuk!" Aku dan Nina menoleh, tepat di depan pintu Bu Rosmini menampakkan wajah garangnya.
"Dia kenapa, Nin?" tanyaku berbisik.
"Iya, kenapa mukanya galak banget. Apa gara-gara makanannya aku makan, Jani." Nina juga berbisik. Kita berdua sama-sama berdiri, saling melempar tanda tanya lewat tatapan mata.
"Masuk!" Nada suaranya mulai melengking. Kami mengikuti langkah ibu Rosmini masuk ke toko, mataku melihat Kaysan.
Ia duduk masih dengan tersenyum manisnya. Aku dan Nina bingung dengan tingkah mereka berdua.
"Ada apa Bu Ros? Apa ada yang kurang?" tanyaku menyelidiki.
"Jawab jujur pertanyaan ibu!"
"Ya, pertanyaan apa?"
"Nin, Nin. Mati aku." Bisikku pada gendang telinga Nina.
"Rinjani!"
"Ya!" jawabku mantap.
"Kamu pacaran dengan Gusti Pangeran Harya Kaysan?" tanya Bu Rosmini dengan nada yang berat.
"Ibu kenapa, ibu cemburu?"
Aku tak berani menatap Kaysan, dia jahat sekali padahal aku ingin menyembunyikan status ini.
"Jawab Rinjani!" Paksa Bu Rosmini lagi.
"Pacaran tidak ya, ehm... Kita hanya sedang mendalami karakter Bu Rosmini." jawabku mencari aman.
"Kamu ini benar-benar anak nakal. Tidak bilang-bilang jika kamu pacaran dengannya. Kalau ibu tahu kamu pacaran dengan GPH Kaysan, ibu akan mengijinkanmu hari Minggu ini untuk libur, pergilah dengannya."
Mataku membulat, "Apa sih Bu, baru tadi malam ketemu. Sekarang juga udah ketemu lagi. Gak ah, tanggunganku masih banyak."
"Rinjani!"
"Nin, bantu aku." Rayuku pada Nina, "Gak lihat pacarmu melihatmu dari tadi." Nina membereskan barang bawaannya.
"Tunggu!" Bu Rosmini mencegah langkah Nina keluar dari toko.
"Iya Bu Ros, apa makanan tadi perlu di nota?" tanya Nina basa-basi. Sambil tersenyum cengar-cengir.
"Bawa pulang semua, setelah kamu memfoto kami bertiga." Bu Rosmini menyerahkan ponselnya. Kami bertiga diminta Nina untuk bersiap, Kaysan berada ditengah-tengah.
Aku berada di samping kirinya. Tubuhku kaku, ini adalah foto pertama yang kita lakukan.
Bu Rosmini sibuk membenarkan hijabnya.
"Siap!" tanya Nina, tangannya menunjuk angka tiga, dua, satu.
Rasanya aku seperti sedang menjalani foto KTP, tidak ada ekspresi.
"Jani, biasa aja. Ayo lebih mendekat." Suruh Nina sambil menggeser posisiku.
Jantungku berdegup kencang saat lenganku dan Kaysan bersentuhan.
Nina kembali menghitung jari, sebelum akhirnya aku merasakan tangannya merangkul bahuku dan berbisik, "Tersenyumlah." Hatiku seperti meletup-letup dibuatnya, seperti ada yang mau meledak dari dalam diriku. Hingga akhirnya bibirku melengkung senyum.
"Selfie yuk." Nina menganggat ponsel Bu Rosmini, kami berempat bersiap. Jarak kami begitu dekat. Dia masih merangkul bahuku. Berkali-kali Nina mengambil foto kita berempat, berbagai pose ada dalam bentuk potret kecil tersimpan rapi diponsel Bu Rosmini.
"Jani, Jani." Bu Rosmini menggeleng sambil tangannya melihat hasil jepretan Nina.
"Kenapa Bu?" tanyaku sambil duduk di kursi plastik, melihat onde-onde yang masih tersisa satu.
"Jatah tukang foto itu, Jani." Nina merebut onde-ondeku. Bibirku mengerucut, "Onde-onde ku Nina."
"Punyaku Rinjani!"
"Punyaku Nina!"
Kami berdua tertawa saat melihat Bu Rosmini menyaut onde-onde dari tangan Nina.
"Buat ibu ini, keasikan ngobrol ibu jadi lupa makan. Ibu lapar."
"Jani, aku pamit ya. Besok malam Minggu jangan lupa." Aku mengangguk, mengantar Nina keluar toko. Setelahnya Bu Rosmini juga sibuk membereskan barang bawaannya.
"Ibu mau cuci foto dulu Rinjani. Mau ibu pasang dirumah dan di toko. Siapa tahu, 'kan jadi ramai toko ini pernah didatangi anak Raja." Bu Rosmini tersenyum, "Rezeki bukan dari sebingkai foto ibu ros cantik." sanggahku cepat.
"Ibu tahu, Rinjani. Temani pacarmu, hari ini kamu boleh libur sebagai bonusmu."
Bu Rosmini keluar dari toko, meninggalkan Kaysan dan aku yang sama-sama membisu.
"Maaf merepotkanmu pagi-pagi harus kesini." kataku sambil membereskan piring dan gelas sisa pesta sederhana ala toko ibu Rosmini.
"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi."
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Hari Minggu mas libur tidak kerja, ayo kita keluar, Rinjani."
"Mas?" Tanganku berhenti memunguti sisa makanan.
"Mulai sekarang kamu harus memanggilku dengan sebutan, Mas."
"Mas?" Wajahku sudah seperti buah Cherry.
"Jani, berbaliklah." Pintanya manja.
"Tidak!" Aku tidak mau dia melihatku dengan wajah seperti ini. Dia pasti akan meledekku.
"Jani." Panggilnya lagi.
"Iya, Mas." Aku berbalik, sambil menundukkan wajahku.
"Mas tunggu dimobil, bersiaplah."
Kaysan keluar dari toko tanpa mendengar penolakanku. Dia suka sekali memerintah, itulah perangainya yang sulit aku tolak.