Tiga season yang merangkup masalah percintaan yang memanas. Diiringi dengan identitas lain, yang menjadi samaran. Bagaimana kisahnya? Ikuti terus hanya di Mutiara Kasih Sayang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anni Cewexsmaniz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Aku harus segera menyingkir dari sini.
"Tunggu!!!" Ani berusaha menghindari laki-laki didepannya. Namun sial dirinya terlambat. "Heh kamu ngapain disini hah? Ingat ya jangan ganggu calon menantu saya. Kamu itu cuma sampah," Laki-laki itu menarik paksa tangan Ani. Kemudian meraih rambut Ani.
"Ahhh... Saya .... Saya gak ganggu mereka berdua pak. Beneran. Saya tak tahu kalau kalian semua berada disini,"
"Kalau kamu gak ganggu calon menantu saya kamu ngapain kesini heh? Jangan cari-cari alasan kamu ya. Kalau kamu gak jujur bakalan habis kamu!!"
"Saya.... Saya ". Ani berusaha mencari cara agar dia bisa lepas dari cengkraman laki-laki didepannya. Sekilas matanya menangkap tulisan besar ditembok. " Saya sedang cari kerjaan pak. Tolong lepaskan. Saya tak berani ganggu anak dan calon menantu bapak," Ani meringis. Karna cengkraman laki-laki didepannya sangat kuat.
"Hmmmm cari kerja ya. Heh disini gak butuh karyawan bodoh sepertimu. Jangan nglamar kerja disini. Cari tempat lain. Ingat ya... Kalau sampai aku lihat kamu ada disini lagi, ****** kamu!!!"
" Ingat pesanku. Kalau sampai aku lihat kamu seujung kuku sekalipun habis kamu," Aku gak bisa biarin perempuan sampah ini balikan sama Johan. Untuk sementara dia memang berarti untuk perusahaanku. Tapi nanti jika ada yang lebih kaya dari keluarga Saputra aku akan menikahkan intan dengan laki-laki incaranku. Dia adalah Presdir perusahaan Wijaya. Heh lihat saja karna anakku tak pernah mengecewakanku.
Laki-laki itu melepaskan cengkramannya. Dan kemudian berlalu meninggalkan Ani.
"Simpan kata-kataku diotakmu," Kata-kata terakhir pria itu terngiang ngiang ditelinganya.
Ya Allah ... Kenapa ? Padahal aku tak berbuat apa-apa. Aku hanya mengantar makan siang untuk suamiku. Tapi kenapa harus bertemu dengan ******** itu.
Ani mengusap wajahnya yang kini banjir air mata. Mengambil nafas berat kemudian beranjak menuju pak Surya. Dia yakin laki-laki separuh baya itu pasti telah berjamur karna dia terlalu lama bersama suaminya.
💞💞💞
Kemana dia? Tumben gak kedepan?
"Pak Surya kemana istri saya?"
"Tadi sore nona muda baru masak tuan muda setelahnya masuk kamar dan belum turun. Mungkin tertidur,"
Gak biasanya dia tidur jam segini. Masih jam 7 malam.
"Baiklah pak makasih ya siapin makan malam," Ardan menaiki tangga. Dia tak sabar bertemu istrinya itu. Ceklek.... pintu terbuka perlahan memasuki kamar sosok yang dicarinya ternyata berada dibalik selimut. Dengan rambut yang menyembul sedikit keatas. Mungkin dia lelah masak.
" Sayang....Aku udah pulang." Ani masih diam tak bergerak. " Sayang " dia memberanikan diri menggoyang-goyangkan tubuh istrinya itu. Baiklah sayang kau benar-benar menggodaku ya. Kemudian Ardan mencium bibir ranum milik istrinya itu. Ani menggeliat pelan. Sekali lagi. Cupp... Obyek yang dijadikan sasaran ciuman kini membuka mata dengan sempurna pasalnya entah berapa kali Ardan sudah mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya itu.
"Mas," Ani masih mematung tak bergerak. Pasalnya dia juga sedang mengumpulkan nyawa setelah bangun tidur.cup... cup..... Dan sekali lagi cup.... entah sudah yang keberapa kali Ardan melakukannya. Dia sangat senang namun juga seakan ketagihan untuk mencium bibir istrinya itu yang menurutnya begitu manis.
" Maaaasssss "
" Kenapa sayang ? mau lagi? masih kurang ya?" Ardan tersenyum penuh kemenangan.
Siaalan. Jangan gila dong.
" Enggak,"
Ardan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar disamping istrinya di tempat tidur.
"Mas mandi sana kok malah tidur ?"
" Bentar aja. Udah males mau ke kamar mandi,"
" Lah kenapa? Ayo mas gak lengket kah? mas kan udah seharian kerja,"
"Mandiin,"
" Massss!!!"
"Bentar doang kok. Capek banget habis bangunin kamu gak bangun-bangun,"
"Lah kok aku mas. Yang belum mandi kan mas Ardan. Sana mas mandi. Nanti bau lo,"
" Ya biarin aja bau lawong gak ada yang dipeluk juga. Punya istri tapi malah demen banget ngebo. Sampai-sampai suami sendiri juga dilupakan,"
Mata Ani melotot. Bukannya Ardan sendiri yang belum mandi kenapa malah bawa-bawa dirinya yang baru bangun tidur. Ngomong apa kamu!
"Kenapa matanya melotot begitu Hah? Masih kurang ya? sini aku cium lagi. Gak apa-apa kok. Aku kan orang yang dermawan,"
"Enggak !!! Udah mas mandi sana bau." Oh ayolah pergilah aku masih belum mau berpisah dengan kasurku.
" Eh masih ngomong bau. Sini kalau gak percaya,"
" Iiiihhh mas Ardan sudah sana mandi," Ani bergegas bangun dari tempatnya. Menarik kuat tangan ardan. Ardan tersenyum rasanya menggemaskan bercanda dengan istrinya. Apa lagi memang istrinya itu pendiam. Jadi Ardan harus berusaha lebih ekstra membuat suasana lebih hangat.
"Sudah sana mas Ardan mandi aku mau kebawah dulu nyiapin makan malam,"
"Mandi bareng yok," kini Ardan bergelayut manja ditubuh Ani. Membuat Ani tak bisa bergerak bebas.
"Mas Ardan aku sudah lapar. Mau mas Ardan yang aku jadiin perkedel trus kumakan hah?"
"Wahhh..... beraninya ya kau. Sebelum kamu makan aku. Udah kuhabisin kamu!!!" Ardan berkacak pinggang karna sang istri juga sudah berkacak pinggang dengan sorot mata yang kesal. Kini mata mereka saling pandang yang satu penuh rasa kesal yang makin detik makin bertambah karna sang suami tak mau mandi sedangkan perutnya sudah berdisko ria. Sedangkan yang satunya sangat gemas melihat reaksi didepannya.
"Ah udahlah mas aku mau turun dulu. Nyiapin makan malam. Kalau mas gak mau mandi ya gak usah. Aku bisa tidur disofa kok,"
" Heh beraninya ya kamu suami belum selesai ngomong main tinggal pergi aja. Mau jadi istri durhaka?"
"Iiiihhh mas Ardan!!!!" Ani sudah meninggikan suaranya. Namun yang ada Ardan makin tambah gemas."Tau ah," Ani berdecak kesal kemudian mencoba melangkahkan kaki keluar kamar. Ingin segera minggat dari tempatnya berdiri saat ini.
"Eh berhenti gak?"
"Apa lagi mas?!!! Kalau mas masih bikin aku kesal besok aku gak bakal masakin bekal makan siang buat mas!!!" Berbalik badan dan berjalan ke arah pintu.
"Sudah keluar sana!!Awas saja kamu bantah aku. Habis kamu nanti malam," Ani sudah membuka pintu kamar. Saat hendak melangkahkan kakinya keluar dari kamar. "Kuhabisi kamu diatas ranjang".
******