NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Tanpa Nama #Flashback2

Kemarahan River di Bangkok bukanlah sekadar amarah seorang pria yang dikhianati kekasihnya; itu adalah puncak dari luka yang membusuk.

Hanya seminggu.

Baru tujuh hari yang lalu River berdiri di bawah guyuran hujan, menatap jasad ibunya yang diturunkan ke liang lahat.

Montana Grey, satu-satunya kehangatan di rumah Armani, menyerah pada kanker serviks setelah perjuangan panjang yang menyakitkan.

Di saat River masih bisa mencium aroma sisa ruang perawatan di bajunya, ia justru mendapati kenyataan yang lebih mematikan daripada kanker mana pun.

BRAK!

River membanting tablet ke atas meja kerja Luke di hadapan Saline.

Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena kurang tidur dan duka yang berubah menjadi dendam.

"Seminggu, Pa," suara River bergetar hebat, menahan ledakan yang bisa menghancurkan ruangan itu. "Mama baru seminggu dikubur. Tanah kuburannya bahkan belum kering, dan kalian sudah tidur bersama?"

Saline mencoba membuka mulut, wajahnya pucat pasi melihat bukti-bukti foto dan transaksi di layar tablet itu. "River, dengarkan aku dulu—"

"Tutup mulut kamu, Saline!" gertak River. "jujur! Sejak kapan? Sejak kapan kamu menjadi simpanan pria yang kau panggil 'calon mertua' ini?! Apa saat aku sedang menemani Ibu kemoterapi, kamu sedang mendesah di ranjangnya?"

Luke Armani tetap tenang, ia menyesap whiskey-nya seolah-olah pengkhianatan ini hanyalah transaksi bisnis biasa.

"Ibumu sudah sakit lama, River. Dia sudah tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai istri. Saline memberiku apa yang tidak bisa diberikan ibumu. Dan dia memilihku karena dia tahu, kamu tidak akan pernah menjadi pemimpin selama kamu masih menjadi pemberontak."

River tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti rintihan. Ia menatap Saline dengan jijik yang mendalam.

"Aku butuh kepastian, River!" Saline akhirnya berteriak. "Luke menjanjikan posisi direktur, dia menjanjikan kekuasaan Armani Group. Kamu? Kamu cuma kasih aku janji-janji soal masa depan yang nggak pasti. Aku nggak bisa makan cinta di bengkel!"

"Aku nggak butuh penjelasan soal saham, Saline. Aku butuh penjelasan kenapa harus Luke Armani?!"

Suara River terdengar seperti retakan es—tajam dan berbahaya.

Di dalam ruang kerja private suite yang kedap suara itu, River berdiri dengan tangan mengepal di samping tubuhnya, sementara Saline duduk di sofa dengan gaun merah yang tampak sangat kontras dengan wajahnya yang pucat.

Luke Armani, sang ayah, hanya berdiri di dekat jendela, menyesap cerutunya seolah pengkhianatan ini hanyalah hiburan sore hari.

"River, kamu harus realistis," Saline mencoba menenangkan suaranya meski jemarinya gemetar. "Nyonya Montana baru saja pergi. Kekacauan di Armani Group butuh stabilitas.."

River tertawa pendek, tawa yang penuh dengan luka. "Seminggu yang lalu kita masih bicara soal masa depan bengkel itu. Seminggu yang lalu kamu menangis di pemakaman Mama, bersumpah akan ada di sampingku. Ternyata kamu cuma nunggu Mama dikubur supaya bisa naik ke ranjang Luke?"

"Jaga bicaramu, River!" Luke memotong dengan nada otoritasnya yang dingin. "Saline memilih kekuatan. Sesuatu yang tidak kamu miliki karena kamu terlalu sibuk dengan hobi sampahmu itu."

River menatap ayahnya, lalu kembali ke Saline. Rasa mual meluap di dadanya. Ia membanting tablet yang berisi bukti-bukti perselingkuhan mereka ke meja kaca dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya retak.

"Ambil semua, Saline. Ambil sahamnya, ambil ranjangnya, ambil nama besarnya," desis River. Ia melangkah maju, menghimpit Saline hingga wanita itu terpojok ke sandaran sofa. "Tapi jangan pernah sekali-kali kamu sebut nama Mama lagi dengan mulut yang sama yang kamu pakai buat muasin ranjang suaminya itu. Kamu bukan lagi siapa-siapa buat aku. Kamu cuma sampah yang kebetulan pernah aku cintai."

River berbalik, tidak sudi menatap ayahnya lebih lama lagi. Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah besar, menyeret amarah yang seolah ingin meledakkan gedung hotel tersebut.

Ia turun ke bar utama, butuh sesuatu yang lebih tajam dari sekadar amarah untuk membungkam otaknya yang terus memutar bayangan pengkhianatan tadi.

River duduk di kursi bar, memesan whiskey ganda, dan langsung menenggaknya habis. Matanya yang kelam menyapu seisi bar dengan tatapan predator yang sedang terluka.

Seorang gadis dengan gaun satin perak, duduk tiga kursi darinya. Gadis itu terlihat sangat asing di tempat seperti ini—terlalu rapuh, terlalu cantik, dan tampak sangat tidak berpengalaman dengan gelas di tangannya.

River sempat mencoba tak peduli, tapi ujung matanya memperhatikan bagaimana gadis itu memejamkan mata setiap kali menyesap minumannya, seolah sedang menelan duri.

Ada sesuatu dari cara gadis itu memegang gelasnya—dengan tangan yang gemetar namun penuh tekad—yang membuat River merasa melihat bayangan dirinya sendiri. Bukan kemarahan yang ia lihat pada gadis itu, melainkan keputusasaan yang murni.

River menggeser duduknya, mendekat tanpa melepaskan pandangannya dari profil wajah gadis itu yang diterangi cahaya neon merah yang remang.

Di tengah kehancuran hidupnya malam ini, mungkin gadis ini memang datang untuk menemaninya meledakan amarah paling elegan.

"Minuman itu nggak cocok buat cewek yang kelihatannya baru pertama kali mau mabuk," suara River keluar, berat dan serak, memutus kesunyian Every yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

River melihat gadis itu menoleh, dan saat mata mereka bertemu, River tahu—malam ini tidak akan berakhir hanya dengan satu gelas whiskey.

River menggeser gelas whiskey nya yang kosong, matanya yang kelam menatap Every yang sedang berjuang menahan rasa panas di kerongkongannya. Gadis itu terlihat kacau, tapi cantik—tipe kecantikan yang seharusnya tidak berada di tempat sekotor ini.

"Pelan-pelan. Lo minum kayak orang mau mati besok pagi," suara River berat, terdengar dingin tapi ada sedikit rasa penasaran di sana.

Every menoleh, matanya sayu dan pipinya merona merah karena pengaruh alkohol.

Ia terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat kontras dengan dentum musik di bar. "Emang kenapa? Kalau gue mati malam ini, setidaknya gue nggak perlu dengerin omong kosong orang-orang itu lagi."

River menyeringai tipis. "Gue setuju soal itu. Dunia emang isinya cuma sampah yang dibungkus rapi."

"Lo... lo kelihatan tenang banget," Every menopang dagunya dengan tangan yang gemetar, menatap River lekat-lekat. "Gue dari tadi udah mau muntah, tapi lo... lo kayak batu. Nggak goyang sama sekali."

"Gue udah biasa sama rasa pahit," sahut River pendek. Di kepalanya, bayangan Luke dan Saline masih berputar, tapi melihat gadis di depannya ini—yang bertingkah lucu karena mabuk—membuat amarahnya sedikit teralihkan.

River merasa butuh pelampiasan. Bukan alkohol, tapi sesuatu yang lebih nyata. Sesuatu yang bisa bikin dia merasa 'hidup' kembali setelah dikhianati habis-habisan.

Sementara itu, dalam benak Every yang mulai berputar, sebuah pemikiran gila muncul. Kalau Emily bilang aku lemah, kalau Papa bilang aku butuh dibimbing Axel... aku bakal buktiin kalau aku bisa nentuin hidupku sendiri. Melepaskan sama cowok asing ini... bukannya itu cara paling aman buat jadi wanita tangguh? Buat ngerusak citra 'anak mami' yang mereka kasih ke gue? batin Every nekad.

"Lo punya tempat menikmati minuman ini, yang lebih sepi dari bar ini?" tanya Every tiba-tiba, suaranya kecil tapi tegas.

River terdiam sejenak, menatap Every dengan intensitas yang mematikan. "Lo tahu apa yang lo minta?"

"Gue tahu," Every mendekat, aroma alkohol dan parfum mahalnya menerpa indra penciuman River. "Gue cuma nggak mau sendirian malam ini. Dan gue rasa, lo juga sama."

River tidak menjawab dengan kata-kata. Posesifitasnya yang gelap mulai bangkit. Ia merogoh saku, meletakkan beberapa lembar uang di meja bar, lalu berdiri dan mencengkeram tangan Every.

"Ayo," desis River. "Tapi jangan nyesel kalau besok pagi lo nggak bakal bisa lupain nama gue."

Every mengikuti langkah River yang lebar dan stabil, sementara ia sendiri berjalan sedikit sempoyongan.

Di bawah lampu jalanan Bangkok yang remang, mereka tidak saling bertanya soal luka masing-masing.

River butuh melampiaskan dendamnya pada dunia, dan Every butuh menghancurkan 'kemurnian' yang selama ini menjadi penjara baginya.

Malam itu, di dalam kamar yang asing, mereka membiarkan insting yang bicara.

River yang terlalu tenang dalam mabuknya mulai menunjukkan sisi predatornya, sementara Every yang lucu dan kikuk mulai belajar bahwa rasa sakit bisa terasa sangat memuja jika dilakukan dengan orang yang tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!