Anara Kamala Alice tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya berubah selamanya di malam ulang tahunnya yang ke-23. Impiannya menjadi dokter hancur seketika ketika ia mendapati dirinya hamil di luar nikah—sebuah aib yang merenggut segalanya: beasiswa, pendidikan, dan kehormatan keluarganya.
Di tengah tekanan itu, ia terpaksa menikah dengan Alan Ravindra Sanjaya, pria yang bertanggung jawab atas kehamilannya. Alan, yang sebenarnya tunangan kakaknya, memperlakukannya dingin dan penuh kebencian. Keluarga Alan pun tak pernah menerima kehadirannya. Alan bukan hanya tunangan kakaknya, tapi juga calon jaksa besar yang dihormati. Namun, pernikahan itu jauh dari kata bahagia. Identitas Nara sebagai istri Alan disembunyikan dari publik, dan sikap Alan yang dingin membuatnya merasa terasing
Tapi di balik semua itu, ada rahasia besar yang perlahan terungkap—sebuah pengkhianatan yang tak pernah ia bayangkan datang dari orang terdekatnya. Sementara Alan mulai menyadari perasaan yang selama ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phoebeee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedulian Alan
Alan tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang saat melihat Nara tertidur lemas di kasur dengan kondisi kamar yang menurutnya sangat tidak nyaman.
“Apa masih dingin?” tanya Alan kepada Nara yng masih menggigil.
Setelah Nara sadar dari racauanya, ia tiba-tiba kembali pingsan begitu saja dipelukan Alan. Badanya yang mulai mendingin dengan nafas yang mulai terputus-putus.
“A-ayah~” lirih Nara
Alan tersentak pelan saat Nara meracau memanggil ayah dengan badan yang semakin menggigil tidak karuan. Apa yang sudah ia lakukan hingga membuat Nara seperti ini?
Alan memeras handuk kecil yang sudah ia rendam di air panas dalam baskom kecil. Ini pertama kalinya ia merawat orang sakit seperti ini, merebus air panas hingga tanganya terkena luka bakar. Ini semua berawal melihat tutorial merawat orang sakit demam.
Dokter biasa merawat keluarga Sanjaya juga tidak mengangkat teleponnya sedari tadi dan Nara juga tidak mau di ajak keluar bahkan saat ia harus ke dapur merebut air panas, Nara menangis kencang tidak mau ditinggalkan dan memeluknya sangat erat.
“Ja-ngan-, jangan tinggalin Nara sendiri,” racau Nara dengan lirih saat Alan melepaskan pelukanya.
“Tidak, aku hanya meletakkan handuk ini agar panasnya turun,” ujar Alan dengan pelan sembari mengelus punggung Nara agar lebih tenang.
Alan meletakkan handuk yang sudah ia remas tadi di dahi Nara kemudian kembali masuk ke dalam selimut dan memeluknya dengan pelan. Ia sengaja memberi jarak saat memeluk badan Nara agar tidak menghimpit bayi yang di dalam perut Nara.
Panas.Di sini tidak ada ac, kamar yang sempit dan juga kasur yang keras. Berbeda dengan kasur di kamarnya yang empuk.
“Maaf,” lirih Nara
Alan tersentak pelan lamunanya melihat sekitar kamar Nara. Ia berpikir bagaimana bisa wanita ini bertahan di dalam kamar yang sempit seperti ini, bahkan untuk bergerak saja rasanya sesak sekali.
“Shutt tidurlah,” ujar Alan berusaha menenangkan Nara.
Sudah berapa kali kata maaf yang diucapkan oleh Nara sedari tadi. Sebegitu dalamkah rasa bersalahnya? hingga disaat meracau seperti ini mengatakan maaf?
Alan mengusap bahu Nara dengan lembut, ia melihat bagaimana Nara tampak sangat gelisah berusaha mencari posisi aman, bahkan tanpa sadar ria meringis pelan takut Nara menghimpit perutnya.
“Alan-”
Alan mengalihkan pandangannya menuju Nara, dengan posisi berpelukan seperti ini ia dapat melihat bagaimana dekatnya wajah Nara. Ini pertama kali baginya berada di dekat Nara sedekat ini, melihat wajahnya yang ayu, manis dengan mata coklat terangnya.
Mata yang indah, berbeda dengan mata senja yang berwarna hitam kelam.
“Hmm”
Nara menaikkan tangan yang meletakkanya di atas dada Alan merasakan detak jantung pria itu. Terkadang ia berpikir, bagaimana Tuhan membawa dirinya sejauh ini.
Ia takut, bahwa ia tidak selamanya di dunia ini. Tidak masalah jika setelah kepergiannya Alan akan memiliki hidup baru dengan wanita lain atau bahkan Kak Senja sekalipun, namun yang menjadi pikiranya adalah– baby.
“Jika aku mati, tolong sayangi baby. Jangan buat ia sendirian, jangan buat ia seperti aku. Ia bukan anak haram,” lirih Nara.
Alan terdiam mendengar perkataan Nara, dadanya terasa sesak saat Nara mengatakan hal tersebut. Ia menggeleng cepat, tidak terima dengan perkataan Nara.
Ia tidak mengizinkan itu terjadi.
Tapi, bukankah seharusnya ia senang bahwa Nara tidak ada dalam kehidupanya lagi? ia bisa kembali dengan senja dan hidup bersama?
Namun kenapa hatinya juga merasa sesak dan seolah tidak terima dengan perkataan Nara. Ia tidak siap akan kehilangan wanita di dalam pelukanya ini.
Alan mengeratkan pelukanya bersama Nara, pelukan yang belum tentu Nara dapatkan kembali di dalam hidupnya. Kebersamaan yang mustahil untuk dirinya dan Alan.
“Tidurlah, jika masih panas besok kita akan ke rumah sakit,” ujar Alan
Nara memejamkan matanya, perutnya terasa nyaman saat berada di antara sekitar Alan. Ia merasa hangat dan nyaman hingga tanpa sadar membuat Nara semakin mendekat ke arah Alan, menggelamkan kepalanya di dada bidang Alan.
Matanya semakin memberat, badanya mulai terasa normal namun suhu panas di badanya masih terasa ditangan Alan.
“Aku tidak bisa tidur di kamar seperti ini,” ucap Alan dengan pasti, kamar ini sangat nyaman dan enak karena rapi namun panas dan sempit dan Alan tidak bisa tidur dalam keadaan panas.
Alan menoleh ke samping melihat ke arah Nara yang sudah mulai tertidur dengan lelap dengan nafas yang stabil.
Dengan pelan Alan melepaskan pelukanya dengan Nara. Ia mengulang merendam handuk tadi ke dalam baskom air hangat dan meremasnya meletakkan kembali di atas kepala Nara.
Alan menarik nafas panjang berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya, ia benar-benar tidak bisa tidur di kamar sempit seperti ini namun ia juga tidak bisa meninggalkan Nara dalam keadaan demam seperti itu.
Tapi-apa pedulinya? Kenapa ia harus peduli?
Alan keluar dari kamar Nara dan menutup pintu. Matanya memejam pelan saat berhasil keluar dari kamar panas Nara.
Bagaimana bisa Mama meletakkan Nara di kamar kecil seperti itu?
Alan menjalankan kakinya menjauh dari kamar namun seketika langkahnya terhenti, ada sesuatu seperti menahanya.
Ia kembali masuk ke dalam kamar Nara dengan cepat, nafasnya memburu saat mendengar sesuatu bunyi yang jatuh.
Apa itu Nara?
Ia berjalan dengan cepat membuka pintu dengan kasar. Matanya bergerak liar hingga memfokuskan pada satu titik yaitu Nara yang masih tertidur pulas walau mengeliat pelan.
“Kucing?” gumam Alan
Melihat seekor kucing cantik menjatuhkan kotak dari meja yang sekarang berbaring di kasur bersama Nara.
Sejak kapan ada kucing di sini?
Alan mengabaikan kucing yang berusaha mencari posisi nyaman berbaring di samping Nara. Alan mendekat ke arah Nara yang masih tertidur lelap itu kemudian tanganya menyelipkan di belakang leher Nara dan juga lututnya menggendong dengan secara pelan.
Alan menggendong Nara dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Bahkan di kehamilan besar Nara sekalipun dirinya sama sekali tidak merasa berat? seharusnya jika sudah hamil sebenarnya ini bukankah berat badan ibu hamil semakin bertambah?
Alan membawa Nara menuju lantai dua ke arah kamarnya, membuka pintu kamar dengan susah namun berhasil hingga sampailah ia ke dalam kamarnya. Kamar yang lebih besar, ini pertama kalinya Alan membawa Nara masuk ke dalam.
Ia sangat tidak suka orang masuk ke dalam kamarnya apalagi Nara. Ia sangat melarang keras wanita itu masuk ke dalam kamarnya bahkan berdiri di depan pintu kamarnya saja sangat tidak ia izinkan namun kali ini, Ia dengan sadar mengajak Nara tidur di dalam kamarnya.
“Semoga panasnya segera turun,” lirih Alan menidurkan Nara di kasurnya dengan pelan agar tidak membangunkan wanita itu. Ia memperhatikan Nara dengan seksama, bagaimana indahnya wajah itu saat tertidur lelap.
"Alana" alan-nara nama yg indah
makasih thor untuk extra part nyaa
di tunggu karya baru nyaa..
sukses slalu...
inilah last chapter dari buku ini, semoga kalian sukanya.
dengan ini aku menyatakan bahwa buku ini sudah tamat
maaf sepertinya tidak ada seos 2 karena aku berpikir lebih baik cukup di sini dan juga rencananya ak mau nulis buku baru.
jadi bagi kalian nyari cerita baru boleh ke buku baru aku yaa.
aku bakal mulai update minggu depan
terima kasih guys always waiting this story ❤ love you
Kalau Bisa SEASON 2 KU BERHARAP ADA THOR 😍😍😍😭😭😭😭❤️❤️💚❤️❤️