Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Jangankan memilikinya membayangkan saja aku tidak pernah...Bagaimana mungkin gadis miskin sepertiku bisa bersanding dengan pangeran. ___Nisa___
Jatuh cinta tidak pernah salah...Dimana dan dengan siapa...hanya saja keadaan yang membuatnya jadi rumit antara cinta dan bakti pada orang tua.
___Austin__
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Fajar
"Maaf Mas kalau Nisa boleh tahu, sejak kapan mas mulai sakit ?" tanya Nisa.
"Sebulan sebelum kita ke pulau K waktu itu."
"tapi kenapa sembunyikan dari Nisa, Mas ?"
"Mas tidak mau kamu kawatir."
"Kalau tidak mau Nisa kawatir, harusnya Mas mau melakukan transplantasi hati, itu satu-satunya cara agar Mas sembuh. Nisa juga tidak keberatan jika harus mendonorkan hati Nisa ?"
"Jangan pedulikan Mas Nis, pikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu itu."
"Lagipula Mas juga sudah tua Nis, apalagi sejak sakit Mas sering memimpikan almarhum istrinya Mas. Sepertinya dia sudah menunggu Mas." ujar Fajar dengan pandangan kosong.
"Mas jangan bilang seperti itu, Mas janji akan sembuh kan ?"
"tapi istrinya Mas sudah menunggu, dia terlihat sangat cantik." kata Fajar, sepertinya ia mulai melantur.
"Sudah Mas istirahat saja. " Nisa membantu Fajar berbaring dan menyelimutinya.
"Oh ya Mas, tadi Mas Fachri menghubungi kalau besok pagi beliau ke sini." Nisa memberi tahu kalau Fachri adik satu-satunya Fajar akan datang dari Malaysia.
Sebenarnya Fajar tidak mau adiknya itu tahu kalau dia sakit, tapi Nisa selalu memaksa untuk memberi tahunya.
Keesokan harinya
Nisa tampak letih karena semalaman harus menjaga Fajar yang tiba-tiba demam. Hari ini pun keadaan Fajar sangat lemah.
"Nis ?"
"Iya Mas." jawab Nisa dengan menggenggam tangan Fajar.
Entah kenapa sejak pagi Fajar enggan di tinggalkan oleh Nisa, meskipun Fachri juga ada di sana.
"Berjanjilah sama Mas, kamu akan menjadi wanita kuat." ujar Fajar lirih hampir tak terdengar.
"Nisa janji Mas, Mas juga janji ya harus sembuh." sahut Nisa dengan mata berkaca-kaca.
"Apa Mas boleh memelukmu, sebagai seorang adik." pinta Fajar.
"Tentu saja Mas." sahut Nisa.
Lalu ia membantu Fajar untuk duduk, setelah itu ia memeluknya. Begitu juga dengan Fajar, ia memeluk Nisa dengan erat, tapi lama-kelamaan pelukan itu semakin merenggang dan tak lama kemudian Fajar jatuh tak sadarkan diri.
Nisa sangat panik, lalu Fachri yang dari tadi pagi sudah berada di rumah sakit tersebut segera berlari keluar memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian dokter masuk dan segera memeriksa denyut nadi Fajar, detak jantungnya dan matanya. Nampak raut wajah dokter itu terlihat suram.
"Dok bagaimana keadaannya Abang saya ?" tanya Fachri.
"Kami mohon maaf karena tidak bisa menyelamatkannya, beliau sudah meninggal." ucap dokter tersebut tampak menyesal.
"Itu tidak mungkin dok." Nisa langsung memeluk tubuh Fajar yang kaku.
"Mas sudah janjikan, kalau kita akan selalu bersama-sama." teriak Nisa dan tak lama kemudian ia jatuh pingsan.
☆☆☆
Seminggu sudah berlalu sejak kematian Fajar, Nisa masih mengurung diri di kamarnya. Bahkan untuk makanpun bik Surti yang membawanya ke kamar.
Dia sangat terpukul atas kematian Fajar, seseorang yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri, yang mendukungnya saat dia jatuh terpuruk. Bahkan disaat akhir hidupnya pun ia masih memikirkan masa depannya.
"Hatimu seluas samudera Mas, semoga kamu selalu bahagia bersama istrinya Mas di atas sana." ucap Nisa lirih sambil melihat bingkai foto Fajar.
tokkk
tokkk
"Nis, boleh saya masuk ?" tanya Fachri adiknya Fajar.
Nisa membuka pintu mempersilakan Fachri masuk.
"Maafkan saya ya mengganggu kamu, tapi ini sudah satu minggu kamu mengurung diri di kamar. Saya takut terjadi apa-apa sama kamu." Fachri tampak kawatir dengan Nisa, dia tahu seperti apa hubungan Nisa dan kakaknya karena Fajar sering menceritakannya.
"Tidak apa-apa Mas, Nisa baik-baik saja."
"Kapan kamu akan pindah ke pulau K, sesuai permintaan abang. Nanti saya akan sering menjenguk kamu, bang Fajar sudah menyayangimu seperti adiknya sendiri. Begitu juga saya akan menganggap kamu seperti adik perempuan saya sendiri."
"Terimakasih kasih Mas sudah menerima Nisa ke dalam keluarganya Mas."
"Jangan sungkan, lain kali kalau ada apa-apa hubungi saya. Oh ya nanti sore saya mau balik ke Malaysia. kamu jaga diri baik-baik ya."
"Baik Mas."
Kemudian Fachri pamit karena pesawatnya beberapa jam lagi akan berangkat.
Keesokan harinya Nisa bangun sangat pagi, pikirannya terasa tidak enak.
drrrtt.... drrrtt.... ponselnya berdering.
"Assalamualaikum Dek ?"
"Walaikumsalam Mbak, Mbak Nenek Mbak." terdengar suara Adi adiknya Nisa panik.
"Bicaranya pelan-pelan Dek, kenapa Nenek ?"
"Nenek jatuh dikamar mandi Mbak, nenek meninggal." terdengar isak tangis adi.
"Iya dek, tunggu ya Mbak segera pulang." Nisa terduduk lemas di lantai, kakinya seperti tak bertulang.
Dia segera mengaduh kepada sang pencipta memohon kekuatan hati dan jiwanya. Dia begitu terpuruk ketika Fajar meninggal sekarang Neneknya juga meninggalkannya.
Ia sadar itulah takdir hidupnya yang harus ia jalani, dari kecil ia selalu mempunyai keyakinan bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuannya.
Setelah tenang Nisa segera bersiap-siap pulang kampung, selama hampir dua jam menempuh perjalanan. Akhirnya ia sampai dan langsung mengikuti proses pemakaman Neneknya.
Nisa terlihat sangat tegar, ia tidak mau menangis lagi. Ia harus kuat demi Adiknya, satu-satunya keluarga yang saat ini ia milik dan juga bayinya.
Beberapa hari setelah kematian Neneknya, Nisa berniat untuk pindah ke pulau K. Dia harus menjalankan amanah almarhum Fajar. Tetapi sebelum itu ia harus membicarakan dulu dengan adiknya, adiknya harus tahu tentang kehamilannya.
"Dek." Nisa menghampiri adiknya yang terlihat sedang duduk melamun.
"ya Mbak"
"Ada yang mau mbak bicarakan, tapi kamu janji ya jangan marah."
"Ada apa mbak ?" Adi penasaran.
"Mbak hamil."
"Apa ?" Adi terkejut.
Kemudian Nisa menceritakan semuanya tentang Austin dan Fajar. Setelah mendengar cerita Nisa, ada kilat kemarahan di matanya.
"Adi akan membunuh laki-laki itu mbak."
"Mbak tidak mau kamu mengotori tanganmu itu Dek, Mbak cuma ingin kamu selalu di samping Mbak."
"Adi janji Mbak, Adi akan selalu melindungi Mbak Nisa dan keponakan Adi."
"Jadi kamu mau kan pindah ke pulau K, kita akan memulai hidup baru di sana."
"Iya Mbak, kemanapun Mbak pergi Adi ikut. Oh ya Mbak beberapa hari yang lalu ada yang mencari Mbak."
"Siapa Dek ?"
"Adi tidak tahu Mbak, sepertinya dari kota."
Nisa diam sejenak memikirkan siapa yang mencarinya, mungkin yang dibilang Tommy itu benar tuan Michael ayahnya Austin yang sudah mencarinya.
"Untuk apa mencari ku, bahkan beliau tidak menyetujui hubungan kami. apa beliau tidak mau anak ini lahir ke dunia. Tidak, ini anakku. Aku akan melindunginya bahkan nyawaku taruhannya." batin Nisa.
"Mbak kenapa bengong, Mbak mengenal mereka ?" tanya Adi heran karena dari tadi Nisa terlihat diam dengan pandangan kosong.
"Mereka ?"
"Iya mereka bertiga orang-orang yang mencari Mbak ?"
"Mbak tidak tau Dek, sudah jangan dipikirin. Lebih baik kamu mulai beresin barang-barang kamu untuk pindah, besok mbak antarin kamu ke sekolah untuk mengurus surat pindahnya."
Setelah membicarakan masalahnya kepada adiknya, Nisa merasa lega. Karena Adi mau mengerti keadaannya, dan mereka sepakat akan pindah ke pulau K. Memulai kehidupan baru di sana bersama adik dan anaknya kelak.
✌🏼
keduluan baca lapak anaknya 😂👻
Wira ini tipe lelaki robot 👻