Klara baru bangun dari koma setelah tiga tahun, anak yang dulu di kandungnya kini sudah menjadi balita yang bisa melihat hantu.
Di saat Klara ingin dekat dengan putrinya, tiba-tiba anak dari suaminya datang dan hadir di antara mereka. Membuat hubungan yang hendak dibangun menjadi sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Umay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Ibunya Klara
Siang itu mereka menghabiskan makan yang dibuat Klara dengan lahap, Kyos tidak protes sama sekali saat Klara makan lebih banyak darinya. Malah, Kyos memberikan jatah makannya untuk istri yang sedang hamil tua itu.
Kyos kasihan pada Klara karena harus mengandung anak ketiga, ia tidak menyangka akan memiliki anak lagi. Walaupun Klara masih muda untuk melahirkan anak lagi, tapi tetap saja ia khawatir.
Setelah anak ini lahir, Kyos akan pastikan supaya Klara tidak perlu repot-repot hamil lagi. Mereka akan menggunakan metode kontrasepsi paling ampuh.
"Sayang, nanti kita mau namain si kecil siapa?" tanya Kyos sembari memegang perut Klara.
Mereka sudah selesai makan, Kyos hendak mengantar Klara sampai parkiran bawah.
Lift otomatis dikhususkan jika Klara datang ke kantor, semua pegawai wajib menunggu lift berikutnya. Itu peraturan yang Kyos buat untuk menjaga Klara dan calon buah hatinya.
Perlakuan istimewa itu kadang membuat sebagian orang iri, tapi sebagian lagi bersyukur karena Kyos telah banyak berubah setelah bertemu Klara. Tak ada lagi bos kejam yang membuat karyawannya bunuh diri seperti dulu.
"Siapa ya Mas, kayaknya Paman mau ngasih nama loh. Nanti biar Paman aja yang nentuin," jawab Klara sembari tersenyum.
Lift terbuka, mereka segera keluar dan disambut oleh karyawan lainnya. Kyos memegang bahu Klara untuk sekedar meringankan beban berat yang harus Klara bawa di dalam perutnya.
"Terserah kamu aja."
"Mas, boleh aku minta sesuatu?" tanya Klara.
"Boleh dong. Kamu mau minta apa Sayang?"
"Beliin es krim vanila, mau 'kan beliin?"
"Tunggu bentar." Kyos mengangkat tangannya, seorang pengawal mendekat, Kyos segera menyuruh pengawal itu membeli es krim untuk Klara.
Setelah pengawal pergi, Kyos mendapat telepon yang mengharuskannya meninggalkan Klara sebentar.
Kyos menuntun Klara untuk duduk di sofa tempat tunggu yang tak jauh dari resepsionis.
"Jangan lama-lama ya," pinta ibu muda itu.
Kyos hanya tersenyum sebelum meninggalkan Klara sendirian. Tak jauh dari sana terlihat seorang perempuan paruh baya memaksa untuk bertemu Kyos padahal belum mempunyai janji.
"Saya ini mertua Kyos, kalo tidak percaya panggil Kyos dan Klara," teriak seorang wanita separuh baya itu.
Mendengar namanya disebut, Klara segera bergegas melihat siapa orangnya, perlahan dia dekati wanita itu. Tapi tak lama kemudian matanya membulat sempurna, ia sangat terkejut melihat wanita yang kini dihadapannya adalah wanita yang dulu pernah membuang dirinya seperti sampah.
Tanpa sadar Klara mundur, ia hampir tak bisa menahan tubuhnya jika Kyos tidak memegang bahu ibu hamil itu.
"Kamu kenapa? Kata pengawal Es krimnya nggak ada, kita beli di jalan aja ya?"
"Nggak papa Mas, ayo pulang sekarang." Tubuh Klara masih bergetar, ia tak ingin berhadapan dengan wanita itu.
Dulu dia pernah mencari wanita itu, melihatnya dari kejauhan, wanita itu sudah hidup bahagia dengan suami dan anak-anaknya yang lain.
"Kamu sakit? Mukamu pucet banget, kita ke dokter ya."
"Nggak, aku cuma pingin pulang istirahat." Klara mengajak Kyos meninggalkan tempat itu.
Tapi naas, wanita yang ingin Klara hindari itu telah melihatnya. Buru-buru wanita itu berlari menyusul mereka berdua.
"Tunggu!" teriak wanita itu ketika Kyos dan Klara hendak masuk mobil. Otomatis Kyos berhenti dan menengok ke arah belakang, sementara itu jantung Klara berdebar. Ia sungguh tak ingin berurusan dengan wanita itu lagi.
"Klara, kenapa kamu menghidari Mami?" tanya wanita itu.
Mata Klara nyalang menatap wanita itu, ia ingin mengusirnya tapi mulut Klara seperti enggan terbuka.
"Dia siapa? Kamu kenal?" tanya Kyos tampak bingung.
"Kamu pasti Kyos, 'kan? Suami putriku Klara?" tanya wanita itu.
Kini seorang gadis muda dan lelaki remaja berjalan mendekat, seakan mereka mengenal wanita separuh baya itu.
"Iya, saya suami Klara, anda siapa?" tanya Kyos lagi.
"Kenalkan, saya Wulan ibu kandungnya Klara, dan ini adik-adik Klara. Clarissa dan Eric. Kami akan tinggal di rumah kalian untuk sementara. Suami saya meninggal dan semua aset habis untuk bayar hutang, jadi saya akan tinggal di rumah anak saya yang paling tua." Wulan menjelaskan tanpa rasa canggung sedikitpun.
"Benar dia ibu kandungmu?" tanya Kyos masih tak percaya.
Klara hanya mengangguk.
"Ini mobil kalian, 'kan? Ayo anak-anak masuk mobil," perintah Wulan kepala kedua anaknya.
Mereka berdua menurut dan masuk kedalam mobil yang akan ditumpangi Klara serta Kyos. Kesal melihat Wulan berlaku seenaknya, tapi Klara tak ada pilihan. Hatinya masih terlalu sakit untuk berucap kepada perempuan yang telah melahirkannya itu.
Kyos menyuruh sopir untuk keluar, dia sendiri yang akan mengemudi setelah menuntun Klara masuk ke dalam jok depan.
Di dalam mobil Klara masih diam, walaupun penasaran tapi Kyos masih menahan diri untuk tidak bertanya, dia yakin Klara punya alasan untuk diam.
Setibanya di rumah, mereka di sambut pelayan yang khusus melayani Klara bak seorang ratu.
"Tolong bawa mereka ke kamar tamu," perintah Klara yang akhirnya mengeluarkan kalimat.
"Siapkan kamar yang mewah ya, soalnya kulit gue sensitif kalau nggak pake barang mahal," ucap Clarissa dengan sombongnya.
"Tolong kamar biasa aja, nggak usah berlebihan," perintah Klara lagi.
"Eh Lo kakak durhaka! Kok lo berani ngomong gitu sih! Gue bilang kamar yang mewah bukan kamar yang biasa aja! Lo budek ya?!" bentak Clarissa pada Klara.
Kyos garam melihat Klara diperlakukan seperti itu, ia hendak maju tapi Klara duluan maju dan menjambak rambut Clarissa.
"Denger baik-baik, kamu cuma numpang di sini. Kalo nggak suka, keluar kamu dari sini!" ucap Klara penuh penekanan.
Eric yang tadinya sibuk dengan ponsel kini menarik kopernya untuk masuk.
"Gue ogah tidur di jalan lagi, mana kamar buat gue?" tanya Eric.
"Antar dia," perintah Kyos kepada salah seorang pelayannya.
Bergegas pelayan yang terkejut itu mengantar Eric masuk, sebelumnya Klara selalu ramah dan lembut, baru kali ini mereka melihat Klara seperti sosok yang berbeda.
"Berani lo sama gue!" bentak Clarissa melepas kasar tangan Klara yang menjambak rambutnya.
"Udah udah ... Kalian ini kakak adik, jangan berantem!" Wulan menengahi pertikaian kedua anaknya.
"Saya mengizinkan kalian tinggal di sini karena kalian keluarga Klara, tapi jika Klara tidak nyaman dengan kalian, terpaksa saya sendiri yang akan mengusir kalian dari sini." Kyos tampak bijaksana.
"Kami ini keluarga Klara, mana mungkin Klara tidak nyaman dengan kami. Iya, 'kan Klara Sayang?" tanya Wulan pada Klara.
Klara membuang wajah, "aku lelah Mas, aku ke kamar dulu."
Klara pergi tanpa sepatah kata lagi. Di susul Kyos yang mengejar di belakangnya. Mereka meninggalkan Bu Wulan dan Clarissa di ruang tengah.
nyimak aah