Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Hari mulai gelap, Leon kembali ke penginapan. Dia belum berhasil menemukan pekerjaannya. Membersihkan diri, ia meraih ponselnya dan menghubungi kedua orang tuanya. Dia sengaja menelepon ketika malam hari karena di negara orang tuanya sudah masuk waktu pagi.
Leon bercerita jika perjalanannya tak ada halangan, dia juga telah mendapatkan tempat tinggal sementara. Dia berencana akan pergi menemui saudara ibunya yang berada di kota itu juga.
Leon turut menceritakan kejadian tadi sore ketika ia menolong seorang bocah laki-laki. "Aku melihatnya jadi teringat Emily, Ma."
"Leon, Mama tau ini pasti berat. Kamu belum sepenuhnya dapat melupakannya. Mama hanya berharap kamu tetap kuat dan berusaha mengikhlaskannya."
"Iya, Ma. Aku sudah mencoba merelakannya, tapi aku merasa kalau Emily masih hidup."
Dari ujung telepon Rachel menghela napas panjang. Ia mengerti jika putranya masih menyimpan rasa trauma.
"Ma..."
"Leon, apakah kamu masih bermimpi Emily?" tanya Rachel.
"Ya. Di pesawat aku sempat tertidur dan dalam mimpiku Emily seperti duduk di dekatku," jawab Leon.
"Nak, kenapa kamu sering bermimpi tentang Emily? Karena kamu belum melepaskan dia secara utuh. Pelan-pelan aja, walaupun itu sangat sulit," nasehat Rachel.
"Iya, Ma. Aku akan mencobanya walaupun aku takkan membuka hati lagi buat wanita lain."
"Mama tidak keberatan kamu tak menikah lagi. Mama cuma ingin melihat kamu bahagia," kata Rachel menguatkan putranya.
Panggilan keduanya pun berakhir.
Hampir 6 tahun sejak kejadian itu, Leon hampir sering memimpikan istrinya. Bahkan, terlihat jelas dalam bunga tidurnya kalau Emily memintanya untuk menjemputnya. Selain itu di mimpinya 2 tahun terakhir ini, terdengar sayup-sayup suara anak-anak memanggilnya dengan kata-kata 'ayah'. Namun, Leon tak melihat jelas sosok kelamin dan wajah bocah itu.
Selesai menelepon kedua orang tuanya, Leon merebahkan tubuhnya. Dia berharap besok pagi segera mendapatkan pekerjaan. Sebelum memejamkan matanya, ia teringat dengan bocah laki-laki yang ditolongnya. Mata dan hidungnya hampir mirip dirinya. Sedangkan bibir dan alis mata seperti Emily.
Leon menggelengkan kepalanya dan bergumam, "Itu pasti hanya kebetulan saja."
Perlahan Leon memejamkan matanya dan tertidur.
Tepat 4 jam tertidur, Leon terbangun dengan napas ngos-ngosan dan keringat bercucuran. Mimpi itu kembali datang.
"Kenapa rasanya berat sekali?" lirihnya sembari menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal.
Biasanya dia terbangun dari mimpi tanpa napas memburu dan keringat berlebihan. Ia lalu memandangi ke arah jendela. Ia pun berpikir tubuhnya berkeringat karena ruang yang pengap.
Di mimpinya, Emily menghampirinya bersama seorang bocah laki-laki. Keduanya saling bergandengan tangan dan memeluk Leon. Itu terasa seperti nyata. Namun, tiba-tiba Emily mengatakan dengan wajah sendu jika ia sudah ditunggui seseorang yang lebih baik darinya.
Emily kemudian melepaskan pelukannya dan mengajak putranya mendekati seorang pria yang berdiri tak jauh dari Leon.
Melihat kepergian istri dan putranya, Leon mengejarnya. Ia sudah berlari kencang tetapi tangannya sulit menggapai lengan istrinya. Padahal ketiga orang di depannya hanya berjalan pelan.
Leon lalu berdiri dan membuka jendela kamarnya membiarkan udara malam masuk ke ruangan tidurnya.
Leon kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Ia mau besok pagi terbangun dalam keadaan segar biar tak kelelahan mencari pekerjaan.
***
Leon terbangun sesuai jam yang diinginkan. Bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia berdandan dengan rapi. Menggunakan ketampanannya yang seadanya untuk memikat orang agar memberikannya pekerjaan yang layak.
Pagi ini Leon melewati sarapan, itu dilakukannya untuk menghemat pengeluaran hariannya. Dia tak mau terlalu boros sebab dirinya berada di luar negeri jauh dari kedua orang tuanya dan belum menemukan pekerjaan.
Hampir 2 jam berjalan, Leo memutuskan untuk berhenti sejenak. Ia duduk di halte bus dan meneguk air mineral yang tinggal seperempat botol.
Tak lama menunggu, sebuah bus berhenti dihadapannya. Seorang pria lebih muda 10 tahun dari Leon menghampirinya dan bertanya, "Kak Leon, ya?"
Leon mendongakkan wajahnya melihat pria muda itu dan menjawab, "Ya, kamu siapa?"
"Aku Darren, anaknya Bibi Katrin!"
Leon lantas berdiri dan memeluk pemuda itu, "Oh, jadi kamu Darren!"
"Iya, Kak. Apa kabar?" tanya Darren. Sebelumnya ibunya menelepon Bibi Rachel agar Leon menunggunya di salah satu halte untuk memudahkan pertemuan mereka dan Bibi Rachel menyampaikannya kepada Leon. Makanya, mereka pun bertemu di halte tujuan.
"Ya, seperti kamu lihat!" jawab Leon.
"Bibi Rachel bilang kalau Kak Leon butuh pekerjaan!" kata Darren.
"Ya, aku memang ingin mencari pekerjaan!"
"Kalau begitu, ayo ikut aku!" ajak Darren.
Keduanya lalu menaiki bus.
Sejam kemudian mereka sampai di sebuah jalanan yang sangat ramai orang-orang. Mereka memasuki sebuah restoran cepat saji. Leon pun diperkenalkan kepada seseorang pria yang merupakan orang yang bertanggung jawab di restoran.
Setelah melakukan wawancara singkat, Leon pun dapat bekerja walaupun hanya sebagai karyawan cuci piring.
Selepas mengantarkan Leon menemukan pekerjaannya, Darren lalu pamit pulang. Leon berjanji jika dirinya betah dan mendapatkan gaji dia akan mentraktir pria itu.
Leon melakukan pekerjaannya dengan hati-hati, ini kali pertamanya dia melakukan pekerjaan yang biasanya dia harus menyuruh orang lain.
Jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, Leon selesai bekerja. Tubuhnya terasa lelah dan letih. Ia memilih naik bus daripada jalan kaki untuk menghemat tenaganya.
Di dalam bus yang berjalan, mata Leon tak sengaja menangkap sosok Jason yang baru saja keluar dari sebuah mobil. "Kenapa dia ada di sini?" batinnya.
Seingatnya, Jason melarikan diri ke luar negeri ketika dirinya ditahan. Namun, bukan negara yang sedang dikunjunginya sekarang. Melainkan, negara lainnya.
"Aku harus cari tau," batin Leon lagi.
Begitu sampai penginapan, Leon membersihkan dirinya dan menikmati makan malamnya yang dibelinya di restoran kecil yang ada di depan jalanan penginapan.
Selesai mengisi perutnya, Leon menghubungi kedua orang tuanya jika dirinya sudah mendapatkan pekerjaan dan ia sangat menyukai pekerjaan barunya.
Mendengar itu, Frans dan Rachel sangat senang. Akhirnya putranya berhasil menemukan pekerjaan yang cocok. Mereka berharap Leon tak memilih jalan yang salah lagi meskipun kemewahan dan kekuasaan sangat mudah diraihnya.
Selepas menelepon kedua orang tuanya, Leon lantas memejamkan matanya.
Lagi-lagi Leon terbangun karena mimpi buruk. Dia tak dapat tidur dengan nyenyak. Terpaksa ia kembali membuka setengah jendelanya agar udara dapat masuk.
***
Keesokan paginya, Leon bangun penuh semangat. Dia mulai kembali beraktifitas lagi. Setelah mendapatkan gaji, Leon akan menyewa sebuah rumah kecil dekat dari tempatnya bekerja biar dapat menghemat waktu dan uang.
Sebelum menaiki bus, Leon membeli sepotong roti dan secangkir kopi di salah satu minimarket. Ia duduk di teras minimarket dan menyantap sarapannya.
Perut telah terganjal, Leon lalu naik bus menuju restoran. Begitu sampai, ia bergegas ke ruang ganti karyawan kemudian lanjut ke arah dapur.
Dua jam bekerja, terdengar suara keributan kecil dari arah depan. Leon yang penasaran lantas melihatnya.
Leon menajamkan penglihatannya memastikan jika yang dilihatnya tidak salah. "Anak itu!" gumamnya.
"Apa salahnya memberikan aku sepotong ayam? Aku 'kan punya uang!" protesnya sambil memegang kedua pinggangnya.
"Kami pasti memberikannya tapi kau ke sini dengan siapa? Jangan sampai polisi datang kemari!" kata manajer restoran, Robi.
"Tenang saja. Aku sudah izin dengan ibuku. Polisi tidak akan datang ke sini!" ucap bocah itu dengan santainya.
Robi menghela napas seraya memijit pelipisnya.
Leon yang penasaran lalu bertanya kepada salah satu rekan kerja wanitanya, "Apa yang terjadi?"
"Anak itu pernah datang makan di sini tanpa didampingi orang tuanya. Tak lama kemudian beberapa polisi dan orang tuanya datang. Tentunya membuat restoran sedikit heboh dan 2 orang pengunjung ketakutan!" jelasnya.
"Polisi bilang mendapatkan laporan jika ada anak hilang," lanjutnya.
"Oh," ucap Leon singkat.
"Ini bukan kedua kalinya dia ke sini. Mungkin sudah keempat kali. Terpaksa dia diantar pulang oleh karyawan di sini!"
"Memangnya rumah jauh dari restoran ini?" tanya Leon.
"Ya. Sangat jauh. Dia berjalan kaki sampai satu jam. Kalau naik bus mungkin dua puluh menit," jawabnya.
"Apa? Sejauh itu?" Leon cukup tercengang mendengarnya.
"Aku juga heran, anak itu kuat juga kakinya," jawabnya tersenyum heran.
Setelah mencari tahu informasi tentang anak itu kepada rekannya. Leon mendekati manajer dan bocah laki-laki itu.
Melihat kehadiran Leon, sontak bocah itu memundurkan kakinya selangkah. "Kenapa dia ada di sini?" tunjuknya ke arah Leon.
Robi menoleh ke arah Leon sejenak, lalu menatap lagi bocah itu dan bertanya, "Kau kenal dia?"
"Dia mau menculik aku!" jawabnya dengan ketakutan.
Seketika Leon mengerutkan wajahnya. Bocah itu lagi-lagi menuduhnya sebagai penculik.
Mendengar jawabannya, Robi kembali menoleh ke arah Leon.
Dengan cepat Leon melambaikan tangannya dan membantah tudingan. "Itu tidak benar. Dia asal bicara!"
"Paman 'kan yang menggendong aku dan tanya namaku. Pastinya Paman mau menculik dan menjual aku!" katanya dengan lantang membuat Leon menjadi pusat perhatian pengunjung restoran dan karyawan lainnya.
Leon semakin kesal, namun ia mencoba tenang agar orang-orang tak semakin percaya dengan omongan bocah kosong itu.
"Kenapa kalian mempekerjakan dia?" tanyanya kepada Robi menunjuk ke arah Leon.
"Sudah begini saja. Kau boleh makan di sini. Aku akan menelepon ibumu agar menjemputmu!" kata Robi yang tak mau memperpanjang perdebatan dengan bocah 5 tahun itu.
Robi lalu bicara kepada Leon. "Ikut aku!"
Leon mengikuti langkah Robi ke dapur.
"Kenapa dia bilang kalau kau mau menculiknya?" tanya Robi yang juga takut jika mempekerjakan seorang kriminal.