Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Malam itu, setelah salat berjamaah, mereka duduk berdua menikmati secangkir teh hangat. Dari jendela mess terlihat suasana kompleks satuan yang mulai lengang. Tara menyandarkan kepalanya di bahu Sarif sambil berbisik pelan, "Bang...Aku siap memulai hidup baru di sini."
Sarif menggenggam tangan istrinya. "Selamat datang di rumah."
Bagi Tara, ucapan itu terasa begitu hangat. Ia tahu, tempat tinggal mereka mungkin akan berganti-ganti mengikuti penugasan. Namun selama mereka saling menemani, di sanalah rumah itu berada.
***
Beberapa hari setelah mulai beradaptasi di mess, Sarif kembali mengajak Tara mengurus satu hal yang tak kalah penting. Jika sebelumnya mereka disibukkan dengan administrasi pernikahan, kini giliran Tara mulai menjalani proses sebagai istri prajurit secara resmi.
"Bang, hari ini kita ke mana lagi?"
"Mengurus administrasi keanggotaan Persit."
Tara yang sedang memakai sepatu langsung berhenti. "Persit?nBerarti aku resmi jadi ibu-ibu?"
Sarif tersenyum tipis. "Resmi menjadi istri prajurit."
Sesampainya di kantor, Tara bertemu dengan beberapa istri prajurit yang menyambutnya dengan ramah. Mereka membantu menjelaskan berbagai administrasi yang perlu dilengkapi, mulai dari pengisian data pribadi hingga proses pencatatan sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana.
Tara mendengarkan dengan saksama sambil sesekali mengangguk. Dalam hati ia bergumam, "Ternyata jadi istri tentara juga ada masa orientasinya."
Salah seorang ibu tersenyum melihat ekspresi Tara yang penuh rasa ingin tahu. "Jangan tegang ya, Bu Tara."
Tara langsung tersenyum malu. "Iya, Bu. Saya takut salah."
"Tenang saja. Di sini kita belajar bersama."
Kalimat itu membuat Tara merasa jauh lebih nyaman.
Sebelum pulang, Sarif menghampiri istrinya. "Gimana?"
Tara mengangkat map berisi berkas sambil tersenyum lebar. "Alhamdulillah. Mulai hari ini aku bukan cuma istri Abang. Tapi juga resmi menjadi bagian dari keluarga besar Persit."
Sarif mengangguk bangga. "Selamat."
Tara lalu bercanda sambil menunjuk dirinya sendiri. "Pak Perwira...Mohon dibimbing. Saya masih anggota baru."
Sarif tersenyum. "Siap."
Tara tertawa kecil. Ia menyadari bahwa menjadi anggota Persit bukan sekadar menyandang sebuah status, melainkan awal dari perjalanan baru untuk belajar, beradaptasi, mendukung tugas suami, serta menjalin persaudaraan dengan keluarga besar para prajurit. Dengan semangat khasnya, ia bertekad menjalani peran baru itu sebaik-baiknya, tanpa kehilangan keceriaan yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.
***
Beberapa hari tinggal di mess membuat Tara mulai akrab dengan suasana satuan. Hampir setiap pagi, setelah menyiapkan sarapan sederhana bersama Sarif, ia berdiri di teras mess sambil menikmati udara yang masih sejuk.
Dari sana, ia bisa melihat kompleks asrama yang letaknya masih berada di lingkungan yang sama. Pemandangan itu membuatnya terpesona. Saat matahari baru mulai naik, suara peluit dan aba-aba terdengar menggema. Para prajurit dengan seragam loreng berbaris rapi menuju lapangan apel. Langkah mereka serempak, disiplin, dan penuh semangat.
Di sisi lain, para istri prajurit mulai menjalankan aktivitasnya masing-masing. Ada yang menyapu halaman. Ada yang menyiram bunga. Ada yang menjemur pakaian. Ada pula yang mengantar anak-anak berangkat sekolah.
Yang membuat Tara kagum bukan hanya kesibukan mereka. Melainkan keteraturan yang begitu terasa. Jalanan bersih. Halaman rumah tertata. Rumput dipangkas rapi. Pot-pot bunga tersusun cantik di depan rumah.
Bahkan warna cat rumah-rumah dinas pun tampak seragam, membuat seluruh kompleks terlihat teduh dan harmonis. Tara sampai menggeleng pelan. "Bang..."Ini rapi banget."
Sarif tersenyum. "Memang begitu."
"Kayak perumahan di televisi. Bahkan bunga-bunganya juga kayak janjian tumbuhnya."
Sarif terkekeh. "Tidak sejauh itu."
Tara masih terus memperhatikan pemandangan di depannya. "Enak ya tinggal di lingkungan seperti ini. Orangnya disiplin. Rumahnya bersih. Suasananya tenang."
Sarif mengangguk. "Karena ini bukan sekadar tempat tinggal. Ini juga bagian dari kehidupan prajurit."
Tara mengangguk pelan, mulai memahami bahwa kedisiplinan yang ia lihat bukan hanya berlaku saat mengenakan seragam, tetapi juga tercermin dalam cara mereka menjaga lingkungan, menghargai tetangga, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Ia lalu tersenyum kecil sambil bergumam, "alamak, sepertinya aku juga harus belajar. Biar rumah kita nanti nggak kalah rapi."
Sarif melirik istrinya dengan senyum tipis. "Kamu sanggup?"
Tara langsung mengangguk penuh percaya diri. "Sanggup." Lalu beberapa detik kemudian ia menambahkan dengan suara pelan, "Asal Abang jangan lihat kondisi lemari bajuku."
Sarif spontan tertawa. "Kenapa memang?"
Tara nyengir lebar. "Kalau dari luar aku rapi. Kalau isi lemari....itu wilayah yang masih perlu operasi penyelamatan."
Tawa Sarif pun pecah. Di tengah lingkungan yang disiplin dan tertata itu, ia sadar istrinya masih menjadi Tara yang sama, ceria, apa adanya, dan selalu berhasil membuat hari-harinya terasa lebih ringan. Sementara bagi Tara, setiap pagi di lingkungan satuan adalah pelajaran baru bahwa menjadi istri prajurit bukan hanya tentang mendampingi suami, tetapi juga tentang ikut menjaga nilai-nilai kedisiplinan, kerapian, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
***
Beberapa minggu kemudian, kabar yang ditunggu akhirnya datang. Administrasi rumah dinas telah selesai, sehingga Sarif dan Tara diperbolehkan menempati rumah dinas yang menjadi haknya sesuai jabatan.
Sejak pagi, beberapa prajurit membantu memindahkan barang-barang mereka dari mess. Barangnya memang tidak banyak. Sebagian besar hanyalah pakaian, beberapa peralatan dapur, hadiah pernikahan, serta barang-barang pribadi yang dibawa Tara dari rumah ibunya.
Saat mobil berhenti di depan rumah dinas itu, Tara hanya bisa berdecak kagum. "Bang...Ini rumah kita?" Tara menatap bangunan itu berkali-kali.
Rumah tersebut memang lebih luas dibandingkan rumah dinas prajurit di sekitarnya. Halamannya cukup lega, memiliki garasi, ruang tamu yang lapang, dan beberapa kamar. Semuanya tertata rapi khas lingkungan militer.
Tara menoleh ke arah Sarif. "Perasaan kita cuma berdua."
Sarif tersenyum. "Iya."
"Rumahnya kegedean."
"Nanti juga terasa pas. Apalagi kalau kita sudah dikaruniai prajurit kecil."
Tara masuk sambil melihat setiap sudut rumah. "Masya Allah...Aku dulu sekamar sekeluarga. Sekarang kamarnya banyak."
Sarif memperhatikan wajah istrinya yang tampak begitu bersyukur atas hal-hal sederhana. Namun, ada satu hal yang cukup membuatnya tersenyum.
Selama tinggal di mess, Tara justru lebih sering mengobrol dengan para istri prajurit berpangkat bintara dan tamtama yang usianya tidak jauh darinya. Mereka sama-sama bercerita tentang masakan, kampung halaman, sampai pengalaman masa sekolah. Tara yang baru lulus SMA merasa obrolan mereka mengalir begitu saja tanpa dibuat-buat. Sebaliknya, saat bertemu para istri perwira yang rata-rata lebih dewasa dan berpengalaman, Tara masih sering merasa canggung.
Suatu sore Sarif sempat bertanya, "Tara. Kamu kok lebih sering main ke rumah Bu Rina sama Bu Siska?"
Tara mengangguk santai. "Soalnya seru. Mereka lucu. Kalau ngobrol nyambung. Bisa bahas resep, sinetron, sampai kenangan waktu sekolah."
Sarif terkekeh. "Padahal kamu istri perwira."
Tara mengangkat bahu. "Memangnya ada aturan istri perwira harus pilih-pilih teman?"
"Tidak."
"Nah, berarti aman."