Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Malam semakin larut menyelimuti Gunung Sumber Abadi dengan suhu yang sangat dingin.
Angin bertiup kencang melewati celah-celah pepohonan besar di sekitar area wisata.
Wushhh.
Rizky duduk bersila di depan loket karcis sambil sesekali meminum kopi hangatnya.
Dia terus melirik jam di ponselnya yang kini sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Sepertinya Siska sudah benar-benar tertidur pulas di pondok atas," gumam Rizky sendirian.
"Ini adalah waktu yang paling tepat untuk memasang atraksi baru tanpa ketahuan siapa pun."
Rizky bangkit berdiri dan meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku.
Dia berjalan menyusuri jalan setapak tanah menuju ke arah jurang dangkal di sebelah timur tebing air terjun.
Area itu dulunya adalah spot foto terbengkalai yang pagar pembatasnya sudah hancur lebur.
"Sistem, aku sudah berada di titik tertinggi tebing timur sekarang," panggil Rizky di dalam batinnya.
"Buka ruang penyimpanan dan siapkan Cetak Biru Jembatan Kaca di Atas Awan."
Ding!
[Perintah diterima.]
[Mengeluarkan Cetak Biru Atraksi Tingkat Menengah dari inventaris.]
Sebuah gulungan kertas bercahaya biru perlahan muncul dan melayang tepat di depan wajah Rizky.
[Apakah Host ingin menginstal atraksi Jembatan Kaca di Atas Awan Level 1 di titik ini?]
[Proses pemasangan atraksi tingkat menengah akan memakan waktu sekitar lima menit dan dapat memicu anomali cuaca kecil.]
"Anomali cuaca kecil?" ulang Rizky dengan kening berkerut heran.
"Terserah apa pun itu, langsung pasang saja jembatannya sekarang juga!"
Gulungan biru itu tiba-tiba hancur menjadi ribuan partikel cahaya yang melesat terbang ke arah jurang gelap.
Sringgg.
Brummm. Brummm.
Suara gemuruh rendah mulai terdengar dari dasar jurang seolah ada mesin raksasa yang baru dihidupkan.
Rizky refleks mundur dua langkah saat merasakan tanah di bawah kakinya bergetar cukup kuat.
Udara di sekitar jurang yang tadinya biasa saja tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan lembab.
Gumpalan kabut putih pekat muncul dari bawah tebing dan bergerak naik dengan kecepatan tidak wajar.
Dalam waktu kurang dari dua menit, seluruh area tebing timur sudah tertutup oleh lautan awan buatan yang sangat tebal.
"Pantas saja namanya Jembatan Kaca di Atas Awan," takjub Rizky sambil menatap kabut tebal tersebut.
"Sistem ini benar-benar memanipulasi cuaca lokal untuk menciptakan lautan awan yang abadi."
Krak. Krak.
Suara material kaca tebal dan besi baja yang saling menyatu mulai terdengar nyaring dari balik kabut.
Cahaya biru berkedip terang di tengah gulita malam membentuk siluet sebuah jembatan gantung raksasa.
Lima menit berlalu dengan sangat mendebarkan hingga akhirnya suara bising itu benar-benar berhenti total.
Ding!
[Pemasangan Jembatan Kaca di Atas Awan Level 1 berhasil diselesaikan.]
[Panjang jembatan adalah seratus meter dengan material kaca kristal anti pecah.]
[Efek Khusus Jembatan ini memiliki ilusi optik awan berjalan dan memberikan sensasi melayang bagi siapa pun yang melintasinya.]
Angin malam kembali berhembus menyingkirkan sedikit kabut pekat di ujung tebing tempat Rizky berdiri.
Mata pemuda itu terbelalak lebar melihat mahakarya arsitektur yang kini membentang gagah membelah jurang.
Rangka jembatan itu terbuat dari logam berwarna putih perak yang mengkilap di bawah cahaya bulan.
Lantai kacanya terlihat sangat bening tanpa ada satu pun noda goresan.
"Luar biasa indah," ucap Rizky sambil menelan ludah dengan susah payah.
"Siapa pun yang memiliki fobia ketinggian pasti akan menangis ketakutan jika berjalan di atas sini."
Rizky sangat puas dengan hasil kerja sistem dan memutuskan untuk segera kembali ke loket karcis.
Dia harus beristirahat untuk menghadapi gelombang pengunjung yang mungkin akan datang besok siang.
Keesokan paginya, suara kicauan burung yang merdu membangunkan Rizky dari tidur pulasnya.
Cuit. Cuit.
Sinar matahari sudah bersinar terang menembus celah jendela kayu loket.
"Bos Rizky, bangun Bos!" teriak Siska sambil menggedor kaca loket dengan sangat kencang.
Brak brak brak.
Rizky terlonjak kaget dan langsung membuka pintu loket dengan wajah mengantuk.
"Ada apa Siska, apakah ada preman yang datang lagi pagi-pagi begini?" tanya Rizky panik.
Siska menggelengkan kepalanya dengan kuat sambil memegang ponselnya yang terus bergetar.
"Bukan preman Bos, tapi coba lihat ini!" seru Siska menyodorkan layar ponselnya ke wajah Rizky.
"Video siaran langsung si Kevin yang diunggah ulang oleh penontonnya semalam meledak parah!"
Rizky mengusap kedua matanya untuk memfokuskan pandangan ke arah layar ponsel tersebut.
Sebuah video berdurasi tiga menit menampilkan Kevin yang sedang menangis tersedu-sedu memuji Air Terjun Pelangi.
Angka tayangan di sudut bawah video itu menunjukkan angka tiga juta penonton dan terus bertambah setiap detiknya.
Kolom komentarnya bahkan sudah mencapai puluhan ribu dengan berbagai macam reaksi warganet.
"Tiga juta penonton dalam semalam?" pekik Rizky tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Iya Bos, dan algoritma aplikasinya menyebarkan video ini ke seluruh pelosok negeri," jelas Siska dengan napas terengah-engah.
"Akun resmi kita juga diserbu ribuan pesan dari orang-orang yang bertanya soal harga tiket masuk."
"Bahkan ada rombongan bus pariwisata dari luar kota yang bilang sedang dalam perjalanan kemari."
Rizky menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdebar sangat kencang.
Ini adalah efek domino dari kontroversi yang dia ciptakan kemarin lusa.
Ledakan popularitas ini jauh lebih besar dari sekadar target mingguan biasa.
"Bagus sekali Siska, kalau begitu kita harus bersiap menyambut mereka semua," perintah Rizky dengan tegas.
"Tapi sebelumnya, aku punya satu kejutan besar untukmu dan untuk para pengunjung kita hari ini."
Siska menautkan alisnya dengan bingung mendengar kata kejutan dari bosnya.
"Kejutan apa lagi Bos?" tanya Siska penasaran.
"Bukankah Air Terjun Pelangi itu sudah cukup untuk membuat mereka gila?"
Rizky hanya tersenyum misterius dan menunjuk ke arah tebing timur.
"Ikut aku sekarang, kamu harus mengambil foto dari atraksi baru kita sebelum pengunjung membludak," ajak Rizky.
Mereka berdua berjalan cepat menuju spot tebing timur yang semalam baru saja berubah total.
Langkah kaki Siska mendadak berhenti kaku saat dia melihat kabut awan yang tebal menutupi jurang.
Sebuah jembatan kaca raksasa membentang gagah di atas lautan awan buatan tersebut.
"Bos, sejak kapan ada jembatan kaca semewah ini di sini?" jerit Siska sambil menutup mulutnya karena kaget.
"Kemarin sore tempat ini cuma jurang kosong yang dipenuhi rumput liar!"
"Aku menyewa tim konstruksi profesional dari ibukota untuk merakitnya dalam semalam," bohong Rizky dengan wajah serius.
"Ini adalah Jembatan Kaca di Atas Awan, atraksi tingkat menengah pertama kita."
Siska menatap bosnya dengan pandangan setengah tidak percaya dengan alasan tersebut.
Membangun jembatan sebesar ini dalam semalam adalah sesuatu yang sangat mustahil dilakukan oleh manusia biasa.
Namun, keajaiban air terjun kemarin sudah cukup membuat logika Siska kebal terhadap hal-hal tidak masuk akal di tempat ini.
"Terserah bagaimana caramu membuatnya Bos, yang jelas atraksi ini sangat luar biasa gila!" puji Siska penuh semangat.
"Aku akan langsung mengunggah foto jembatan ini ke semua akun media sosial kita sekarang juga."
Cekrek. Cekrek.
Siska mulai berlari ke berbagai sudut untuk mengambil foto jembatan itu dari sisi terbaiknya.
Kombinasi antara lantai kaca bening dan lautan awan di bawahnya benar-benar menciptakan kesan estetik tingkat tinggi.
Baru lima menit foto itu diunggah, notifikasi ponsel Siska berbunyi beruntun tanpa henti.
Tring tring tring.
"Bos, foto jembatannya langsung dibanjiri komentar orang-orang yang semakin histeris mau datang hari ini!" lapor Siska kegirangan.
Tiba-tiba, suara sayup-sayup klakson kendaraan mulai terdengar dari arah jalan raya di kaki gunung.
Tin. Tin. Tiiiin.
Suara itu bukan hanya satu atau dua kendaraan saja, melainkan suara ratusan mesin yang bergemuruh secara bersamaan.
Rizky dan Siska saling bertukar pandang dengan ekspresi tegang namun bercampur kebahagiaan luar biasa.
"Mereka sudah datang Bos," ucap Siska dengan suara bergetar karena antusias.
Rizky segera berlari kembali ke arah gerbang masuk utama dan berdiri di tengah jalanan setapak.
Matanya membelalak lebar melihat pemandangan menakjubkan di bawah jalanan menurun sana.
Jalanan aspal sempit yang kemarin sempat diblokir preman kini dipenuhi oleh lautan manusia dan kendaraan.
Ratusan sepeda motor, puluhan mobil pribadi, hingga tiga buah bus pariwisata berukuran besar berbaris mengantre masuk.
Debu tebal mengepul di udara akibat pergerakan ribuan orang yang berjalan mendaki menuju loket karcis.
"Buka gerbangnya! Kami mau lihat air terjun dan jembatan kacanya!" teriak kerumunan pengunjung dari bawah.
"Aku sudah bawa uang lebih, cepat jual tiketnya admin!" sahut pengunjung lainnya saling bersahutan.
Rizky mengepalkan kedua tangannya ke udara dan tertawa lepas melihat kesuksesan yang ada di depan matanya.
Usahanya melawan cibiran warga, menghadapi ancaman preman, dan mengatur strategi media sosial akhirnya terbayar lunas.
Gunung Sumber Abadi yang kemarin dianggap sebagai tempat sampah mati, kini telah bangkit sepenuhnya.
Ini bukan lagi tempat wisata gagal yang bisa ditertawakan oleh keluarganya atau Juragan Darma.
"Siska, siapkan semua karcis yang kita punya di laci!" perintah Rizky dengan suara lantang menggelegar.
"Kita akan melayani ribuan pengunjung ini sampai tangan kita mati rasa hari ini!"
"Siap Bos, mari kita buat tempat ini menjadi legenda hari ini juga!" balas Siska tidak kalah semangatnya.
Ding!
[Pemberitahuan Sistem!]
[Jumlah pengunjung serentak mencapai angka seribu orang dalam satu waktu.]
[Pencapaian Arc 1 Kebangkitan Gunung Sumber Abadi telah berhasil diselesaikan dengan predikat Sempurna.]
[Sistem sedang memproses hadiah transisi menuju Arc 2.]
Rizky menatap ribuan wajah pengunjung yang tersenyum penuh antusias ke arahnya.
Babak pertama dari perjuangannya mungkin telah selesai dengan kemenangan besar.
Namun dia tahu, musuh-musuh baru dan misteri kota kuno di bawah tanah baru saja mulai mengintip dari balik tirai.
"Selamat datang di Gunung Sumber Abadi," gumam Rizky menyambut takdir besarnya.