NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 — Misi Lima Puluh Miliar

Surya belum menerima misi itu.

Dia meminta sistem menunggu sampai rencana penggalangan dana, rekening yayasan, dan tim audit siap. Lima puluh miliar bukan uang yang boleh masuk ke rekening pribadi seorang dokter.

『Inang pertama yang menunda hadiah demi audit keuangan. Aneh, tetapi disetujui.』

Selama dua minggu berikutnya, jabatan baru tidak memberinya waktu bernapas.

Seorang sopir datang karena sakit kepala dan pandangan menyempit. Klinik sebelumnya menyarankan CT kepala berbayar. Surya memeriksa tekanan intraokular, lapang pandang, dan saraf optik lebih dahulu.

"Ini mengarah ke glaukoma," katanya. "Bapak perlu diperiksa dokter mata hari ini. CT belum memiliki indikasi."

Biaya yang tidak perlu dihapus. Terapi penurun tekanan dimulai oleh dokter mata sebelum penglihatan sopir itu hilang permanen.

Pasien berikutnya adalah bayi berusia dua puluh delapan hari yang malas minum, kaku, dan urinenya berbau manis seperti gula gosong. Surya menghentikan susu formula biasa, meminta analisis asam amino, dan menghubungi metabolik anak.

Hasil leusin sangat tinggi.

Maple syrup urine disease.

"Ini kelainan metabolik bawaan," jelas Surya kepada keluarga. "Makanan ibunya tidak menyebabkan kondisi ini. Kita turunkan leusin dan susun formula khusus."

Belum selesai satu kasus, seorang guru berusia tiga puluh sembilan tahun datang membawa diagnosis ALS. Kakinya melemah, suaranya berubah, dan dua rumah sakit mengatakan penyakitnya tidak dapat disembuhkan.

Surya melihat satu hal yang tidak cocok: kelemahan memburuk bersama sakit kepala pagi dan muntah proyektil.

MRI dengan kontras memperlihatkan massa di dasar tengkorak yang menekan jalur motorik.

"MRI menunjukkan tumor," kata Surya. "Diagnosis ALS sebelumnya gugur. Operasinya sulit, tetapi kita punya sasaran yang bisa dilawan."

Operasi berlangsung dua belas jam. Tumor menyusup ke ruang sempit di dekat batang otak. Surya mengangkat bagian yang aman, menyisakan lapisan mikroskopis yang terlalu melekat pada struktur vital.

Untuk pertama kalinya, dia membenci kata hampir.

Di hari lain, tim menerima pasien transgender dewasa dengan kanker pada organ reproduksi internal. Pasien sudah menjalani evaluasi psikologis dan endokrin bertahun-tahun serta meminta operasi afirmasi gender. Kanker membuat waktunya mendesak.

Surya menyatukan onkologi, urologi, bedah plastik, anestesi, dan komite etik. Persetujuan dibahas dua kali, termasuk fertilitas, fungsi seksual, komplikasi, dan kemungkinan tindakan bertahap.

Eksisi kanker dan tahap rekonstruksi yang aman dilakukan dalam satu anestesi. Tidak ada sirkus media. Identitas pasien dilindungi.

Tagihan sosial dari kasus-kasus sulit terus meningkat. Saat itulah Surya menekan tombol terima pada Misi Pemicu.

『Kumpulkan Rp50.000.000.000 untuk dana pengobatan dalam dua puluh empat jam. Dana wajib transparan dan tidak boleh menjadi milik pribadi Inang.』

Surya menyukai tambahan terakhir itu.

Yayasan rumah sakit membuka rekening terbatas dan halaman audit publik. Rizki mengatur live streaming dari aula, sementara Bayu menampilkan daftar kebutuhan tanpa memperlihatkan identitas pasien.

Surya tidak menjual kesedihan.

Dia menjelaskan apa yang bisa dibeli uang itu: formula metabolik, rehabilitasi, operasi anak, obat kanker, rumah singgah keluarga, dan transportasi pasien pulau terpencil.

Dalam satu jam, donasi mencapai Rp500.000.000.

Tiga jam kemudian, melewati satu miliar.

Masih terlalu jauh.

Leo Tan menelepon ketika waktu tersisa empat jam. Pengusaha itu tidak menawarkan cek kosong kepada Surya. Dia meminta proposal, struktur pengawasan, dan kursi independen bagi auditor.

"Kalau semua dokumen tersedia sekarang," katanya, "yayasan keluarga saya menempatkan Rp100.000.000.000 sebagai dana abadi medis. Hasil investasinya hanya boleh dipakai untuk pasien."

Pak Bambang mengirim dokumen dalam dua puluh menit.

Angka pada layar melompat melewati target.

『Misi bintang tiga selesai. Bonus Nilai Pahala lima ratus persen. Enam undian dibuka.』

Enam kartu berhenti bersamaan.

『Poin Atribut +300. Radioterapi Super ×1. Super Patologi +90 penggunaan. Penyadap Pikiran +20 penggunaan. Detektor Medis +20. Penghitung Mundur Kehidupan +5 penggunaan.』

Surya tidak merayakan Radioterapi Super. Dia langsung kembali kepada guru dengan sisa tumor di batang otak.

Setelah diskusi ulang dengan pasien dan pencatatan rencana sebagai terapi khusus, Surya menggunakan hadiah itu. Energi tak terlihat menargetkan sel tumor yang tersisa tanpa menyentuh jalur saraf di sebelahnya.

MRI kontrol tidak menunjukkan residu aktif.

Guru itu menangis ketika mampu berdiri dengan bantuan.

Satu temuan lain lahir dari operasi tersebut. Sampel yang tampak seperti jaringan sehat pada MRI ternyata memiliki profil molekuler tumor, tetapi tidak menyerap kontras, tidak membentuk massa jelas, dan hampir tidak berbeda warna saat operasi. Tim menyebutnya tumor tersembunyi karena seluruh metode pencitraan rutin gagal menandainya.

Surya meminta laboratorium lain mengulang patologi dan sekuensing. Setelah pusat registri nasional memeriksa datanya, kasus itu dicatat sebagai pola pertama yang terdokumentasi di Indonesia. Dia menolak konferensi pers sampai identitas pasien dihapus dan hasilnya lolos telaah sejawat.

"Kalau kita buru-buru menyebutnya penemuan," katanya kepada residen, "kesalahan kita juga akan menjadi yang pertama secara nasional."

Sikap itu justru membuat laporan tersebut menyebar di kalangan akademik. Dokter dari berbagai provinsi mengirim kasus serupa untuk ditinjau, dan beberapa pasien yang sebelumnya disebut tidak memiliki lesi mendapat pemeriksaan ulang yang lebih tepat.

Malam berikutnya, Anindya membawa Surya menemui Eyang Kusuma. Lelaki tua itu membaca laporan dana dan audit sebelum mengangkat kepala.

"Banyak orang menjadi kaya setelah mengelola seratus miliar," katanya. "Kamu justru memastikan uang itu tidak bisa kamu ambil."

"Itu uang pasien, Eyang."

"Jawaban yang benar."

Kusuma Putra tetap belum sepenuhnya percaya. Seorang kontraktor muda di ruang keluarga bahkan menertawakan asal desa Surya dan menantangnya menilai tiga proposal pembangunan klinik.

Surya menemukan harga alat yang dinaikkan, izin tanah yang tidak cocok, dan klausul perawatan yang sengaja dikosongkan. Tiga kelemahan. Tiga layar bukti.

Proposal kontraktor itu gugur.

Pria tersebut sebelumnya sesumbar akan berlari mengelilingi halaman hanya dengan kaus dalam dan celana olahraga jika kalah. Eyang Kusuma menunjuk pintu.

"Janji tetap janji. Tiga putaran."

Anindya menahan tawa saat pria itu mulai berlari. Kusuma Putra tidak tertawa, tetapi dia berhenti meremehkan Surya di depan Eyang.

Sebelum pulang ke Surabaya, sebuah RSUD kecil di pinggir desa meminta bantuan. Pasien dengan cedera jantung akibat serpihan logam tidak akan bertahan selama perjalanan jauh.

Surya tidak mengubah rumah sakit kecil menjadi kamar operasi ajaib. Dia menghubungkan telemedisin, mendatangkan tim bergerak, darah, alat bypass portabel, dan mendapat persetujuan direktur serta keluarga.

Di ruang operasi sederhana, generator cadangan berdengung. Surya membuka dada, menemukan robekan ventrikel kanan, lalu menutupnya dengan jahitan berpenguat.

Tekanan darah kembali.

Pasien selamat sampai helikopter medis membawanya ke pusat rujukan.

Ketika Surya mendarat di Surabaya, sebuah pesan dari Dona Santoso sudah menunggu.

Keluarga Dona pernah menjanjikan kerja sama Rp50.000.000.000 untuk perluasan dana. Dona mengancam membatalkannya kecuali Surya menarik penolakan publik terhadap dirinya.

Panel sistem menyala merah.

『Jika komitmen lima puluh miliar hilang sebelum pengesahan, jalur Level Tujuh dapat runtuh.』

Surya membaca pesan itu sekali.

Lalu dia meneruskannya kepada auditor dan penasihat hukum yayasan.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!