Di dunia ini, tidak semua orang bekerja demi mengejar mimpi. Sebagian hanya berusaha bertahan hidup.
Ling Qi adalah salah satunya.
Sebagai penambang biasa di China, hidupnya dipenuhi debu tambang, utang yang terus menumpuk, dan hari esok yang tidak pernah menjanjikan harapan. Ketika sebuah kejadian menghancurkan sisa keberuntungannya, ia mengira hidupnya telah mencapai titik terendah.
Namun, jauh di bawah tanah, sebuah portal misterius membuka jalan menuju dunia yang belum pernah dijamah manusia.
Di balik kegelapan gua-gua kuno, tersembunyi mineral berharga, reruntuhan yang menyimpan rahasia, serta monster yang menjaga harta mereka dengan nyawa.
Di sana, Ling Qi memperoleh 《World Mining System》, sebuah sistem yang mengubah setiap ayunan pickaxe menjadi kesempatan untuk mengubah takdir.
Tetapi semakin dalam ia menambang, semakin ia menyadari bahwa dunia itu bukan sekadar tambang.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu di balik setiap portal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Ling Qi menatap panel gelar barunya dengan kebingungan yang semakin dalam. 'Dragon Slayer? Aku bahkan belum menghancurkan hati naga ini. Kenapa aku mendapat gelar seolah aku sudah membunuh naga sungguhan?'
Matanya beralih ke tubuh kecil yang tergeletak diam di hadapannya, beliung masih tertancap di dadanya. Sebuah kesadaran perlahan merangkak masuk ke dalam benaknya. 'Tunggu... jangan-jangan...'
Ling Qi menatap tubuh anak itu lebih lama, memperhatikan detail yang tadi luput dari perhatiannya di tengah kepanikan bertarung—kulitnya yang terlalu pucat untuk manusia, urat-urat halus berwarna keperakan yang tersembunyi di bawah kulitnya seperti sisik yang tersamarkan, bentuk matanya yang sebelum pecah memiliki iris vertikal seperti reptil.
'Dia bukan manusia biasa. Dia... perwujudan dari naga batu ini sendiri.'
Kepingan-kepingan informasi mulai tersusun di kepalanya—naga yang mati dan berubah menjadi batu, dimanipulasi oleh seseorang dari organisasi bernama Liuyu, dibentuk ulang menjadi sosok kecil yang ditugaskan menjaga tempat ini dari siapa pun yang mencoba masuk.
'Tapi untuk apa? Kenapa mereka repot-repot menjaga tempat seperti ini sampai sejauh itu?'
Ling Qi bangkit berdiri, tubuhnya masih terasa lemas, tetapi tekadnya sudah bulat. Matanya menyapu ruangan di sekelilingnya, hingga akhirnya berhenti pada sesuatu yang berkilau di tengah ruangan—sebuah objek berbentuk hati yang terbuat dari kristal merah gelap, berdenyut pelan seperti jantung yang masih hidup meski pemiliknya sudah lama mati.
Ling Qi menghela napas panjang, mencabut beliungnya dari tubuh anak itu, lalu melangkah mendekati kristal berbentuk hati tersebut.
'Entah apa yang akan terjadi kalau aku menghancurkan ini. Tapi kalau ini kunci untuk pulang, dan sekaligus kunci dari semua kekacauan yang terjadi di dunia asalku... aku tidak punya pilihan lain.'
Dia mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, lalu melompat setinggi mungkin, tubuhnya melayang di udara tepat di atas kristal hati itu.
Di tengah lompatannya, dia mengaktifkan skill barunya. 'Charge.'
Beliung di tangannya mulai berpendar, cahaya keperakan berkumpul di sekitar mata beliung, semakin terang seiring detik yang berlalu.
Satu detik.
Sepuluh detik.
Tubuhnya masih melayang, seolah waktu di udara memanjang lebih lama dari yang seharusnya, cahaya di beliungnya semakin menyilaukan, mendesing seperti energi yang siap meledak.
Tiga puluh detik.
Lima puluh detik.
"HAAAAAA!!" Ling Qi menghunjamkan beliungnya lurus ke bawah dengan seluruh kekuatan yang terkumpul, menghantam kristal hati itu dengan tenaga yang berlipat ganda dari serangan normalnya.
CRACK!!
Kristal itu hancur berkeping-keping dalam sekejap, pecahan-pecahannya berhamburan ke segala arah seperti kembang api yang meledak, memancarkan cahaya merah gelap yang menerangi seluruh ruangan sebelum perlahan memudar.
Ling Qi mendarat di lantai, terengah-engah, menatap reruntuhan kristal yang kini hanya tersisa debu berkilau.
Namun belum sempat dia menghela napas lega, sebuah suara asing terdengar dari udara kosong di sekelilingnya, nadanya santai seperti sedang membicarakan hal remeh.
"Eh... dia menghentikan rencana awakening manusia. Ah, sudahlah, setidaknya sudah tiga puluh persen manusia di Bumi yang mengalami awakening."
Ling Qi tersentak, mengedarkan pandangannya liar ke segala arah, mencoba mencari sumber suara itu.
"Di mana kalian?!" teriaknya, menggenggam erat beliungnya, waspada terhadap ancaman baru yang mungkin belum dia lihat.
"Suh suh..." suara itu menjawab dengan nada malas, seolah kehilangan minat begitu saja terhadap keberadaan Ling Qi.
Lantai di bawah kakinya tiba-tiba retak, celah gelap terbuka lebar tanpa peringatan.
"Woy, sialan, kita belum selesai!" teriak Ling Qi, tetapi tubuhnya sudah terlanjur jatuh menembus celah itu, tersedot ke dalam kegelapan yang tidak berdasar.
Sensasi jatuh bebas yang sama seperti sebelumnya menjalar ke seluruh tubuhnya, tetapi kali ini, ketika kesadarannya kembali dan matanya menangkap lantai yang mendekat dengan cepat, Ling Qi sudah lebih siap. Dia memutar tubuhnya di udara, mendarat dengan kedua kaki menekuk sempurna, menyerap seluruh benturan tanpa rasa sakit sedikit pun.
Lantai beton di bawahnya retak akibat tekanan pendaratannya.
Ling Qi berdiri, menegakkan tubuh, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia berdiri di atas atap sebuah gedung tinggi, angin kota menerpa wajahnya, suara klakson dan hiruk-pikuk kendaraan terdengar samar dari bawah.
Matanya kemudian tertuju pada sebuah layar iklan raksasa yang terpasang di gedung seberang, menampilkan rekaman seorang wanita muda bergerak lincah membantai deretan monster dengan gerakan yang begitu terlatih, kemudian berpose penuh percaya diri menghadap kamera.
"Ayo masuk ke Guild Alpha untuk mengembangkan kemampuan kalian dalam menghancurkan monster!!"
Ling Qi terpaku menatap layar itu, matanya menyipit memperhatikan wajah wanita muda tersebut—usianya terlihat sekitar dua puluh tahun ke atas, rambutnya dikuncir kembar dengan gaya yang tidak asing.
'Itu... gadis yang memukulku beberapa jam lalu di mall.' Namun yang membuatnya lebih terkejut bukan sekadar mengenali wajah itu, melainkan fakta bahwa wanita di layar itu terlihat jauh lebih dewasa, lebih terlatih, seolah sudah bertahun-tahun berpengalaman bertarung melawan monster—bukan gadis panik berseragam sekolah yang dia temui beberapa jam sebelumnya.
Ling Qi berdiri mematung di atap gedung itu, angin berembus dingin di sekelilingnya, kebingungan yang mendalam memenuhi benaknya. "...Apa yang terjadi?"