Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Bab 13: Godaan Lama dan Hati yang Tak Terbagi
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai jendela, menyinari ruang tamu rumah mereka yang kini terasa begitu hangat dan penuh kehidupan. Sejak malam itu, hubungan antara Dika dan Raina berubah menjadi jauh lebih dekat, lebih erat, dan penuh rasa percaya. Dika selalu berusaha menunjukkan setiap hari bahwa ia benar-benar tulus mencintai wanita itu, dan perlahan Raina mulai berani membuka hatinya sepenuhnya.
Pagi itu, Dika sedang sibuk menyusun berkas-berkas di meja kerja ruang tengah, sementara Raina sedang menyiapkan sarapan di dapur. Aroma nasi goreng buatan Raina yang wangi semerbak memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana rumah terasa begitu damai dan bahagia.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Terdengar suara ketukan pelan namun tegas di pintu depan.
"Siapa ya pagi-pagi begini?" gumam Raina pelan, tangannya yang sedang memegang sendok sesaat berhenti bergerak.
Dika mengangkat wajahnya dari tumpukan kertas, lalu berdiri perlahan. "Biar aku saja yang buka."
Ia berjalan menuju pintu, lalu menarik gagang pintu itu terbuka.
Di ambang pintu berdiri seorang wanita muda yang cantik jelita, berpakaian sangat rapi dan modis, dengan senyum manis yang dulu sering Dika lihat. Itu adalah Sasa.
Jantung Dika sejenis berhenti berdetak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka akan melihat wajah itu lagi di depan rumahnya.
"Sasa?" panggil Dika dengan nada bingung.
Wanita itu tersenyum lebih lebar lagi, matanya berbinar melihat sosok Dika di hadapannya.
"Halo, Dik. Maaf ya aku datang tanpa kabar dulu," ucap Sasa dengan suara lembut yang sengaja dibuat manja. "Aku cuma... aku cuma tidak tenang kalau belum ketemu kamu."
Dika mengerutkan kening, langkahnya sedikit mundur seolah memberi batas jarak. "Ada apa sebenarnya? Bukankah kita sudah lama tidak ada urusan?"
Belum sempat Sasa menjawab, langkah kaki halus terdengar mendekat dari arah dapur. Raina muncul membawa dua piring berisi sarapan yang baru saja selesai dibuat. Saat melihat sosok wanita asing yang berdiri di depan pintu dan menatap suaminya dengan pandangan begitu akrab, langkah kaki Raina terhenti seketika.
Piring di tangannya terasa tiba-tiba menjadi begitu berat.
Sasa menoleh ke arah Raina, menatapnya sekilas dari atas sampai bawah dengan pandangan yang sulit diartikan, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak terlalu ia sukai. Namun tak lama kemudian ia kembali menyunggingkan senyum ramah yang dibuat-buat.
"Kamu pasti istri Dika ya?" ucap Sasa santai, seolah ia adalah tetangga lama yang datang berkunjung. "Aku Sasa, teman lama Dika. Maaf ya mengganggu waktu pagi kalian."
Raina hanya mengangguk pelan, menelan ludah dengan susah payah. Rasa tidak nyaman dan rasa tidak aman yang dulu pernah ia rasakan perlahan mulai kembali menyelinap masuk ke dalam hatinya. Ia hanya berdiri diam, memegang pinggiran meja makan erat-erat.
Dika menyadari perubahan suasana hati istrinya. Ia segera melangkah maju sedikit, berdiri tegak di antara mereka berdua seolah ingin melindungi Raina dari sosok wanita itu.
"Kamu mau bicara apa? Kalau ada urusan penting, bicara saja sekarang," ucap Dika dengan nada yang mulai dingin dan tegas.
Sasa menundukkan wajahnya seolah merasa sangat bersalah, matanya seketika berkaca-kaca seolah akan menangis.
"Dik, aku datang ke sini cuma mau minta maaf. Maafkan aku atas semua kesalahanku dulu. Aku sadar aku salah, aku sadar aku sudah menyakitimu," ucap Sasa dengan suara bergetar yang dibuat-buat. "Aku tidak meminta apa-apa lagi, aku cuma minta maaf dan berharap kita tetap bisa berteman baik seperti dulu."
Dika menghela napas panjang, menatap wanita itu dengan pandangan datar. "Maaf sudah aku terima. Tapi soal berteman, sebaiknya tidak perlu. Aku sudah punya kehidupan baru, dan aku tidak ingin mengganggu atau diganggu."
Mendengar jawaban itu, senyum di wajah Sasa sedikit memudar, namun ia tidak langsung pergi. Ia justru melangkah maju sedikit, berusaha menatap mata Dika lebih dalam.
"Ah, masa sih Dik? Kita kan sudah kenal sejak lama. Kamu tidak akan sekejam itu kan?" ucap Sasa dengan nada merayu. Tangannya terulur seolah ingin menyentuh lengan Dika. "Aku cuma butuh teman bicara saja. Kamu tahu kan tidak ada orang lain yang mengerti aku sebaik kamu."
Perasaan cemburu dan tidak tenang mulai merayap di dada Raina. Ia melihat bagaimana Sasa berusaha mendekat, bagaimana ia berbicara dengan nada yang begitu akrab, seolah ia adalah orang yang paling berhak berada di dekat Dika. Keraguan lama kembali muncul di benak Raina: apakah ia memang hanya sekadar pengganti? Apakah Dika masih menyimpan perasaan pada wanita cantik dan seusianya itu?
Namun, sebelum tangan Sasa sempat menyentuh kulit Dika, pemuda itu mundur selangkah dengan cepat.
"Maaf Sasa," ucap Dika tegas, menatap mata wanita itu lekat-lekat. "Tangan saya sudah ada yang memegang. Hati saya juga sudah ada pemiliknya. Saya tidak bisa memberikan perhatian lebih kepada siapa pun selain istri saya."
Sasa terdiam, wajahnya sedikit pucat mendengar jawaban tegas itu.
"Kamu tidak usah khawatir tentang saya," lanjut Dika. "Kamu sudah punya jalanmu sendiri, dan saya juga sudah punya jalan saya bersama istri saya. Tolong hormati rumah tangga saya dan jangan datang lagi tanpa keperluan yang mendesak."
Dika tidak memberi kesempatan Sasa untuk berbicara lagi. Ia segera menutup pintu depan perlahan namun pasti, memisahkan mereka dari sosok wanita yang membawa masa lalu itu.
Setelah pintu tertutup rapat, suasana di dalam rumah menjadi hening sejenak. Dika berbalik badan, dan langsung melihat Raina yang berdiri diam di ruang tengah, wajahnya pucat dan matanya menatap lurus ke arah pintu yang tertutup itu.
Rasa cemburu dan rasa tidak aman masih menguasai hati wanita itu.
Dika segera berjalan mendekat, tangannya terulur ingin menyentuh bahu istrinya, namun Raina secara tidak sadar mundur selangkah.
"Siapa dia sebenarnya?" tanya Raina dengan suara pelan dan sedikit bergetar. "Apakah... apakah dia orang yang kamu cintai dulu?"
Dika menghela napas panjang, lalu menatap Raina dengan pandangan yang penuh kasih sayang dan ketulusan. Ia tidak marah mendengar pertanyaan itu, ia justru mengerti perasaan gelisah yang sedang dirasakan istrinya.
"Dulu memang pernah ada rasa, Raina. Tapi itu sudah lama sekali berlalu," jawab Dika jujur. "Dia adalah bagian dari masa lalu yang sudah aku tinggalkan jauh di belakang. Sejak aku bertemu denganmu, sejak aku memutuskan untuk bersamamu, tidak ada satu pun tempat di hatiku yang tersisa untuk orang lain."
Dika maju selangkah lagi, kali ini Raina tidak mundur. Dika menggenggam kedua tangan istrinya erat-erat.
"Lihat mataku, Sayang," pinta Dika lembut. "Tidak ada yang bisa menggantikanmu. Tidak ada yang lebih penting darimu. Apa yang dia lakukan tadi itu hanya cara dia mencoba mencari perhatian, tapi bagiku dia hanyalah orang asing yang sudah lewat."
Raina menatap mata Dika dalam-dalam. Di sana tidak ada kebohongan, tidak ada keraguan, hanya ketulusan yang begitu nyata.
"Kau yakin?" tanya Raina ragu.
"Aku sangat yakin," jawab Dika mantap. "Kau adalah istriku, wanita yang aku pilih untuk menemani sisa hidupku. Perasaanku padamu tidak akan pernah tergoyahkan oleh siapa pun, apalagi oleh masa lalu yang sudah selesai."
Dika menarik Raina masuk ke dalam pelukannya yang hangat, membiarkan wanita itu merasakan ketenangan yang ia butuhkan.
"Maafkan aku ya kalau kehadirannya membuatmu tidak nyaman. Aku akan memastikan dia tidak akan mengganggu kita lagi," bisik Dika lembut di telinga istrinya. "Hanya ada kamu di hatiku, Raina. Hanya kamu."
Raina menyandarkan kepalanya di dada Dika, mendengar detak jantung yang tenang itu perlahan menenangkan badai di hatinya. Rasa cemburu perlahan hilang, digantikan oleh rasa percaya yang semakin kuat.
Ia tahu, Dika tidak akan pernah menyakitinya.