NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ainun: Menceritakan Rahasiaku

Pagi terus bergulir. Matahari kian meninggi, mengusir sisa hawa sejuk yang sejak tadi menyelimuti halaman sekolah. Jarum jam perlahan bergerak hingga menunjukkan pukul setengah delapan, menandakan seluruh guru mulai mempersiapkan kegiatan belajar mengajar.

Di balik pintu ruang kepala sekolah, Ainun berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Tatapannya tertuju pada selembar surat pengunduran diri yang berada di atas meja.

Kepala sekolah membaca isi surat itu dengan saksama. Sesekali dahinya berkerut tipis sebelum akhirnya ia mengembuskan napas pelan.

“Sayang sekali,” ucapnya sambil mengangkat pandangan. “Padahal kinerja Ibu selama mengajar sangat bagus.”

Ainun hanya mengulas senyum tipis.

Kepala sekolah meletakkan surat itu di atas meja, lalu menatapnya dengan penuh perhatian.

“Apa alasan Ibu mengundurkan diri, Bu Ainun?” tanyanya.

Ainun menarik napas pelan sebelum menjawab.

“Saya ingin mencoba membangun usaha sendiri, Pak.”

Kepala sekolah mengangguk pelan.

“Itu keputusan yang bagus.” Ia tersenyum tipis. “Kalau sudah memiliki modal yang cukup, membuka usaha memang bisa menjadi pilihan. Apalagi pekerjaan seperti ini ada batasnya. Sewaktu-waktu kita bisa berhenti karena usia atau kontrak kerja.”

“Iya, Pak,” sahut Ainun sopan.

Tak lama kemudian, kepala sekolah mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat tersebut.

“Baik, Bu Ainun.” Ia menyerahkan kembali berkas itu. “Silakan selesaikan tugas mengajar Ibu untuk terakhir kalinya.”

Ainun menerima surat itu dengan kedua tangan.

“Baik, Pak. Terima kasih.”

Ia sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruang kepala sekolah.

.

Baru beberapa langkah meninggalkan ruang kepala sekolah, sebuah suara memanggilnya.

“Bu Ainun...”

Ainun menghentikan langkah, lalu menoleh.

“Pak Faizan?”

Pria itu berjalan menghampirinya dengan raut wajah yang tampak ragu.

“Saya tidak sengaja mendengar kalau Ibu mengundurkan diri.” Ia menatap Ainun lekat. “Apa itu benar?”

Ainun terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan.

“Iya, Pak.”

Pak Faizan mengembuskan napas perlahan.

“Setelah ini Ibu akan ke mana?”

Ainun tersenyum tipis.

“Mungkin merantau bersama Bu Laras, Pak. Kebetulan beliau dipindahkan, jadi saya ikut saja.”

Pak Faizan tampak terdiam beberapa saat. Jemarinya saling bertaut sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka suara.

“Bu Ainun... bolehkah saya mengatakan sesuatu?”

Ainun memandangnya dengan tenang. “Memangnya mau bicara apa, Pak Faizan?”

Pak Faizan menarik napas dalam.

“Sebenarnya saya...”

Kleng... kleng...

Suara bel sekolah mendadak menggema, memecah percakapan mereka.

Ainun melirik ke arah jam dinding di lorong.

“Sudah waktunya kita mengajar, Pak Faizan,” ucapnya lembut.

Ia tersenyum tipis sebelum kembali melanjutkan.

“Oh ya, saya pernah berjanji akan mentraktir Bapak.” Senyumnya sedikit melebar. “Sebagai perpisahan, bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama? Sekalian mengajak guru-guru yang lain.”

Pak Faizan sempat terdiam beberapa saat, lalu menganggukkan kepala.

“Baiklah.”

“Terima kasih, Pak.” Ainun mengangguk sopan. “Kalau begitu saya ke kelas dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Pak Faizan pelan.

Ainun kembali melangkah menyusuri koridor menuju ruang kelas.

Sementara itu, Pak Faizan tetap berdiri di tempat, memandangi punggung Ainun yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik deretan ruang kelas.

.

.

Di sisi lain, sebuah ruang kerja perusahaan, suasana begitu tenang. Cahaya matahari pagi menembus dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menerangi ruangan bernuansa abu-abu yang tampak rapi.

Sagara duduk di balik meja kerjanya dengan wajah tanpa ekspresi.

Tatapannya menajam saat memperhatikan beberapa lembar foto yang baru saja diletakkan di hadapannya. Satu per satu foto itu dibaliknya perlahan.

Rahangnya mengeras.

Di setiap foto, Liona tampak begitu akrab dengan beberapa pria selama berada di Austria. Pose-pose yang tertangkap kamera terlihat begitu vulgar hingga membuat sorot mata Sagara semakin dingin.

Perlahan, ia mengalihkan pandangan pada selembar kertas yang masih terlipat rapi di samping foto-foto itu.

Dengan tenang, ia membuka lipatan kertas tersebut.

Tatapannya menyusuri setiap kalimat yang tertulis.

‘Jalang. Aku pikir kamu wanita polos, Liona. Ternyata aku salah menilaimu.’

Tak ada perubahan pada raut wajahnya. Namun, jemarinya perlahan mengepal di atas meja.

“Pak,” panggil Liam hati-hati. “Jadi... apa Bapak masih ingin menikahi wanita itu?”

Sagara tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada lembaran kertas itu selama beberapa detik sebelum akhirnya...

“Mas Sagara...?”

Suara Liona terdengar dari balik pintu.

Sagara mengangkat kepala. Tatapannya beralih ke arah pintu yang mulai terbuka, lalu kembali menatap Liam.

“Lanjutkan pekerjaanmu,” ucapnya tenang.

“Baik, Pak.”

Liam mengangguk hormat, lalu meninggalkan ruangan.

Setelah pintu kembali tertutup, Sagara segera merapikan seluruh foto dan kertas itu ke dalam sebuah map, kemudian menyimpannya di dalam laci meja.

Klek.

Laci terkunci.

Beberapa detik kemudian, Liona berjalan mendekat.

Sagara mengangkat wajah dan memaksakan seulas senyum tipis.

“Ada apa?” tanyanya datar.

Liona tersenyum lebar. “Sayang, kita jalan-jalan.”

Sagara menyandarkan tubuhnya pada kursi.

“Aku masih ada pekerjaan,” jawabnya tenang. “Nanti siang saja sekalian jam istirahat.”

“Tapi pekerjaan itu bisa dikerjakan nanti saja, kan?” rengek Liona sambil mendekat.

Brak!

Telapak tangan Sagara menghantam meja dengan keras. Suara benturan itu membuat ruangan seketika hening.

Sagara menatap Liona tanpa berkedip.

“Kamu bisa mengerti bahasa manusia?”

Liona langsung terdiam. Senyumnya lenyap seketika.

“Jangan marah,” ucapnya pelan. “Kamu kan bisa bicara baik-baik.”

“Aku sudah bicara baik-baik, Liona.” Nada suara Sagara tetap tenang, tetapi terdengar semakin dingin. “Kamunya saja yang tidak pernah mengerti.”

Liona menggigit bibir bawahnya.

“Baiklah.” Ia menarik napas pelan. “Aku duduk di sini saja. Mas kerja saja.”

Sagara tidak menanggapi. Ia kembali mengalihkan pandangan ke layar monitor di hadapannya.

Namun, pikirannya sama sekali tidak lagi tertuju pada pekerjaan.

‘Aku harus memastikan semuanya sebelum mengambil keputusan.’

.

.

Matahari terus bergerak naik hingga cahaya paginya berubah semakin terang. Jam demi jam berlalu diiringi kesibukan para guru dan siswa yang memenuhi setiap sudut sekolah. Setelah beberapa jam mengajar, bel istirahat akhirnya berbunyi, memecah suasana kelas yang semula dipenuhi suara penjelasan para guru.

Di tengah ramainya waktu istirahat, langkah Ainun membawanya menuju kantin sekolah.

Ia melihat Laras sudah lebih dulu duduk di salah satu meja sambil membawa dua gelas es teh.

“Ai, sini,” panggil Laras sambil melambaikan tangan.

Ainun menghampiri, lalu menarik kursi di hadapan sahabatnya.

Belum sempat Ainun duduk dengan nyaman, Laras sudah menatapnya penuh rasa penasaran.

“Jadi, sekarang ceritakan.”

Ainun mengembuskan napas pelan. Jemarinya saling bertaut di atas meja.

“Sebenarnya...” ucapnya lirih, “aku sudah menikah, Ras.”

“Apa?!” Laras spontan membelalak.

Ainun buru-buru mengangkat telunjuknya ke depan bibir.

“Jangan keras-keras,” bisiknya.

Laras langsung menurunkan volume suaranya, meski wajahnya masih dipenuhi keterkejutan.

“Kapan kamu menikah?” tanyanya cepat. “Dan sama siapa? Bukannya kamu belum pernah punya pacar?”

Ainun menundukkan pandangan sejenak.

“Sudah hampir tiga bulan ini, sama Mas Sagara.”

Laras mengerutkan dahi. “Sagara?”

“Calon suami Mbak Liona.”

Mata Laras kembali membulat. “Kok bisa?”

Ainun menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita.

Dengan suara pelan, ia menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan sedikit pun kenyataan yang selama ini dipendamnya.

Tentang Liona yang memilih mengejar mimpinya menjadi model di luar negeri.

Tentang permintaan kakaknya agar dirinya menggantikan posisi sebagai pengantin.

Tentang pernikahan sementara yang terpaksa dijalaninya.

Tentang janji yang seharusnya tidak dilanggar.

Hingga akhirnya...

“Aku hamil anak Mas Sagara.”

Kalimat itu membuat Laras terdiam cukup lama.

Ia mengusap wajahnya pelan sebelum menggeleng pelan.

“Sumpah, Ai.” Laras menatap Ainun tak percaya. “Kalau aku jadi kamu, aku nggak bakal sudi.”

Ainun hanya menundukkan kepala.

“Pernikahan sementara saja sudah gila,” lanjut Laras. “Sekarang kamu malah hamil.”

Suasana di antara mereka mendadak sunyi.

Laras mengembuskan napas panjang.

“Ai,” ucapnya lebih lembut, “jujur saja, membesarkan anak sendirian itu nggak mudah. Butuh mental yang kuat.”

Jemari Ainun perlahan mengepal di atas pangkuannya.

“Jadi... aku harus bagaimana?” tanyanya lirih.

Laras langsung mencondongkan tubuhnya.

“Kamu harus merebut hati suamimu.”

Ainun mengangkat wajah.

“Kasih tahu dia kalau kamu sedang hamil anaknya.”

Ainun menggeleng pelan. “Nggak bisa, Ras. Mas Sagara cinta sama Mbak Liona.”

Ia menarik napas pelan.

“Kalau beliau tahu aku hamil... aku takut beliau malah menyuruhku menggugurkan anak ini.”

Laras menggeleng tegas. “Belum tentu.”

Tatapannya lurus menatap Ainun. “Yang penting kamu sudah jujur. Soal dia menerima atau tidak, itu urusan nanti.”

Laras mengangkat telunjuknya. “Jadi perempuan itu harus cerdas, Ai. Jangan mau terus dijadikan alat.”

Ainun masih terdiam.

“Lagipula yang salah itu Mbak kamu,” lanjut Laras. “Bukan kamu.”

Beberapa saat mereka sama-sama diam.

Kemudian Laras kembali membuka suara.

“Sudah hampir tiga bulan kalian menikah, kan?”

Ainun mengangguk pelan. “Iya.”

“Masa selama itu suami kamu nggak punya sedikit pun rasa sama kamu?”

Pertanyaan itu membuat Ainun kehilangan kata-kata. Namun, bayangan tatapan dingin Sagara kembali memenuhi kepalanya.

Ia menggigit bibir bawahnya pelan. “Kalau... beliau tetap nggak mau menerimaku bagaimana?”

“Ya sudah.” Laras mengangkat kedua bahunya santai. “Kamu pergi.”

Ainun menatapnya bingung.

“Biar dia menyesal.” Laras tersenyum tipis. “Setidaknya nanti dia nggak bisa bilang kalau kamu nggak pernah memberinya kesempatan.”

Ainun terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Akan aku coba, Ras.”

“Nah.” Laras tersenyum puas. “Begitu dong. Jangan terus lemah.”

Ia menggeleng pelan.

“Coba dari dulu kamu cerita sama aku. Aku pasti berdiri paling depan buat ngebelain kamu.”

Ucapan itu membuat sudut bibir Ainun terangkat tipis.

“Terima kasih, Ras.”

Laras terkekeh pelan.

“Ngomong-ngomong.” Ia kembali menatap Ainun. “Surat pengunduran diri kamu gimana?”

“Sudah disetujui.”

“Syukurlah.”

Ainun mengangguk.

“Aku juga berencana traktir teman-teman setelah pulang sekolah.”

Laras langsung mengangkat tangan. “Aku ikut.”

Kemudian ia tersenyum usil.

“Tapi kita patungan, ya. Soalnya aku juga mau pamitan. Besok aku sudah pindah.”

Ainun tersenyum kecil.

“Iya.”

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!