Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa percakapan polos seorang anak kecil mulai mengusik hati seorang pria yang selama bertahun-tahun selalu menutup pintu perasaannya rapat-rapat.
Malam di Mansion Laurent terasa begitu sunyi.
Hujan yang sejak sore turun perlahan mulai mereda, menyisakan suara tetesan air dari atap kaca yang jatuh ke kolam taman.
Di ruang keluarga utama, lampu kristal memancarkan cahaya hangat.
Claire Laurent duduk dengan anggun di sofa panjang sambil menikmati secangkir teh.
Di sampingnya duduk Leonardo yang mulai mengantuk, namun masih memeluk boneka dinosaurus kesayangannya.
Sementara Lucas berdiri di dekat jendela besar dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya.
Tatapannya kosong mengarah ke taman.
Claire memperhatikan putranya beberapa saat.
"Lukas."
Lucas menoleh.
"Iya, Ibu."
Claire meletakkan cangkir tehnya.
"Pengawalmu sudah membawa Ariana?"
Lucas mengangguk pelan.
"Harusnya sebentar lagi tiba."
Claire menghela napas.
"Kalau begitu..."
"Bawa saja dia masuk ke mansion."
Lucas sedikit mengangguk.
"Baik."
Meski Claire bukan ibu kandung Lucas, hubungan mereka jauh dari kata renggang.
Claire menikah dengan ayah Lucas ketika Lucas masih berusia lima tahun.
Ibu kandung Lucas telah meninggal dunia karena sakit sejak ia masih sangat kecil.
Sejak saat itu...
Claire-lah yang membesarkannya.
Yang mengajarinya membaca.
Yang menemaninya saat demam.
Yang menungguinya ketika pulang sekolah.
Yang menegurnya saat berbuat salah.
Bahkan ketika Lucas mulai mengambil alih perusahaan keluarga, nasihat Claire selalu menjadi sesuatu yang ia hormati.
Karena baginya...
Claire bukan sekadar ibu tiri.
Melainkan ibunya sendiri.
Beberapa menit kemudian...
Suara mobil memasuki halaman mansion terdengar.
Adrian masuk ke ruang keluarga.
"Tuan."
"Bu Ariana sudah tiba."
Lucas mengangguk.
"Bawa masuk."
"Baik."
Tak lama kemudian...
Dua orang bodyguard membuka pintu.
Ariana berjalan masuk.
Wajahnya terlihat pucat.
Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.
Begitu melihat Lucas...
Langkahnya langsung terhenti.
Tatapan pria itu begitu dingin hingga membuat Ariana menundukkan kepala.
Namun saat melihat Claire...
Matanya langsung berkaca-kaca.
"Bibi..."
Claire tidak langsung menjawab.
Ia hanya mempersilakan Ariana duduk.
"Duduklah."
Ariana duduk dengan gugup.
Kedua tangannya saling menggenggam erat.
Suasana menjadi sangat sunyi.
Claire akhirnya membuka suara.
"Sebelum datang ke sini..."
"Aku sudah mendengar semuanya."
Ariana langsung meneteskan air mata.
"Bibi..."
Claire mengangkat tangan pelan.
"Jangan menyela."
Ariana langsung diam.
Claire melanjutkan,
"Aku mengenalmu sejak kecil."
"Aku tahu sifatmu."
"Kau keras kepala."
"Terkadang terlalu mengikuti perasaan."
"Tapi aku tidak pernah mengira..."
"...kau akan melakukan hal sejauh ini."
Air mata Ariana semakin deras.
"Aku..."
"...aku hanya..."
"Cemburu."
Suara itu begitu lirih.
Claire memejamkan mata sesaat.
"Cemburu."
"Hanya karena itu?"
Ariana menundukkan kepala.
"Aku melihat Lucas..."
"...sangat memperhatikan Alyssa."
"Semua pengawal mengawalnya."
"Semua orang membicarakannya."
"Aku..."
"...kehilangan kendali."
Claire menghela napas panjang.
"Dan karena kehilangan kendali..."
"...kau meninggalkan seorang wanita sendirian di gudang selama berjam-jam."
"Dalam keadaan sadar dan sudah direncanakan"
Ariana menangis semakin keras.
"Aku tidak berniat membunuhnya."
"Aku hanya ingin membuatnya takut."
Claire menggeleng pelan.
"Tapi tindakanmu hampir merenggut nyawanya."
Ruangan kembali hening.
Claire menoleh kepada Lucas.
"Lucas."
"Iya."
"Aku sudah mendengar semua penjelasannya."
Claire menatap Ariana sekali lagi.
"Ini bukan lagi persoalan perasaan."
"Ini menyangkut nyawa seseorang."
"Karena itu..."
Claire berdiri perlahan.
"Aku menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadamu."
Ariana langsung membelalakkan mata.
"Bibi..."
Claire menatapnya lembut, tetapi tegas.
"Kalau aku terus membelamu..."
"...berarti aku sedang mengajarkan bahwa kesalahan sebesar ini bisa dimaafkan begitu saja."
"Itu bukan cara keluargaku mendidik anak."
Ariana langsung menangis tanpa suara.
Kini semua keputusan berada di tangan Lucas.
Lucas melangkah perlahan mendekati Ariana.
Suasana menjadi semakin mencekam.
Ariana tidak berani mengangkat wajahnya.
Lucas berhenti tepat di depannya.
"Pandang aku."
Dengan tangan gemetar...
Ariana perlahan mengangkat kepala.
Tatapan Lucas begitu tajam.
"Aku ingin bertanya satu kali."
"Jawab dengan jujur."
Ariana mengangguk pelan.
"Iya..."
"Ketika kau mengunci pintu gudang..."
"Apa kau sadar bahwa Alyssa bisa saja mati di sana?"
Air mata Ariana kembali jatuh.
"Aku..."
"...tidak memikirkan sejauh itu."
Lucas mengangguk pelan.
"Itulah masalahmu."
"Kau bertindak tanpa memikirkan akibatnya."
Ariana menutup mulutnya sambil menangis.
Lucas kembali berkata,
"Selama bertahun-tahun..."
"Kau bekerja dengan baik."
"Kau ikut membangun perusahaan ini."
"Ayah dan ibumu juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan keluargaku."
Ariana menangis semakin keras.
"Itulah satu-satunya alasan..."
Lucas berhenti sejenak.
"...kenapa malam ini kau masih berdiri di sini."
Ruangan menjadi sunyi.
Lucas berkata tegas,
"Aku memberikanmu peringatan pertama."
Ariana langsung menatapnya.
"Peringatan pertama?"
Lucas mengangguk.
"Mulai besok."
"Kau dibebastugaskan sementara."
"Seluruh aksesmu ke area terbatas perusahaan dicabut."
"Kau tidak boleh mendekati Alyssa."
"Baik di perusahaan."
"Maupun di mansion."
"Kalau sekali lagi..."
Lucas menatapnya lurus.
"...kau melakukan tindakan yang membahayakan siapa pun di bawah perlindunganku."
"Maka hubungan keluarga."
"Jasa di perusahaan."
"Persahabatan orang tua."
"Semuanya tidak akan lagi menjadi alasan bagiku."
"Aku akan menyerahkanmu kepada pihak berwenang."
Suara Lucas terdengar begitu tenang.
Namun setiap katanya membuat Ariana semakin pucat.
Ia langsung menundukkan kepala.
"Aku..."
"...mengerti."
"Maafkan aku."
Lucas tidak menjawab.
Claire menghela napas pelan.
"Semoga kau benar-benar belajar dari malam ini, Ariana."
Ariana mengangguk sambil mengusap air mata.
Tanpa seorang pun menyadarinya...
Di lantai dua.
Pintu kamar Alyssa sedikit terbuka.
Alyssa ternyata sudah sadar beberapa menit yang lalu.
Tubuhnya memang masih lemas.
Namun rasa haus membuatnya terbangun.
Saat hendak memanggil Maria...
Ia justru mendengar suara percakapan dari lantai bawah.
Pelan-pelan ia mendekati balkon koridor.
Dari sana...
Suara Lucas, Claire, dan Ariana terdengar cukup jelas.
Alyssa mendengarkan semuanya.
Tentang kecemburuan Ariana.
Tentang hukuman yang diberikan Lucas.
Tentang akses perusahaan yang dicabut.
Ia terdiam cukup lama.
Lalu perlahan menundukkan kepala.
Di dalam pikirannya...
Satu nama kembali muncul.
Isabel.
Wajah wanita yang selama ini ia anggap sebagai keluarga kembali terbayang.
"Isabel..."
"Di mana sebenarnya kau sekarang?"
Tiba-tiba...
Sebuah pemikiran muncul di benaknya.
Ariana.
Wanita itu sudah lama bekerja di perusahaan Lucas.
Memiliki banyak relasi.
Mengenal berbagai orang.
Dan sekarang...
Sedang dipenuhi rasa bersalah.
Alyssa menggigit bibir pelan.
"Kalau..."
"Kalau Ariana benar-benar menyesal..."
"Mungkin..."
"Aku bisa memintanya membantuku mencari Isabel."
Ia tahu Lucas pasti akan tetap berusaha mencari Isabel.
Namun entah mengapa...
Alyssa merasa dirinya juga harus melakukan sesuatu.
Meski tubuhnya masih lemah.
Meski belum tahu bagaimana caranya.
Tatapannya perlahan berubah menjadi lebih teguh.
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka itu...
Sebuah rencana kecil mulai tumbuh di dalam benaknya.
Dan tanpa disadari siapa pun...