Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Dalam Senyuman
Bagi Dante, kewaspadaan adalah insting utama yang menjaga nyawanya tetap melayang di dunia bawah dan bursa saham. Namun, penampilan dan sikap Helena sore itu benar-benar tanpa cela.
Helena mengeksekusi perannya dengan luar biasa presisi. Tidak ada sedikit pun gestur tubuh yang canggung, tidak ada tatapan mata yang mencurigakan, dan latar belakang identitas buatan yang ia gunakan telah dibersihkan serta dipersiapkan dengan sangat matang. Dokumen kepemilikan rumah, riwayat bisnis, hingga latar belakang keluarganya di luar negeri tercatat rapi sebagai seorang pengusaha wanita independen dari kalangan elit.
Bahkan ketika Dante menyuruh Valerio melakukan pemeriksaan singkat mengenai tetangga baru mereka melalui jalur intelijen, laporan yang diterima kembali begitu bersih. Helena benar-benar sosok yang tak kasat mata di masa lalu Marco, sehingga nama atau wajahnya tidak pernah terhubung sama sekali dengan sindikat Arcanum.
"Bagaimana, Dante? Tasnya benar-benar bagus dan asli," ujar Aura sambil memperlihatkan tas tangan kulit berwarna krem tersebut di dalam ruang keluarga mereka. "Mbak Helena sepertinya orang yang sangat ramah dan menyenangkan."
Dante mengusap pelan bahu Aura, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan istrinya. Insting kewaspadaannya yang sempat berdesir pelan di awal kini melunak.
"Iya, kelihatannya dia memang hanya wanita pengusaha biasa yang mencari hunian tenang di kompleks ini," jawab Dante tenang, membuang jauh-jauh keraguan kecil yang sempat terlintas di benaknya. "Baguslah kalau kau punya teman mengobrol baru di sebelah rumah."
Sore itu, di mata Dante, tidak ada ancaman sedikit pun dari rumah nomor 12 di sebelah kediaman mereka. Pria yang biasanya mampu membaca setiap pergerakan musuh itu kini benar-benar terbuai oleh rasa aman di lingkungan barunya.
Sementara itu, di balik jendela lantai dua rumah sebelah, Helena berdiri di balik tirai tipis. Ia memperhatikan Dante dan Aura yang tertawa bersama di ruang keluarga mereka yang hangat.
Helena menyesap anggur merah dari gelas kristalnya, mengulas senyum dingin yang dipenuhi kepuasan.
"Begitu mudahnya..." bisik Helena pelan pada kegelapan ruangan. "Bahkan sang Iblis pun menumpulkan taringnya saat ia merasa sudah menang."
Rencana Helena berjalan sesuai dengan jalurnya tanpa halangan. Tanpa ada kecurigaan sedikit pun dari Dante maupun Aura, Helena kini berhasil menanamkan dirinya tepat di pusat kehidupan mereka. Topeng tetangga yang baik telah terpasang sempurna, siap digunakan untuk meretakkan kebahagiaan itu dari dalam.
Hari-hari berikutnya berjalan semakin akrab. Helena memanfaatkan posisinya sebagai tetangga baru dengan sangat lihai. Tanpa memicu kecurigaan sedikit pun, ia perlahan-lahan menyusup ke dalam lingkaran aktivitas harian Aura.
Setiap pagi, Helena sering terlihat menyapa dari balik pagar, membagikan kue buatan rumah, atau sekadar mengajak Aura mengobrol singkat tentang perawatan tanaman dan dekorasi rumah. Bagi Aura yang lugu dan merindukan sosok teman wanita setelah masa-masa kelam yang dilaluinya, kehadiran Helena terasa bagaikan berkah. Helena menampilkan dirinya sebagai sosok kakak perempuan yang dewasa, anggun, dan sangat perhatian.
Dante yang sering memantau dari jauh mulai benar-benar menganggap Helena sebagai tetangga yang tak berbahaya. Melihat Aura memiliki teman mengobrol dan tampak bahagia di rumah membuat Dante semakin memfokuskan pikirannya pada transaksi bursa saham serta pengelolaan klan secara jarak jauh.
Suatu sore, ketika Dante sedang menghadiri pertemuan bisnis penting di pusat kota bersama Valerio, Helena datang berkunjung ke kediaman Aura dengan membawa satu keranjang buah-buahan segar.
"Masuklah, Mbak Helena," sambut Aura hangat sambil membukakan pintu depan. "Dante sedang ada urusan pekerjaan di luar, jadi rumah agak sepi."
"Terima kasih, Aura," sahut Helena dengan senyum manisnya yang tampak sangat tulus.
Mereka berdua duduk di sofa ruang keluarga yang nyaman. Aura menyeduhkan teh chamomile hangat untuk tamu istimewanya tersebut. Helena memandu percakapan dengan sangat halus, menanyakan kisah-kisah kecil kehidupan rumah tangga Aura tanpa pernah terkesan menggurui atau mendesak.
"Dante itu suami yang sangat luar biasa ya, Aura," ujar Helena seraya menyesap tehnya perlahan. "Pria seperti dia... pasti sangat protektif padamu."
Aura tersenyum merona, mengangguk pelan. "Iya, Mbak. Dia melakukan segalanya untuk melindungiku. Dulu hidupku sangat berat, tapi semenjak ada Dante, aku merasa punya tempat berlindung yang paling aman."
Helena menatap wajah Aura dengan sorot mata yang dipenuhi simpati buatan, namun di dasar hatinya, api dendam membakar makin hebat. Setiap kata pujian Aura untuk Dante bagaikan duri yang menusuk pendengarannya.
"Pria berbakat memang selalu pandai menciptakan rasa aman," kata Helena dengan nada suara yang begitu lembut. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap foto pernikahan Dante dan Aura yang terbingkai indah di atas meja perapian.
"Tapi terkadang, Aura... semakin kuat dan kokoh benteng yang dibangun seorang pria, semakin besar pula bahaya yang mengintai di balik dindingnya. Terutama jika kita tidak pernah benar-benar tahu apa saja yang pernah ia korbankan atau hancurkan di masa lalu."
Aura tertegun sejenak mendengar ucapan itu. Kalimat Helena terdengar sangat puitis, namun ada getaran aneh yang sempat melintas halus di udara.
"Maksud Mbak Helena?" tanya Aura polos.
Helena seketika terkekeh pelan, melambaikan tangannya seolah ucapan tadi hanyalah gurauan hangat seorang wanita tua. "Ah, maafkan aku. Aku hanya teringat pada mantan suamiku dulu. Dia juga pria yang sangat kuat, tapi sayangnya... banyak hal di masa lalunya yang akhirnya merusak kami."
Helena lalu mengalihkan pembicaraan dengan cepat ke topik pakaian dan perhiasan, menghapus keraguan kecil di benak Aura sebelum sempat berkembang.
Ketika malam tiba dan Helena pamit pulang ke rumahnya, Aura menyambut kedatangan Dante di depan pintu dengan pelukan hangat seperti biasa. Namun, kalimat singkat Helena sore tadi tanpa sadar menempel tipis di sudut pikiran Aura.
Di rumah sebelah, Helena berdiri di balik jendela kamarnya yang gelap. Ia menatap ke arah rumah Dante sambil mengelus cangkir kristal di tangannya.
"Satu benih keraguan sudah tertanam," gumam Helena dengan senyuman dingin yang mengerikan. "Pelan tapi pasti, Aura... aku akan membuat rasa aman yang diberikan Dante terasa seperti penjara bagimu."