Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 - Sebuah upaya untuk menyingkirkan
An, maaf ... Mungkin, Mas baru akan pulang setelah tiga Minggu menginap di sini. Mey marah karena kemarin Mas terlalu lama mengantarkan kamu pulang. Ya, memang sudah seharusnya dia marah. Hari itu adalah hari pernikahan kami, harusnya Mas terus berada di sisinya. Untuk menebus kesalahan Mas itu, makanya, Mas akan menginap satu Minggu lebih lama dari perjanjian awal kita. Mas yakin sekali kalau kamu pasti mengerti kondisi Mas saat ini. Sekali lagi, Mas minta maaf ya, An.
Anna tadinya begitu sumringah saat mengetahui ada sebuah pesan dari sang suami yang begitu dirindukannya. Tapi, setelah membaca isi pesan dari sang suami, kini, wanita itu menangis sesenggukan. Anna bahkan menangis hingga meraung-raung dengan keras melampiaskan rasa sakit yang teramat di hatinya.
“Kenapa kamu begitu kejam, Mas? Kenapa kamu tega melakukan hal ini kepadaku?”
Jika selama ini Anna berusaha menutupi tangisannya, namun kali ini tidak begitu. Hari ini, Anna menangis dan meraung-raung tanpa peduli jika ada orang yang mendengar tangisannya.
Hatinya hancur.
Pria itu bahkan tidak bertanya bagaimana keadaan dirinya setelah ditinggal menikah. Pria yang begitu dicintainya itu sama sekali tak peduli dengannya.
Padahal Anna selalu memikirkan Wirra.
Apakah pria itu suka dengan makanan yang disajikan hotel tempat mereka berbulan madu? Apakah pria itu makan dengan baik? Apakah Meyta bisa mengurusi semua keperluan pria itu?
Tapi Wirra, pria itu bahkan tak peduli bagaimana kondisi psikis Anna setelah ditinggal menikah.
Wirra benar-benar hanya memikirkan kenikmatannya sendiri.
Anna terus meraung keras selama puluhan menit. Wanita itu bahkan melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya.
“Kamu kejam, Mas!”
“Kamu jahat!”
“Padahal selama ini aku sudah mengurus kamu dengan sangat baik! Apa kurangnya aku?! Apa kurangnya aku dibandingkan istri baru kamu itu?!”
Anna terus meraung sembari membanting semua benda yang berhasil digapainya.
Kamar yang biasanya selalu tertata sangat rapi, kini luluh lantak, hancur berantakan. Persis seperti hati Anna saat ini.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan kondisi di kediaman Meyta. Pasangan pengantin baru itu sedang sibuk bercanda dengan anak mereka— Mutiara.
Wirra bahkan sama sekali tak merasa bersalah dengan pesan yang sudah dia kirimkan pada Anna. Bagi Wirra, Anna adalah istri yang penurut. Wanita itu selalu sabar dan menuruti semua permintaannya. Hanya menambah jadwal menginap selama satu Minggu, tentu tidak akan membuat Anna marah padanya.
Begitulah pikir Wirra.
“Kamu sudah bilang pada Anna, kalau kamu tinggal di sini selama tiga Minggu?” tanya Meyta saat sepasang pengantin baru itu memasuki kamar setelah puas bermain board game sembari bercanda dengan Mutiara.
“Sudah Sayang ... Kamu jangan khawatir,” ucap Wirra. Pria itu bahkan langsung menghampiri dan mendekap Meyta dari belakang.
“Dia mengizinkan?” tanya Meyta lagi. Wirra pun menganggukkan kepalanya yang kini sudah bertengger di atas pundak Meyta.
“Tentu saja dia mengizinkan,” lirih Wirra. “Bukankah setiap istri harus menuruti perintah suaminya?” ucap pria itu sebelum menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher Meyta dan meninggalkan beberapa jejak di sana.
“Ya tidak harus selalu begitu. Tergantung apa permintaan suaminya!” ketus Meyta.
“Kalau aku minta tubuhmu sebagai hidangan sebelum tidur, bagaimana? Apa itu diperbolehkan?” goda pria itu.
Meyta tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan Wirra. Dan pria itu tentu saja tak membutuhkan jawaban dari sang istri. Karena beberapa detik kemudian, jemari Wirra sudah menerobos ke dalam celana yang dikenakan Meyta sembari menggiring wanita itu menuju ranjang.
Dengan tertatih-tatih Meyta mengikuti ke mana langkah Wirra menggiringnya. Jemari nakal Wirra yang semakin bergerak cepat di celah lembut miliknya, membuat Meyta kesulitan menggerakkan kakinya. Bahkan, sebelum tiba di ranjang, lutut Meyta sudah terasa lemas. Wanita itu melenguh kencang sembari mencengkeram rambut Wirra dengan erat.
“Sepertinya kita perlu memasang peredam suara di kamar ini. Suara kamu terlalu berisik, Sayang,” lirih Wirra sebelum menghempas Meyta ke atas ranjang.
Walau sudah mengganyang habis tubuh Meyta selama lima malam tanpa henti, tentu saja tak membuat hasrat Wirra pada wanita itu jadi berkurang. Wirra malah semakin menggebu-gebu pada Meyta.
Menenggelamkan wajahnya pada celah lembut milik Meyta, Wirra menyantapnya dengan sangat rakus. Sekujur tubuh Meyta bergetar hebat karena Wirra melahap miliknya dengan begitu buasnya. Meyta bahkan sampai menggigit bantal untuk meredam teriakannya. Dia tak mau anak dan ibunya mendengar teriakan-teriakan nikmatnya.
Hasrat Wirra terus menggebu dari hari ke hari.
Waktu cuti yang telah habis tak membuat hasrat pria itu pada Meyta jadi menurun. Setiap pagi, sebelum masing-masing dari mereka berangkat bekerja, Wirra lebih dulu menyantap Meyta. Begitupun sepulang bekerja.
Dan tanpa terasa tiga Minggu sudah berlalu sejak hari pernikahan mereka. Besok, Wirra harus sudah kembali ke kediaman Anna.
Sebenarnya Wirra tak mengingat hal itu. Sejak menikah lagi, yang ada di pikiran pria itu hanyalah Meyta dan tubuh wanita itu.
Jika saja alarm ponselnya tak berbunyi dan mengingatkan, tentu dia terlupa kalau besok, dirinya harus kembali pada Anna.
Wirra mengembuskan napas berat. Rasanya dia malas sekali untuk kembali ke kediaman Anna. Dia sudah sangat bahagia bersama Meyta dan Mutiara.
Haruskah dia melepaskan Anna dan hidup hanya dengan Meyta dan Mutiara?
Wirra menggelengkan kepalanya.
Tidak. Dia tidak sejahat itu. Dia tidak akan pernah meninggalkan wanita malang itu. Pria itu kembali mengembuskan napas berat. Terpaksa, besok, dia harus meninggalkan Meyta beberapa hari dan kembali ke kediaman Anna.
“Besok, aku sudah harus kembali ke sana,” ucap Wirra saat Meyta baru saja masuk ke dalam kamar dengan rambut yang basah.
“Harus besok?” tanya Meyta.
Wanita itu tentu saja tak senang mendengarnya. Tiga Minggu ini, dia merasa Wirra hanyalah miliknya seorang. Meyta bahkan terlupa jika dia memang sudah seharusnya berbagi suami dengan wanita lain.
“Sudah tiga Minggu, Sayang,” ucap Wirra.
Meyta mengembuskan napas kasar. Wanita itu bahkan menekuk wajahnya. Namun, beberapa detik kemudian, senyuman tipis tercetak di wajah Meyta.
Wanita itu berjalan mendekati Wirra yang duduk di depan meja rias dan naik ke pangkuan pria itu.
“Padahal aku sudah bersih malam ini,” lirih Meyta. Wanita itu bahkan mengatakannya tepat di depan telinga Wirra.
“Apa kamu tidak merindukannya? Sudah satu Minggu kamu tidak menjelajah ke sana,” bisik Meyta.
Mulut Wirra sedikit menganga. Taulah dia apa yang dimaksud sang istri. Dia memang begitu merindukan untuk masuk ke dalam tubuh wanita itu setelah satu Minggu masa me*nstru*asi sang istri.
Walau Meyta tetap memuaskan dirinya, tapi dia tak terlalu merasa puas jika tidak melihat tubuh melenting dan mendengar suara mengerang wanita itu.
“Dia sudah berkedut-kedut Wir,” bisik Meyta dengan suara serak. Wanita itu bahkan sudah menggoyangkan pinggulnya.
Meyta benar-benar berusaha untuk menahan Wirra. Dia tak ingin sang suami meninggalkan dirinya. Dia ingin Wirra hanya untuknya.
Meyta mengeram saat jemari Wirra mulai menyelinap ke bawah sana.
Saat menyadari Meyta tak memakai apapun di bawah sana, pria itu berdiri sembari menggendong Meyta dan meletakkan wanita itu di atas meja rias.
Wirra pun membuka lebar-lebar kaki wanita itu, lalu mendaratkan hidungnya pada celah lembut milik Meyta. Aroma ini adalah aroma yang sangat dia rindukan. Dan Meyta mulai mengerang saat Wirra mulai menyantapnya dengan rakus di bawah sana.
Misi Meyta pun berhasil. Wirra mengundurkan kepulangannya.
“Mungkin aku baru bisa kembali Minggu depan, An.”
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus