Arka Wicaksono, 28 tahun, programmer lulusan bootcamp. Hidupnya habis di depan layar komputer — lembur tanpa akhir, gaji pas-pasan, dan mimpi yang sudah lama mati. Sampai suatu malam, jantungnya berhenti di tengah shift ketiga berturut-turut. Mati. Tamat.
Atau begitulah seharusnya.
Arka membuka mata di kamar kos-nya di Bandung. Tahun 2018. Usia 20 tahun. Mahasiswa ITB semester 5.
Dan di saku celananya — sebuah smartphone dari tahun 2026 dengan satu aplikasi yang tidak seharusnya ada: ChatGPT.
AI yang bisa menulis kode sempurna dalam hitungan detik. Merancang produk yang belum pernah dilihat dunia. Menganalisis pasar dengan ketepatan yang melampaui konsultan manapun.
Dengan ingatan masa depan di kepalanya dan AI tercanggih di tangannya, Arka memulai dari nol: menyelamatkan pabrik ayahnya yang hampir bangkrut, membangun platform teknologi yang mengguncang industri, dan diam-diam menyiapkan strategi yang akan membuat dunia berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Jatuhnya Hartawan
Dua minggu setelah #HartawanKorupsi trending, domino-nya mulai jatuh.
Pertama: dewan direksi MediaNusa Group mengadakan rapat darurat. Hasil rapat bocor ke media dalam hitungan jam—Hartawan Prasetyo diberhentikan dari posisi CEO "efektif segera, pending investigasi internal." Saham MediaNusa di IDX turun 23% dalam satu hari perdagangan.
Kedua: OJK mengumumkan pemeriksaan awal terhadap dugaan penyalahgunaan dana perusahaan publik, sementara Bareskrim membuka penelusuran atas kampanye buzzer berbayar. Statusnya belum penyidikan penuh. Namun nama Hartawan sudah muncul di setiap portal berita di Indonesia dengan konteks yang tidak dia inginkan.
Ketiga—dan ini yang paling ironis—portal-portal berita milik MediaNusa sendiri terpaksa memberitakan kejatuhan CEO-nya. Jurnalis mereka, yang selama ini bekerja di bawah tekanan Hartawan, sekarang menulis dengan kebebasan baru. Beberapa artikel bahkan lebih tajam dari thread Twitter Kevin.
Arka membaca semua perkembangan ini dari BandungWorks. Layar laptopnya terbagi dua—satu sisi monitoring berita, sisi lain dashboard KlikNews.
Dan dashboard KlikNews menunjukkan sesuatu yang indah.
DAU yang turun 15% selama buzzer campaign kini memantul lebih tinggi dari angka semula. Jauh lebih tinggi. Narasi "startup muda melawan konglomerat korup" menjadi cerita yang disukai media dan publik Indonesia. KlikNews berubah menjadi simbol.
**DAU: 890.000** (tertinggi sepanjang sejarah)
**Download minggu ini: 340.000** (rekor)
**Media mention: 247** (dalam 14 hari)
Kevin masuk ruangan dengan langkah yang hampir menari. "Bro. Tiga advertiser baru mau sign. Dua di antaranya BEKAS klien MediaNusa yang cabut setelah skandal. Total budget: 180 juta per bulan."
"Approve semua. Standard terms."
"Dan—ini yang terbaik—" Kevin meletakkan ponselnya di depan Arka. Email terbuka.
**From:** marketing@indomie.co.id
**Subject:** Partnership Proposal — Indomie x KlikNews National Campaign
Indomie pusat. Level nasional. Budget yang tertera di email: Rp 500.000.000 per kuartal.
Setengah miliar per kuartal dari satu advertiser. Angka yang membuat Kevin hampir pingsan ketika membacanya pertama kali.
"Lo tahu apa artinya ini?" kata Kevin. "Kita bukan startup kecil lagi. Brand sebesar Indomie nggak mau associated sama app yang nggak proven."
Arka mengangguk. Tapi pikirannya sudah di tempat lain.
Dia membuka grup tim dan mengetik satu kalimat:
**Arka:** Lanjut kerja. Buat produk lebih baik.
**Kevin:** 😑 Lo literally nggak bisa enjoy satu momen pun ya
**Fajar:** Setuju sama Arka. Skandal bisa bikin orang datang, tapi produk yang bikin mereka tinggal.
**Kevin:** Fine fine fine. Gue setup meeting Indomie minggu depan.
---
Tiga hari kemudian, sesuatu yang tidak Arka duga terjadi.
WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal. Prefix +62 21—Jakarta.
**Unknown:** Selamat siang, Bapak Arka Wicaksono. Perkenalkan, saya Mayor Rendra, ajudan Letnan Jenderal Surya Atmaja, Direktorat Siber Badan Intelijen Negara. Jenderal ingin berbicara dengan Bapak mengenai kerja sama di bidang keamanan siber nasional. Apakah Bapak bersedia untuk video call minggu ini?
Arka membaca pesan itu tiga kali.
BIN. Badan Intelijen Negara.
Pengirimnya badan intelijen nasional Republik Indonesia.
Dia meletakkan ponsel. Berdiri. Berjalan ke jendela.
Di kehidupan sebelumnya, nama Letnan Jenderal Surya Atmaja muncul beberapa kali di berita—pria militer karier yang mendorong modernisasi pertahanan siber Indonesia. Sosok yang dihormati tapi jarang terlihat di publik. BIN bukan organisasi yang menghubungi mahasiswa untuk ngobrol santai.
Jika BIN menghubunginya, itu berarti dua hal: KlikNews sudah cukup besar untuk masuk radar intelijen negara, dan ada sesuatu spesifik yang mereka butuhkan.
Jakarta Cyber Defense Summit. Arka sudah membaca tentang summit ini di berita—acara keamanan siber tingkat nasional yang dijadwalkan Februari 2019. Pemerintah Indonesia mengundang pakar dari seluruh dunia. Dan belakangan, ada rumor tentang ancaman dari kelompok peretas internasional.
Arka membalas:
**Arka:** Dengan senang hati, Mayor. Silakan atur jadwal yang sesuai untuk Jenderal Surya Atmaja. Saya fleksibel.
**Mayor Rendra:** Baik. Saya akan kirim undangan Zoom untuk hari Kamis, pukul 14.00 WIB. Mohon gunakan jaringan yang aman.
Arka menyimpan nomor itu. Lalu dia duduk kembali di meja dan menatap layar laptop.
Di satu sisi: KlikNews, hampir 900.000 DAU, advertiser berdatangan, reputasi sebagai "startup anti-korupsi."
Di sisi lain: undangan dari badan intelijen negara.
Enam bulan yang lalu dia mati di lantai kantor. Sekarang negara membutuhkannya.
Dia membuka ChatGPT.
*"Beri saya briefing lengkap tentang struktur keamanan siber Indonesia per 2018. Institusi mana yang bertanggung jawab? Apa kelemahan utama? Ancaman apa yang paling kritis dalam 12 bulan ke depan? Dan apa itu Jakarta Cyber Defense Summit?"*
ChatGPT mulai menjawab. Arka membaca setiap baris.
Persiapan sudah dimulai.