Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tiga hari berlalu dalam sekejap mata di Desa Sukamaju.
Bagi warga desa biasa, tiga hari hanyalah waktu yang singkat.
Namun bagi Bang Jarwo dan Bang Sopo, tiga hari terakhir adalah masa-masa di mana akal sehat mereka diuji hingga batas maksimal.
Pagi itu, Bang Sopo sedang berjongkok di depan kandang bambu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
Di tangannya terdapat nampan berisi campuran pakan buatan Adit.
"Kalian ini sebenarnya ayam atau siluman burung unta, sih?" gumam Bang Sopo takjub.
Bagaimana tidak? Ratusan anak ayam berbulu kuning DOC yang baru berumur hitungan hari itu kini telah berubah menjadi ayam kampung dewasa yang gagah.
Bulu mereka lebat dan mengkilap, jenggernya merah merona, dan ukuran tubuh mereka bahkan lebih besar dari ayam jago tertua di desa ini.
Adit yang baru saja selesai mandi berjalan menghampiri pamannya dengan senyum lebar.
"Gimana, Bang Sopo? Ayam-ayamnya sehat semua kan?" sapa Adit.
"Bukan cuma sehat, Dit. Abang rasa kalau mereka dilepas, anjing kampung sebelah pun bisa lari ketakutan dikejar mereka," jawab Bang Sopo meletakkan nampan pakan.
"Kau pakai pelet campuran apa sih? Disuntik steroid jin?"
Adit hanya tertawa renyah.
Di saat yang sama, suara denting sistem yang sudah ia tunggu-tunggu akhirnya berbunyi di kepalanya.
[Pemberitahuan Sistem: Misi Ekspansi - Raja Pangan Sukamaju Berhasil Diselesaikan!]
[Evaluasi: 100/100 Ekor Ayam Kampung Super mencapai kematangan sempurna dalam 3 hari. Kualitas Daging: Grade SSS.]
[Hadiah: 1000 Poin Pengalaman, Cetak Biru Kandang Otomatis, dan 1 Kapsul Peningkatan Fisik Tuan telah dimasukkan ke Penyimpanan Sistem.]
"Sempurna," batin Adit puas.
Rencananya merajai pasar ayam kampung organik akan segera dimulai.
Namun, belum sempat Adit mengecek hadiah barunya, sayup-sayup terdengar suara deru mesin mobil yang sangat halus memasuki pekarangan depan rumahnya.
Bukan hanya satu, tapi dua mobil mewah berwarna hitam legam terparkir rapi.
Mobil pertama adalah SUV yang biasa dipakai Riana, sedangkan mobil di belakangnya adalah sebuah sedan mewah Eropa keluaran terbaru yang harganya ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Adit bergegas ke depan rumah.
Pintu SUV terbuka, menampilkan sosok Riana yang hari ini mengenakan setelan blazer kerja yang membuatnya terlihat sangat berwibawa namun tetap anggun.
"Pagi, Adit. Maaf aku datang sangat pagi tanpa menelepon dulu," sapa Riana dengan senyum sedikit canggung.
"Pagi, Riana. Tidak masalah. Tapi... sepertinya kamu membawa tamu istimewa hari ini?" Adit melirik ke arah sedan mewah di belakang.
Riana mengangguk pelan.
Seorang pria paruh baya dengan rambut memutih dan mengenakan kemeja sutra mahal keluar dari kursi penumpang sedan tersebut.
Wajah pria itu terlihat pucat, nafasnya sedikit berat, dan ia berjalan perlahan dibantu oleh tongkat kayu hitam.
Seorang asisten berjas rapi memayunginya dari panas matahari pagi.
"Adit, perkenalkan, ini Pak Hartono.
Beliau adalah salah satu pemodal utama di industri kuliner ibu kota, sekaligus mentor bisnisku," Riana memperkenalkan pria itu dengan nada penuh hormat.
Adit tersenyum sopan dan mengulurkan tangannya. "Selamat datang di gubuk saya, Pak Hartono. Saya Aditya."
Pak Hartono menyambut uluran tangan Adit dengan tenaga yang lemah.
Telapak tangannya terasa sangat panas, seperti orang yang sedang demam tinggi.
"Salam kenal, Nak Adit.
Riana banyak bercerita tentang kehebatan kebunmu. Tapi, sejujurnya bukan sayuran yang membuatku datang jauh-jauh dari ibu kota ke desa ini," ucap Pak Hartono dengan suara serak.
"Lalu apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Adit tenang, meski otaknya sudah menebak arah pembicaraan ini.
"Bu Tejo," sahut Riana memotong.
"Tetanggamu yang cerewet itu bercerita ke tukang sayur keliling, yang kemudian ceritanya menyebar sampai ke pemasok di pasarku.
Rumor tentang 'Semangka Es Tundra' yang mengeluarkan kabut dingin di siang bolong."
Pak Hartono menghela nafas panjang.
"Nak Adit, aku menderita sindrom panas internal langka yang merusak organ pencernaanku selama lima tahun terakhir.
Para dokter di Singapura dan Eropa sudah angkat tangan.
Tubuhku terus-menerus terasa seperti dibakar dari dalam. Saat Riana menceritakan rumor semangka yang memancarkan aura es alami, aku merasa ini mungkin keajaiban yang kucari."
Adit menatap Pak Hartono sejenak.
Mata pria tua itu memancarkan keputusasaan sekaligus harapan yang besar.
"Silakan ikuti saya ke belakang, Pak Hartono, Riana," ucap Adit sambil membalikkan badan.
Mereka berjalan menuju lahan belakang.
Begitu rombongan itu melewati pagar pembatas area buah, udara yang tadinya panas terik tiba-tiba berubah sejuk, seolah mereka baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan ber AC.
Mata Pak Hartono dan asistennya terbelalak lebar.
Di hadapan mereka, puluhan buah semangka sebesar buah kelapa tergeletak di atas tanah hitam legam.
Hal yang membuat mereka takjub adalah lapisan embun beku tipis yang menyelimuti kulit semangka tersebut, mengeluarkan kabut putih tipis yang menari-nari di udara.
"Ini... ini bukan sekadar rumor. Ini nyata!" Pak Hartono berjalan tertatih mendekati sulur semangka, tak memedulikan sepatu mahalnya yang kotor oleh tanah basah.
Tubuhnya yang tadinya terasa terbakar seketika merasa nyaman hanya dengan berdiri di dekat hamparan buah tersebut.
Adit tidak membuang waktu. Ia mengambil sebilah pisau dari pondok istirahat dan membelah satu Semangka Salju Kutub yang paling besar.
Krak!
Suara renyah terdengar saat pisau membelah buah tersebut.
Daging buahnya tidak berwarna merah, melainkan putih sebening kristal salju.
Tidak ada satu pun biji di dalamnya, dan aroma manis yang menyegarkan langsung memenuhi indra penciuman semua orang di sana.
"Silakan dicoba, Pak Hartono," Adit menyodorkan sepotong besar semangka itu.
Tangan Pak Hartono bergetar saat menerima potongan buah tersebut.
Hawa dingin langsung meresap ke pori-porinya. Ia menggigit daging buah yang renyah itu.
Kres...
Seketika, mata Pak Hartono melebar.
Air sari buah yang sangat manis dan sedingin es mencair di mulutnya, mengalir turun melewati tenggorokannya, dan menyebar ke seluruh rongga dadanya.
Sensasi terbakar yang menyiksanya selama lima tahun seolah disiram oleh mata air dari pegunungan suci.
Rasa sakitnya memudar.
Keringat dinginnya berhenti menetes.
Rona wajahnya yang pucat perlahan kembali memerah sehat.
"Luar... biasa..." Pak Hartono bergumam dengan mata berkaca-kaca.
Ia menghabiskan potongan semangka itu dengan sangat rakus, sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama bertahun-tahun.
Riana menutup mulutnya tak percaya melihat mentornya yang biasanya kesulitan makan kini melahap buah dengan penuh energi.
"Sembuh... rasanya perutku tidak sakit lagi.
Dadaku terasa sangat ringan!" seru Pak Hartono, melepaskan tongkatnya yang langsung ditangkap oleh asistennya yang kebingungan.
Pria paruh baya itu menatap Adit seolah sedang menatap dewa penolong.
"Nak Adit, berapa banyak semangka seperti ini yang kau punya?" tanya Pak Hartono dengan nada bergetar penuh ambisi.
"Saat ini ada sekitar 50 buah yang siap panen, Pak," jawab Adit santai.
"Aku beli semuanya! Satu buah akan kuhargai sepuluh juta rupiah! Tidak, lima belas juta! Aku akan membayarmu tujuh ratus lima puluh juta rupiah hari ini juga untuk seluruh panen semangkamu!" teriak Pak Hartono, sama sekali tidak peduli dengan harga pasar.
Baginya, nyawa dan kesehatannya jauh lebih mahal dari angka tersebut.
Riana menahan nafas.
Tujuh ratus lima puluh juta untuk 50 buah semangka? Itu adalah angka yang gila, bahkan untuk standar restoran bintang lima miliknya.
Adit tersenyum tipis. Ia sudah menduga buah dari sistem tidak akan pernah mengecewakan.
"Tawaran yang sangat bagus, Pak Hartono.
Tapi saya punya syarat," ucap Adit dengan nada bisnis yang tenang.
"Sebutkan saja, Nak Adit! Uang bukan masalah bagiku," jawab Pak Hartono tanpa ragu.
"Saya akan menjual 40 buah kepada Bapak untuk pengobatan.
Namun, 10 buah sisanya akan saya berikan kepada Riana untuk dijadikan menu penutup eksklusif di Restoran Bintang Nusantara," putus Adit sambil menatap Riana, memberikan wanita itu keuntungan bisnis yang masif.
Riana terkesiap. Menjadikan buah ajaib penyembuh penyakit ini sebagai menu eksklusif akan meroketkan pamor restorannya ke tingkat nasional.
Ia menatap Adit dengan rasa terima kasih yang tak terhingga dan debaran jantung yang semakin kencang.
Pak Hartono tertawa lepas, suara tawanya kini terdengar sangat bertenaga.
"Kau pemuda yang sangat cerdik dan setia kawan! Baiklah, aku setuju. Asisten, segera siapkan transfer enam ratus juta rupiah ke rekening Nak Adit sekarang juga!"
Dalam hitungan menit, saldo di ponsel Adit bertambah dengan jumlah yang fantastis.
Dari seorang pemuda desa yang hampir bangkrut di kota, kini Adit resmi menjadi miliarder muda berkat bantuan Sistem.
Malam harinya, setelah rombongan ibu kota pulang dengan membawa hasil panen Semangka Salju Kutub, Adit duduk bersila di dalam kamarnya.
Ia mengeluarkan hadiah [Kapsul Peningkatan Fisik] dari ruang penyimpanan sistem.
Kapsul itu berwarna perak kebiruan dan memancarkan cahaya redup.
"Langkah selanjutnya adalah memastikan tubuhku cukup kuat untuk melindungi semua kekayaan ini," gumam Adit, lalu menelan kapsul tersebut tanpa ragu.
Sebuah aliran energi yang sangat panas tiba-tiba meledak dari perutnya, menyebar ke seluruh aliran darah, tulang, dan otot-ototnya.
Malam itu, Aditya Pratama akan berevolusi menjadi sosok yang bukan hanya kaya raya, tetapi juga memiliki kekuatan fisik di luar batas manusia normal.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.