Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kenanga menyiapkan makan malam untuk sang suami dan putrinya. Dia memang sengaja memasak semuanya sendiri. Anggap saja sekarang dirinya melakukan semua ini untuk yang terakhir kalinya, sebelum dia benar-benar pergi dari rumah ini.
Tadi Kenanga juga sudah membereskan baju-baju miliknya ke dalam koper. Dia akan pergi setelah sama suami menandatangani surat perceraian yang disiapkan pengacaranya. Kalaupun pria itu menolak, Kenanga tetap akan pergi juga. Dia juga sudah menyiapkan tempat tinggalnya yang baru untuk sementara, jadi nanti tidak perlu khawatir mau pergi ke mana.
"Wah! Baunya harum sekali. Mama yang masak, ya!" seru Davina yang baru saja datang.
Dia terlihat begitu senang karena sudah beberapa hari Kenanga tidak memasak. Padahal gadis itu sangat menyukai masakan mamanya. Di meja terlihat beberapa menu ada makanan kesukaan Davina dan juga Bima. Justru masalah makanan kesukaan kenangan tidak ada.
"Kenapa cuma ini, Ma? Makanan kesukaan Mama nggak ada."
"Tidak perlu. Mama 'kan bisa makan apa saja. Mama juga bukan orang yang pemilih soal makanan."
Kenanga tersenyum. Dia senang karena Davina menyukai masakannya, hanya saja dalam hatinya merasa sedih karena ke depannya tidak bisa lagi merawat gadis itu. Mungkin ini yang terbaik untuk semuanya. Nanti pasti Davina juga ada ibu kandungnya yang merawat. Pastinya gadis itu akan merasa lebih bahagia dibandingkan dengan bersama dirinya.
"Aku jadi nggak sabar buat menikmatinya."
"Mama sengaja memang hari ini masak untuk semua orang. Papamu kenapa belum turun juga?"
"Aku di sini," sahut soal Bima sambil berjalan mendekat.
Pria itu pun duduk di salah satu kursi yang ada di sana, diikuti Davina dan Kenanga. Mereka makan dengan tenang karena bagitu menikmati hidangan yang tersedia. Kenanga sendiri sama sekali tidak menikmati makannya. Namun, wanita itu berusaha untuk terlihat biasa saja, sesekali memperhatikan suami dan putrinya.
Jujur dalam hati masih ada keinginan untuk tetap mempertahankan rumah tangga ini agar bisa bersama dengan mereka. Namun, dirinya sadar jika perasaan tidak bisa dipaksakan. Percuma kalau dirinya masih ada di sini, sedangkan hati mereka sudah terisi oleh wanita lain dari masa lalunya.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Bima berniat untuk kembali ke ruang kerjanya. Namun, Kenanga lebih dulu mencegahnya. Davina pun tidak diperkenankan untuk kembali ke kamar. Gadis itu juga sudah dewasa, berhak mengetahui apa yang sudah terjadi pada orang tuanya.
"Mas, tunggu! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
Bima yang tadinya sudah berdiri pun kembali duduk dan bertanya, "Kamu mau membicarakan masalah apa?"
Kenanga mengambil map yang dia letakkan di kursi sampingnya dan menyerahkannya pada Bima. pria itu mengerutkan keningnya merasa heran kenapa tiba-tiba istrinya itu memberikannya sebuah berkas.
"Apa ini?" tanya Bima sambil membuka map tersebut.
"Itu surat perjanjian perceraian. Kamu silakan baca, kalau ada sesuatu yang tidak kamu setujui katakan saja. Nanti aku bisa mengubahnya," jawab Kenanga dengan begitu santai.
Gerakan Bima membuka map pun terhenti. Dia merasa terkejut dengan apa yang bisa dikatakan oleh wanita itu. Beberapa hari ini hubungan mereka memang tidak terlalu baik, tapi tidak menyangka jika sampai jadi seperti ini. Bima pun melanjutkan membuka map tersebut dan isinya memang benar-benar surat perjanjian perceraian. Dia tidak habis berpikir dari mana ide konyol itu berasal.
Davina sendiri juga merasa terkejut. Dia merasa heran kenapa tiba-tiba Kenanga ingin bercerai. Padahal dirinya pikir selama ini semua baik-baik saja.
"Kenanga, apa kamu sedang bermimpi atau ada yang mempengaruhimu? Kenapa tiba-tiba kamu mengatakan perceraian? Kita tidak ada masalah apa-apa sebelumnya. Lagi pula di sini ada Davina, kenapa tidak berpikir dulu? Apa kamu tahu kalau kata-katamu juga menyakiti hatinya?"
Bima mencoba untuk mencari alasan dengan memakai Davina. Namun, pria itu salah karena Kenanga sudah membulatkan tekadnya dan tidak akan terpengaruh dalam hal apa pun dan oleh siapa pun. Apalagi Davina yang juga ikut mengkhianatinya.
Kenanga menatap Davina sejenak dan kembali menatap suami. "Davina sudah dewasa, Mas. Dia juga pasti sudah mengerti, bahkan lebih mengerti dari yang kamu kira."
"Ma, aku sama sekali nggak mengerti maksud Mama. Kenapa Mama tiba-tiba ingin bercerai dengan Papa?"
"Kalian tidak usah berpura-pura. Aku sudah mengetahui semuanya karena itu aku melepaskan kalian dengan ikhlas. Aku tidak akan menghalangi kalian jika ingin bersatu dengan masa lalu." Kenanga kembali menatap sang suami. "Aku juga tidak menuntut harta gono-gini padamu, Mas, jadi kamu tidak perlu khawatir dan takut akan kehilangan semuanya."
"Kenanga, maksud kamu apa, sih! Siapa yang mengatakannya padamu hal-hal gila seperti itu? Mereka hanya orang-orang yang iri dan ingin memisah kita semua."
"Benar, Ma. Pasti orang-orang itu sengaja menghasut mama agar membuat keluarga kita pecah-pecah belah," sahut Davina meski dalam hati dia merasa was-was.
"Davina, Mama sudah merawat kamu selama dua puluh tahun. Mama sangat tahu bagaimana sifat kamu. Kamu sama sekali tidak bisa membohongi Mama. Selama ini Mama juga tulus mencintai kamu seperti anak kandung sendiri, tapi Mama pada akhirnya kecewa karena kamu lebih memilih wanita lain. Wanita itu memang yang melahirkan kamu, tapi tidak adakah sedikit saja perasaan sayang kamu terhadap Mama? Tidak bisakah kamu lebih memilih Mama daripada dia?" tanya Kenanga dengan mata berkaca-kaca.
Davina tidak sanggup membalas ucapan Kenanga. Dia hanya bisa menunduk. Ada rasa bersalah di dalam hatinya. Namun, tidak dipungkiri jika dirinya memang lebih menyayangi Alicia, mengingat wanita itu yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya.
Alicia juga memperlakukannya dengan baik dan selalu memenuhi apa pun yang dia inginkan. Berbeda dengan Kenanga, akan ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan oleh wanita itu. Tanpa dirinya tahu jika itu juga demi kebaikannya.
"Kenangan, maksud kamu apa bertanya begitu pada Davina?" tanya Bima saat melihat putrinya tidak sanggup menjawab perkataan ibunya itu.
"Kamu juga pasti tahu dan mengerti maksudku."
Kenanga pun mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Bima, berisi potongan-potongan CCTV yang dirinya dapat. Dia sengaja memberitahukan pria itu apa saja yang sudah diketahuinya agar sang suami mengerti situasinya sekarang.
"Aku sudah mengirimkan video ke nomormu. Buka saja."
Bima segera membuka pesan yang dikirim Kenanga. Saat video terbuka diputar, alangkah terkejutnya Bima saat mengetahui hasil video tersebut. Davina yang bisa mendengar suara video itu pun segera mendekat dan melihat. Dia terkejut dan menatap sang mama.
"Kenapa Mama bisa memiliki video seperti ini? Mama memasang CCTV di kamarku?"
"Iya. Sengaja karena memang aku awalnya curiga dan memang terbukti 'kan kalau kalian semua membohongiku," jawab Kenanga dengan tatapan penuh luka.
Bima hanya diam, bukan hanya perselingkuhannya saja yang sudah terbongkar, tapi juga mengenai apa saja yang sudah dia lakukan pada Kenanga. Dalam hati ada rasa bersalah meski hanya sedikit. Namun, pria itu lebih dikuasai amarah karena merasa dibohongi oleh istrinya itu.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu