NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETIKA CINTA HARUS MEMILIKI WAKTU

Pukul 07.15 pagi.

Alya sudah siap berangkat ketika ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan dari sekretarisnya.

“Bu Alya, penerbangan ke Singapura dimajukan menjadi malam ini. Ada perubahan jadwal forum.”

Alya menghela napas.

Malam ini?

Dia baru saja pulang tiga bulan lalu dan berencana menghabiskan akhir pekan bersama Raka.

Rencana itu langsung berubah.

Raka keluar dari kamar sambil membawa jas.

“Kamu kenapa?”

“Penerbangan dimajukan.”

“Ke Singapura?”

Alya mengangguk.

“Malam ini.”

Raka melihat kalender di ponselnya.

“Bukannya besok kita mau ke rumah Ibu?”

“Iya.”

Alya menatapnya.

“Maaf.”

Raka diam beberapa detik.

Kemudian mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

Alya justru merasa tidak nyaman dengan jawaban itu.

“Cuma itu?”

Raka menatapnya.

“Kamu mau saya marah?”

“Bukan.”

“Terus?”

Alya menghela napas.

“Saya merasa bersalah.”

Raka mendekat.

“Jangan.”

“Tapi—”

“Kita sudah sepakat.”

“Sepakat apa?”

“Kalau pekerjaanmu penting, kamu jalankan.”

Raka mengambil tas kerjanya.

“Saya tidak mau kamu mulai merasa harus memilih antara saya dan kariermu.”

Alya terdiam.

Namun setelah Raka pergi lebih dulu, dia menyadari sesuatu.

Raka memang tidak marah.

Tapi bukan berarti dia tidak kecewa.

Dan Alya juga tidak bisa terus menganggap semuanya akan baik-baik saja hanya karena mereka saling mencintai.

SINGAPURA

Forum bisnis berlangsung sukses.

Alya menjadi pembicara utama.

Dia berbicara tentang perjalanan kariernya.

Tentang bagaimana dia memulai dari posisi asisten.

Tentang bagaimana dia membangun bisnis.

Tentang bagaimana seorang perempuan tidak harus kehilangan dirinya hanya karena mencintai seseorang.

Tepuk tangan terdengar panjang ketika dia selesai.

Namun setelah turun dari panggung, Alya tidak merasa lega.

Ponselnya menunjukkan satu pesan dari Raka.

Selamat. Saya bangga.

Hanya itu.

Alya membaca pesan tersebut berkali-kali.

Kemudian membalas:

Terima kasih.

Tidak ada percakapan lagi.

DUA HARI KEMUDIAN

Alya pulang ke Bali.

Dia berharap Raka menjemput.

Namun tidak ada.

Sopir kantor yang datang.

Begitu sampai rumah, suasananya sunyi.

Raka belum pulang.

Pukul 21.00.

Pukul 22.00.

Pukul 23.00.

Baru pukul 23.20 pintu terbuka.

Raka masuk.

Alya berdiri di ruang tengah.

“Kamu dari mana?”

“Kantor.”

“Selama ini?”

Raka mengangguk.

“Banyak pekerjaan.”

Alya memperhatikannya.

“Kamu marah?”

“Tidak.”

“Kecewa?”

Raka terdiam.

Kemudian menjawab jujur,

“Sedikit.”

Alya menghela napas.

“Aku minta maaf.”

“Saya tidak butuh kamu minta maaf.”

“Lalu?”

“Saya butuh kamu bicara.”

Alya terdiam.

Raka duduk.

“Kita mulai terlalu sibuk.”

Alya duduk di depannya.

“Saya tahu.”

“Dan saya tidak ingin kita menjadi dua orang yang hanya bertukar jadwal.”

Alya menatapnya.

“Aku juga tidak mau.”

“Kalau begitu kita harus mengubah sesuatu.”

“Seperti apa?”

Raka berpikir.

“Bukan pekerjaanmu yang dikurangi.”

“Lalu?”

“Waktu kita yang dijaga.”

Alya mengangguk.

“Setiap minggu satu hari.”

“Tanpa pekerjaan.”

“Tanpa telepon kantor.”

“Tanpa laptop.”

Raka tersenyum.

“Dan tanpa membicarakan bisnis.”

Alya mengulurkan tangan.

“Setuju.”

Raka menggenggamnya.

Masalah mereka selesai bukan dengan pertengkaran panjang.

Tetapi dengan satu keputusan sederhana:

mereka tidak akan membiarkan kesibukan menjadi alasan untuk kehilangan hubungan yang sudah mereka perjuangkan.

SATU BULAN KEMUDIAN

Rutinitas baru berjalan.

Setiap Sabtu adalah hari mereka.

Tidak peduli seberapa sibuk pekerjaan.

Tidak ada rapat.

Tidak ada email.

Tidak ada telepon.

Hari itu hanya untuk mereka.

Kadang pergi makan.

Kadang menonton film.

Kadang hanya duduk di rumah.

Dan ternyata—

justru hal sederhana itu yang membuat hubungan mereka kembali dekat.

Namun pada suatu Sabtu, Raka membawa Alya ke sebuah tempat yang tidak pernah mereka datangi sebelumnya.

Sebuah rumah kecil di pinggir kota.

Alya melihat sekeliling.

“Ini rumah siapa?”

Raka tersenyum.

“Rumah yang dulu dibeli ayah saya.”

Alya menatapnya.

“Untuk apa?”

“Dulu ayah ingin menjadikannya tempat tinggal setelah pensiun.”

Alya terdiam.

“Kenapa kamu bawa saya ke sini?”

Raka mengeluarkan sebuah kunci.

“Saya berpikir.”

“Tentang?”

“Rumah kita.”

Alya mengerutkan kening.

“Rumah kita kan sudah ada.”

“Bukan itu.”

Raka membuka pintu rumah tersebut.

Bagian dalamnya sederhana.

Ada ruang tamu kecil.

Dapur.

Dua kamar.

Halaman belakang.

“Kalau suatu hari kita punya keluarga…”

Raka berhenti.

Alya menatapnya.

“Saya ingin tempat seperti ini.”

Alya tersenyum.

“Bukan rumah besar?”

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Karena saya tidak ingin anak kita tumbuh hanya melihat saya bekerja.”

Alya terdiam.

“Dan kamu?”

“Saya juga tidak mau.”

Raka menatap halaman belakang.

“Saya ingin mereka punya ayah yang pulang.”

Alya mendekat.

“Raka.”

“Hm?”

“Kamu akan jadi ayah yang baik.”

Raka tersenyum.

“Belum tentu.”

“Kenapa?”

“Karena saya tidak tahu bagaimana caranya.”

Alya menggenggam tangannya.

“Tidak ada yang tahu.”

SATU KALIMAT

Mereka duduk di halaman belakang.

Alya memandang langit.

“Kalau nanti kita punya anak…”

Raka menoleh.

“Ya?”

“Saya tidak mau berhenti bekerja.”

“Saya tahu.”

“Tapi saya juga tidak mau menjadi ibu yang selalu sibuk.”

Raka mengangguk.

“Kalau begitu kita cari jalan bersama.”

Alya tersenyum.

“Tidak takut?”

“Takut.”

“Kenapa selalu takut tapi tetap maju?”

Raka tertawa.

“Karena saya akhirnya tahu…”

Dia menatap Alya.

“Berani bukan berarti tidak takut.”

“Lalu?”

“Berani berarti tetap memilih sesuatu yang kita anggap penting meskipun takut.”

Alya tersenyum.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi cukup untuk membuatnya menyadari bahwa hubungan mereka sudah berubah.

Dulu mereka bertengkar karena pekerjaan.

Sekarang mereka mulai membicarakan masa depan.

ENAM BULAN KEMUDIAN

Perusahaan Alya berkembang pesat.

Cabang Singapura berhasil.

Malaysia mulai berjalan.

Dia bahkan mendapat tawaran untuk membuka kantor di Thailand.

Namun kali ini Alya tidak langsung menerima.

Dia membawa proposal tersebut pulang.

Raka sedang memasak.

Alya berdiri di dapur.

“Saya dapat tawaran baru.”

Raka tidak menoleh.

“Dari mana?”

“Thailand.”

Raka berhenti memotong sayuran.

“Dan?”

“Saya menolak.”

Raka langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Karena saya tidak ingin terus memperluas hanya karena bisa.”

Raka diam.

Alya melanjutkan,

“Saya ingin menikmati apa yang sudah saya bangun.”

Raka tersenyum.

“Itu keputusanmu?”

“Iya.”

“Bukan karena saya?”

“Bukan.”

Alya mengambil sayuran.

“Saya belajar sesuatu.”

“Apa?”

“Pertumbuhan tidak selalu berarti menambah.”

Raka tersenyum.

“Kadang berarti menjaga.”

Alya mengangguk.

“Ya.”

MALAM ITU

Mereka makan malam di rumah.

Sederhana.

Tidak ada restoran mewah.

Tidak ada acara besar.

Setelah makan, Raka membawa sebuah kotak kecil.

Alya langsung mengerutkan kening.

“Lagi?”

Raka tertawa.

“Bukan cincin.”

Dia membuka kotak itu.

Sebuah jam tangan.

Di bagian belakang terdapat ukiran:

A + R

Alya tersenyum.

“Kenapa jam?”

Raka menjawab,

“Karena dulu kita selalu merasa tidak punya cukup waktu.”

Alya melihat jam tersebut.

“Sekarang?”

“Sekarang saya ingin mengingatkan kamu.”

“Apa?”

“Waktu itu bukan sesuatu yang harus kita kejar.”

Raka menggenggam tangannya.

“Waktu adalah sesuatu yang harus kita pilih.”

Alya tersenyum.

“Romantis juga ternyata.”

“Kadang.”

“Kadang?”

“Kalau terlalu sering nanti kamu bosan.”

Alya tertawa.

TIGA BULAN KEMUDIAN

Hari pernikahan akhirnya ditentukan.

Bukan karena keluarga mendesak.

Bukan karena perusahaan.

Bukan karena usia.

Mereka memilih sendiri.

12 Desember.

Enam bulan lagi.

Persiapannya dimulai.

Dan justru di sinilah masalah baru muncul.

Bukan karena mantan.

Bukan karena musuh.

Bukan karena perusahaan.

Melainkan karena—

Alya dan Raka ternyata memiliki bayangan yang sangat berbeda tentang kehidupan setelah menikah.

Raka ingin tinggal di rumah mereka dan membangun keluarga.

Alya ingin tetap sering bepergian untuk mengembangkan bisnis.

Raka ingin suatu hari memiliki anak.

Alya belum yakin kapan.

Tidak ada yang salah.

Tidak ada yang jahat.

Namun untuk pertama kalinya mereka menyadari:

mencintai seseorang ternyata tidak otomatis berarti menginginkan kehidupan yang sama.

Malam itu mereka duduk berhadapan.

Alya berkata,

“Saya tidak ingin kamu mengalah hanya karena mencintai saya.”

Raka mengangguk.

“Saya juga tidak ingin kamu mengalah.”

“Lalu bagaimana?”

Raka menarik napas.

“Kita cari kehidupan yang bisa membuat kita berdua tetap menjadi diri sendiri.”

Alya menatapnya.

“Kalau tidak ketemu?”

Raka diam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertunangan, tidak ada jawaban mudah.

Tidak ada kalimat romantis yang bisa menyelesaikan semuanya.

Raka akhirnya berkata,

“Kalau kita mau menikah, kita harus membicarakan hal-hal yang tidak romantis.”

Alya tersenyum tipis.

“Seperti?”

“Anak.”

“Karier.”

“Tempat tinggal.”

“Keuangan.”

“Waktu.”

“Dan siapa yang harus mengalah.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Raka mengulurkan tangannya.

“Kita mulai dari awal.”

Alya menggenggamnya.

Bukan sebagai bos.

Bukan sebagai tunangan.

Tetapi sebagai dua orang yang sedang belajar membangun pernikahan sebelum benar-benar menikah.

Dan malam itu mereka membuat satu keputusan:

mereka tidak akan menikah sebelum semua perbedaan besar dibicarakan.

Bukan karena mereka ragu terhadap cinta.

Justru karena mereka terlalu serius terhadap cinta itu.

EPISODE 32 BERAKHIR

Pernikahan mereka tinggal enam bulan.

Cinta sudah tidak lagi menjadi masalah.

Karier juga bukan masalah.

Keluarga sudah menerima.

Perusahaan sudah stabil.

Tetapi kehidupan bersama membawa pertanyaan yang jauh lebih nyata:

Bisakah dua orang yang sama-sama memiliki impian besar membangun satu rumah tanpa meminta salah satunya mengecilkan mimpinya?

Dan untuk pertama kalinya—

Alya dan Raka tidak mencari siapa yang benar.

Mereka mencari cara agar keduanya tetap menang.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!