Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Sosok di Balik Jubah Putih & Hutang yang Dibayar dengan Tulang
Jing Wufeng bergerak seperti angin yang tidak memiliki tubuh.
Berkat Jubah Cepat,pusaka langka yang membuat pemakainya bergerak di luar batas penglihatan mata biasa.
ia menyisiri Kota Yunzhou dalam waktu yang seharusnya membutuhkan setengah hari perjalanan. Dari satu gang ke gang lain, dari satu sasana bela diri ke sasana berikutnya, ia mengikuti jejak kehancuran yang ditinggalkan Wuchen seperti membaca sebuah manuskrip berdarah.
Kehancuran di mana-mana. Namun tidak ada jejak sang adik.
Tidak ada tubuh. Tidak ada sinyal darurat. Tidak ada apapun.
Dahi Jing Wufeng berkerut semakin dalam di setiap lokasi yang ia periksa. Sesuatu yang sangat salah telah terjadi di kota kecil yang seharusnya tidak punya siapa pun yang mampu mengancam seorang murid inti Sekte Xuanwu bersenjatakan Batu Penggoncang Langit.
Di sisi lain kota, suasananya jauh lebih ringan.
Lin Qian berdiri di depan cermin, merapikan kerah jubah putihnya dengan ekspresi seorang pria yang sedang mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yang lebih merepotkan dari latihan tempur mana pun: makan malam resmi.
"Guru terlihat sangat tampan malam ini," kata Han Yu dengan tulus dari balik pintu.
"Diam lah dan ambilkan sandalku."
Di luar sudah menunggu sebuah tandu kehormatan berlapis kain merah—kiriman resmi dari Kamar Dagang Baofeng. Lin Qian melangkah keluar, lalu berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Wangcai yang duduk mengawasi dari beranda dengan tatapan penjaga gerbang istana.
"Wangcai." Lin Qian menatap anjingnya dengan serius. "Jaga rumah. Kalau ada orang iseng lempar batu lagi—gigit sampai mati."
Wangcai menguap lebar, lalu merebahkan dagunya di atas kaki depannya.
Lin Qian menganggap itu sebagai persetujuan.
Di gedung utama Kamar Dagang Baofeng, lampu-lampu giok menerangi ruangan besar yang dipenuhi aroma kayu cendana. Presiden Yin Xiong duduk di kepala meja bersama para pengurus tinggi, wajah mereka semua menampilkan ekspresi yang sama: campuran antara kehormatan dan kepraktisan bisnis.
Keputusan sudah bulat sebelum Lin Qian tiba.
Pengaruh karya-karyanya terhadap reputasi Kamar Dagang Baofeng telah jauh melampaui perhitungan awal mereka. Dalam penilaian tahunan antar sekte dagang, nama mereka naik tiga tingkat hanya karena dua buah buku. Angka tidak berbohong—maka pembagian keuntungan pun direvisi tanpa perdebatan panjang. Mulai saat ini, Kamar Dagang hanya akan mengambil sepersepuluh bagian. Sisanya sepenuhnya milik Lin Qian.
Mei Lian dan Xiao Rui—dua wanita dari Sekte Lingxue yang kedudukannya jauh melampaui apa yang terlihat dari permukaan—sudah memberikan persetujuan mereka lebih awal. Mereka lebih memahami dari siapa pun di ruangan itu, betapa besar nilai sesungguhnya dari sosok yang malam ini datang mengenakan jubah putih biasa tanpa satu pun perhiasan pangkat.
Lin Qian memasuki koridor utama gedung, diantar oleh seorang pelayan senior, ketika langkahnya terhenti.
Di ujung koridor, berdiri seorang wanita dengan gaun biru pucat, rambutnya disanggul tinggi dengan jepit batu zamrud. Matanya memandang ke arah Lin Qian dengan ekspresi yang sulit diuraikan—sebagian terkejut, sebagian lain menyimpan sesuatu yang lebih tajam dari sekadar kejutan.
Peng Ying.
Keheningan berlangsung dua detik.
"Yi— Lin Qian." Ia mengoreksi dirinya sendiri, suaranya mengandung nada yang diasah menjadi pisau. "Mengapa kamu bisa sampai di tempat setingkat ini?"
Belum sempat Lin Qian membuka mulut, seseorang memotong dari arah samping.
"Kau masih berani menampakkan wajahmu?!"
Yu Wujie muncul dari balik pilar dengan wajah yang sudah memerah sebelum pertengkaran dimulai. Murid inti Sekte Lingxue itu—yang belum lama ini baru saja selamat dari cengkeraman Ning Xuanwu—rupanya hadir malam ini sebagai bagian dari rombongan sekte. Dan melihat Lin Qian berdiri di dekat Peng Ying, sesuatu di dalam dadanya meledak tanpa kendali.
Baginya, Lin Qian hanyalah puing yang seharusnya sudah terlupakan.
Pedang tercabut. Cahaya baja berkilat di bawah lampu giok.
Ayunan itu mengarah lurus ke leher Lin Qian.
Lin Qian tidak bergerak.
Bukan karena terkejut. Bukan karena pasrah. Melainkan karena ia tahu persis apa yang akan terjadi dalam satu detik berikutnya.
Dua bayangan melesat.
Dua sambaran telapak tangan mendarat di dada Yu Wujie dengan kekuatan yang sama sekali tidak sebanding dengan penampilan pemiliknya. Tubuh pemuda itu terpental, punggungnya menghantam pilar marmer, dan darah segar membasahi sudut bibirnya sebelum ia sempat mengerti apa yang baru saja terjadi.
Mei Lian dan Xiao Rui berdiri di antara Lin Qian dan Yu Wujie, punggung mereka tegak, napas mereka terkendali—namun tangan keduanya masih gemetar bukan karena kelelahan, melainkan karena amarah yang berusaha keras untuk tidak meledak sepenuhnya.
Yu Wujie menatap dua kakak seperguruannya dengan wajah bengkak dan kebingungan yang tulus. "Kalian... kenapa menyerang ku? Apa yang aku lakukan?!"
Jawaban yang ia terima bukan kata-kata.
Selongsong jubah Mei Lian memanjang seperti ular hidup, melilit lehernya erat-erat. Xiao Rui mengambil langkah maju dan menghantamkan Telapak Tangan Lingxue—teknik inti sekte mereka, yang biasanya hanya dikeluarkan dalam pertarungan hidup mati—langsung ke rusuk Yu Wujie.
Suara retakan tulang terdengar jelas di koridor yang sepi itu.
Mereka tidak berhenti.
Tamparan demi tamparan mendarat di wajah Yu Wujie dengan ritme yang lebih menyerupai hukuman daripada pertarungan. Setiap pukulan membawa serta makna yang sama: kau telah melakukan hal paling bodoh yang mungkin dilakukan seseorang dalam hidupnya.
Hanya ketika pemuda itu tergeletak diam di lantai marmer—napasnya tinggal setipis benang, wajahnya sudah tidak berbentuk jelas—keduanya berhenti.
Mereka berbalik menghadap Lin Qian, dan sesuatu yang jarang terjadi pun terjadi: dua wanita dari Sekte Lingxue yang bahkan Patriark mereka sendiri hormati, membungkuk dalam-dalam dengan wajah penuh kekhawatiran tulus.
"Senior, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya." Suara Mei Lian sedikit bergetar. "Keledai bodoh ini telah mengejutkan Senior dan menciptakan pemandangan yang tidak seharusnya Tuan saksikan."
"Kami akan memastikan hal seperti ini tidak pernah terulang," sambung Xiao Rui, kepalanya masih tertunduk.
Lin Qian menatap keduanya sejenak, lalu melirik Yu Wujie yang tergeletak, lalu kembali ke depan.
"Tidak apa-apa." Ia meluruskan kerah jubahnya. "Mari kita masuk. Makanannya pasti sudah dingin."
Di sudut koridor, Peng Ying berdiri mematung.
Kakinya tidak mampu bergerak. Matanya tidak mampu berpaling.
Ia baru saja menyaksikan seorang murid inti disiksa habis-habisan oleh dua senior sekte nya sendiri—bukan karena ia melakukan kejahatan besar, melainkan hanya karena ia mengacungkan pedang kepada seorang pria yang berdiri tenang di depannya.
Pria yang sama yang dulu ia pandang rendah.
Pria yang kini disambut dengan kepala tertunduk oleh orang-orang yang bahkan tidak sudi menoleh ke arahnya dua tahun lalu.
Sesuatu di dalam dada Peng Ying runtuh pelan-pelan, seperti tembok bata yang kehilangan pondasinya satu per satu. Bukan rasa sesal—belum. Tapi sesuatu yang lebih awal dari itu: kesadaran bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang ia lihat.