Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 - RAMU SEJIWA
Ekor gaun pengantin putih itu mengalir pelan, menyeret di atas karpet merah yang terbentang panjang di lantai balai. Gaun itu dipesan khusus untuk acara yang sudah direncanakan berbulan-bulan, dan kini ia menyeretnya bersama harapan yang baru.
Sepasang pengantin dalam balutan busana resmi berjalan memasuki ruangan bersama-sama, dan tempat yang tadinya dipenuhi bisik-bisik itu langsung hening dalam sekejap, hanya terdengar iringan kecapi yang merdu menemani langkah mereka. Semua mata tertuju pada dua sosok itu, berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Kirana berjalan sambil menggenggam lengan Rangga, lalu berkata dengan senyuman, "Maaf sudah membuat semua orang menunggu begitu lama. Pemandu acara, mari kita mulai upacara pernikahan sekarang." Nadanya tenang, seolah ia sama sekali tidak menggubris deretan tamu yang masih terbelalak karena kejutan.
Pemandu acara tersadar belakangan, segera mengangguk, dan memulai upacara pernikahan yang sudah lama tertunda itu.
Namun di dalam hatinya, ia bergumam, "Siapa sebenarnya mempelai pria ini?"
Setiap orang yang hadir tertegun ketika melihat pemuda tampan yang berdiri di samping Kirana itu. Beberapa orang bahkan menoleh ke arah keluarga Prasaja dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mereka tidak menyangka bahwa Kirana berani mengganti mempelai pria begitu saja!
Keluarga Prasaja pun ikut tercengang!
Bahkan Daniati, yang sejak tadi menikmati kekacauan itu, menyaksikan pemandangan ini dengan mulut yang nyaris tidak bisa ditutup. Sejak tadi ia tidak berhenti membayangkan betapa memalukannya malam ini bagi Kirana, dan kini semua bayangan itu berubah menjadi keterkejutan.
Kirana berani menikah dengan orang lain! Tetapi siapa orang ini? Wajahnya begitu indah, sampai-sampai ia lupa untuk marah. Gadis itu benar-benar berani mempermainkan seluruh rencananya.
Pak Prasaja sebelumnya merasa bersalah, lagipula semua ini salah Danendra yang tidak tahu pentingnya acara, dan tidak datang ketika hari pernikahan tiba. Ia tahu betul, kegagalan anaknya dalam acara sebesar ini akan menjadi aib yang panjang bagi kedua keluarga.
Dan kini, jadinya begini...
Ia bertanya dengan suara gemetar kepada sahabat lamanya, "Siapa dia itu?" Suaranya bergetar, tidak yakin apakah ia harus merasa marah atau merasa lega.
Sejak Danendra tidak muncul, Bawono sebenarnya sudah lama tidak senang. Apa yang dilakukan keluarga Prasaja hari ini sungguh tidak tahu diri!
Mendengar pertanyaan Pak Prasaja, Bawono membelai jenggotnya dengan wajah yang tenang, "Seharusnya, itu menantuku." Jawaban itu keluar dengan santai, seolah semuanya memang sudah direncanakan sejak awal.
Pak Prasaja: "..."
Kirana tidak peduli apakah orang-orang ini terkejut atau tidak. Ia meminta pemandu acara untuk mempersingkat prosesnya dengan cepat, lalu bertanya kepada Rangga dengan suara pelan, "Kau masih sanggup bertahan?" Karena setiap detik yang berlalu terasa seperti mengalir terlalu lambat baginya.
Ia merasakan tangan Rangga semakin lama semakin panas, panasnya melebihi suhu tubuh manusia biasa, dan itu membuatnya semakin yakin bahwa Masa Api Darah pemuda itu benar-benar memuncak!
Rangga mengangguk tanpa suara, tetapi keringat dingin mengalir di dahinya, membasahi bulu mata panjangnya, membuat wajahnya yang halus itu tampak begitu polos sehingga siapa pun ingin menjaganya. Ia masih menggenggam tangan Kirana dengan erat, seolah itulah satu-satunya hal yang bisa membuatnya bertahan.
Kirana mengeratkan genggaman tangannya, menoleh dan melihat ibunya sedang membisiki Kak Pandhu, mungkin sedang meminta ramu khusus. Ia tidak bisa menahan diri, menoleh ke arah pemandu acara dan berkata, "Cepatlah!" Ia tahu, setiap detik berarti bagi kondisi Rangga.
Pemandu acara pun merasa tidak berdaya, terpaksa melewati beberapa proses dan langsung menuju bagian yang terakhir, karena ia bisa merasakan tekanan dari seluruh ruangan itu.
"Mempelai pria, apakah Anda bersedia menikahi Nona Kirana Wijaya?"
"Saya bersedia." Rangga menjawab tanpa ragu, tegas dan jelas, seolah tidak ada kata lain yang ingin ia ucapkan.
"Kalau begitu, mempelai wanita, apakah Anda bersedia menikahi Tuan Danendra..." Pada saat itu, keringat dingin pemandu acara juga mengucur deras, karena ia baru sadar bahwa ia tidak pernah diberi tahu nama resmi mempelai pria yang baru.
Ia bahkan tidak tahu nama mempelai pria yang sesungguhnya!
Tetapi Kirana bereaksi sangat cepat. Ia segera menjawab, "Saya bersedia," lalu berjinjit dan melingkarkan kedua lengannya di leher Rangga. Ia tidak mau memberi kesempatan siapa pun untuk menyela atau membatalkan acara ini.
Pada saat itu, Rangga seolah menguasainya dengan sendirinya, mencondongkan tubuh lalu menyentuhkan dahinya dengan dahi Kirana, seperti doa yang dipanjatkan dengan pelan dan khusyuk. Sesuatu di dalam dirinya bergerak pelan, seolah menyambut kehangatan itu tanpa ragu.
Sensasi manis yang aneh itu ternyata berhasil meredakan rasa panas dan dingin yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Untuk sesaat, ia bahkan lupa di mana ia berada dan mengapa ia harus merasa tidak nyaman.
Namun pada saat itulah, Kirana mundur setengah langkah menjauh.
Rangga mengerutkan kening, merasa sedikit kecewa karena kehangatan itu tiba-tiba hilang.
Pemandu acara buru-buru menyeka keringat dingin di dahinya dan berkata dengan cepat, "Sumpah Sejiwa selesai! Selamat untuk kedua mempelai! Perjamuan dimulai!" Ia mengucapkan semuanya dalam satu tarikan napas, seolah tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengakhiri semuanya.
Waktu perlahan mendekati pukul dua belas, tetapi Kirana tidak sempat melakukan hal lain. Ia melepas sepatu hak tingginya, lalu menyeret Rangga berlari-lari kecil menuju belakang panggung, tidak peduli tatapan bingung yang mengikuti mereka.
Kondisi Rangga tidak baik, dan Kirana tidak punya pilihan selain menunggu kabar ibunya. Ia mengirim pesan lewat Gelang Lentera agar ibunya membawakan ramu khusus, lalu membawa Rangga kembali ke ruang pengantin. Ia memilih untuk tidak berpikir terlalu jauh dan hanya fokus pada apa yang bisa ia lakukan sekarang.
"Rangga, kau baik-baik saja?" Kirana baru sadar kurang dari dua tahun lamanya, dan ia belum paham cara menghadapi Masa Api Darah manusia naga. Ia mengambil handuk basah untuk menyeka wajah Rangga sambil menyalakan Gelang Lentera dan bertanya kepada Kunang. Tangannya yang memegang handuk itu tampak sedikit gemetar karena cemas.
"Apa yang harus kulakukan ketika menghadapi Masa Api Darah manusia naga?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan cepat, karena ia tidak punya waktu untuk berlama-lama dengan basa-basi.
Kunang menjawab, "Ada dua jawaban. Yang pertama adalah memberinya ramu khusus, dan yang kedua adalah meracik Ramu Sejiwa miliknya sendiri." Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi Kirana merasakan ada makna yang jauh lebih dalam di baliknya.
"Apa maksudmu?" Kirana mengerutkan kening, hendak bertanya lebih detail, ketika tiba-tiba sebuah ekor naga besar melilit pinggangnya, dan ketika ia menariknya kuat-kuat, ia jatuh ke dalam pelukan yang sangat hangat! Ia kehilangan keseimbangan dan terjerembap ke dada Rangga yang membara seperti tungku.