Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 22: Lawan Main
Drama sebenarnya baru saja masuk ke dalam pemeran utama.
Senin malam, Kirana menghadang Arya di luar ruang latihan sebelum pemain lain datang.
“Mas sengaja.”
Arya membuka naskah. “Sengaja apa?”
“Masuk teater.”
“Daftar pemain diputuskan sutradara dan panel. Saya hanya mendukung kegiatan kampus.”
“Dengan mengirim audisi diam-diam?”
“Kalau saya bilang dulu, kamu akan mundur.”
“Tepat.”
Arya mendekat satu langkah. “Karena itu saya tidak bilang.”
“Ini manipulatif.”
“Kamu terpilih tanpa campur tangan saya. Saya juga dinilai orang lain. Kalau kamu benar-benar ingin keluar, saya tidak akan menghentikan.”
Kirana menatap pintu. Ia memang bisa pergi. Namun sebagian dirinya ingin tahu apa yang terjadi jika mereka berbicara melalui karakter lain.
“Saya tetap,” putusnya. “Tapi semua adegan mengikuti batas yang disepakati.”
“Tentukan batasmu.”
Winda masuk membawa papan jadwal. “Bagus, pemeran utama sudah negosiasi. Sekarang duduk. Feby punya penerbangan malam, jadi kita mulai tepat waktu.”
Semua pemain membentuk lingkaran. Feby membacakan aturan persetujuan adegan: sentuhan ditandai di naskah, perubahan wajib dibicarakan, dan siapa pun boleh menghentikan latihan dengan kata aman `jeda`.
Naskah bercerita tentang Aluna dan Nara, sepasang kekasih yang memilih jalan berbeda demi keluarga, lalu bertemu kembali ketika kota mereka dilanda banjir besar. Fajar memerankan Raka, calon suami pilihan keluarga yang menolak kehilangan Aluna. Cindy menjadi Livia, kakak Aluna.
Pada pembacaan pertama, suara Arya mengubah seluruh ruangan.
“Aku menunggumu di stasiun sampai kereta terakhir,” katanya sebagai Nara. “Bukan karena aku yakin kau akan pulang. Karena aku ingin tempat terakhir yang kau ingat adalah aku.”
Kirana lupa melihat naskah.
“Dialog berikutnya,” bisik Winda.
Kirana tersentak. “Aku tidak pernah meminta ditunggu.”
“Tapi kau selalu meninggalkan jalan untuk kukejar.”
Kalimat itu ada di naskah. Tetap saja semua orang di lingkaran merasakan makna lain di bawahnya.
Cindy berdeham. Fajar membalik halaman lebih keras.
Setelah pembacaan, mereka masuk ke latihan gerak adegan hujan. Winda mengatur posisi di panggung kosong.
“Nara menahan Aluna sebelum dia pergi. Tangan di pinggang, satu di bahu. Kira, kalau nggak nyaman bilang.”
“Boleh,” jawab Kirana.
Arya berdiri di belakangnya. “Saya sentuh sekarang.”
“Iya.”
Telapak tangannya mendarat di pinggang Kirana. Meski telah menyetujui, panas tetap menyebar sampai telinga.
“Lebih dekat,” kata Winda. “Kalian pasangan yang mungkin nggak ketemu lagi, bukan orang antre ATM.”
Arya menarik Kirana hingga punggungnya menyentuh dada. Napas pria itu bergerak di dekat pelipisnya.
“Putar,” perintah Winda.
Kirana berbalik dalam pelukan. Arya menunduk sampai dahi mereka bertemu.
“Dialog.”
“Jangan pergi,” ucap Arya sebagai Nara.
Kirana menatap mata yang terlalu nyata. “Lepaskan aku.”
“Katakan kau tidak mencintaiku.”
“Aku...”
Dialog berikutnya hilang dari kepala. Ruangan menghilang. Yang tersisa hanya tangan di pinggang dan tatapan yang meminta jawaban di luar naskah.
“Jeda,” kata Kirana cepat.
Arya langsung melepaskan.
Winda mengangkat ibu jari. “Bagus pakai kata aman. Istirahat lima menit.”
Kirana mengambil air. Feby berdiri di sampingnya. “Chemistry kalian nggak perlu dilatih. Kontrolnya yang perlu.”
“Dia sengaja bikin saya lupa dialog.”
“Mungkin. Tapi lo yang menatap balik.”
Feby mengambil pensil dan menandai naskah Kirana. “Pisahkan emosi karakter dan emosi pribadi. Sebelum mulai, sebutkan apa yang Aluna mau. Setelah selesai, lepaskan dengan satu gerakan.”
“Gerakan apa?”
“Misalnya tepuk tangan dua kali.”
Kirana mencoba. Sebelum adegan kedua, ia berkata, “Aluna ingin Nara menghentikannya, tapi takut kalau berhenti berarti kehilangan keluarga.”
Arya menambahkan, “Nara ingin Aluna memilih dirinya tanpa paksaan.”
Mata mereka bertemu. Feby menahan senyum. “Bagus. Mulai.”
Kali ini Kirana bisa menyelesaikan dialog meski napas Arya tetap terlalu dekat. Saat adegan berakhir, ia menepuk tangan dua kali. Arya langsung melepaskan pinggangnya.
“Lebih aman?” tanya Feby.
“Iya.”
Cindy yang duduk dekat panggung berkomentar, “Kalau semua sentuhan diatur begini, nanti kelihatan kaku.”
Feby menatapnya. “Profesional bukan berarti tanpa spontanitas. Profesional berarti spontanitas tidak mengorbankan rasa aman.”
Winda mengangguk. “Aturan berlaku ke semua orang. Bahkan kalau pemerannya sudah punya chemistry dari lahir.”
Kirana melempar gulungan kertas ke arah sahabatnya. Winda menangkap sambil tertawa.
Mereka kemudian melatih adegan kelompok. Cindy beberapa kali mengubah posisi agar berdiri di antara Kirana dan Arya, sedangkan Fajar selalu menemukan alasan memperpanjang dialog. Arya tidak bereaksi selama perubahan masih masuk akal. Ia hanya menjadi sangat tepat, sangat dingin, dan begitu kuat sebagai Nara hingga pemain lain terpaksa mengikuti ritmenya.
Pada satu adegan, Cindy lupa isyarat masuk. Arya menutup kekosongan dengan improvisasi singkat tanpa mempermalukannya. Setelah itu ia menjelaskan penanda lampu dengan sabar.
Kirana memperhatikannya. Lelaki itu posesif, tetapi bukan pemain egois. Di dalam tim, ia memberi ruang ketika ruang itu tidak mengancam keselamatan siapa pun.
Saat istirahat kedua, Winda menyodorkan ponsel. “Lihat grup produksi. Semua orang sudah pilih nama CP.”
Di layar tertulis `NaLuna`, gabungan Nara dan Aluna. Sebuah foto latihan memperlihatkan dahi Kirana dan Arya hampir bersentuhan.
“Hapus,” kata Kirana.
“Ini grup internal.”
Arya lewat di belakang mereka. “Kirim ke saya.”
“Mas!”
“Untuk evaluasi postur.”
Winda mengirim sambil tertawa. Kirana tahu foto itu tidak akan dipakai untuk mengevaluasi apa pun.
Latihan berikutnya memasukkan Fajar. Sebagai Raka, ia harus menarik pergelangan Aluna dan memisahkannya dari Nara. Pada percobaan pertama, genggamannya terlalu kuat.
“Sakit,” kata Kirana.
Arya bergerak sebelum Winda berbicara. “Pegang di atas kostum, bukan kulit. Tekanan dua tingkat lebih ringan.”
Fajar menatapnya. “Saya bisa mengatur adegan saya sendiri.”
“Tidak kalau lawan main bilang sakit.”
Winda berdiri di antara mereka. “Prof benar soal teknis. Fajar, ulang dengan tekanan ringan.”
Fajar melakukannya. Adegan berjalan aman, tetapi ketegangan di antara dua laki-laki itu tidak pernah hilang.
Setelah latihan, Feby pamit untuk kembali bekerja pada filmnya. Pemain lain berangsur pergi. Kirana membantu menyimpan properti di sudut gudang ketika pintu tertutup di belakangnya.
Arya berdiri di sana.
“Kita perlu ulang dialog yang lupa,” katanya.
“Besok.”
“Sekarang.”
“Semua orang sudah pulang.”
“Pintunya tidak saya kunci.”
Kirana meletakkan payung properti. Arya mendekat, kali ini tanpa menyentuh.
“Katakan kau tidak mencintaiku,” ia mengulang dialog Nara.
“Itu bagian naskah.”
“Jawabannya?”
“Juga ada di naskah.”
Arya menunduk di dekat telinganya. “Di dalam drama saya boleh memelukmu, menahanmu, dan mengatakan semua yang kamu hindari.”
Jantung Kirana berlari.
“Lalu?”
“Di luar panggung, kamu masih mau lari sampai kapan?”
Di antara payung palsu dan panggung gelap, Kirana tidak menemukan satu dialog pun yang bisa menyelamatkannya sendirian sepenuhnya dari pertanyaan nyata yang terus mengejarnya sejak awal malam itu.