NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Sistem
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Rekonstruksi Kejahatan

Pagi kedua setelah Pengadilan Rakyat, Kompol Yudha memanggil Raka ke ruang kecil di belakang pos polisi kecamatan.

Ruangan itu tidak berubah sejak awal kasus: meja kayu tua, kipas angin berisik, papan tulis yang ujungnya retak. Bedanya, pagi ini semua orang di dalamnya bekerja seperti sedang menahan banjir. Berkas, foto, transkrip rekaman, laporan forensik, dan catatan saksi memenuhi meja.

Yudha menunjuk kursi kosong. "Duduk."

Raka duduk. Kribo berdiri di dekat pintu, memeluk laptop seperti tameng.

Dimas membuka map tebal. "Laporan lengkap dr. Nadia sudah masuk. Ada detail tambahan."

Yudha menatap Raka. "Secara administrasi, kamu tidak akan masuk sebagai penyusun resmi. Kamu melihat pola lebih cepat dari kami. Bantu kami menyusun rekonstruksi yang bisa dibawa ke jaksa."

Raka tidak langsung menjawab.

Ini bukan lagi permainan menebak siapa pelaku. Ini pekerjaan menutup semua celah agar Wisnu tidak bisa keluar lewat lubang kecil hukum.

"Saya bantu," katanya.

Yudha mengambil spidol dan menulis di papan: DEWI — KRONOLOGI.

"Mulai dari sebelum malam kejadian," perintahnya.

Dimas membacakan ringkasan transfer dari Bagus, utang Wisnu, dan kesaksian tetangga tentang tangisan Dewi. Minggu-minggu sebelum pembunuhan, Wisnu semakin sering marah. Ratih mengira itu tekanan ekonomi. Marlina menganggap tangisan bayi sebagai gangguan. Bagus mengirim uang untuk kebutuhan Dewi, tapi sebagian masuk ke tangan Wisnu dan menghilang ke meja judi.

"Laporan forensik menyebut ada memar lama," kata Dimas. "Lukanya tidak fatal. Polanya menunjukkan kekerasan sebelumnya. Lengan, paha, bahu. Usia memar berbeda-beda."

Raka menatap foto yang tidak ingin ia lihat terlalu lama.

Dewi bahkan belum punya cukup kata untuk mengadu.

Yudha menulis: KEKERASAN BERULANG.

"Hari minus dua," kata Raka pelan. "Wisnu beli banyak jelly di warung. Bukan untuk Dewi. Untuk Jono. Dia tahu Jono suka jelly. Dia membangun kebiasaan. Kalau Jono beberapa kali memberi Dewi makanan kecil dan orang dewasa tidak langsung curiga, hari pembunuhan akan terlihat seperti kecelakaan."

Kribo menggigit bibir. "Jadi dari awal Jono memang disiapkan jadi kambing hitam."

"Ya," jawab Raka.

Dimas mencatat cepat.

Yudha menatap papan. "Ini berarti bukan impulsif."

"Belum cukup," kata Raka. "Kita butuh titik malam kejadian."

Dimas membuka transkrip Jono. Suara anak itu sudah diubah menjadi tulisan, tetapi Raka masih bisa mendengar getarnya di kepala.

Om Wisnu kasih jelly. Dewi batuk. Dewi nangis. Om Wisnu marah.

Yudha menulis garis waktu.

Malam itu Wisnu memberi Jono beberapa bungkus jelly dan menyuruhnya memberi Dewi. Jono, yang tidak memahami bahaya makanan itu untuk bayi delapan bulan, melakukannya. Dewi tersedak. Jono panik.

"Ada kesaksian tetangga," kata Dimas. "Seorang ibu lewat depan rumah, mendengar suara batuk dan tangis. Dia masuk sebentar. Dia mengeluarkan sisa jelly dari mulut Dewi. Saat itu Dewi masih hidup."

Raka mengangkat kepala.

Detail itu seperti pisau baru.

"Jadi Dewi sempat selamat," kata Kribo pelan.

Tidak ada yang menjawab cepat.

Yudha menekan rahangnya. "Tetangga itu pergi karena Wisnu datang dan bilang akan mengurus Dewi?"

"Ya," kata Dimas. "Dia mengira bapak rumah sudah menangani. Lima menit kemudian, tangisan berhenti."

Buku Penghakiman terasa panas di tas Raka.

Ia membiarkan buku itu tertutup. Halaman-halamannya seperti bergerak sendiri di dalam sana. Tidak ada video. Tidak ada tontonan. Hanya kebenaran yang tersusun dari potongan yang sudah ada: jelly, batuk, tangan tetangga, pintu yang menutup, Wisnu yang melihat bayi itu masih bernapas.

"Pembunuhan sebenarnya terjadi setelah Dewi selamat sementara," kata Raka. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Wisnu masuk. Dia melihat rencananya gagal. Kalau Dewi hidup, Jono bisa bercerita. Ratih bisa curiga. Tetangga bisa mengingat kejadian itu. Jadi dia mengambil boneka teddy bear dan menutup hidung serta mulut Dewi sampai berhenti bernapas."

Kipas angin berputar, tapi ruangan terasa tidak punya udara.

Dimas berhenti menulis sebentar. Yudha menutup mata satu detik, lalu membuka lagi.

"Laporan dr. Nadia cocok," kata Yudha. "Sisa asfiksia akibat jelly ada. Tapi kematian final konsisten dengan tekanan benda lunak pada hidung dan mulut. Dua tahap. Percobaan pertama gagal. Pembunuhan kedua berhasil."

Ia menulis dengan huruf besar: PEMBUNUHAN BERENCANA.

Kribo mengusap wajah. "Aku benci fakta bahwa kata itu terdengar terlalu rapi untuk hal seperti ini."

"Hukum memang rapi supaya kejahatan tidak lolos," kata Yudha. "Tapi jangan salah. Isinya tetap busuk."

Mereka melanjutkan rekonstruksi.

Wisnu membawa jasad Dewi ke lubang septik saat rumah sepi. Boneka dilempar ke semak, karena ia tidak tahu di dalamnya ada perekam kecil buatan Bagus. Marlina membersihkan kamar mandi bawah, menggosok lantai dengan kaporit, mencuci ember, dan menyembunyikan kain pink yang terkena noda. Saat boneka sempat ditemukan polisi kecamatan, Marlina panik dan mencoba membuangnya lagi.

Semua bagian akhirnya saling mengunci.

Tidak ada lagi lubang yang cukup besar untuk Wisnu.

Yudha menaruh spidol. "Dakwaan kita naik. Pembunuhan berencana terhadap anak, dengan bantuan pasca-kejahatan dari Marlina. Aku akan pastikan jaksa menerima susunan ini."

Dimas mengangguk, wajahnya pucat tapi matanya tajam.

"Pak," kata Raka, "jangan biarkan pengacara Wisnu menjadikan Jono pusat serangan. Dia bisa bilang Jono yang memberi makanan. Dia bisa memutar cerita."

Yudha langsung mengangguk. "Aku sudah pikirkan. Jono bukan pelaku utama, bukan terdakwa bayangan. Dia saksi rentan. Pernyataannya harus didukung bukti lain, bukan dibiarkan berdiri sendirian. Kita pakai rekaman, forensik, keterangan tetangga, dan pengakuan Wisnu sebagai tiang utama."

"Lina juga jangan diseret terlalu keras," tambah Kribo. "Gadis itu sudah hidup seperti orang yang selalu menunggu dimarahi."

Yudha menatap Kribo sekilas, lalu menulis catatan kecil di map. "Perlindungan saksi. Aku catat."

Raka baru sadar, kadang keadilan bukan cuma menemukan siapa yang bersalah. Keadilan juga memastikan orang lemah tidak hancur karena diminta membuktikan kebenaran.

Raka mengeluarkan Buku Penghakiman saat mereka keluar dari ruang itu. Ia berdiri di teras pos, membuka halaman kosong, lalu menulis kronologi lengkap dengan tangan yang lebih pelan daripada biasanya.

【Catatan kasus diperbarui.】

【Kronologi lengkap Kasus #001 telah tercatat.】

【Rekonstruksi ini akan menjadi referensi untuk kasus berikutnya.】

Kalimat itu tidak membuatnya lega.

Kribo duduk di sampingnya. Untuk pertama kali sejak mereka datang ke desa, sahabatnya tidak bercanda.

Di halaman pos, Ratih berjalan lewat bersama Bagus untuk menandatangani dokumen tambahan. Mata mereka merah. Mereka tidak mendengar apa yang Raka bisikkan.

"Dewi sempat selamat," kata Raka.

Kribo menunduk. "Rak..."

"Dia sempat selamat. Lalu Wisnu memilih membunuhnya lagi."

Tidak ada jawaban yang cukup baik untuk kalimat itu.

Angin siang lewat membawa bau tanah basah dan asap motor dari jalan desa. Dunia tetap bergerak, seolah tidak tahu ada bayi delapan bulan yang pernah berjuang bernapas beberapa menit lebih lama.

Raka menutup Buku Penghakiman.

"Dewi bahkan belum bisa bilang 'Mama.'"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!