NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009: Galang yang Iri Hati

Setelah keluarga Sari pergi, IKF tidak kembali seperti sebelum kasus Hendra Wijaya.

Tempatnya sama.

Botol spesimen tetap harus dicuci. Laporan tetap harus disusun. Jenazah tetap masuk lewat lift servis.

Tapi cara orang melihat Arka sudah berubah.

"Dok Arka, draft VeR yang ini sudah saya susun di meja."

"Dok, kopi tadi masih kurang manis?"

"Kalau perlu ambil foto ulang, panggil saya saja, Dok."

Arka menjawab semuanya pendek. "Terima kasih. Nanti saya cek."

Ia tidak menikmati perubahan itu terlalu lama. Pujian yang datang terlalu cepat biasanya mudah berubah menjadi beban. Di IKF, hierarki tetap jelas: dr. Suherman Priyanto sebagai senior Sp.F, beberapa dokter forensik resmi di bawahnya, teknisi, lalu Dokter Muda seperti Arka.

Satu kasus tidak mengubah struktur.

Tapi satu kasus cukup membuat struktur itu retak.

Di ruang arsip, Arka sedang merapikan berkas pemeriksaan Sari Rahayu ketika seseorang berhenti di pintu.

"Sibuk sekali, Arka?"

Galang Firmansyah berdiri dengan jas dokter terbuka dan map biru di tangan. Ia bukan teknisi. Ia dokter forensik resmi yang sudah lama berada di IKF, lebih senior dari Arka, dan biasanya menjadi orang kedua yang dipanggil dr. Suherman untuk kasus penting.

Nada suaranya ringan.

Matanya tidak.

Arka menunduk sopan. "Saya merapikan lampiran foto perkara Hendra, Mas Galang."

"Masih perkara itu? Hebat juga. Satu kasus, nama kamu belum turun-turun dari mulut orang."

"Saya hanya membantu."

"Semua orang yang baru terkenal selalu bilang begitu."

Kalimat itu membuat ruangan kecil tersebut terasa sempit.

Arka menatap Galang. Ia hendak menjawab biasa, tapi pandangannya tiba-tiba menangkap kilatan kuning samar di sisi kepala pria itu.

Warnanya tidak semerah label pada jenazah.

Labelnya juga berbeda dari [Pelaku] milik Hendra.

Kuning. Tipis. Tidak stabil.

[Emosi dominan: iri]

[Permusuhan ringan]

[Ketidakamanan profesional]

Arka menahan napas setengah detik.

Sistem kini tidak hanya memberi tanda pada kematian dan pelaku. Dalam kondisi tertentu, ia menangkap tekanan emosi orang hidup.

Informasinya tidak cukup untuk menjadi bukti apa pun.

Tapi cukup untuk membuat Arka tahu: senyum Galang bukan senyum rekan kerja.

"Mas Galang lebih senior," kata Arka tenang. "Saya masih banyak belajar."

Galang tertawa kecil. "Belajar? Dari caramu mengunci ruang autopsi, sepertinya kamu lebih suka mengajar orang lain. Bahkan Dokter Suherman dibuat diam."

"Saya sudah diberi teguran lisan."

"Teguran lisan, evaluasi dipercepat, piagam, bonus." Galang menghitung dengan jari. "Kalau itu hukuman, saya ingin dihukum juga."

Di luar ruang arsip, dua teknisi yang baru lewat mendadak mempercepat langkah. Tidak ada yang mau terjebak di antara dokter senior dan Dokter Muda yang sedang naik nama.

Arka menutup map. "Kalau Mas Galang ingin melihat lampiran, saya bisa serahkan setelah selesai."

"Tidak perlu." Galang mendekat satu langkah. "Saya hanya ingin mengingatkan. Di IKF, satu kasus bagus tidak membuat seseorang jadi ahli. Mayat berikutnya tidak akan selalu memberimu panggung."

Label kuning di atas kepalanya berdenyut.

[Permusuhan ringan -> meningkat]

Arka mencatat itu dalam diam.

Sebelum Galang bicara lagi, suara dr. Suherman terdengar dari koridor.

"Arka. Galang. Ke ruang saya."

Mereka berdua masuk ke ruang kerja dr. Suherman. Di meja sudah ada draft laporan, foto leher korban, dan formulir koordinasi dengan Polrestabes.

dr. Suherman melepas kacamata. "Perkara Hendra hampir selesai masuk berkas awal. Saya sudah bicara dengan Pak Gunawan. Evaluasi kompetensi Arka akan dipercepat."

Galang tersenyum tipis. "Selamat, Arka. Cepat sekali."

"Belum ada yang perlu diberi selamat," kata dr. Suherman. "Evaluasi dipercepat berarti pemeriksaannya lebih ketat."

Ia menatap Arka.

"Kemarin kamu menyelamatkan nama IKF. Itu benar. Kalau VeR bunuh diri keluar, kita semua akan terseret. Saya berterima kasih untuk itu."

Arka sedikit menunduk. "Saya hanya mengikuti temuan, Dok."

"Tapi," lanjut dr. Suherman, "jangan pernah menganggap hasil benar membuat cara salah otomatis menjadi benar. Mulai hari ini, semua tindakanmu harus lewat jalur saya atau dokter penanggung jawab. Kalau kamu melihat sesuatu, laporkan. Jangan kunci pintu. Jangan bergerak sendiri."

"Baik, Dokter Suherman."

"Galang," dr. Suherman menoleh, "untuk sementara kamu dampingi Arka dalam penyusunan arsip perkara Hendra. Pastikan formatnya sesuai standar IKF."

Ia mendorong daftar lampiran ke tengah meja: foto autopsi, skala ukur, hasil swab serat, kronologi pemeriksaan, dan ringkasan koordinasi dengan penyidik. Semua harus rapi sebelum dikirim ke Adira. Satu nomor halaman salah bisa membuat berkas dikembalikan. Satu istilah medis longgar bisa dipakai pengacara Hendra untuk menyerang laporan.

Senyum Galang membeku sangat singkat.

[Ketidakamanan profesional -> aktif]

"Baik, Dok," jawab Galang.

Arka langsung memahami permainannya. dr. Suherman sedang memberi dua pesan sekaligus: Arka diakui, tapi tetap diawasi. Galang diberi posisi senior, tapi juga dipaksa bersentuhan dengan kasus yang membuatnya iri.

Di luar, teknisi menunggu tanda tangan dr. Suherman. Salah satu dari mereka melihat Arka dan spontan berkata, "Dok Arka, Bu Adira tadi menitip pesan, kalau laporan selesai dikirim WA ke beliau."

Ruangan kembali hening.

Galang menoleh perlahan. "Bu Adira langsung minta ke kamu?"

Arka menjawab netral. "Beliau minta laporan pendukung perkara. Saya akan kirim lewat jalur resmi setelah Dokter Suherman cek."

dr. Suherman mengangguk. "Begitu yang benar."

Galang tidak bicara lagi, tapi label kuningnya tidak hilang.

Setelah keluar dari ruang kerja, Galang berjalan di samping Arka menuju arsip.

"Hati-hati, Arka," katanya pelan. "Orang yang terlalu cepat naik biasanya lebih sakit waktu jatuh."

Arka berhenti.

Ia menatap Galang tanpa menaikkan suara. "Terima kasih nasihatnya, Mas Galang. Saya akan berusaha tidak jatuh."

"Semoga saja."

Galang pergi lebih dulu.

Arka berdiri beberapa detik di koridor. Sistem tidak memberi peringatan bahaya. Hanya label kuning yang sempat berkedip sebelum Galang berbelok.

Iri hati.

Permusuhan ringan.

Ketidakamanan.

Tidak cukup untuk disebut musuh.

Tapi cukup untuk diingat.

Ponsel Arka bergetar.

Ia mengira itu pesan dari Adira soal laporan. Ternyata benar.

Dok, laporan pendukung sudah selesai? Kalau iya, kirim setelah Dokter Suherman tanda tangan. Dan bersiap. Ada kemungkinan kita berangkat sore ini.

Arka mengetik: Siap, Bu Iptu. Ada kasus baru?

Balasan datang beberapa detik kemudian.

Belum resmi. Tapi siapkan tas forensik.

Arka menyimpan ponsel.

Di ruang arsip, map Hendra masih menunggu disusun. Di koridor, Galang sudah menghilang. Di depan sana, kasus baru mulai bergerak sebelum namanya disebut.

Arka kembali ke meja, membuka laporan, memeriksa nomor lampiran satu per satu, dan bekerja lebih cepat.

Jika sistem sedang menunggu kematian berikutnya, ia tidak mau datang terlambat. Kali ini, semua formulir sudah ia susun sebelum panggilan itu benar-benar datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!