NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Malam mulai menyelimuti langit.

Udara terasa begitu sejuk setelah hujan sore tadi.

Zilia baru saja selesai membantu Ibu Retno membereskan meja makan. Ia berniat masuk ke kamar untuk beristirahat.

Namun, baru beberapa langkah, Rafael sudah berdiri di depan pintu ruang tamu.

"Ayo."

Zilia mengernyit.

"Ayo ke mana?"

"Keluar sebentar."

Zilia langsung menggeleng.

"Gak mau."

"Kenapa?"

"Malas."

"Alasannya ditolak."

"Aku capek."

Rafael menyipitkan mata.

"Capek?"

"Iya."

"Tapi tadi masih semangat debat sama aku."

"Itu beda cerita. Pokoknya aku gak mau."

Rafael hanya mengangguk pelan.

"Baiklah."

Ia pun berjalan menghampiri Ibu Retno yang sedang menyusun piring di dapur.

"Bu."

"Iya, Nak?"

"Saya mau mengajak Zilia keluar sebentar, tapi dia menolak."

Ibu Retno menoleh ke arah Zilia.

"Zilia."

"Iya, Bu."

"Temani Rafael sebentar."

"Bu...."

"Gak usah lama-lama. Kasihan Rafael sudah jauh-jauh datang. Jugaan kaku tidak ada kesibukan."

Zilia mengembuskan napas pelan.

"Iya deh, Bu."

Senyum Rafael langsung mengembang.

"Nah, gitu dong."

"Tapi aku ikut karena Ibu yang nyuruh. Bukan karena kamu. Jadi gak usah kepedean."

Rafael terkekeh.

"Iya, calon istriku."

"Jangan panggil begitu."

"Baik, Nona Zilia."

Beberapa menit kemudian, Zilia keluar dengan mengenakan jaket tipis.

Ia meraih sebuah helm yang tergantung di dinding ruang tamu.

Rafael memperhatikannya dengan heran.

"Kamu ngapain?"

"Mau ambil motor."

"Kita naik motor?"

"Iya."

"Lah, memangnya kamu ada mobil?"

Rafael terdiam sejenak.

"Tidak. Mobilku dibawa Doni ke hotel."

"Nah, berarti naik motor."

Zilia berjalan menuju teras.

Di sana terparkir sebuah motor matic berwarna putih miliknya.

Ia mengambil satu helm lagi lalu melemparkannya pelan ke arah Rafael.

"Nih."

Rafael menangkap helm itu.

"Aku yang nyetir."

Zilia langsung menggeleng.

"Jangan."

"Kenapa?"

"Kamu gak hafal jalan di sini."

"Terus?"

"Aku aja yang bawa."

Rafael menghela napas pasrah.

"Baiklah."

"Ternyata calon istriku galak juga."

Zilia langsung menatap tajam.

"Mau jadi boncenger atau enggak?"

"Mau."

Rafael mengenakan helmnya sambil tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, Zilia menyalakan mesin motornya.

Brumm...

Rafael duduk di belakang.

Awalnya ia menjaga jarak.

Namun ketika motor mulai melaju meninggalkan halaman rumah, Zilia sengaja melewati jalan yang sedikit berlubang.

Bruk!

Tubuh Rafael refleks sedikit terdorong ke depan.

"Pegangan kalau gak mau jatuh," ucap Zilia tanpa menoleh.

Rafael tersenyum tipis.

"Yakin boleh?"

"Pegangan ke besi belakang. Bukan ke aku."

Rafael terkekeh pelan.

"Iya, Bos. Kirain pegangan depan."

"Enak aja. Kamu pikir, aku cewek apaan."

"Kan, kita calon suami isteri."

"Jangan berharap berlebihan."

"Iya, Nona Zilia."

Motor itu pun melaju membelah jalanan malam yang mulai lengang, sementara angin malam menemani perjalanan keduanya menuju tempat yang masih dirahasiakan oleh Zilia.

Rafael meminta Zilia mengajaknya ke tempat yang nyaman untuk bersantai.

"Ada tempat yang enak buat duduk-duduk?"

Zilia berpikir sejenak.

"Ada. Di taman dekat danau. Malam-malam biasanya ramai, tapi suasananya enak."

"Boleh."

Zilia pun mengendarai motornya menuju taman yang tidak terlalu jauh dari rumah Ibu Retno.

Setibanya di sana, mereka memarkir motor di area parkir.

Rafael malam itu hanya mengenakan kaus hitam polos, jaket tipis, celana jeans, dan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Penampilannya sangat sederhana, sama sekali tidak mencerminkan bahwa dirinya adalah putra keluarga konglomerat.

Mereka baru saja beberapa langkah memasuki area taman.

Namun, langkah Zilia mendadak terhenti.

"Eh... itu Zilia, kan?"

Suara itu berasal dari sekelompok mahasiswi yang sedang duduk di bangku taman.

Salah satunya adalah putri Ibu Sari.

Begitu melihat Zilia berjalan bersama seorang pria bermasker, ia langsung tertawa mengejek.

"Duh, duh... cepat juga ya ganti pasangan."

Teman-temannya ikut menoleh.

"Atau jangan-jangan karena ditinggal nikah sama mantan, sekarang asal comot cowok?"

"Hahaha...." tawa rendah dari mereka.

Putri Ibu Sari kembali menimpali.

"Ya iyalah. Mantannya sekarang sudah nikah sama cewek lain. Lagian, orang tajir pasti nyarinya pasangan yang sama-sama tajir lah. Mana mau nikah sama cewek miskin dan gak jelas asal usulnya."

Rafael yang berdiri di samping Zilia perlahan mengepalkan tangannya.

Sorot matanya berubah dingin.

Andai saja bukan karena menghormati Zilia, mungkin ia sudah membalas ucapan perempuan itu.

Sebaliknya, Zilia justru tersenyum santai.

"Iya lah. Orang tajir nikahnya sama orang tajir juga. Kalau orang miskin sepertiku ini... ya nikahnya sama orang miskin juga."

Zilia tiba-tiba menarik lengan Rafael, lalu menyandarkan tangannya dengan santai.

"Iya, kan, Sayang?"

Rafael yang sempat terkejut hanya bisa melirik Zilia.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Iya, sayang."

Jawabnya singkat sambil mengikuti permainan Zilia.

Zilia kembali menatap putri Ibu Sari.

"Oh iya. Jangan lupa datang ke pernikahan kami, ya."

Putri Ibu Sari langsung menyeringai sinis.

"Maaf ya. Nggak level datang ke pernikahanmu."

Zilia mengangguk pelan.

"Bagus lah kalau begitu. Soalnya tempatku juga nggak pantas menerima tamu yang suka merendahkan orang sepertimu."

Tanpa menunggu jawaban, Zilia langsung menggandeng Rafael pergi meninggalkan mereka.

Begitu keduanya menjauh, suara tawa kembali terdengar.

"Lihat tuh. Pacarnya pakai masker. Mungkin malu mukanya pas-pasan."

"Hahaha...."

"Naik motornya juga motor biasa. Punya Zilia juga. Kelihatan banget bukan orang kaya."

"Iya lah. Siapa juga yang mau nikah sama cowok miskin. Emang bisa hidup enak?"

Salah seorang dari mereka tiba-tiba mengingat sesuatu.

"Eh, ngomong-ngomong. Bukannya minggu depan kampus kita bakal didatangi pemilik perusahaan Darmawan Group?"

"Iya!"

"Katanya mau ada pengarahan buat karyawan baru. Terus aku dengar, keluarga pemilik perusahaan itu punya tiga anak laki-laki. Yang bungsu katanya sudah mau menikah."

"Berarti masih ada dua lagi yang jomblo."

Putri Ibu Sari langsung tersenyum penuh ambisi.

"Nah, itu targetku. Kalau bisa kenalan sama salah satu dari mereka, masa depan udah aman."

Teman-temannya langsung tertawa setuju.

"Ayolah, kita harus tampil maksimal. Siapa tahu salah satu pewaris jatuh hati."

Mereka sama sekali tidak menyadari...

Pria bermasker yang baru saja mereka hina sebagai "cowok miskin" itu adalah putra bungsu keluarga Darmawan —keluarga yang sedang mereka impikan untuk menjadi menantu.

Sementara itu, Rafael yang masih berjalan di samping Zilia hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

"Kadang... orang memang terlalu cepat menilai dari penampilan."

Zilia menoleh sambil tersenyum kecil.

"Makanya, jangan dibuka dulu maskernya. Biarkan mereka terus berkhayal."

Rafael terkekeh pelan.

"Baik, calon istriku. Yang penting, nanti jangan ikut kaget waktu mereka tahu siapa kamu sebenarnya."

"Aku gak akan menunjukkan siapa diriku. Tolong sampaikan pesanku kepada Papaku. Kalau mau hadir diacara wisudaku, aku minta berpenampilan sesederhana mungkin."

"Kamu yakin?"

Zilia mengangguk.

"Baiklah. Kebetulan juga, bukan aku yang akan menjadi tamu perusahaan, tetapi Kak Revan."

"Terus, kamu datang kesini-"

"cuma mau jagain kamu."

"Terserah kamu saja." Kata Zilia ketus.

Setelah itu, Rafael dan Zilia berjalan menyusuri tepian danau. Angin malam berembus pelan, membuat suasana terasa nyaman.

Tiba-tiba Rafael menghentikan langkahnya.

Zilia yang berjalan lebih dulu menoleh.

"Kenapa?"

Rafael menatapnya sambil menyunggingkan senyum tipis.

"Aku baru ingat sesuatu."

"Ingat apa?"

"Tadi."

"Tadi kenapa?"

Rafael sengaja mendekat satu langkah.

"Kamu manggil aku apa tadi?"

Zilia mengernyit.

"Manggil apa memangnya?"

"Sayang."

Seketika wajah Zilia berubah canggung.

"Itu... itu kan cuma akting doang kok. Gak usah kepedean."

"Oh... akting ya."

"Iya. Kenapa memangnya?"

"Berarti kalau bukan akting, manggilnya apa?"

"Rafael. Memang harus manggil apa?"

"Kurang mesra lah. Kita kan calon suami isteri."

Zilia mendengus.

"Memangnya kita pasangan beneran?"

Rafael mengangguk santai.

"Kan sebentar lagi kita menikah. Satu kamar malah."

"Itu juga belum. Gak usah banyak berharap."

"Sudah ditentukan tanggalnya, gimana dong."

"Bisa berubah."

"Calon istriku keras kepala juga rupanya."

Zilia memutar bola matanya.

"Kamu ngomong apa?"

Rafael terkekeh pelan.

"Coba deh."

"Coba apa?"

"Panggil sekali lagi."

"Rafael. Puas sekarang?"

"Bukan yang itu, tapi yang tadi itu."

"Gak."

"Dua kali."

"Enggak."

"Setengah kali?"

Zilia langsung memukul pelan lengan Rafael.

"Kamu nyebelin banget sih."

Rafael malah tertawa.

"Berarti kamu malu."

"Aku gak malu."

"Kalau gak malu, panggil lagi."

"Gak akan. Jangan ngarepin."

"Sayang...."

Rafael sengaja menirukan nada suara Zilia tadi.

"Iya, kan, Sayang?"

Lalu ia tertawa kecil.

"Lucu juga ternyata."

Zilia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Kamu..."

"Kenapa tadi aku ngomong begitu."

"Menyesal?"

"Iya. Menyesal banget."

Rafael menggeleng pelan.

"Aku enggak nyesel. Malahan aku senang banget. Mulai sekarang aku punya bukti."

"Bukti apaan?"

"Kalau calon istriku pernah manggil aku 'sayang'."

"Itu cuma sekali! Juga cuma akting."

"Yang sekali biasanya paling berkesan loh."

"Kamu bisa gak sih berhenti ngeledek?"

"Bisa."

"Kapan?"

"Kalau kamu manggil lagi."

"Rafael!"

"Iya, Sayang."

Mendengar jawaban itu, Zilia refleks kembali memukul pelan bahu Rafael.

Buk!

Rafael pura-pura meringis.

"Aduh."

"Makanya jangan sembarangan."

"Aku kan cuma jawab."

"Jawab yang bener."

"Itu juga udah bener, sayang."

Zilia menggeleng sambil tersenyum tipis tanpa sadar.

Melihat senyum itu, Rafael ikut tersenyum.

Dalam hati ia mengakui satu hal.

Membuat Zilia tersenyum jauh lebih membahagiakan daripada memenangkan perdebatan apa pun.

Sementara Zilia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak malam itu, satu panggilan sederhana yang keluar tanpa sengaja telah berhasil membuat Rafael terus-menerus menggodanya sepanjang perjalanan pulang.

Hari semakin larut.

Setelah cukup lama menikmati suasana malam di tepi danau, Rafael dan Zilia memutuskan untuk pulang.

Rafael menghampiri motor milik Zilia, lalu mengulurkan tangan.

"Kuncinya."

Zilia mengernyit.

"Buat apa?"

"Gantian aku. Kali ini aku yang nyetir."

Zilia sempat ragu.

"Kamu yakin?"

"Tenang saja, gak usah diragukan. Aku sudah hafal jalan pulang."

Zilia akhirnya menyerahkan kunci motornya.

Rafael mengenakan helm, lalu duduk di posisi pengendara.

"Sini."

Zilia ikut mengenakan helmnya sebelum naik ke jok belakang.

Awalnya ia sengaja memberi jarak.

Rafael melirik sekilas melalui spion.

"Pegangan."

"Aku bisa jaga keseimbangan."

"Terserah."

Motor pun melaju meninggalkan taman.

Beberapa menit pertama perjalanan berlangsung tenang.

Hingga tanpa sengaja—atau mungkin memang sengaja—Rafael melewati jalan yang sedikit berlubang.

Bruk!

Motor berguncang pelan.

"Ah!"

Tubuh Zilia refleks terdorong ke depan hingga bahunya hampir menyentuh punggung Rafael.

Zilia buru-buru kembali menggeser tubuhnya ke belakang.

Namun Rafael tiba-tiba meraih salah satu tangan Zilia dengan hati-hati.

"Nih."

Ia mengarahkan tangan Zilia ke pinggangnya.

"Pegangan."

Zilia spontan menarik tangannya.

"Aku nggak perlu pegangan."

Belum sempat tangannya kembali ke belakang, Rafael meraihnya lagi.

"Udahlah. Nurut aja. Aku nggak mau nanti kamu jatuh."

"Aku nggak bakal jatuh."

"Kamu yakin?"

"Iya."

Rafael tersenyum tipis.

Tanpa banyak bicara, ia kembali melewati jalan yang permukaannya sedikit bergelombang.

Bruk...

Motor bergoyang pelan.

"Kamu sengaja, ya?" protes Zilia.

"Bukan. Jalannya memang begini."

"Bohong."

"Kamu tadi lihat sendiri jalannya."

Zilia mendengus kesal.

Ia tetap bersikeras tidak mau memegang pinggang Rafael.

Melihat tingkah keras kepala itu, Rafael hanya menggeleng pelan.

"Zilia."

"Hm?"

"Kamu lebih pilih jatuh atau pegangan?"

"Aku tetap nggak mau."

"Dasar keras kepala."

Beberapa meter kemudian, Rafael sengaja mengurangi kecepatan motornya.

Kali ini suaranya terdengar lebih lembut.

"Dengar. Aku bukan nyuruh kamu pegangan karena iseng. Aku cuma mau memastikan kamu pulang dengan selamat."

Kalimat itu membuat Zilia terdiam.

Ia menatap punggung Rafael beberapa saat.

Pelan-pelan, tanpa berkata apa-apa, kedua tangannya akhirnya bertumpu dengan ringan di sisi jaket Rafael, cukup untuk menjaga keseimbangan tanpa melingkari pinggangnya.

Rafael melihatnya melalui spion dan tersenyum tipis.

"Nah. Gitu kan lebih aman."

Zilia mendengus pelan.

"Jangan senang dulu. Aku pegangan karena jalannya jelek. Bukan karena kamu."

Rafael terkekeh.

"Iya. Alasannya boleh apa saja. Yang penting kamu sudah mau pegangan."

Zilia memutar bola matanya, meski diam-diam sudut bibirnya ikut terangkat.

Sepanjang sisa perjalanan, keduanya kembali saling melempar godaan kecil, ditemani angin malam yang berembus lembut mengiringi perjalanan pulang mereka.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!