"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Hampa
Gema suara tawa berdistorsi dari peninggi suara di lorong perlahan memudar, meninggalkan keheningan pekat yang kembali menekan dada.
Nora memekik ketakutan di tengah kegelapan, meraba-raba ke depan hingga tangannya mencengkeram erat pinggang Nio.
'Cewek ini kalau panik asal comot saja, dipikirnya aku ini tiang listrik,' batin Nio keheranan sambil menatap tangan Nora.
Nio menepis jemari Nora dengan gerakan tegas, memegang pergelangan tangannya lalu menariknya keluar dari kamar kontrakan tersebut.
"Jangan menjerit dan ikuti langkahku jika masih ingin selamat," pangkas Nio dengan vokal dingin yang mengendalikan situasi.
Nora terengah-engah, mengangguk cepat seraya pasrah mengekor di belakang langkah lebar Nio.
"T-tapi... suara tadi... dialah orang yang menghapus Milo, kan?" bisik Nora dengan vokal bergetar hebat.
"Tutup mulutmu sampai kita sampai di laboratorium," tanggap Nio tanpa menoleh sedikit pun.
Mereka menerobos gerimis malam yang makin deras, menelusuri lorong pertokoan yang senyap menuju bangunan tua Kael.
Lampu kedai di lantai dasar masih memancarkan pendar hangat saat Nio mendorong pintu kaca dengan gusar.
Kael mendongak dari balik konter, menatap pakaian Nio dan Nora yang basah kuyup dengan kening berkerut.
"Kalian kehabisan payung di luar?" tanya Kael lembut, menyodorkan dua lembar handuk kering ke meja.
"Hanya hujan lokal, Pak Kael," sahut Nio melunakkan nada suaranya, memotong pertanyaan Kael sebelum melebar.
Nio menyambar handuk tersebut, menyuruh Nora naik ke lantai dua dengan isyarat dagu yang tidak bisa dibantah.
Nora menurut tanpa bantahan, langkah kakinya terseret kaku menaiki tangga besi menuju laboratorium pengap Nio.
Nio menutup pintu ruangan nomor dua ratus empat, menguncinya rapat lalu melempar handuk ke pangkuan Nora.
"Keringkan rambutmu dan duduk di sudut sana," perintah Nio tajam.
Nora meringgis pelan, mengusap wajahnya yang pucat lalu duduk tunduk di bangku kayu tanpa mengeluarkannya suara.
Nio menyalakan seluruh sistem komputernya, membiarkan pendar biru dari tiga monitor besar menerangi kegelapan ruangan.
Dia mencolokkan perangkat mikro yang tadi dibongkarnya dari kamar kontrakan Milo ke port data berkecepatan tinggi.
Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, mengisolasi memori flash berukuran beberapa megabita yang berada di dalam chip tersebut.
Layar monitor Nio mendadak dipenuhi barisan kode error yang saling tumpang tindih.
"Perangkat ini dipasangi bom logika," gumam Nio sambil menyipitkan mata, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
"B-bom logika? Artinya datanya akan hancur?" tanya Nora panik, langsung memajukan badannya dari bangku.
"Duduk kembali di tempatmu!" tegur Nio dengan intonasi tinggi yang mengintimidasi.
Nora terhenyak kaku, langsung menarik badannya kembali dan menunduk rapat penuh kepatuhan.
'Gadis ini harus dibiasakan patuh, kalau tidak dia bisa merusak proses rekonstruksi data yang sangat rumit ini,' batin Nio penuh kepuasan ego.
Nio menekan tombol eksekusi, menyisipkan fungsi dekripsi tingkat tinggi untuk menahan proses pembersihan otomatis pada chip.
Satu per satu sektor memori yang terbakar berhasil ditahan oleh sistem pertahanan yang dirancang Nio.
Di tengah ribuan baris kode anomali yang hancur, sebuah berkas mati kecil berukuran beberapa kilobita mendadak berhasil diekstrak.
Berkas itu adalah satu-satunya residu data yang tersisa dari perangkat yang dipasang di kamar Milo.
"Dapat," bisik Nio pendek, ketegangannya sedikit mereda.
"A-apa reflectsi data itu isi fotonya Milo?" selidik Nora dari jauh dengan pandangan penuh harap.
"Bukan foto," balas Nio datar. "Ini adalah catatan transaksi transmisi yang terputus di tengah jalan."
Nio mengklik berkas mati tersebut, berniat melakukan rekonstruksi pada struktur tulisan di dalamnya.
Namun, belum sempat kode rekonstruksi berjalan penuh, seluruh layar monitor Nio mendadak berubah menjadi warna hitam pekat.
Pendar biru yang hangat mendadak berganti menjadi kilatan lampu merah berkedip kencang di sekeliling ruangan.
Sistem pendingin komputer berderum kencang, menandakan adanya pemrosesan data raksasa yang menerobos masuk tanpa izin.
"N-Nio! Layarmu kenapa?!" teriak Nora panik sambil berdiri menutupi dadanya.
"Diam!" bentak Nio sambil menatap layar monitor dengan pandangan sangat serius.
Sebuah garis putih mendadak muncul di tengah layar hitam, mengetikkan barisan kata secara perlahan seolah ada jemari tak terlihat yang sedang mengetik di hadapan mereka:
"Identitas adalah penderitaan. Mengapa kamu mencari apa yang seharusnya tidak ada?"
Kalimat itu terpampang jelas, memancarkan aura keheningan pekat yang mendinginkan isi ruangan.
Nora menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata ketakutan kembali menetes di pipinya yang pucat.
Nio meraba tekstur selembar kertas kosong di dalam saku pakaiannya dengan genggaman yang teramat kuat.
Kertas polos itu menjadi jangkar emosi Nio, mencegah rasa cemas membekukan pikirannya saat berhadapan dengan teror ini.
'Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata,' bisik Nio dalam hatinya mencoba menguasai diri.
Nio mendekatkan jemarinya ke papan ketik, menekan tombol interupsi untuk membalas pesan tersebut secara langsung.
"Siapa kamu sebenarnya?" ketik Nio cepat, mengirimkan baris perintah itu ke dalam terminal.
Layar monitor berkedip sekali, lalu membalas tulisan Nio dalam hitungan detik:
"Aku adalah penghapus noda di lembaran sejarah. Aku adalah Zero."
Nio menyipitkan mata, membalasnya kembali dengan vokal batin yang membara.
"Kenapa kamu menghapus Milo? Kenapa kamu mencabut seluruh dokumen dan ingatan orang-orang tentang dia?" ketik Nio tajam.
Layar monitor memancarkan grafik sinyal audio yang bergerak naik turun seiring munculnya tulisan berikutnya:
"Milo hanyalah satu dari sekian banyak manusia yang memilih melepaskan beban eksistensi. Tanpa nama, tidak ada rasa sakit. Tanpa catatan, tidak ada penyesalan."
"Itu omong kosong!" jerit Nora tidak tahan lagi, emosinya meledak hingga dia melangkah maju mendekati meja. "Kamu menculik adikku dan merusak pikirannya!"
Tulisan di layar mendadak berhenti mengetik selama tiga detik.
Garis teks baru muncul di bawahnya, ditujukan khusus untuk sosok yang berdiri di samping Nio:
"Nora, adiknya tidak pernah diculik. Milo yang memohon padaku untuk menghapus seluruh presensinya dari dunia ini."
Nora terhenti seketika, matanya membelalak lebar seolah baru saja disambar petir di siang bolong.
"B-bohong... kamu bohong! Milo tidak mungkin melakukan hal gila seperti itu!" rintih Nora dengan suara yang pecah total.
'Bentar, kalau perkataan Zero ini benar, berarti kasus ini bukan sekadar penculikan biasa,' pikir Nio dengan kepala berdenyut pusing.
Nio menatap layar monitor dengan pandangan yang makin tajam.
"Lalu kenapa kamu melibatkan aku dalam kasus ini, Zero?" ketik Nio menuntut jawaban inti.
Layar monitor mendadak memancarkan pendar merah yang sangat terang, menampilkan gambar sebuah lembaran kertas kosong yang retak di tengahnya.
Tulisan terakhir muncul dengan kecepatan tinggi, mengunci seluruh sistem komputer Nio secara mutlak:
"Karena kamu adalah karya masa laluku yang belum selesai, Nio. Kamu adalah tabula rasa yang seharusnya sudah tereliminasi sepuluh tahun lalu."
Seketika itu juga, seluruh layar monitor Nio mati total, diiringi suara ledakan kecil dari dalam sekring listrik ruangan.
Kegelapan pekat menyelimuti laboratorium, menyisakan Nio dan Nora yang berdiri kaku dalam senyap yang mencekam.