NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Meminjam Senapan

Senapan itu tidak dibawa diam-diam ke Girimulyo.

Pakde Karyo mengantar Arya menemui pemiliknya, anggota perkumpulan menembak berburu yang memiliki dokumen sah. Mereka memeriksa nomor seri, izin kepemilikan, surat peminjaman untuk pengendalian hama, jumlah amunisi, serta pemberitahuan kepada pihak kepolisian setempat.

Arya menandatangani buku keluar barang. Pakde Karyo dan pemilik senjata menjadi saksi.

“Hanya kamu yang memegang,” pesan pemiliknya. “Selesai kegiatan, sisa peluru dihitung dan senapan langsung dikembalikan.”

“Dipahami.”

Senjata dibawa dalam sarung tertutup dan tidak pernah ditinggalkan tanpa pengawasan. Setelah tiba di desa, Arya menyimpannya di tempat terkunci, jauh dari anak-anak serta kerumunan.

Sore itu, para lelaki berkumpul di lapangan kecil. Arya menggambar jalur sawah dan hutan di papan bekas.

“Kita tidak mengejar masuk hutan,” katanya. “Tim pengarah membuat suara dari sisi utara. Tim penutup menjaga dua jalur keluar. Tidak seorang pun berdiri di depan garis tembak.”

Jarwo mengangkat tangan. “Kalau celeng berbalik?”

“Mundur ke titik aman. Jangan menjadi pahlawan.”

“Kalau senapan gagal?”

“Kita batalkan. Tidak ada parang yang dipakai menyerang dari dekat.”

Beberapa pemuda kecewa karena membayangkan perburuan sebagai adu keberanian. Arya memerintahkan mereka mengulang tiga larangan sampai hafal.

Ia lalu meminta semua orang berdiri sesuai kelompok. Dengan sebatang bambu sebagai pengganti senapan, Arya menunjukkan area yang tak boleh dilintasi. Seorang petani sengaja berpindah jalur saat simulasi pertama. Arya meniup peluit panjang dan menghentikan seluruh latihan.

“Satu orang berubah posisi, semua orang kehilangan kepastian,” katanya. “Kita mulai lagi dari awal.”

Tidak ada yang mengeluh pada percobaan kedua. Mereka bergerak lebih lambat, saling menyebut nama, dan berhenti di balik tanda kain putih. Pada percobaan ketiga, bahkan lelaki yang semula menertawakan aturan ikut mengoreksi jarak temannya.

Pakde Karyo memperlihatkan sarung senjata yang masih terkunci. “Tidak ada yang menyentuh selain Arya. Kalian juga tidak mengambil foto sambil memegangnya.”

“Kenapa foto saja dilarang?” tanya Paijo.

“Karena gambar tanpa penjelasan bisa menjadi masalah,” jawab Arya. “Dan senjata bukan alat untuk bergaya.”

Laras mendengar kalimat itu dengan lega. Arya bukan hanya mencegah kecelakaan di ladang, tetapi juga menutup jalan bagi orang yang mungkin memakai kegiatan tersebut untuk menyerang keluarganya.

Guntur mencatat waktu senapan tiba, tempat penyimpanan, dan jumlah amunisi berdasarkan dokumen. Catatan itu akan ditandatangani lagi saat barang dikembalikan.

“Semua ini membuatku lebih takut daripada celengnya,” gumam seorang pemuda.

“Bagus,” kata Pakde Karyo. “Orang yang tidak takut pada senjata adalah orang yang tak boleh berada di dekatnya.”

Pakde Karyo membagikan peluit. Satu tiupan berarti posisi siap. Dua kali berarti hewan bergerak. Tiga kali panjang berarti semua orang mundur. Lampu senter ditutup kain merah agar arah kelompok terlihat tanpa menyilaukan.

Laras duduk di bawah pohon bersama Sekar, mencatat nama, nomor telepon, dan posisi setiap orang. Perut tujuh bulannya membuat ia tidak boleh berdiri lama. Arya telah menaruh kursi dan botol air sebelum rapat dimulai.

“Tim rumah terdiri dari siapa?” tanya Laras.

Rukmini menyebut para perempuan yang bersedia menjaga balai dusun. Ningsih menangani makanan dan air. Sekar menjaga daftar kedatangan. Guntur tetap di pusat komunikasi, membantu membaca perubahan rute tanpa tampil sebagai pemimpin kegiatan.

“Kendaraan?”

“Mobil Pakde Karyo siaga di jalan utama,” jawab Jarwo. “Motor saya di balai.”

“P3K?”

“Dua kotak,” kata Ningsih. “Satu di balai, satu ikut tim belakang.”

Laras memberi tanda centang. Ia menambahkan nomor Puskesmas, rute ke jalan kabupaten, dan nama orang yang bertugas mengantar bila terjadi luka.

Pak Waluyo datang ketika pembagian tugas hampir selesai.

“Bagus, bagus,” katanya sambil melihat warga yang tertib. “Sebagai kepala desa, tentu saya mendukung kegiatan ini.”

Jarwo menunduk agar senyumnya tidak terlihat. Sejak pagi, ayahnya belum memberikan keputusan apa pun.

“Kami perlu persetujuan pemilik lahan untuk masuk ke batas kebun,” kata Arya. “Pak Kades bisa membantu mengumpulkannya.”

“Tentu. Soal hasil buruan nanti kita atur.”

“Aturannya sekarang,” sela Laras. “Daging dibagi berdasarkan keluarga yang lahannya terdampak, orang yang bertugas, lalu warga lanjut usia yang membutuhkan. Tidak ada bagian berdasarkan jabatan.”

Kerumunan menjadi hening sesaat.

Pak Waluyo tersenyum kaku. “Maksud saya juga begitu.”

Bu Marni yang menonton dari warung berbisik bahwa keluarga Reksonegoro sedang mencari panggung. Namun ketika suaminya diminta masuk tim pengarah, ia segera menyuruh lelaki itu berpura-pura sakit pinggang.

Sebaliknya, Jarwo mendaftar di posisi terdekat dengan batas hutan. Pakde Karyo akan mendampingi Arya. Empat petani berpengalaman memilih jalur pengarah, bukan karena paling berani, tetapi karena paling mengenal medan.

Arya menolak dua remaja yang belum cukup umur.

“Kami cuma memukul kaleng,” protes salah satunya.

“Kalian membantu besok pagi memeriksa kerusakan. Malam ini tetap di balai bersama keluarga.”

Laras melihat kekecewaan mereka, lalu memberi tugas membuat tanda jalur dan mengisi botol air. Anak-anak itu segera merasa berguna tanpa harus ditempatkan dalam bahaya.

Menjelang magrib, Pak Waluyo membawa surat persetujuan pemilik lahan. Arya mencocokkan nama, batas lokasi, dan waktu kegiatan. Semua orang menaruh tanda tangan atau cap jempol di daftar tugas.

“Kenapa harus sebanyak ini?” keluh seorang lelaki.

“Supaya besok tidak ada yang mengaku berada di tempat lain atau mengambil bagian orang lain,” jawab Ningsih.

Laras tersenyum. Temannya belajar cepat.

Rapat ditutup dengan simulasi. Tanpa senjata, mereka berjalan ke titik masing-masing saat masih terang. Arya mengubah satu posisi karena terlalu dekat dengan rumah Mbah Parti dan memindahkan garis tembak ke tanah kosong yang menghadap lereng.

Setelah semua kembali ke lapangan, wajah warga tidak lagi setegang pagi tadi. Mereka memiliki tugas, rute, dan orang yang bertanggung jawab.

Pak Waluyo mengundang Arya berbicara di rumahnya malam itu. Katanya, keluarga perlu menyepakati siapa yang membawa nama desa dalam kegiatan tersebut.

“Nama desa sudah dibawa semua orang yang bekerja,” jawab Arya.

Namun Pak Waluyo tetap mendesak Jarwo pulang. Dari jauh, Bu Sri telah berdiri di beranda bersama Melati dan beberapa anggota keluarga lain.

Ningsih menghela napas. “Ini bukan lagi soal celeng. Mereka mulai menghitung siapa yang akan disebut setelah semuanya selesai.”

Peluit, peta, dan izin sudah siap.

Tetapi sebelum perburuan dimulai, rumah kepala desa justru lebih dulu dipenuhi suara pertengkaran.

Arya menyerahkan kunci penyimpanan kepada Pakde Karyo untuk disegel bersama, lalu mengantar Laras pulang sebelum memenuhi undangan. Ia tidak membiarkan urusan nama dan kehormatan mengacaukan satu aturan pun yang baru saja disepakati. Di desa itu, keselamatan seluruh warga harus selalu jauh lebih mahal daripada pujian kosong dari siapa pun juga selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!