NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022: Tiga Hakim yang Tak Bisa Dipercaya

Masalah pertama datang bukan dari MakanYuk.

Masalah itu datang dari papan jadwal sidang.

Pagi itu, Alexander berdiri di depan layar informasi Pengadilan Negeri Kota Cahaya dan membaca nama majelis untuk perkara lanjutan sengketa lain yang berkaitan dengan pekerja platform.

Hakim Zainal.

Hakim Wongso.

Hakim Prabowo.

Tiga nama itu muncul terlalu sering dalam perkara yang terlalu mirip.

Gunawan berdiri di sebelahnya. "Kamu melihat apa?"

"Pola."

"Pola bisa menjadi bukti. Bisa juga menjadi prasangka."

"Saya belum memilih yang mana, Pak."

Alexander memotret layar jadwal, lalu kembali ke ruang arsip pengadilan yang terbuka untuk pencarian putusan publik. Selama dua jam, ia tidak menyentuh kasus MakanYuk langsung. Ia membuka perkara lain: sengketa kurir melawan koperasi logistik, perkara pemutusan akses kerja, gugatan kecil pekerja gudang, sengketa klaim kecelakaan.

Nama majelisnya berulang.

Hasilnya juga berulang.

Ketika pekerja punya bukti lemah, gugatan ditolak cepat.

Ketika pekerja punya bukti kuat, perkara dialihkan ke alasan prosedural.

Ketika perusahaan terlambat menyerahkan dokumen, diberi kesempatan.

Ketika pekerja terlambat satu hari, dianggap tidak tertib.

Ting! Basis Data Hukum menganalisis pola putusan multi-kasus.

Pola putusan janggal terdeteksi.

Catatan: korelasi belum cukup sebagai tuduhan. Perlu pembanding, dokumen perkara, dan jalur pengawasan resmi.

Alexander mengembuskan napas pelan.

Itu yang membuatnya takut.

Sistem tidak memberi peringatan.

Karena Sistem justru menahannya agar tidak melompat.

Di Kantor Hukum Adiwangsa, meja rapat kembali penuh. Salinan putusan, jadwal sidang, catatan penundaan, dan daftar perusahaan yang berkali-kali menang lewat alasan prosedural serupa menutup permukaannya.

Gunawan membaca berkas tanpa bicara selama hampir lima belas menit.

"Alexander."

"Ya, Pak."

"Menuduh hakim adalah salah satu langkah paling berbahaya dalam karier advokat."

"Saya tahu."

"Kalau salah, kamu kalah perkara dan kehilangan kredibilitas."

"Karena itu saya tidak mau menuduh di ruang sidang."

Gunawan menatapnya. "Apa rencanamu?"

Alexander mendorong map tipis. "Laporan indikasi penyalahgunaan wewenang peradilan. Jalurnya Komisi Yudisial dengan tembusan pengawasan Mahkamah Agung. Untuk dugaan pidana, kita minta telaah awal Kejaksaan Negeri Kota Cahaya, tapi hanya setelah bukti etik cukup."

Gunawan membaca halaman pertama.

Judulnya sederhana:

Kompilasi Pola Putusan dan Perlakuan Prosedural Tidak Seimbang oleh Majelis Hakim Zainal, Hakim Wongso, dan Hakim Prabowo.

"Kamu sudah menyiapkan pembanding?" tanya Gunawan.

"Sepuluh perkara dengan objek serupa. Lima ditangani majelis ini, lima majelis lain. Selisih perlakuan proseduralnya terlihat."

"Sumber data?"

"Putusan publik, register perkara, tanda terima dokumen, dan keterangan dua kuasa hukum yang pernah mengalami pola sama. Semua bisa diverifikasi."

Gunawan menutup map.

"Baik. Tapi satu kalimat harus kamu hapus."

"Yang mana?"

Gunawan menunjuk paragraf ketiga. "Kamu menulis 'mengarah pada dugaan suap'. Ganti dengan 'mengarah pada dugaan konflik kepentingan atau penyalahgunaan kewenangan yang perlu diperiksa'. Suap itu pidana. Jangan tulis sebelum ada jejak uang."

Alexander langsung mencoret dan menulis ulang.

"Terima kasih, Pak."

"Ini bukan soal bahasa cantik. Ini soal tetap hidup secara profesional."

Sore itu, laporan dikirim melalui jalur resmi.

Tidak ada unggahan.

Tidak ada wartawan.

Tidak ada pidato.

Hanya nomor tanda terima elektronik dari Komisi Yudisial, satu salinan fisik yang dikirim ke bagian pengawasan, dan satu catatan internal KH Adiwangsa yang ditandatangani Gunawan.

Ting! Laporan pengawasan resmi tersusun.

Ting! Basis Data Hukum meningkat signifikan.

Ting! Level meningkat: Lv12 Advokat Pemula.

Alexander belum sempat merasa lega ketika ponsel kantor berdering.

Resepsionis memanggil dari luar ruang rapat. "Pak Alexander, ada kurir meninggalkan amplop. Katanya salah satu panitera meminta ini disampaikan."

Gunawan membuka pintu lebih dulu.

Amplop putih itu tidak punya logo. Di dalamnya hanya ada fotokopi jadwal sidang class action MakanYuk minggu depan. Di bagian nama Alexander, ada garis merah.

Di bawahnya tertulis tangan:

Advokat muda sebaiknya belajar membedakan keberanian dan kelancangan.

Tidak ada tanda tangan.

Tetapi di sudut fotokopi, tiga paraf kecil tercetak samar dari lembar jadwal asli.

Z.

W.

P.

Hakim Zainal. Hakim Wongso. Hakim Prabowo.

Gunawan menatap kertas itu lama.

"Mereka tahu?"

Alexander memotret amplop, kertas, dan bekas lipatan.

"Mereka tahu ada yang mulai melihat."

"Takut?"

Alexander memasukkan salinan ancaman ke plastik bukti.

"Tidak."

Ia mengangkat mata.

"Tapi mulai sekarang, kita tidak hanya berperkara melawan perusahaan."

Di luar jendela, gedung pengadilan tampak jauh, putih, dan diam.

"Kita juga harus memastikan ruang yang memutus perkara itu tidak sudah dibeli sebelum sidang dimulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!