Azahra Micel Bagaskara harus menelan rasa kecewa karna Sky sang pacar hanya menjadikan nya sebuah ajang belas dendam.
"Gua gak akan pernah maafin lu Kak," ucap Zahra menahan rasa kesal.
"Gua bisa jelasin Ra, gua beneran sayang sama lu," ucap Sky memelas.
"BULSYIT!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dwirara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cari uang kemana lagi
Sky senyam senyum selama perjalanan, Ia merasa bahagia mempunyai seorang kekasih jujur ini pertama baginya.
"Ahh sial kenapa gua jadi baper sih, harus nya gua bisa nahan perasaan gua agar tidak jatuh cinta pada Zahra.Tapi wajah cantik dan senyuman nya itu selalu membuat gua panas dingin mana gua tahan," gumannya.
Sehingga Ia pun sampai di depan rumah Ia segara masuk ke dalam rumah, terlihat orang tua nya baru saja keluar dari mushola yang ada di dekat tangga.
"Sky kamu sudah pulang?" tanya Papa Adit.
"Iya Pah," jawab nya sambil tersenyum.
"Sholat dulu sana, nanti temui Papa ada yang mau Papa bicarakan padamu," ucap Papa Adit membuat Sky mengerutkan kening nya tumben seperti nya ada yang serius pikir nya.
"Ada apa seperti nya ada yang penting Pah?" tanya Sky penasaran.
Karna biasanya kalo obrolan biasa Papa nya akan bicara sambil makan malam.
'Kenapa perasaan gua gak enak gini yah,' batinnya.
"Udah sana," ucap Mama Chintia dan mau tak mau Sky pun naik tangga menuju kamar nya.
Di sisi lain Zahra sedang makan malam bersama Marsya, kakak nya itu memang membeli makan malam untuk mereka berdua.
"Tumben gak semangat gitu apa makanan nya gak enak?" tanya Marsya bingung biasanya gadis itu akan cepat menghabiskan makan malam nya namun kali ini Zahra seperti tidak berminat memakan makanan itu.
"Apa yang lu pikirkan?" lanjut nya membuat Zahra diam, apakah Ia harus cerita tentang ibu nya pada Marsya.
"Hey lihat Kakak, cerita kalo ada masalah. Atau luka lu tambah parah?" tanya Marsya menarik pelan tangan Zahra ingin memasikan namun seperti nya luka itu sudah kering.
"Bukan Kak, luka gua baik baik saja," jawab nya lesu.
"Terus apa masalah nya apa lu baru putus?" tebak Marsya namun Marsya tahu kalo Zahra masih jomlo.
"Astaga apa sih kak baru aja jadian masa udah putus aja," jawab Zahra keceplosan.
"Cie.. sama siapa tuh?" canda Marsya membuat Zahra menutup mulut nya. Ia menggerutuki diri nya sendiri karna tidak bisa menyimpan rahasia.
"Udah lupain mood gua lagi gak bagus," ucap Zahra cemberut membuat Marsya bingung.
Selama ini Zahra tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari Marsya karna Zahra sangat menyayangi kakak sepupu nya itu.
"Masa baru jadian udah murung apa kalian habis berantem?" tebak Marsya, entah lah Marsya sendiri tidak pernah pacaran sehingga Ia tidak tahu.
"Bukan kok, ini masalah ibu," jawab Zahra lesu ia bingung harus mulai dari mana.
"Tante Laras kenapa?" tanya Marsya penasaran Ia sangat mencemaskan tante nya itu.
Tadi siang Ia sudah bertemu dengan tante Laras, tante nya itu sudah bisa pulang dari rumasakit terus apa yang Zahra khawatirkan pikir nya.
"Ibu harus operasi," jawab Zahra lemas.
"Operasi?" tanya Masya dan Zahra pun mengangguk lesu.
Zahra selama ini tidak pernah putus asa dalam menghadapi masalah apapun namun baru kali ini Ia terlihat sedih dan tidak bersemangat.
"Kita do'akan saja yang terbaik untuk mereka yah," ucap Marsya berusaha menenangkan nya.
Namun Zahra masih menunduk membuat Marsya bingung apa lagi yang di pikirkan oleh gadis itu.
"Kenapa apa yang kamu pikirkan Ra?" tanya Marsya.
Zahra mendongkakan kepala nya menatap Marsya."Kak pinjemin gua 20 juta dong buat operasi ibu, duit gua udah habis kemarin buat periksa," ucap Zahra membuat Marsya melebarkan matanya.
Marsya menggelengkan kepala nya Ia tidak punya uang sebanyak itu, lagian bukannya ada Pak Alan kenapa sekarang malah Zahra yang harus biaya operasi ibu nya.
"Gua gak punya duit sebanyak itu tapi kalo 5 juta gua bisa ngasih lu gak perlu minjem," ucap Marsya serius namun tetap saja uang segitu tidak akan cukup.
"Gua harus cari pinjaman kemana ya Kak gua malah bingung, gua gak mungkin minta bantuan sama Mika dam Ciya karna mereka udah terlalu sering bangtuin gua" ucap Zahra bingung.
"Sabar ya nanti gua bantu cari cara agar bisa bantu lu," ucap Marsya menenangkan.
Bukannya tidak mau membantu Marsya juga sedang pusing dengan biaya kuliah nya, setelah keluar dari rumah 2 tahun yang lalu Ayah nya karna Marsya kabur dari rumah sehingga Ayah nya marah dan tidak memberi nya uang lagi.
"Gua tidur duluan ya dah ngantuk nih," ucap Zahra meninggalkan meja makan.
Marsya pun hanya bisa diam Ia merasa sedih dan tidak berguna, apa harus Ia datang ke rumah Ayah nya untuk meminjam uang.
***
Keesokan hari nya Zahra sudah siap berangkat sekolah, pagi ini Ia mau nebeng lagi sama Kakak sepupu nya itu karna motor nya masih di bengkel.
"Kakak kekampus jam berapa?" tanya Zahra melihat Marsya sedang menyiapkan sarapan nya.
"Gua ada kuis jam 10, emang kenapa?" tanya Marsya menatap adik sepupu nya itu.
"Yah tadi nya mau nebeng, kirain masuk pagi," jawab Zahra lesu, kalo sudah begitu Ia harus naik bis lagi pagi ini.
"Motor kamu masih di bengkel?" tanya Marsya dan Zahra pun mengangguk Marsya sedikit heran kenapa motor Zahra lama sekali di bengkel apa jangan jangan?
"Kamu gak bohong kan?" tanya Marsya membuat Zahra mengerutkan kening nya bingung.
"Apaan sih Kak gua gak ngerti? bohong apa maksud nya?" tanya Zahra.
"Tentang motor lu, apa motor lu rusak parah sehingga harus lama di bengkel nya? atau lu gadein buat biaya tante Laras kemarin?" tanya Marsya.
"Astaga apaan sih Kak gua gak niat buat gadein tapi sepertinya ide bagus sih gua jual aja tu motor buat nambah biaya ibu," ucap Zahra berbinar tidak apa apa Ia naik bis tiap hari asal Ia dapat uang secepatnya.
"Jangan apaan sih lu nanti lu pake apa kesekolah?" tanya Marsya tidak setuju.
"Ya gua naik bis lah atau pake motor yang merah," ucap Zahra membuat Marsya semakin tidak setuju.
"Terus semua orang tahu kalo lu adalah WINER gitu," ucap Marsya dan Zahra pun langsung menunduk.
Zahra baru mengerti kenapa Marsya tidak mengizinkan Zahra membawa motor merah itu karna motor itu berbeda dengan motor biasa, semua anggota WINER motor nya sama seperti itu.
"Ya udah lah lupain gua pamit ya udah siang," ucap Zahra memakai tas punggung nya.
"Gua anterin deh ayo," ajak Marsya Ia takut adik nya itu kesiangan.
Zahra pun tersenyum mendengar nya namun saat membuka pintu terlihat seorang pria duduk diatas motor.
"Eh siapa sih pagi pagi udah berdiri di deoan gerbang?" tanya Marsya langsung membuka gerbang dan menghampiri pemuda itu.
"Eh kamu?"
"Iya Kak gua mau jemput Zahra," ucap pemuda itu sambil tersenyum.
Sedangkan Zahra memutar bola matanya malas Ia benar benar kesal kenapa harus jemput coba.