NovelToon NovelToon
Sebelum Berpisah

Sebelum Berpisah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:62k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Ada satu hal yang tidak diketahui para wartawan infotainment dari sang selebriti Elang Samudra Ginting bahwa Samudra sudah menikah. Tapi siapa sangka, sebagai salah satu pria paling digilai di penjuru tanah air, Samudra mendapatkan surat cerai dari sang istri. karena mereka telah hidup terpisah selama tiga tahun.

Sejak menjauh dari sang suami, hidup Lembar Putih Ayunda berubah sepenuhnya. Ia mendapatkan pekerjaan baru, teman-teman baru, dan kehidupan baru. Namun ketika Samudra menemuinya untuk menyelesaikan perceraian mereka, ada sesuatu yang ternyata tak pernah berubah dari Samudra, Samudra tetap menjadi satu-satunya pria yang bisa mengisi hidupnya.

Kesepakatan baru pun dibuat, mereka akan tetap bersama selama sekejap sampai urusan itu selesai, sebelum menyadari bahwa hasrat mereka sungguh tak bisa terbendung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter - 22

Ayunda memasang sabuk di pinggangnya dan kemudian merapihkan pakaiannya di depan cermin, ia membiarkan Samudra menonton dari tempat tidur di belakangnya. Ia sengaja memilih pakaian yang tidak terlalu seksi, meskipun masih cukup terlihat faminim. Ayunda, menghembuskan nafas beratnya, ia tahu ini akan menjadi hari yang sibuk.

“Aku harus berangkat kerja,” Ayunda memperingatkan, sembari menatap sekilas ke belakang. “Aku tidak bisa pulang siang, mungkin aku baru bisa pulang jam tiga sore.”

Sangat di sayangkan ketika Samudra datang, Ayunda tidak bisa menemani Samudra sepanjang hari, namun itu bukan salahnya, sebab Samudra tidak memberi tahu kedatangannya sehingga Ayunda tidak bisa mengosongkan jadwalnya.

Sembari bersandar di atas bantal, Samudra menyilangkan tangan di depan dada dan tersenyum. “Bagaimana kalau aku pergi denganmu. Aku akan betah di kantormu. Percayalah, banyak hal yang bisa kulakukan.”

Ayunda meraba kalungnya, rantai kuningan kaku berhias rangkaian ceri dan daun bertatahkan berlian. “Seharian?”

“Tentu saja.” Samudra melompat dari tempat tidur, lalu muncul di belakangnya untuk meraih jepit rambut, lalu menunggunya mengangkat rambutnya. “Jika menurutmu aku tidak mengganggu.”

Ciuman panas bibir Samudra di tengkuk Ayunda mengalirkan rasa menggigil ke dalam dirinya dan indranya langsung terguncang.

“Aku berjanji tidak akan mengganggumu."

Ya Tuhan, Samudra memang tidak pernah mengganggu, ia bisa duduk di samping meja kerjaku, tapi bukan itu masalahnya.

Melainkan keberadaan Samudra, bisa mengganggu konsentrasinya.

Tangan kokoh mengunci bahu Ayunda saat Samudra memutar tubuhnya. Sembari memain-mainkan bandul merah di leher Ayunda, Samudra tersenyum nakal. “Ceri. Kesukaanku.”

Tatapannya menyusuri tubuh Samudra. Kemeja putih dan celana jins berwarna gelap. Tanpa sepatu.

Kesukaannya juga.

Samudra meraih tangan Ayunda yang sedang meraba otot perutnya yang keras, lalu mengusapkan ibu jarinya di setiap buku jari Ayunda. “Kita kencan di kantor, bagaimana menurutmu?”

“Baiklah.” Menolak Samudra bukanlah bagian dari sifat Ayunda.

Ini sesuatu yang Ayunda sukai, sekarang Samudra mengerti akan hal itu. Ayunda membangun galeri ini menjadi bagian dari dirinya, bukan hanya tempatnya bekerja, melainkan hidupnya.

Mereka berjalan melewati pintu galeri dan terasa seolah ruangan itu menarik Ayunda, menjauhkan Ayunda dari dirinya dengan cara yang tak disangka-sangka, dan tak bisa dilawannya.

Bukan itu yang Ayunda inginkan. Sungguh.

Samudra belum siap melihat Ayunda menjauh pergi dengan tiba-tiba, baik secara fisik maupun mental.

Namun ia harus bisa, setidaknya dalam hal fisik. Hubungan pernikahan mereka belum dipublikasikan. Mereka harus selektif dalam setiap kesempatan dan menjaga rahasia hubungan mereka.

Dan jika ia harus jujur kepada dirinya, ia sebenarnya ingin mengetahui kehidupan Ayunda lebih jauh, Samudra ingin melihat rumah yang tengah Ayunda bangun dari hasil kerja kerasnya, ia ingin menyentuh semua bagian dari Ayunda yang belum ia ketahui. Namun tentu saja kalau menyentuh Ayunda secara fisik di depan publik sama sekali tidak boleh.

Di galeri, Ayunda memberikan kesan ‘boleh dilihat tapi tidak boleh dipegang’, sama seperti semua karya seni yang menghiasi dinding. Jadi mereka berdiri sejauh satu meter, dan Samudra berusaha menahan dorongan untuk meletakkan tangannya di bahu Ayunda atau memeluk lekuk pinggang Ayunda.

Ada tatapan bingung baik dari para pengunjung maupun staf, melihat kedatangan Samudra, tapi Nindyra adalah asisten yang sangat cakap, ia bisa mengatasinya. Dengan cekatan Nindyra mengalihkan perhatian para pengunjung dan staf yang bekerja saat Ayunda dan Samudra berjalan ke ruang kerja Ayunda. Dan jika Samudra berpikir dirinya bisa bercinta dengan Ayunda di atas meja kerja atau di balik pintu, ia sangat keliru. Ayunda seorang pekerja keras yang memiliki kebijakan bahwa pintu ruang kerjanya harus tetap terbuka, walau pun ada Samudra di dalam ruang kerjanya.

Sepanjang hari mereka duduk berseberangan, Ayunda melangkah keluar dari waktu ke waktu, kemudian masuk lagi untuk melihat karya seniman yang prospektif atau menjawab telepon dari klien.

"Jadi seniman jalanan yang menjual lukisanya di kaki lima Malioboro, sudah menghubungimu?" tanya Ayunda kepada Nindyra.

Nindyra menganggukan kepalanya, "Siang ini ia akan kemari untuk menendatangani kontrak kerja samanya."

"Bagus, silahkan kamu follow up. Aku tunggu kabar selanjutnya." Ayunda kembali ke ruang kerjanya.

Samudra tidak terbiasa berbagi ruangan dengan orang lain dan tak terbiasa melihat kesibukan orang lain berlalu lalang di hadapannya, tapi kali ini ia tidak bermasalah dengan itu, ia sangat senang melihat Ayunda sepanjang hari.

Ayunda baru saja menjawab telepon ketika Samudra mengitari mejanya dan ajaibnya Samudra bisa menemukan satu ruang terbuka (di kursi Ayunda) lalu duduk dengan sebelah pinggul Ayunda. Namun tatapan Ayunda selalu tertuju ke pintu sembari bergerak memutar kursinya beberapa inci. "Samudra mengapa kau duduk di sini?" Ayunda hendak beranjak dari tempat duduknya, namun Samudra tidak ingin Ayunda cepat pergi darinya, ia merangkul pinggang Ayunda, lalu menarik kursi Ayunda ke belakang, dan mengurung Ayunda sejenak.

“Kurasa kau sudah cukup menyelesaikan pekerjaan untuk bisa beristirahat makan siang?”

Tatapan Ayunda menjelajah ke atas meja saat Ayunda melihat setumpuk berkas yang belum ia kerjakan, “Ingin makanan siap saji?”

“Atau di resto terdekat di sini?" sesaat Samudra menyentuh dagu Ayunda sebelum menarik kembali tangannya. Jika tidak berhati-hati, ia bisa saja membelaikan ibu jarinya di bibir Ayunda dan menyusupkan tangan ke belakang leher Ayunda, dan bisa berlanjut ke hal-hal yang lebih intim.

Jadi Samudra sedang berhati-hati dan menahan diri. Sial.

“Meskipun ada yang memergoki kita bersama di restoran. Memangnya kenapa? Aku bisa berpura-pura menjadi klienmu.”

Ayunda bersandar di kursinya memikirkan menu makan siang apa yang enak untuk di makan.

“Tante Ayunda!” Pekikan antusias terdengar dari ambang pintu, sesosok tubuh mungil yang meluncur masuk ke ruangnkerja Ayunda.

“Aviran, seharusnya kau mengetuk dulu… Maaf, Ayunda,” terdengar suara teguran dari seorang wanita di belakang Aviran.

“Hai, Aviran. Apa kabar pria mungil?” tanya Ayunda sembari tertawa agar sang ibu tak merasa bersalah karena ulah putranya yang menerobos masuk ke ruang kerja Ayunda.

“Baik, tante Ayunda.” Anak itu menarik sabuknya, lalu menaikkan celana jinsnya hingga setinggi tulang rusuknya "Tante Nindyra kemarin menghubungiku, ia bilang jika lukisanku akan siap pada hari ini, jadi aku meminta Mommy untuk mengantarku kemari"

Samudra menatap Ayunda, sembari menyimak setiap kata yang dilontarkan oleh bocah itu, dan Samudra merasa sangat terkesan pada pembawaan Ayunda yang hangat kepada bocah tersebut.

“Bagaimana kalau kita langsung saja ke studio untuk memeriksanya?” ajak Ayunda.

'Studio? Apakah anak itu seorang pelukis?' batin Samudra kembali bertanya-tanya.

Laras melirik ke arah Samudra dengan gugup “Aku tidak ingin mengganggu pertemuanmu, kita bisa sama Nindyra saja ke studionya”

Ayunda menegakkan bahu dan menghadap Samudra dengan senyuman tegang. “Tidak, ini bukan apa-apa. Tidak ada yang merasa terganggu, sama sekali tidak ada.”

Samudra ingin tertawa, melihat raut wajah tegang Ayunda.

“Namaku Samudra,” ucap Samudra, sembari mengulurkan tangan. Kemudian, karena tidak bisa menahan diri untuk menggoda Ayunda, ia menambahkan, “Samudra yang bukan siapa-siapanya Ayunda."

Laras tertawa dan Aviran memalingkan wajahnya untuk memohon. “Ayolah, Tante Ayunda!!”

"Ya sudah yuk kita ke studio" Ayunda memimpin jalan melewati aula belakang menuju ruangan yang belum pernah Samudra lihat pada saat masuk tadi.

Sebuah studio yang menyala terang dan dipenuhi penyangga lukisan seukuran anak-anak, tali tempat menggantung berbagai lukisan, dan berember-ember peralatan lukis penuh warna yang bertumpuk di dinding.

Aviran, yang tidak terlihat saat sedang berjalan tadi, tiba-tiba melesat ke lantai terbuka menuju rak pengering tempat ia mengambil karya terbarunya, dengan perlahan memamerkannya sembari mengharapkan pujian mereka.

Ayunda berjongkok di depan Aviran, berbicara pelan tentang penggunaan warna dan ruang pada lukisannya. Anak yang belum genap lima belas tahun itu mengangguk memahami setiap perkataan Ayunda. Kemudian, ketika menyadari kalau ada satu lagi penonton yang luput dari perhatian, Aviran menarik sabuknya lagi ke atas dan melangkah menghampiri Samudra, lalu menyodorkan lukisan itu.

“Ini taman biru di belakang rumahku," ucap Aviran.

“Aku menyukainya, ini sangat luar biasa.” Ada banyak warna biru dalam lukisan Aviran dan detail yang cukup banyak untuk menggambarkan tamannya. Meskipun demikian karya anak ini pastinya tidak akan ditampilkan pada pameran yang akan di gelar oleh Ayunda.

Aviran merasa sangat bangga, mendapatkan pujian dari Samudra.

Samudra berjongkok seperti yang dilakukan Ayunda, untuk bisa melihat lebih dekat, dan mengamati lebih detail lukisan Aviran, kemudian Samudra mengajukan pertanyaan juga kritik saat percakapan mereka berlanjut.

Samudra tertawa dengan si bocah kecil ini yang memiliki keunikan istimewa sekaligus sangat menarik, ia terpesona dengan antusiasme dan kegembiraan Aviran.

Rasanya lucu. Samudra mendadak berfikir ia akan memiliki anak satu hari nanti. Namun kenyataannya berbeda, dan setelah Ayunda pergi, Samudra menyingkirkan pikiran untuk membangun rumah tangga dan tidak ingin berurusan dengan masalah itu.

Tidak sulit bagi bagi Samudra untuk menyingkirkan pikiran soal 'rumah tangga' karena lingkup sosialnya cenderung ke arah profesional, ia selalu bekerja, sibuk, dan teman-teman bergaulnya juga sibuk bekerja. Sebagai seorang anak tunggal, Samudra tidak memiliki keponakan untuk diajak bermain, jadi ia tidak pernah bersentuhan dengan anak-anak.

Samudra tersentuh setelah mengetahui bahwa Ayunda menyediakan ruang untuk anak-anak dalam hidup yang dibangunnya untuk dirinya sendiri, meskipun mereka bukan anak sendiri. Ya, Ayunda membuat studio lukis untuk anak-anak yang memiliki hobby melukis, dan Ayunda menyediakannya secara gratis.

Samudra menelan ludah ketika melihat seorang anak di hadapannya. Ia melihat rambut lurusnya yang gelap, mata coklat yang cerah, dan kulit berwarna putih bersih, dan berkhayal apakah Galen akan tampak seperti ini. Apakah anak mereka akan dipenuhi begitu banyak energi sehingga kaki kecilnya tidak bisa berhenti bergerak meskipun mereka berusaha keras untuk menahannya. Apakah ia akan senang melukis untuk ibunya, yang begitu sangat menginginkannya, dan bercerita kepada ayahnya tentang sekolahnya dan seluruh kegiatan yang di lakukan seharian.

Kemudian Samudra seolah merasakannya. Berat tubuh mungil itu di tangannya yang mengakhiri semua cintanya, dan semua rencana yang telah di buat. Bayinya begitu kecil, menggemaskan, namun ia tidak akan pernah punya kesempatan hidup.

Untuk sesaat rasa kehilangan ini terasa begitu segar dalam ingatan, begitu tajam, mengirisnya bagaikan pisau. Ia ingin keluar dari studio Ayunda untuk menghirup udara segar melupakan bayangan tentang Galen. Namun saat Samudra berdiri, ia menangkap tatapan Ayunda. Tajam. Terarah pada dirinya.

Pada dirinya dan Aviran.

1
RithaMartinE
luar biasa
kalea rizuky
pernah wik wik gk sih samudra ma mantannya
kalea rizuky
settingan kok ampek wik wik munafik
kalea rizuky
Sam uda enak enak. blom. ama mantan mantannya
Ersa
kereen
Andriyati
seperti nya samudra ninggalin ayunda demi karir samudra,,pernikahan yg tidak di publiskan,, sehingga luka ayunda udh dalam,,
Vita Liana
ekstrapart dung kak ,, pengen liat samudra bucin
Vita Liana: Oke kak ,, aku tunggu ya 🥰
total 2 replies
єℓιѕKᵝ⃟ᴸ
mampir dulu
єℓιѕKᵝ⃟ᴸ
bagus
Rina Wati
good,akhir nya happy ending buat samudra dan ayunda
Rina Wati: semangaat thor
total 4 replies
Hearty 💕💕💗
Cerita yang bagus tulisan yang rapih dan nggak terlalu panjang.

Semakin sukses dalam berkarya
Hearty 💕💕
Menyembunyikan kesedihan dengan cara masing-masing andaikan saling bicara pasti nggak akan bubar
Hearty 💕💕💗
Oh ini yang jadi akar masalahnya. Andai Galen ada juga nggak tentu dunia mu jadi lebih baik.

Mungkin kehilangan Galen adalah cara membuatmu menjadi dewasa
Hearty💕💕
Tetap sabar membaca apa sih persoalan mereka sebetulnya
Irma: semangat mba, semoga suka dengan karyanya
total 1 replies
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
ahkirnya kalian bisa bersatu lagi ya selamat ayunda samudra Semoga bahagia dan langgeng selama nya
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Setiap perjalanan hidup pasti meninggalkan kenangan, baik kenangan manis, pahit, luka ataupun bahagia...
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
hmmmmmmmm akhirnya konflik nya berakhir 🔚
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
konflik keluarga g ada yang ngalah ya begini jadinya
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
dicerai pas sayang-sayange
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
kenapa klo masih ada rasa harus ego yang dikedepankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!