Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nael
Sore itu, langit Manhattan dihiasi warna jingga kemerahan yang memantul pada kaca-kaca gedung pencakar langit. Di sebuah kompleks olahraga eksklusif di pinggiran Central Park, suasana riuh oleh suara peluit pelatih dan teriakan semangat anak-anak laki-laki berusia tujuh tahun yang sedang menggiring bola di atas rumput hijau yang dipangkas rapi.
Di pinggir lapangan, deretan mobil mewah terparkir, namun perhatian beberapa orang tua murid teralihkan ketika sebuah SUV hitam dengan kaca gelap perlahan memasuki area parkir. Pintu belakang terbuka, dan sosok Pablo Xander melangkah keluar.
Ia masih mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang yang sangat formal. Dasi sutranya masih terikat rapi, dan jam tangan mewahnya berkilauan terkena cahaya matahari sore.
Pablo tampak seperti seseorang yang baru saja keluar dari ruang sidang senat atau meja perundingan akuisisi bernilai miliaran dolar—dan memang itulah kenyataannya. Ia baru saja meninggalkan rapat konsorsium Eropa lima belas menit lebih awal, mengabaikan tatapan bingung para kolega bisnisnya demi satu janji pada putranya.
Pablo berjalan menuju tribun penonton dengan langkah tegap. Kehadirannya memberikan aura wibawa yang tak terbantahkan, membuat beberapa orang tua yang sedang asyik berbincang mendadak terdiam dan memberikan ruang.
Namun, mata tajam Pablo tidak sedang mencari pengakuan; ia mencari sosok kecil dengan nomor punggung 10 di tengah lapangan.
Nael sedang sibuk melakukan dribbling melewati kerucut latihan ketika ia merasakan sebuah kehadiran yang familiar. Ia menoleh ke arah pinggir lapangan dan melihat ayahnya berdiri di sana, bersedekap, dengan senyum tipis yang sangat langka.
Wajah Nael seketika cerah. Energi bocah itu seolah berlipat ganda. Ia melakukan putaran bola yang cepat, melewati temannya dengan lincah, dan menendang bola tepat ke arah gawang kecil. Gol!
"Kerja bagus, Nael!" teriak pelatih.
Nael tidak merayakan dengan rekan timnya terlebih dahulu. Ia justru mengangkat jempolnya tinggi-tinggi ke arah Pablo. Pablo membalas dengan anggukan mantap dan sebuah jempol, sebuah kode rahasia di antara pria Xander bahwa segalanya berjalan dengan sempurna.
...----------------...
Tak lama kemudian, Freya menyusul. Ia datang dengan penampilan yang lebih santai namun tetap elegan, menggendong Alessia yang tampak menggemaskan dengan topi rajut kecil. Freya sedikit terkejut melihat suaminya sudah duduk di bangku kayu tribun yang keras.
"Kau benar-benar menepati janjimu, Pablo," ucap Freya sambil duduk di sampingnya. "Aku pikir rapat konsorsium itu akan menahanmu sampai malam."
Pablo mengambil Alessia dari gendongan Freya, membiarkan putrinya itu duduk di pangkuannya. Jas mahalnya kini menjadi alas bagi sepatu bayi Alessia yang mungkin sedikit kotor, namun Pablo tidak peduli. "Rapat itu bisa menunggu satu hari lagi, tapi gol pertama Nael tidak akan terulang dua kali. Aku tidak ingin menjadi ayah yang hanya dikenal melalui layar ponsel."
Freya menyandarkan kepalanya di bahu Pablo, memperhatikan Nael yang kini sedang mendengarkan instruksi pelatih untuk sesi pertandingan persahabatan di akhir latihan. "Lihat dia, Pablo. Dia sangat mirip denganmu saat kau sedang fokus. Tatapan matanya... dia benar-benar menganggap ini sebagai misi hidup dan mati."
Pablo terkekeh. "Dia seorang Xander, Freya. Kami tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati. Entah itu di lapangan bola atau di ruang rapat, tujuannya hanya satu: kemenangan yang terhormat."
Momen Pertandingan Persahabatan
Peluit panjang berbunyi, menandakan dimulainya pertandingan simulasi. Nael bermain di posisi penyerang. Selama sepuluh menit pertama, tim lawan memberikan tekanan yang cukup keras. Nael sempat terjatuh karena bertabrakan dengan pemain lain yang lebih besar.
Freya hampir berdiri karena cemas, namun Pablo menahan tangannya. "Biarkan dia, Freya. Dia harus belajar cara bangun sendiri. Lihat dia."
Nael tidak menangis. Ia meringis sebentar, menepuk-nepuk debu di lututnya, dan kembali berlari. Ia tidak melihat ke arah tribun untuk mencari simpati; ia justru terlihat lebih haus akan bola. Saat kesempatan itu datang, Nael menerima umpan lambung. Dengan kontrol bola yang manis, ia melewati dua pemain bertahan.
"Ayo, Nael! Terus!" teriak Pablo, suaranya yang bariton kini terdengar lebih keras dari orang tua lainnya. Ini adalah sisi Pablo yang belum pernah dilihat publik—seorang pendukung yang antusias, seorang ayah yang hatinya ikut berlari di atas rumput itu.
Nael melepaskan tembakan keras ke sudut kiri gawang. Jaring bergetar. Gol kedua untuk hari itu.
Nael berlari menuju pinggir lapangan, tepat ke arah di mana keluarganya berada. Ia melakukan selebrasi kecil—menaruh tangannya di dada dan menunjuk ke arah tribun. Freya bertepuk tangan dengan haru, sementara Pablo berdiri, menggendong Alessia yang juga ikut bertepuk tangan tanpa mengerti apa yang terjadi, hanya ikut merasakan kegembiraan kakaknya.
Istirahat dan Percakapan di Sela Latihan
Saat waktu istirahat sejenak, Nael berlari menghampiri mereka untuk minum. Napasnya terengah-engah, wajahnya merah padam, namun matanya bersinar.
"Ayah lihat tadi? Aku melakukan teknik step-over yang Ayah ajarkan di taman minggu lalu!" ucap Nael dengan bangga sambil menenggak air dari botolnya.
Pablo mengambil handuk dan menyeka keringat di dahi putranya. "Aku lihat, Nael. Eksekusimu sangat bersih. Tapi ingat, jangan terlalu lama menahan bola. Kerjasama tim tetap yang utama."
"Aku tahu, Ayah. Tadi aku memberikan umpan pada Leo, tapi dia tidak siap," lapor Nael dengan jujur.
Freya mengusap punggung Nael. "Minum yang banyak, Sayang. Kau hebat sekali hari ini. Mama dan Alessia sangat bangga."
Alessia mengeluarkan suara ocehan, seolah setuju dengan ucapan ibunya. Nael mencium pipi adiknya sebentar sebelum kembali dipanggil oleh pelatihnya. "Aku harus kembali! Aku ingin mencetak satu gol lagi untuk Alessia!"
Sore yang Menghangatkan Hati
Setelah latihan berakhir, matahari sudah hampir tenggelam sempurna. Lampu-lampu stadion mulai menyala. Pablo menunggu Nael membereskan peralatannya. Beberapa orang tua murid mendekati Pablo, mencoba melakukan obrolan ringan atau mungkin sedikit "lobbying" bisnis terselubung, namun Pablo menjawab dengan sopan namun singkat. Sore ini, ia bukan CEO Xander Corp; ia hanyalah ayah dari Nael.
Nael datang dengan tas punggung besar yang tampak terlalu berat untuk tubuhnya. Pablo segera mengambil tas itu dan memanggulnya di salah satu bahu—kontras yang menarik: tas bola anak-anak di atas jas seharga ribuan dolar.
"Boleh kita makan piza setelah ini, Ayah? Mama?" tanya Nael saat mereka berjalan menuju parkiran.
"Piza?" Pablo melirik Freya. "Bagaimana menurutmu, Freya? Bukankah kita punya jadwal makan malam sehat di rumah?"
Freya tertawa, melihat tatapan penuh harap di mata Nael. "Aku rasa pencetak dua gol hari ini berhak mendapatkan sedikit pengecualian. Piza terdengar sempurna."
"Yes!" seru Nael kegirangan.
...----------------...
Dalam perjalanan pulang, Nael tertidur di kursi belakang karena kelelahan, kepalanya bersandar pada bantal kecil di samping boks bayi Alessia yang juga sudah terlelap. Suasana di dalam mobil menjadi sangat tenang.
Pablo mengemudi dengan santai, satu tangannya menggenggam tangan Freya di atas konsol tengah.
"Terima kasih telah datang tadi, Pablo," ucap Freya lembut. "Itu sangat berarti bagi Nael. Dia selalu ingin membuatmu bangga."
"Aku sudah bangga padanya sejak hari pertama aku bertemu dengannya kembali, Freya," jawab Pablo jujur. "Tapi hari ini, melihatnya jatuh dan bangkit lagi tanpa mengeluh... itu mengajariku sesuatu.
Kadang-kadang kita di kantor terlalu takut untuk 'jatuh', padahal jatuh adalah bagian dari permainan."
Freya menatap kesamping wajah suaminya yang tegas namun kini tampak jauh lebih damai. "Kau sudah banyak berubah, Pablo. Sejak ada Alessia dan sejak kita benar-benar menjadi keluarga, kau tampak... lebih hidup."
Pablo meremas lembut tangan Freya. "Itu karena aku punya alasan untuk hidup, bukan hanya alasan untuk bekerja. Dahulu, hidupku hanyalah grafik dan angka. Sekarang, hidupku adalah tawa Nael di lapangan bola dan aroma bedak bayi di leher Alessia."
Sesampainya di mansion, Pablo menggendong Nael yang masih tertidur masuk ke dalam rumah. Ia menaruh putranya di tempat tidur dengan hati-hati, melepas sepatunya, dan menyelimutinya. Sebelum keluar, ia membisikkan sesuatu yang akan terbawa ke dalam mimpi Nael: "Kau jagoan Ayah, Nael. Selamanya."
Di ruang tengah, Freya sudah menunggu dengan secangkir teh hangat. Mereka duduk berdua di balkon, menatap lampu-lampu kota New York.
"Dunia bisnis mungkin akan gempar besok karena aku meninggalkan rapat lebih awal," kata Pablo sambil tertawa kecil. "Mungkin saham kita akan sedikit berfluktuasi karena mereka pikir aku sedang sakit."
"Biarkan saja," balas Freya. "Biarkan mereka tahu bahwa Pablo Xander memiliki prioritas baru. Dan prioritas itu tidak bisa dibeli dengan saham manapun."
Malam itu, di bawah langit Manhattan yang luas, kedamaian menyelimuti keluarga Xander-Rodriguez. Sore di lapangan bola tadi bukan hanya tentang olahraga; itu adalah tentang penebusan waktu, tentang janji yang ditepati, dan tentang penguatan fondasi sebuah dinasti yang kini tidak lagi dibangun di atas emas, melainkan di atas kenangan-kenangan sederhana yang tak ternilai harganya.