NovelToon NovelToon
Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Status: tamat
Genre:Romantis / Crazy Rich/Konglomerat / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:7.8M
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Cerita ini adalah cerita kelanjutan dari Novel Love, Revenge, And The Sea, tapi Anda bisa menikmati cerita ini tersendiri, namun sangat disaran membacanya dahulu untuk tahu tokoh-tokoh di dalamnya.



Cinta itu sebuah misteri, seberapa banyak pun orang yang mencoba memahaminya, namun tak ada yang pernah bisa benar-benar mengetahui apa itu cinta sebenarnya.


Dimana kah awalnya? bagaimana cara dia bekerja? pada siapa dia akan berlabuh? bagaimana dia berjalan? membawa suka kah? atau malah menambah derita.

Akan kah cinta berakhir bahagia atau malah menabur air mata, hanya yang mengalamai cinta yang tahu rasanya.

Beribu bahkan berjuta cerita cinta telah tertuliskan di dunia, namun tetap saja tak ada yang sama.

Ini sebuah cerita tentang penantian, ketulusan, dan pengorbanan, sedikit arti cinta yang indah dengan segala lika-likunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 - Mencoba Meyakinkan Diri Sendiri.

Bella berjalan menuju kamarnya, pikirannya terbang entah ke mana-mana, perasaan bersalah, khawatir, takut semua menjadi satu dan  karena itu dia melampiaskannya dengan cara me*meras tangannya,  saat dia membuka pintu kamarnya, dia terkejut melihat Angga yang sudah ada di dalam kamarnya, biasanya jam seperti ini, Angga sibuk di ruang kerja atau pergi ke kantornya, Angga pun menoleh melihat istrinya yang terlihat sangat khawatir dan cemas.

Bella menutup pintu kamar mereka,  lalu berjalan mendekati suaminya dan  berhenti di hadapan Angga, Angga menatap Bella, Bella hanya memandang mata Angga yang hitam seolah mengatakan dirinya sedang begitu sedih melihat anak mereka seperti itu. Angga yang mengerti bahwa Bella membutuhkan dirinya langsung memeluk Bella tanpa aba-aba dan memang hal ini lah yang di butuhkan Bella, sebuah pelukan yang menenangkannya.

"Dia akan baik-baik saja," bisik Angga pada Bella, mengelus rambutnya dengan sangat lembut, Bella langsung terbenam dalam kehangatan tubuh Angga.

"Aku harap dia mengerti kenapa kita harus melakukan ini," kata Bella pada Angga.

"Dia pasti mengerti, dia tidak akan menyalahkan kita," kata Angga lagi, itu lah ketakutan Angga, takut jika anak mereka menyalahkan mereka akan kepergian Archie dan Angga takut Suri pun pergi dari sini.

"Tak bisa kah kau membiarkan mereka mencarinya? kita bisa mengawasi mereka lebih ketat dan biarkan ibu dan Daihan mencari mereka, sebagai ibu aku tahu bagaimana rasa takutnya kehilangan anak, itu tak adil jika kau melarang mereka mencari Archie," kata Bella, mendengar kata-kata Bella Angga melepaskan pelukannya, Bella mengamati wajah suaminya, namun wajah Angga masih datar, dia masih menyimpan kekesalannya pada Archie.

"Aku belum bisa menerimanya," ujar Angga dengan sedikit nada kesal yang terdengar.

"Angga, bagaimana pun di sini adalah tempat Archie, dia pangeran mahkota, bahkan dia lebih berhak berada di sini dari pada kita, cepat atau lambat dia akan kembali ke sini dan kita tidak bisa melarangnya, Archie akan kembali, tugas kita lah yang sekarang menjaga Suri, lagi pula ini bukan sepenuhnya salah Archie, ini juga salah kita yang terlalu bebas dan percaya mereka," kata Bella pelan, lemah dan lembut agar bisa melunakkan hati suaminya yang sedang mengeras, dia tahu hanya dengan cara ini Angga bisa di ajak bicara.

Angga tampak berpikir, dia menjauh dari Bella sambil melihat ke segala arah berakhir dengan menahan tubuhnya di meja yang ada di sana, dia tampak begitu berpikir, Bella yang melihat kebimbangan suaminya langsung mendekatinya, mengelus pundaknya dengan sangat perlahan, membuat Angga menatap wajah cantik istrinya.

"Baiklah, aku akan mencabut larangan itu, tapi aku ingin jika Archie kembali, salah satu dari mereka harus menikah dengan orang lain, aku sudah berbicara dengan Jofan, kemungkinan aku akan menerima pinangan Jared," kata Angga menatap mata istrinya.

"Jared? Tapi itu akan membuat Suri makin tertekan, bukannya kita sudah berjanji …. " kata Bella kaget dengan keputusan suaminya, dia tak mau Suri menikahi orang yang tidak di cintainya, hal itu akan membuat Suri makin tertekan dan menderita, pernikahan bukannya untuk sesaat, itu untuk seumur hidupnya.

"Lalu? Kita tidak mungkin hanya mengawasi mereka saja," kata Angga mencubit pangkal hidung yang ada di antara alisnya.

"Biarkan aku bicara pada Suri, aku akan memberitahunya perlahan-lahan, jika memang tidak bisa, baru kau boleh melakukan tindakan akhir seperti ini," kata Bella sekali lagi membujuk suaminya.

"Baiklah, aku akan menunggu, namun jika tidak bisa dengan cara apa pun, aku akan menikahkan Suri dengan Jared, saat itu Archie baru boleh pulang," kata Angga dengan matanya yang sangat serius.

Bella mengulum senyumnya sedikit, lalu dia sedikit mengangguk.

"Baiklah Paduka Raja," kata Bella pada suaminya yang sudah berwajah begitu ketat, pasti dia sangat pusing memikirkan ini juga, Bella lalu mendekati suaminya dan dengan cepat Angga merangkulnya, membiarkan Bella bersandar dalam pelukannya, akhirnya dia bisa merayu suaminya.

-----***-----

Suri duduk termenung di ranjangnya memegangi liontin berbentuk ‘Hakuna matata’ yang diberikan oleh Archie saat dia kecil, dia memperhatikan liontin itu dan di ujung bibirnya sedikit terlengkung senyuman. Dia masih ingat betul saat Archie memberikan liontin itu pada Suri, saat itu Archie harus belajar di luar negeri dan sebelum mereka berpisah, Archie menyerahkan liontin itu pada Suri, mengalungkannya langsung di leher Suri.

"Ini akan mengantikan aku menjagamu selama aku tidak ada," ujar Archie kecil pada Suri

Suri mengangguk senang dan langsung tersenyum lebar, saat itu pula pertama kali Archie mencium Suri, dia mencium pipi Suri sebelum dia naik ke pesawat, hal itu membuat Suri kaget namun di saat itu pula Archie mencuri hati Suri, tak pernah bisa melupakan pria itu, dan hingga sekarang hanya Archie yang ada di hati dan pikirannya.

Tapi ke mana sekarang dia? Suri sudah menelepon nomornya berkali-kali dan semuanya tidak aktif, dia bahkan tak meninggalkan pesan apa pun pada Suri, entah apa yang sudah dipikirkannya, memang terkadang Suri tidak bisa menebak pikiran Archie.

Saat dia masih termenung menatap liontin itu dengan matanya yang benar-benar bengkak, membuat dia susah mengedipkan matanya, handphone Suri tiba-tiba bergetar, dia langsung cepat melihat ke arah handphonenya, secercah harapan yang sangat, semoga itu adalah Archie.

Namun harapannya segera hancur ketika melihat di layar itu terpampang nama William, dia mengamatinya sebentar, lalu mengangkat panggilan ini.

"Halo?" kata Suri dengan suara sedikit parau.

"Halo? Ada apa kak?" kata William semangat seperti biasanya.

"Sekarang kau ada di mana?" tanya Suri.

"Kira-kira jika jam segini aku biasanya di mana?"

"Rumah sakit?"

"Yap, seratus, maaf kak tadi aku harus ikut dokter spesialis visite, jam sekarang aku baru bisa duduk lega," kata William sambil menghempaskan tubuhnya di ruangan jaganya.

"Kapan kau pulang?" tanya Suri lagi.

"Eh, mungkin besok, aku harus mengganti jaga malamku karena acara kak Archie kemarin? ada apa kak? tumben sekali meneleponku seperti ini?" kata William sambil mengambil buku saku penyakit dalamnya.

"Kau tahu ke mana Archie?" kata Suri berharap setidaknya ada satu orang yang diberitahu Archie ke mana dia pergi.

"Kak Archie? tentu di istana, mungkin dia masih tidur jam segini, coba datang saja ke istananya," jawab William enteng, Suri mendengar itu langsung murung, ternyata William pun tak tahu ke mana Archie pergi.

"Archie pergi, dia pergi dari istana dari tadi pagi, Paman dan Bibi juga sudah sibuk mencarinya ke mana-mana, tapi mereka belum menemukannya," kata Suri memijat dahinya, terasa sangat penuh di sana.

"Benarkah? sial, dia tidak akan jadi membelikanku Mercedes," umpat William seperti kepergian kakaknya tidak menjadi soalan baginya, Suri mendengar itu hanya mengerutkan dahinya.

"Kenapa kau begitu santai, Archie pergi dan kau malah memikirkan mobilmu," kata Suri yang sudah bisa bertengkar dengan William.

"Alah, paling lama 3 hari dia sudah pulang, ingat waktu dia berumur 17 tahun, dan saat dia ingin diperkenalkan pada masyarakat, dia malah lari ke Swiss dan jalan-jalan di sana selama 1 minggu, ingat? Kita juga kaget, dan malamnya dia menghubungi Ayah mengatakan dia belum siap diperkenalkan menjadi pangeran, aku dengar hari ini dia akan diperkenalkan dan menjadi CEO perusahan Hexan, dan dia kabur lagi benar? Tunggu saja nanti malam, dia akan menghubungi Ayah dan Ibu," jelas William enteng.

Suri mendengar itu dengan seksama, benar, Archie pernah melakukan hal itu, tapi itu juga berbeda, Archie memberitahu Suri sebelumnya bahwa dia akan pergi ke Swiss, kali ini dia tidak mengatakan apa pun pada Suri, itu yang membuat Suri khawatir, apakah dia lupa? apakah pesannya tidak sampai? Atau bagaimana?, apa benar dia hanya lari dari tanggung jawab ini?.

"Semoga saja," kata Suri lemah. William yang mendengarkan itu sedikit lebih serius, mungkin Suri sudah menangis gara-gara ulah kakaknya.

"Tenang saja kak, dia akan baik-baik saja, " kata William.

"Terima kasih," kata Suri sedikit tersenyum, lebih nyaman sekarang setelah bicara dengan William.

"Ya, jangan lupa belikan aku burger nanti ya," kata William.

"Kau ini, selalu saja,"kata Suri dengan sedikit kesal, dia segera mematikan teleponnya.

Suri menarik napas panjang, melihat ke arah handphonenya, dia lalu membuka album foto yang ada di sana, melihatnya, memperhatikan foto Archie yang tampak tersenyum, bahkan belum sehari saja dia menghilang, Suri sudah begitu merindukannya.

"Di mana kau sekarang?" tanya Suri pada foto Archie.

Suri menutup foto Archie, lalu membuka aplikasi chat online, membuka dan mencari kontak Archie, dia lalu segera mengirimkan sebuah pesan dan dia menanti dengan cemas, jika memang Archie melarikan diri hanya untuk pergi menghindar, dia tidak perlu mematikan semua sosial medianya bukan?.

Dia memperhatikan handphonenya sambil menggigit bibirnya yang tipis itu namun yang dia harapkan sama sekali tidak terjadi, pesan itu tidak terkirim, dia merasa lemas kembali, Suri memutuskan untuk menunggu karena dia yakin tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, semuanya baik-baik saja, pasti Archie pergi memang karena tidak siap menjadi CEO, seperti yang pernah dia lakukan.

Suri tersenyum, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itulah alasan Archie pergi darinya, jadi  dia akan terus mengirimkan pesan untuk Archie, mengabarkan tentang apa pun yang dikerjakannya, jika nantinya Archie membuka handphonenya, dia akan menerima pesan itu, semoga saja, pikir Suri.

1
elsaanisya
sebelum ini udh ada novel ceritanya ya ? belum ngeh hubungan Archie sama suri
annisya yulianti
Huxley klo bucin serem ya, Angga vs Aksa dulu aja sampe ribet culik2an, tunggu ada yg mati dulu baru adem 😅
annisya yulianti
suri bego!
Tya Afat
Johan betul2 ksatria
Tya Afat
aku udah baca yg ke 4 kalinya. tetap suka
Tya Afat
aku mampir lagi. heheheh....ini sdh ke sekian kalinya membaca ulang. belum move on
Ayu Annisa
Jared Suri🫶🏻
Jin Noona
baca novel Quin dari tahun 2019, seingatku . sebelum adanya grup chat , dan mt nt hits d awal 2020 pas Corona sampe sepi seperti skrg . tapi aku ga pernah hapus mt , karena sering bolak-balik baca lagi karya ka Quin . entah sudah berapa kali. dan novel ini yang paling aku suka .
Tya Afat: samaaa....aku jg sukaaaaaaaa
total 2 replies
palupi
terimakasih 💐💕
palupi
Luar biasa
Wangintowe Tundugi
acting
Wangintowe Tundugi
tanya author pasti tau bang archi 😆
Wangintowe Tundugi
keren kamu ceyasa
Wangintowe Tundugi
hujan hehe
Wangintowe Tundugi
hanya author yg tau
Wangintowe Tundugi
siena entah utusan siapa
Wangintowe Tundugi
di part ini suri egois
Wangintowe Tundugi
kok sy merasa bukan ya
kafa ainshod
Sania di sandera Bapak e Jofan
kafa ainshod
strong Aurora
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!