Melinda Seorang gadis berusia 20 tahun terpaksa menikahi Pria lumpuh akibat ulah Ayahnya sendiri, Memiliki saudara tiri dan ibu tiri yang jahat.
Sikap sang ayah yang pilih kasih membuat Melinda sedih, ia ingin sang ayah kembali seperti dulu lagi.
Sampai hari itu terjadi, niat untuk memohon agar sang ayah tidak dipenjara membuat dirinya harus menerima persyaratan agar sang ayah terbebas dengan cara menikahi Raka Arafat pria yang kini tengah lumpuh.
Akankah kehidupan Melinda berakhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Mas Raka saja bisa mandi sendiri, kenapa aku tidak bisa? Aku pasti bisa,” tutur Melinda bermonolog.
Beberapa saat kemudian.
Almer dan Raka setelah melaksanakan sholat subuh, mereka berdua kompak bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan karena ada hal penting yang harus ke-duanya kerjakan.
Sebelum pergi, Almer memberi perintah kepada para bawahannya termasuk para pelayan untuk terus mengawasi gerak-gerik Indri dan menjaga cucu menantunya dengan baik.
Indri yang mendengar perintah itu merasa sangat kesal sekaligus tersinggung dengan sikap Almer terhadap dirinya.
“Apakah Kakek harus melakukan hal ini? Apakah aku terlalu menakutkan?” tanya Indri.
Indri tak terima dengan penghinaan yang dilakukan oleh Almer terhadap dirinya dan Indri semakin membenci sosok Melinda.
“Bukankah kamu tahu bahwa saya tidak menyukaimu?” tanya Almer dengan memberikan tatapan tak suka kepada Indri.
Melinda berjalan mendekat dan mencoba untuk menenangkan Almer.
“Kakek, tidak perlu mengkhawatirkan Melinda. Lagipula, Mbak Indri juga baik,” tutur Melinda.
Indri melenggang pergi menuju kamarnya dengan begitu angkuh. Ia tak menyukai sosok Melinda yang baginya adalah wanita bermuka dua.
Memangnya siapa dia? Benar-benar wanita penjilat yang tak tahu malu. (Batin Indri)
Almer menyentuh bahu Melinda dengan tatapan penuh kasih sayang, tatapan yang begitu tulus hingga membuat Melinda benar-benar merasa sangat nyaman karena memiliki Almer yang menyayangi dirinya seperti cucunya sendiri.
“Kakek, sepertinya kita akan terus membuang-buang waktu kalau begini,” ucap Raka dan memerintahkan sekretaris pribadinya untuk membawanya keluar.
“Raka!” Almer menoleh ke arah Raka karena begitu berani melenggang pergi begitu saja.
Reza yang tak lain sekretaris pribadi Raka, seketika itu menghentikan langkahnya dan kembali mendorong kursi roda Raka menuju Almer.
“Apakah ini cara kamu berpamitan dengan istrimu?” tanya Almer dengan suara yang begitu tegas sembari menahan amarahnya karena tak ingin membuat Melinda takut.
Raka menatap jengah istrinya dan kembali memainkan peran sebagai seorang suami yang baik dihadapan Sang Kakek.
“Istriku, suamimu ini ingin berangkat kerja, jaga diri dan baik-baik ya di rumah,” ucap Raka sembari menyentuh jemari tangan istri kecilnya dengan sangat hati-hati.
“Mas Raka semangat ya kerjanya,” balas Melinda dan perlahan menunduk untuk mencium punggung tangan suaminya.
Almer tersenyum puas ke arah Raka yang berusaha bersikap manis pada cucu menantunya.
Cucu dan Kakek itu akhirnya pergi meninggalkan Melinda.
Sekarang Kakek dan Mas Raka sudah pergi. Apa yang harus aku lakukan sekarang ini. (Batin Melinda)
Saat Melinda tengah sibuk melamun, tiba-tiba seorang pelayan wanita mendekat ke arahnya dengan sangat sopan.
“Nona Muda ingin makan sesuatu? Seperti buah-buahan atau cemilan?” tanya pelayan tersebut yang memperlakukan Melinda dengan sangat sopan.
“Saya tidak ingin apa-apa,” balas Melinda yang lebih ke tidak ingin merepotkan pelayan di rumah itu.
Melinda hanya ingin masuk ke dalam kamar karena hal tersebut yang paling penting untuk menghindari para pelayan yang ditakutkan akan terus menanyakan keinginannya.
Saat Melinda ingin masuk ke dalam lift, Indri tiba-tiba datang menghampiri Melinda dan masuk ke dalam lift bersama dengan Melinda.
Melinda hanya diam dan merasa canggung untuk berbicara dengan Indri. Melinda takut jika dirinya salah bicara dan malah membuatnya suasana hati Indri semakin panas.
“Apakah kamu senang menikah dengan kekasihku?” tanya Indri sembari menatap kuku jari tangan yang cantik.
Melinda yang menunduk, saat itu juga menoleh ke arah Indri dan disaat yang bersamaan pintu lift terbuka.
Mereka kompak keluar dari lift tersebut.
“Apakah kamu bisu? Tuli?” tanya Indri jengkel karena Melinda tak menjawab pertanyaan darinya.
Melinda tersenyum manis seakan-akan ia tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Indri. Mungkin dengan cara seperti itu Indri tidak lagi mendekat padanya.
“Saya tidak peduli dengan masa lalu Mas Raka dan Mbak Indri. Mau bagaimanapun, Mas Raka sekarang telah menjadi suami saya,” tegas Melinda berharap Indri saat itu juga pergi dari pandangannya.
“Wow, baru beberapa hari saja kamu sudah besar kepala ya. Kamu kira akan tinggal disini untuk selamanya? Seharusnya kamu ngaca dulu, kamu itu siapa dan Raka itu siapa? Lihatlah wajahmu ini, begitu kampungan, dekil dan sangat jelek,” ucap Indri yang sangat ingin menghina dan terus menghina Melinda.
“Memangnya kenapa kalau saya kampungan, dekil dan juga jelek?” tanya Melinda yang tak tahan dengan penghinaan yang dilakukan oleh Indri terhadapnya.
“Kamu!!” Indri dengan emosi mengangkat tangannya dan bersiap-siap untuk menampar wajah Melinda.
Melinda memejamkan matanya dan ternyata ada salah satu bodyguard yang datang tepat waktu untuk menghentikan perlakuan kasar Indri.
“Nona Muda sebaiknya masuk ke dalam kamar,” ucap bodyguard tersebut kepada Melinda.
Tanpa pikir panjang, Melinda masuk ke dalam kamar dan tak lupa menguncinya.
“Minggir kamu! Jangan mencampuri urusanku!” Indri seperti orang kesetanan, ia berteriak dan menendang pintu kamar Raka berulang kali agar Melinda segera keluar.
“Sebaiknya Anda menjauh dari Nona Muda,” tegas bodyguard tersebut dan menarik tangan Indri menjauh dari depan pintu Raka.
Indri mencoba melawan dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, tetap saja ia tak bisa karena kalah dengan tenaga seorang pria.
Jantung Melinda berdebar-debar dengan sangat kencang. Kalau saja bodyguard itu tak datang tepat waktu, Melinda tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi kepada dirinya.
“Mbak Indri ternyata sangat menyeramkan. Bagaimana kalau tadi tidak ada pengawal itu? Apakah aku mati di tangan Mbak Indri begitu saja?” Melinda berusaha untuk tetap tenang dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
Bodyguard itu melepaskan tangan Indri dan meminta Indri untuk tidak macam-macam terhadap Melinda.
“Oh, kamu sudah berani mengancam ku?” tanya Indri dengan berkacak pinggang seakan-akan ia tak takut dengan pria dihadapannya.
“Saya rasa apa yang baru saja saya katakan tadi sudah jelas, kalau Anda masih tak bisa diingatkan maka jangan salah saya kalau sampai Tuan besar maupun Tuan Muda mengetahui hal ini,” tegas Bodyguard.
“Beraninya kamu mengancam saya.” Indri yang kesal hanya bisa menghentakkan kakinya dengan penuh amarah dan melangkah pergi masuk ke dalam kamarnya.
Indri menangis di dalam kamarnya, posisinya benar-benar sudah tak dapat ia pertahankan lagi karena kehadiran Melinda. Mimpinya untuk menguasai harta dari keluarga Arafat sepertinya tidak pernah menjadi kenyataan sebelum Melinda benar-benar tiada dari dunia ini.
Semua ini gara-gara wanita kampungan sialan itu. Apa yang Kakek tua itu lihat dari wanita kelas rendahan itu? Bagaimanapun aku harus cepat-cepat menyingkirkan nya. (Batin Indri)
Saat Indri sedang marah, hal yang biasa ia lakukan adalah membuat kamarnya menjadi kapal pecah dan lagi-lagi para pelayan harus membereskan apa yang diperbuat oleh Indri.
*Tuhan Kita Berbeda* Kry. S.T.As syifa