Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Untuk Nadia
Teriakan Anwar membuat orang-orang melirik ke arahnya. Tak terkecuali, Bagas dan juga Safira.
"Ajari istri anda. Kita gak saling kenal, jadi gak usah membicarakan tentang orang lain pada kami," cetus pemuda itu tak gentar.
"Kamu ... Begini orang tuamu mengajarkan tata karma dan hormat pada orang yang lebih tua?" tunjuk Anwar.
"Sebelum menanya orang lain, ajarkan rasa tata krama pada istri anda sendiri," balas pemuda tersebut.
Anwar hendak membalas lagi, namun karyawan bandrek datang dan menghentikannya. Dan yang membuat Anwar dan Hesti malu, keduanya malah di suruh pergi.
Karena beberapa orang juga ikut menyalahi Hesti.
Safira dan Bagas hanya bisa geleng-geleng kepala. Keduanya, tak berniat membela ataupun sekedar menyapa pasangan langka itu.
Dan Anwar serta Hesti hanya bisa mendumel sepanjang jalan. Keduanya sama-sama saling membenarkan tindakan mereka.
✨✨✨
Nadia dan Wandi mulai intens membagi kabar. Jika Wandi mendekati Nadia dengan tujuannya. Dan Nadia juga sama.
Iya, setelah berpikir-pikir, mungkin Wandi bisa membawanya keluar kota. Dan dia akan mengunakan kesempatan itu untuk mencari kerja.
Walaupun hati kecilnya merasa bersalah, namun Nadia tetap pada pendiriannya.
Dan hari ini, Nadia dan Wandi memutuskan untuk bertemu di hilir sungai
Sore hari pun tiba. Dan disini lah, mereka. Wandi menatap kagum pada sosok Nadia.
Nadia tampil dengan dress berwarna maroon, tak lupa dia juga memakai make-up tipis untuk menunjang kecantikannya.
Wandi sendiri, memakai kaos hitam, dan celana jeans abu-abu tua.
"Kamu cantik," puji Wandi.
"Terima kasih," balas Nadia menunduk.
"Oya, ayahmu berencana menjodohkan kita,"
"Aku tahu," potong Nadia cepat.
"Terus, bagaimana pendapatmu?" tanya Wandi penasaran.
"Aku menyerahkan semua pada mereka. Toh, pilihanku sudah mereka tolak, kan?" ujar Nadia, menahan sesak.
"Kamu masih mencintainya?" tanya Wandi, mengernyit.
"Yang aku herankan, kenapa mereka memilihmu? Padahal, bang Wandi juga gak berpangkat. Sama seperti bang Bagas?" alih-alih menjawab, Nadia malah balik bertanya.
"Aku juga heran. Namun mereka beralasan, aku lelaki yang tepat untukmu," balas Wandi, teringat akan jawaban Anwar.
"Kamu yakin, itu alasannya?" tanya Nadia, seraya menyeruput capuccino.
Wandi menggaruk-garuk kepalanya, "kurang sih sepertinya. Tapi, aku memang lagi cari istri. Tak salahnya kita mencoba," balas Wandi.
"Baiklah, aku juga ingin segera keluar dari kampung ini ... Mungkin dengan begitu, aku bisa melupakan bang Bagas," ucap Nadia jujur.
"Tapi aku mau buat kesepakatan terlebih dulu. Kalo kamu jadi istriku, kamu harus janji akan menjaga semua rahasiaku," ujar Wandi menatap jauh kedepan.
Nadia mengernyit, "rahasia apa?"
"Kamu akan mengetahuinya kalo jadi istriku," balas Wandi.
Nadia manggut-manggut, "Kalo gitu aku juga ada permintaan. Kamu gak berhak, menuntutku untuk segera melupakan bang Bagas. Karena aku sendiri akan berusaha semaksimal mungkin, untuk segera melupakannya. Dan satu lagi, izinkan aku bekerja," balas Nadia, tanpa ragu.
"Tapi, untuk urusan ranjang. Aku akan tetap meminta hakku. Dan untuk nafkah, aku juga akn memberimu, semampuku," tambah Wandi.
Dan Nadia setuju.
Obrolan keduanya terus berlanjut. Tanpa di ketahui oleh orang lain, kalau mereka telah membuat rencana.
Dan mungkin, rahasia Wandi akan membuat Anwar ataupun Hesti murka, suatu hari nanti.
Pulang dari hilir sungai. Wandi memilih mampir di rumah Nadia.
Kedatangannya di sambut hangat oleh Hesti. Bahkan, dia segera menelpon suaminya untuk pulang.
Anwar yang mengetahui Wandi di rumah, membeli gorengan dan putu bambu, untuk suguhan.
Dia gak mungkin, membiarkan perut calon menantu pulang dalam keadaan lapar.
Walaupun sudah sore, Hesti mulai sibuk di dapur. Dia langsung menggoreng sisa ayam ungkep yang ada di kulkas. Tak hanya itu, dia mulai bikin sambal dan kuah bening untuk pelengkapnya.
Di ruang tamu, Anwar ngobrol dengan ramah. Dia bahkan, sempat meninggalkan Nadia dan Wandi untuk berbicara bersama.
Sampai akhirnya, Anwar kembali untuk memanggil Wandi untuk makan terlebih dulu.
"Gak usah repot-repot pak, bu ..." tolak Wandi sungkan.
"Ais ... Gak repot-repot kok ... Tamu memang harus dibikin senang dulu sebelum pulang. Apalagi, tamu istimewa seperti mu," balas Hesti tanpa malu.
Akhirnya, mereka berempat duduk di meja makan. Kini mereka sama-sama menikmati makan sore. Karena siang udah lewat, malam belum tiba.
✨✨✨
Malam harinya, Wandi sengaja bertamu di rumah Bagas. Sebelum benar-benar menikah dengan Nadia, dia ingin memberitahukan Bagas terlebih dahulu.
Sebab, Wandi gak mau hubungannya dengan Bagas putus, hanya karena seorang wanita.
Kini, keduanya duduk di lantai beralaskan tikar, di bawah rumah panggung milik Hayati.
"Bang, ada hal serius yang ingin aku sampaikan," ujar Wandi, setelah sebelumnya mereka basa-basi.
"Sudah ku duga ... Karena biasanya kamu main kesini, jika bukan baru tiba, ya ketika mau balik lagi ke kota," kekeh Bagas, mengambil wedang jahe yang sebelumnya di buatkan oleh istri tercintanya.
"Aku mau menikah," Wandi menghentikan ucapannya.
"Bagus dong, terus? Apa kamu kekurangan mahar? Berapa?" tanya Bagas, tulus.
"Aku mau menikah, dengan Nadia bang. Nadia mantan mu," ungkap Wandi jujur.
Wandi menatap intens ke arah Bagas, guna menangkap ekspresi sepupunya. Namun, tak ada reaksi apapun disana. Bahkan, terkejut, sekalipun.
"Jadi? Apa kamu kekurangan mahar?" kembali Bagas bertanya. Karena sesuatu yang menurutnya penting ialah, Wandi ingin minta tolong padanya.
"Abang gak apa-apa, aku menikah dengan Nadia? Abang ridha?" beruntun Wandi bingung, karena Bagas tak menunjukkan raut wajah patah hati, ataupun cemburu.
"Kenapa tidak, toh kamu dan dia sama-sama belum menikah. Kecuali, Nadia istri orang, baru abang akan melarangmu," kekeh Bagas.
Akan tetapi Bagas tahu, yang diinginkan Wandi bukan jawaban itu.
"Aku sudah punya kak Safira. Dan dia satu-satunya wanita yang aku cintai. Baik sekarang, nanti dan selamanya," tutur Bagas, serius.
"Terus Nadia?"
"Dia hanya masa lalu. Dan mungkin, dia memang jodohmu. Maka dari itu, keluarganya langsung setuju kalo dengan mu, kan? Bahkan kamu bukan pns ataupun bertitel seperti syarat yang mereka ajukan dulu," kekeh Bagas, dengan getir.
Namun, getir bukan karena Nadia. Melainkan, teringat akab hinaan yang dia dan orang tuanya terima.
"Kalo gitu, temani aku untuk melamarnya, bulan depan. Karena tiga hari ke depan, aku harus balik ke kota," pinta Wandi, kembali menguji Bagas.
"Bukan aku gak mau, ataupun aku cemburu. Tapi, pak Anwar telah menyumpahi kami sekeluarga untuk tidak menginjakkan kaki di rumahnya," papar Bagas, menepuk-nepuk bahu Wandi. "Kamu tenang saja, doaku, selalu menyertaimu ..." sambung Bagas.
*
*
Apa rahasia Wandi sebenarnya? Ikut terus ya, dan terima kasih untuk kalian yang masih setia di ceritaku ini.
bisa mati mendadak bapakmu kalo tau.
awas kena azab nanti kamu wandii