Seno adalah seorang anak petani yang berkuliah di Kota. Ketika sudah di semester akhir, ia menerima kabar buruk. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan bus.
Sebagai satu-satunya laki-laki di keluarganya, Seno lebih memilih menghentikan pendidikannya untuk mencari nafkah. Ia masih memiliki dua orang adik yang bersekolah dan membutuhkan biaya banyak.
Karena dirinya tidak memiliki ijasah, Seno tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Mengandalkan ijasah SMA-nya pun tidak jauh berbeda. Maka dari itu, Seno lebih memilih mengelola lahan yang ditinggalkan mendiang kedua orang tuanya.
Ketika Seno mulai menggarap ladang mereka, sebuah kejutan menantinya.
----
“Apa ini satu buah wortel dihargai tujuh puluh ribu.” Ucap seorang warganet.
“Mahal sekali, melon saja harga lima puluh ribu per gramnya. Ini bukan niat jualan namanya tapi merampok.” Ucap warganet yang lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PH 22 Bazaar Dimulai (revisi)
Seno memandang booth miliknya. Di booth miliknya sudah ada perkedel yang tertata rapi. Jika saja ini bukanlah hari kerja, maka saat ini Seno akan ditemani salah satu adiknya untuk berjualan. Sayangnya adik-adiknya sibuk dengan sekolah masing-masing.
Harga yang Seno tetapkan untuk setiap perkedel kentang miliknya adalah lima ribu rupiah untuk satu perkedelnya. Ini akan membuatnya tidak rugi terlalu banyak karena perlu mempekerjakan orang lain untuk membatunya memasak.
Tidak lama kemudian, bazaar yang mereka ikuti dimulai. Banyak pengunjung yang mulai berdatangan. Seno dan Renata sekarang tengah melayani pelanggan pertama di booth mereka.
Dia adalah Anton, seorang mahasiswa di kampus ini. Anton mengunjungi booth milik Seno karena tertarik dengan X banner yang Seno pasang. “Perkedel Kentang Sangat Mengenyangkan”. Begitulah yang tertera di X banner tersebut.
Anton sendiri memiliki tubuh yang cukup berisi. Dengan tinggi seratus tujuh puluh centimeter, Anton memiliki berat badan seratus sepuluh kilo. Ia sangat suka sekali makan sehingga memiliki tubuh dengan berat seperti ini.
Itu karena selama ini, Anton merasa selalu lapar. Jadi, ia tidak bisa untuk menghentikan memakan beberapa camilan untuk mengganjal perutnya.
“Apakah ini benar-benar bisa mengenyangkan?” Tanya Anton ingin memastikan.
“Silahkan dibeli dan dicoba sendiri Mas. Kalo emang nggak sesuai, uang milik Mas akan kami kembalikan.” Jawab Seno.
“Benarkah?” Tanya Anton tidak percaya.
Tidak biasanya ada pedagang yang seperti itu. Apalagi di bazaar kampus seperti ini. Biasanya mereka yang berjualan di bazaar seperti ini adalah pengusaha-pengusaha muda yang juga masih berstatus sebagai mahasiswa.
Jadi, mereka tidak akan pernah mengatakan akan mengembalikan uang pelanggan jika apa yang mereka deklarasikan tidak sesuai. Meski itu hanya lima ribu rupiah, tetapi jika ada banyak yang tidak puas, apakah mereka tidak akan rugi nantinya?
“Tentu saja benar Mas. Lagipula ini adalah hari pertama bazaar. Besok kami masih harus berjualan lagi di sini. Jadi, jika kami berbohong di hari pertama berjualan, maka besok kami tidak akan mendapatkan apapun. Itu juga akan merusak citra kami.” Jelas Seno.
“Hem… benar juga yang Kamu katakan. Kalau begitu, aku pesan tiga porsi.” Ucap Anton.
Jika memang itu mengenyangkan tidak masalah untuk Anton membeli tiga buah. Lagi pula, harganya cukup murah, hanya lima ribu.
“Maaf Mas, di sini satu orang hanya bisa pesan satu saja. Kalau nanti Mas-nya masih sanggup makan lagi, barulah kami akan menjual porsi kedua.” Jelas Seno.
“Eh kalian memiliki aturan seperti itu?” Tanya Anton sembari melebarkan matanya.
“Ya. Kami tidak mau makanan yang kami jual menjadi mubazir. Jadi, ada pembatasan pembelian di booth milik kami.”
“Baiklah kalau begitu, buatkan aku satu porsi perkedel kentang.”
Langsung saja Seno mengambil satu buah perkedel dan membalutnya dengan tepung sebelum menggorengnya.
Melihat Seno yang hanya menyiapkan satu buah perkedel kentang membuat Anton mengerutkan keningnya. Ia pikir satu porsi itu beberapa buah perkedel kentang. Tetapi ternyata mereka hanya akan memberinya satu perkedel kentang.
Jika begini, lima ribu termasuk cukup mahal untuk makanan seperti ini. Tetapi Anton menahan dirinya untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini. Lagi pula, ia tidak akan membayar kentang itu jika itu tidak berhasil membuatnya kenyang. Maka dari itu Anton tidak akan protes kepada Seno.
Tidak lama kemudian, perkedel kentang pesanan Anton sudah matang. Seno hanya memasaknya hingga telur yang membalut perkedel itu berubah kecoklatan. Lagipula, kentangnya ini sudah matang. Jadi, itu tidak perlu dimasak cukup lama.
“Ini pesanan Mas.” Ucap Seno sembari menyerahkan perkedel kentang yang masih panas kepada Anton.
“Ini lima ribu uang pas. Jangan diambil dulu. Aku ingin membuat pembuktian dulu. Setelah itu, kalian bisa mengambil uang itu.”
Uang tersebut Anton taruh di atas meja tempat Seno berjualan. Ia tetap memegangi uang itu dengan tangan kirinya sementar tangan kanannya kini membawa perkedel kentang buatan Seno. Ia kemudian meniupi kentang tersebut sebelum memakannya.
Seno sendiri tidak memburui laki-laki itu. Lagi pula, meski pengujung mulai berdatangan, bazaar ini belum terlalu ramai. Jadi ia tidak mepermasalahkan Anton yang masih berdiri di depan booth miliknya.
Tidak butuh waktu lama untuk Anton menghabiskan kentang tersebut. Tidak lama setelah itu, Anton merasakan perutnya kenyang. Itu sama seperti dirinya yang memakan tiga piring makanan sekaligus. Sangat kenyang.
Bahkan sekarang Anton sama sekali tidak memiliki niatan untuk membeli makanan lainnya di bazaar ini, seperti niat awalnya.
“Itu benar-benar mengenyangkan.”
“Tentu saja. Itu sudah dijelaskan di banner kami. Jadi, apakah Kamu sudah mau membayarnya atau Kamu masih ingin memegang uang itu lebih lama lagi?” Tanya Seno.
Anton baru sadar bahwa dirinya masih memegang uang yang seharusnya ia bayarkan untuk kentang di tangannya.
“Ah maaf aku hampir lupa.” Ucap Anton sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Terima Kasih Mas, sudah membeli kentang Kami. Mas bisa kembali lagi besok untuk membeli kentang ini lagi.” Ucap Seno.
“Kenapa aku harus kembali besok? Tidak bisakah aku membelinya lagi nanti sore? Bukankah bazaar ini sampai sore ya?”
“Itu karena kentang ini bisa memberikan rasa kenyang hingga dua puluh empat jam. Jadi, meskipun kami masih di sini sampai sore nanti, belum tentu kamu bisa memakan kentang ini lagi.”
“Kamu sedang tidak membual bukan?” Tanya Anton sembari mengerutkan keningnya cukup dalam.
“Tentu saja tidak. Kamu bisa membuktikan hal ini sendiri. Ajak saja temanmu yang lain untuk melakukan pembuktian, jika kurang dari dua puluh empat jam kalian sudah kembali lapar, maka aku akan mentraktir kalian makan.”
Seno yakin dengan cara ini beberapa mahasiswa yang tengah menghemat uang mereka akan tertarik untuk mencoba membeli kentang miliknya. Mereka pasti akan tertarik dengan tawaran traktiran makan dari Seno.
Seno sendiri masih berstatus sebagai mahasiswa. Ia sendiri juga pernah berkeliling mengikuti seminar gratis di beberapa fakultas yang memberikan nasi kotak sebagai konsumsi. Itu sangat menghemat biaya makannya.
“Apa janjimu itu bisa dipegang?” Tanya Anton memastikan.
“Ambil aja fotoku. Terus ikuti juga akun sosial media milikku. Dengan begitu, jika aku ingkar, kalian akan bisa mencari keberadaanku dan menuntut janji itu.” Jawab Seno.
Mendengar hal itu, Anton cukup senang. Langsung saja ia menghubungi beberapa temannya untuk memberitahu mengenai kabar baik ini.
“Baiklah aku akan menghubungi beberapa temanku dan memberitahu mengenai hal ini.” Jelas Anton.
Setelah kepergian Anton, booth milik Seno masih dikunjungi beberapa orang. Tidak ada satu pun yang menanyakan apa yang Seno tuliskan di X banner. Jadi, mereka membeli begitu saja perkedel kentang yang dijual Seno.
Seno mendengar beberapa dari mereka mengeluh bahwa perkedel kentang yang dijual Sneo telalu mahal dengan ukuran segitu. Tetapi, Seno berpura-pura menulikan telinganya. Ia tidak menggubris perkataan mereka.
Menurut Seno, ini adalah harga yang murah. Sebelumnya laki-laki malah ingin mematok harga sepuluh ribu per buah, sekarang berganti menjadi lima ribu. Juga, lima ribu untuk jatah makan seharian, adalah harga yang sangat murah.
“Hem… baru dua kentang yang sudah dikonsumsi. Itu berarti, aku sudah menjual dua puluh buah perkedel kentang.” Gumam Seno setelah menghitung pendapatan yang ia terima dari berjualan.
Ini cara yang cukup lambat menurut Seno. Ia tidak sepenuhnya yakin dengan berjualan dua hari di sini, ia bisa menyelesaikan misinya.
Pengunjung bazaar ini dalam sehari mungkin hanya dua ratus hingga lima ratus orang. Itu pun tidak akan semuanya membeli perkedel kentang milik Seno.
“Semoga saja pemuda tadi membawa masa yang cukup banyak untuk datang ke booth milikku.” Gumam Seno. Seno hanya bisa berharap pemuda yang sebelumnya membeli ketangnya bisa mengajak banyak orang untuk mencicipi kentangnya.
Tidak lama setelah Seno berucap demikian, ia melihat pemuda dengan tubuh berisi yang tadi membeli kentang miliknya. Beberapa orang mengikuti pemuda itu.
“Baru juga diomongin eh datang juga dia. Meski cuma lima, tetapi lumayan lah dia bawa orang sebanyak ini.” Gumam Seno.
“Nah ini dia lapak yang jualan kentang yang aku bilang tadi.” Ucap Anton kepada teman-temannya.
“Mas beneran kalo kita laper lagi dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah makan kentang ini, Mas akan traktir kita makan?” Tanya salah satu teman Anton.
“Ya tentu. Tetapi, harga dari makanannya tidak akan lebih dari dua puluh ribu. Setara nasi kotak seminar lah. Aku sanggupnya mentraktir kalian makan dengan menu seperti itu. Jika kalian berminat, maka kalian bisa membeli kentang milikku.”
“Baiklah.”
Kelima teman Anton tersebut membawa masing-masing satu buah perkedel kentang. Setelah menghabiskan kentang tersebut, mereka tiba-tiba merasa kenyang.
“Ini seperti yang Anton ceritakan. Eh jangan-jangan kenyangnya kita ini karena hipnotis ya?” Tanya salah satu dari mereka.
“Nggak mungkinlah hipnotis. Kalo hipnotis ga akan bertahan lama. Sore nanti pasti kita laper lagi. Kita tunggu aja sampai sore nanti. Jika sore nanti kita merasa lapar, berarti kita memang di hipnotis.” Jawab yang lain.
Anton dan kelima temannya itu pun pergi dari bazaar itu. Saat ini perut mereka cukup kenyang jadi, tidak ada yang akan mereka lakukan lagi di bazaar ini. Apalagi ini bukan akhir pekan. Mereka masih memiliki kelas yang harus mereka ikuti setelah ini.