Bayu, seorang penyanyi kafe, menemukan cinta sejatinya pada Larasati. Namun, orang tua Laras menolaknya karena statusnya yang sederhana.
Saat berjuang membuktikan diri, Bayu tertabrak mobil di depan Laras dan koma. Jiwanya yang terlepas hanya bisa menyaksikan Laras yang setia menunggunya, sementara hidup terus berjalan tanpa dirinya.
Ketika Bayu sadar dari koma, dunia yang ia tinggalkan tak lagi sama. Yang pertama ia lihat bukanlah senyum bahagia Laras, melainkan pemandangan yang menghantam dadanya—Laras duduk di pelaminan, tetapi bukan dengannya.
Dan yang lebih menyakitkan, bukan hanya kenyataan bahwa Laras telah menikah dengan pria lain, tetapi juga karena pernikahan itu terpaksa demi melunasi hutang keluarga. Laras terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan dikhianati suaminya.
Kini, Bayu harus memilih—merebut kembali cintanya atau menyerah pada takdir yang terus memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Pupus
Dokter mengangguk. “Kondisi ini menyebabkan otot-otot di area intim Anda mengalami kejang yang tidak terkendali saat terjadi penetrasi, sehingga akan sangat sulit, bahkan hampir mustahil untuk melakukan hubungan suami istri tanpa rasa sakit yang luar biasa.”
Laras merasa kepalanya berputar. Kata-kata dokter itu terdengar seperti ledakan di telinganya. Tangannya mencengkeram lengan kursi, berusaha menenangkan gejolak yang berkecamuk dalam dirinya.
Edward masih tetap diam, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, tetapi sorot matanya menggelap. “Apa penyebabnya?” tanyanya akhirnya.
“Bisa karena faktor psikologis atau fisik,” jawab dokter. “Namun, dalam kasus Laras, kami belum menemukan penyebab yang pasti. Butuh terapi jangka panjang jika ingin memperbaiki kondisinya.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Laras berusaha menyiapkan hati mendengar kabar buruk selanjutnya.
"Dan ada satu hal lagi,” dokter melanjutkan, kini suaranya lebih berat. “Kami juga menemukan bahwa Anda memiliki penyakit pembuluh darah rapuh. Ini bisa berarti dua hal: kemungkinan besar Anda memiliki Ehlers-Danlos tipe vaskular atau hemofilia berat.”
Laras merasakan darahnya berdesir. Ia menggeleng pelan, mencoba memahami arti dari kata-kata itu.
Dokter menghela napas pelan sebelum melanjutkan. “Dalam kondisi ini, pembuluh darah Anda lebih rentan pecah dibandingkan orang normal. Cedera kecil saja bisa menyebabkan pendarahan serius. Kehamilan pun akan menjadi risiko besar karena ada kemungkinan perdarahan internal yang fatal.”
Edward akhirnya bersuara, suaranya dingin dan datar. “Apa artinya ini untuk masa depan kami?”
Dokter tampak ragu sejenak sebelum menjawab. “Kehamilan akan sangat berbahaya bagi Nona Laras. Saya sarankan untuk mempertimbangkan dengan matang jika berencana memiliki keturunan.”
Seolah itu belum cukup, dokter mengambil satu lagi hasil pemeriksaan genetik dan menyodorkannya ke Edward. “Dan ini hasil uji genetik Anda berdua. Jika Anda dan Nona Laras memiliki keturunan, kemungkinan besar anak yang lahir akan mengidap penyakit genetik seperti sel darah sabit, hemofilia, atau Tay-Sachs. Ini bukan sekadar kemungkinan kecil—persentasenya cukup tinggi.”
Ruangan terasa semakin mencekam. Laras ingin berbicara, tetapi lidahnya kelu. Rasanya dunia sedang runtuh di sekelilingnya.
Kata-kata itu bagaikan palu godam yang menghantam dada Laras.
Hidupnya… tidak akan pernah sama lagi.
Bayu.
Nama itu tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Bayu, yang selalu mencintainya, melindunginya, yang pernah ingin membangun masa depan bersamanya. Masa depan yang kini terasa begitu jauh, begitu mustahil.
Tangannya gemetar saat ia menundukkan kepala, jemarinya mencengkeram bajunya lebih erat. Pikirannya kembali ke Edward.
Jadi… jika Edward menginginkan pernikahan yang 'sempurna', ini tidak akan berhasil.
Pernikahan ini… bisa dibatalkan, 'kan?
Jantungnya berdebar keras. Ia ingin melihat ekspresi Edward. Ingin tahu apa yang dipikirkan pria itu. Apakah ini akan menjadi momen di mana Edward akhirnya menarik diri dan mengatakan bahwa pernikahan ini tidak perlu dilanjutkan?
Jika iya…
Maka itu akan menjadi kebebasannya.
Ia menunggu.
Menunggu.
Namun, Edward tetap diam.
Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Tidak ada kemarahan. Tidak ada tanda-tanda penyesalan.
Hingga akhirnya Edward tersenyum tipis. Senyum yang tidak menyiratkan keterkejutan atau kekecewaan—melainkan kepuasan yang mengerikan. Ia meletakkan hasil tes itu kembali ke meja, lalu menatap dokter dengan sorot mata tajam.
“Menarik,” katanya pelan. “Tapi tidak ada yang berubah.”
Laras menoleh dengan napas tercekat. “Apa maksudmu?”
Edward menatap Laras lama, lalu melangkah mendekat. Suaranya lirih, namun dinginnya menusuk hingga ke tulang.
“Aku tetap akan menikahimu, Laras.”
Jantung Laras berdegup kencang. Ia mencari alasan di balik keputusan itu, tetapi yang ia temukan hanyalah senyum sinis Edward—sebuah senyum yang tak memberi ruang untuk bantahan.
Dokter di samping mereka terlihat ragu. “Tuan Edward, dengan risiko yang ada, mungkin Anda perlu mempertimbangkan—”
“Aku tidak peduli dengan risiko,” potong Edward, suaranya tenang namun penuh ketegasan. “Yang aku inginkan hanyalah apa yang harusnya menjadi milikku.”
Laras menggigit bibir. Ada sesuatu yang menggeliat dalam dirinya—bukan hanya ketakutan, melainkan firasat buruk yang kian menguat.
Kenapa?
Setelah semua yang terjadi, mengapa Edward masih bersikeras menikahinya? Bukankah ini alasan yang cukup baginya untuk mundur?
Ia ingin berbicara, tapi kata-katanya terperangkap di tenggorokan.
Dokter itu akhirnya pergi dengan wajah kaku, meninggalkan mereka berdua dalam kesunyian yang mencekam.
Laras menatap Edward, .masih menyimpan secuil harapan—mungkin ini akan membuat pria itu mengurungkan niatnya.
Mungkin, setelah mengetahui bahwa ia takkan pernah menjadi istri yang "sempurna", Edward akan berpikir ulang.
Mungkin… inilah jalan keluarnya.
Dengan napas berat, Laras memberanikan diri. "Edward… Kau paham, 'kan? Aku tidak bisa memberimu anak. Aku tidak bisa menjadi istri yang normal."
Edward diam, tatapannya tak berubah—dingin dan tak terbaca.
Laras merasakan dadanya sesak. "Aku tahu kau membenciku. Kau hanya menikahiku karena ego, karena aku pernah mempermalukanmu. Tapi kau tidak perlu meneruskannya. Kita bisa membatalkan semuanya. Aku rela."
Edward mengamatinya lama, lalu akhirnya berkata, "Terlalu mudah."
Laras mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Edward tersenyum tipis—senyum yang membuat Laras tidak nyaman. Tanpa peduli pada kebingungannya, ia menoleh ke dokter yang masih berdiri di pintu.
“Tidak peduli kau punya vaginismus atau Ehlers-Danlos, aku pastikan kau cukup sehat untuk menikah besok.”
Laras merasa bumi runtuh di bawah kakinya.
Edward melangkah lebih dekat, tangannya masuk ke dalam saku celana. Ekspresinya tetap datar, seolah tak ada yang bisa menggoyahkannya.
"Kau kira aku akan membatalkan pernikahan hanya karena ini?" Suaranya rendah, dihiasi tawa pendek yang penuh ejekan. "Laras, kau terlalu polos. Jika aku mundur sekarang, itu berarti kau menang."
Dia mencondongkan badan, senyumnya semakin arogan. "Dan aku tidak suka kalah."
Laras merasa napasnya tertahan.
Jadi… inilah alasannya? Bukan karena cinta, bukan karena tanggung jawab—hanya karena ego?
Harapannya hancur.
Ia berharap Edward akan melepaskannya, tapi nyatanya, pria itu terlalu keras kepala untuk mengalah. Bahkan setelah tahu kondisinya, Edward tetap bersikeras.
Hanya karena ia tak mau dianggap kalah.
Laras menarik napas dalam, matanya mulai berkaca-kaca.
Tidak ada jalan keluar.
Pernikahan ini akan tetap terjadi.
"Aku tidak akan pernah menjadi istrimu yang sempurna," bisiknya, suaranya gemetar.
"Tidak masalah." Edward mendekat, pandangannya tajam. "Aku tidak menikahimu untuk itu."
"Lalu untuk apa?"
"Untuk menundukkanmu."
Senyumnya melebar, tapi tak ada kehangatan di sana.
"Untuk membuktikan bahwa tidak ada wanita yang bisa menolakku—bahkan kau."
Laras mengepal tangan, berusaha menahan getaran yang menguasai tubuhnya.
"Tapi aku—"
"Kau tidak bisa lari lagi." Edward memotong, suaranya seperti baja. "Besok, kau akan menjadi istriku. Bukan milik Bayu, bukan milik siapa pun. Milikku."
Air mata Laras akhirnya tumpah.
Ia berharap Edward akan menyerah—bahwa pria itu akan menganggapnya cacat dan meninggalkannya.
Tapi nyatanya?
Edward tidak peduli.
Bagi dia, pernikahan ini bukan tentang cinta atau masa depan—hanya tentang balas dendam.
Dan Laras tidak punya pilihan.
Dokter itu pergi setelah berdeham canggung, meninggalkan mereka dalam kesunyian yang berat.
Edward memandanginya sekali lagi, lalu berkata dengan kepuasan, "Istirahatlah. Besok adalah hari penting kita."
Ketika pintu tertutup, air mata Laras mengalir deras.
Harapannya pupus.
...🍁💦🍁...
.
To be continued