Ayu terkejut ketika menerima sebuah kiriman foto dari temannya yang memperlihatkan gambar dua orang yang sedang duduk berdampingan.
Air matanya mengalir seketika. Tidak percaya, lantas memperbesar gambar guna melihat lebih jelas. Luruh dan hancur hatinya saat ia yakin jika itu adalah wajah suaminya.
Ia yakin dan melihat dengan jelas siapa pria yang mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan pria berjas hitam di depannya. Suaminya duduk dengan seorang wanita, di bawah kerudung yang sama.
Ayu tidak percaya suami yang sangat dicintainya, yang sudah bersama menjalani tujuh tahun mengarungi bahteta rumah tangga kini telah membohonginya dengan dalih urusan pekerjaan di luar kota.
Bagaimana Ayu akan bersikap selanjutnya? Apakah Ayu akan meminta cerai? Atau menerima dirinya di duakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon trias wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Meminta Keadilan
Apa aku salah dengan apa yang aku lakukan? batinku. Karena kejadian tadi siang itu aku jadi malas melakukan semua hal. Hanya menyenangkan pikiranku dengan cara menulis. Aku juga lupa untuk mengisi perutku sendiri.
Mas Hilman kembali lagi ke kamar setelah hampir satu jam, tumben sekali. Biasanya jika dia sudah keluar dari kamar ini dia tidak akan kembali ke sini hingga pagi hari.
Dia selesai membuka sepatunya lalu kemudian bangkit ke arah lemari.
"Malam ini aku tidur di kamar Hana. dia sakit perut karena tadi makan mie instan. Kenapa kamu keterlaluan sekali, Hana sekarang tidak bisa makan sembarangan!" Mas Hilman berbicara, nada suaranya terdengar kesal.
Aku menoleh kepadanya. Sama sekali tidak tahu apa yang Hana makan, aku yakin di dapur masih ada sisa sayur siang hari, ikan dengan bumbu merah yang aku masak tadi pagi. Bukan tidak ada sayur sama sekali seperti yang Mas Hilman katakan tadi. Kebiasaan Mas Hilman memang aku harus memasak lagi jika sayur terlihat sedikit untuk makan malam, kalau-kalau Mas Hilman ingin makan tengah malam.
"Kenapa juga dia gak makan sayur? Aku kira sayur masih ada. Kenapa harus makan mie instan?" tanyaku. "Aku malas masak, bukan berarti juga gak ada yang gak bisa dimakan! Mas lihat saja di lemari. Makanan ada." ujar ku dengan sewot menatap ke arahnya.
"Hana gak mau ikan, dia mual dengan aromanya."
Aku semakin jengkel mendengar ucapannya.
"Yu, Mas mohon. Tolong kamu juga ikut menjaga Hana dan bayinya. Hanya sediakan makanan yang dia mau, gak lebih dari itu. Mas gak bisa setiap saat ada untuk menjaga dia, untuk sediakan makanan apa yang dia mau. Hanya kamu yang Mas bisa mintain tolong, Yu. Mas mau minta tolong sama siapa lagi kalau bukan sama kamu?" tanya Mas Hilman dengan menatapku tajam.
"Aku mana tau, Mas. Kamu tau kan tadi pagi sebelum aku berangkat kerja aku sudah masak, siang juga aku lihat sayur sudah berkurang. Berarti dia gak masalah kan dengan apa yang aku buat? Dan lagi, aku juga tadi baru pulang sore Mas. Aku capek! Lagian penjual sayur matang juga ada di dekat sini. Isi kulkas juga banyak stok makanan kalau memang dia mau masak lagi. Kenapa harus aku yang sediakan semua makanan Hana?" tanya ku lagi. Ada apa dengan Mas Hilman ini? Hanya karena makanan saja dia sampai marah seperti ini.
"Mas bisa gak sih jangan selalu membuat aku seperti kacung di rumah ini? Aku ini juga istri kamu, Mas. Ada saatnya aku lelah! Semua aku yang kerjakan, soal makanan pun aku yang harus sediakan. Dan lagi, kamu ... perhatian kamu lebih banyak untuk dia. Mana kamu perhatian sama aku seperti dulu, Mas?" protesku panjang lebar.
"Aku capek Mas. Tadi ibu juga datang kesini dan kamu tau apa yang ibu bilang? Ibu menyangka aku hanya main kelayapan di luar. Padahal jelas Hana melihat aku keluar untuk mencari pekerjaan, tapi dia gak bilang sama ibu kalau aku keluar untuk itu sampai-sampai ibu menyangka aku main saat kamu gak ada di rumah dan Hana mengerjakan semua tugas yang sudah aku lakukan sebelum berangkat. Ibu menyangka aku gak kerjakan apa-apa dan tega dengan dia yang sedang hamil. Aku capek Mas! Aku capek di tuduh seperti itu terus sama ibu. Kalau kamu mau Hana terjamin makanannya, lebih baik kamu panggil saja seseorang untuk siapkan semua yang dia mau, semua yang dia butuhkan!" Tak sadar omonganku melantur kemana-mana. Di dalam dada ini rasanya panas sekali.
Mas Hilman terdiam dengan apa yang aku bicarakan. Dia menghela napasnya dengan berat. Kepalanya tertunduk menatap ke lantai lalu menatapku dengan tatapan sedihnya.
"Kamu tau aku gak mampu untuk itu, Yu. Bahkan aku saja hanya pegang uang untuk bensin saja selama ini. Aku bingung, Yu." Mas Hilman berkata dengan nada rendah dia tidak berani menatapku. Aku mengusap keningku dengan kasar, ingin marah tapi marah dengan siapa. Rasanya kepala ini berdenyut hebat.
"Mas tau nggak sih? Kamu itu nggak adil selama ini. Kamu selalu saja memikirkan dia, dan kamu juga selalu khawatir dengan dia ...."
"Kamu kok bilang begitu sih? Aku tidak adil bagaimana? Aku hanya khawatir sama dia," ucap Mas Hilman memotong ucapanku.
"Ya tentu saja enggak adil, Mas. apa kamu nggak merasa selama ini kalau kamu lebih sering menghabiskan waktu dengan dia? Apa kamu tidak merasa kalau dia juga selalu mengganggu waktu kita berdua? Dan kamu selalu mendatangi Hana lalu nggak pernah kembali lagi ke sini sampai pagi. Apa kamu enggak merasa kalau itu tidak adil?" tanyaku dengan kesal.
"Aku minta maaf. Aku selalu panik kalau Hana memanggilku, apalagi dia selalu merasakan sakit di perut atau pinggangnya," jawab Mas Hilman.
"Apa kamu gak merasa kalau dia seperti berusaha untuk memisahkan kita? Menjauhkan kita?" tanyaku kepadanya. Seketika kepalanya berputar menoleh ke arahku.
"Kamu jangan berpikiran buruk seperti itu dong, Yu. Hana tidak mungkin melakukan itu kepada kita."
Aku kesal mendengar jawaban Mas Hilman, dia mungkin tidak tahu, tapi feelingku bilang kalau Hana memang sedang melakukan itu kepada kami.
"Kenapa kamu semakin menjadi melantur, Yu! Kamu tidak seperti ini sebelumnya!" Mas Hilman berkata dengan marah. Dia membentak ku. sekarang dia lebih sering berkata dengan penekanan nada seperti itu.
"Kamu seharusnya berterima kasih kepada Hana, karena dia sudah mau mengandung anakku!"
Entah kenapa Mas Hilman mengatakan hal itu. Dia sepertinya tidak terima dengan apa yang aku katakan hingga kini dia berdiri dan melemparkan dasinya di atas ranjang.
Tanpa berbicara apapun dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar ini.
A**pa aku salah? Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan.
Aku tidak mau berpikir apapun lagi. lebih baik aku tidur saja daripada aku memikirkan hal yang tidak perlu. Ini sangat menyakitkan hati ku. Mas Hilman kini tidak lagi seperti dulu. Sepertinya dia sudah banyak perubahan, apalagi dengan adanya Hana dan juga anak yang ada di kandungannya. Tidak bisa dipungkiri juga kalau hati ini merasakan sakit. Sakit karena ucapan ibu, sakit karena tidak adanya perhatian dari dia, dan juga sakit karena dia tidak percaya dengan ucapan ku.
Jika saja aku bisa, ingin sekali aku pergi. Akan tetapi, aku belum bisa melakukan itu. Saat ini hanya bisa bersabar, entah mungkin kesabaran ku ini apakah akan membuahkan hasil atau malah sebaliknya. Akan membunuhku!
Tidak! Aku harus kuat. Bagaimanapun juga ini karena ibu!
kwkwkwkw kalah duluan sm gara