Disarankan untuk membaca novel sebelumnya "Jodoh Sang Dokter Duda" karena disana ada silsilah seluruh keluarga ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Alana menutup pintu, lalu menguncinya
Alana naik keranjang, dan merebahkan Imran disana
Sambil tiduran, Alana menimang nimang agar Imran segera tidur
Tangan Imran sudah pandai mainan liontin yang menggantung dikalung Alana
Sambil minum susu dalam dot, Imran menarik kalung kekanan kekiri sesuka hati
Krawil
Kalung Alana putus
"Ya, patah dek"
Imran yang ditegur hanya tersenyum lebar, tapi matanya sudah tidak kuat menanggung beban
Akhirnya, Imran tertidur
Alana menaruh kalung dan liontinnya diatas meja lampu tidur dengan asal
Dan Alanapun tertidur karena kelelahan bermain dengan Imran sepanjang hari
-
Hanan mencari kunci duplikat kamar Alana, agar malam ini, ia bisa tidur bareng dengan Alana
Jam menunjukkan pukul 22:00
Hanan Sudan menemukan kunci duplikat tersebut.
Hanan naik kelantai 2, tapi bukan untuk kekamarnya. Melainkan kekamar Alana
Hanan mengambil kunci, lalu nemasukkannya pada pintu kamar Alana "Bisa"
Sebenarnya, jika Alana tidak menarik kunci dari dalam, dari luar tidak bakalan bisa memasukkan kunci duplikat
Hanan tersenyum "Ternyata, kau butuh aku untuk masuk kekamarmu Alana" Hati Hanan menyejuk
Cekleak
Hanan masuk kekamar Alana
Alana tidur meringkuk memeluk Imran. Seperti biasa, Hanan mengambil Imran, lalu memindahkannya kekamar Rasti
Hanan kembali kekamar Alana, tidak lupa, ia menguncinya kembali, dan memasukkan kuncinya pada saku. Siapa tau ngambeknya masih panjang kontraknya, Hanan masih bisa keluar masuk dengan kunci penolong galau
Hanan duduk disamping Alana tidur. Ia menoleh kelampu tidur "Kalung" Hanan mengangkatnya "Patah?"
Hanan kembali fokus pada pemilik kalung yang patah. Hanan mengusap punggung Alana, mencium pipi, lalu pucuk rambut Alana
Hanan merebahkan badannya disamping Alana tidur. Hanan memeluknya, ada rasa kangen yang begitu mendalam. Dicueki rasanya menyakitkan, tapi apalah daya. Kesalahannya, mungkin terlalu banyak, jadi inilah ganjaranya
Hanan sudah tertidur
Hanan tidak memikirkan berlayar dulu, walaupun malam ini rasanya sudah kangen berat. Namun apalah daya. Bisa tidur memeluk Alana saja sudah top. Yang penting, peluk peluk bisa, walaupun tanpa izin
Pagi harinya
Hanan sudah bangun duluan, karena ingin berlari dihari minggu, bersama para bapak yang mengontrak disini
Siang ini, jadwal arisan keluarga ada ditempat Hanan. Berarti Hanan akan mendapat duit banyak dong dari saudara saudaranya
Karena masih genjatan senjata, semua kepentingan menjamuh, ia pasrahkan pada Mama sifa. Sekaligus, memesan makanan, semuanya mama Sifa yang mengurusnya
-
Alana terbangun
Disampingnya sudah tidak ada Imran disana "Imran kemana?" Alana mencari kebawah tempat tidur, siapa tau jatuh, lalu ngumpet dibawah kolong tempat tidur "Nggak ada"
Alana berlari kebawah "Mbak mbak.... Mbak Rasti" Teriak Alana sambil mencarinya
"Eh non, mbak Rasti, dan bibik tadi keluar jalan jalan bersama den Imran. Katanya mau beli apa disuruh tuan non" Ucap pak Sholeh
"Oh, sama papanya juga?" Alana balik bertanya
"Aku disini " Hanan menghampiri Alana sambil membawa jajan pasar yang ia beli dipinggir jalan bersama bapak bapak "Ayo, kau pasti lapar kan? ini jajan kesukaanmu, kamir" Hanan memegang kedua pundak Alana dari belakang "Daddy haus bund, lapar juga" Hanan melepas tangannya dari pundak Alana, dan berpindah duduk dikursi makan
Alana kedapur untuk membuatkan minum untuk Hanan
"Bund, gulanya jangan banyak banyak ya bund" Teriak Hanan
Alana datang membawa dua gelas minuman
Ia duduk, lalu mendorong minuman untuk Hanan "Nggak manis, takut diabet sudah tua" Ucapnya tanpa senyum
Hanan sudah menerima gelas tersebut "Makasih, memandang bunda, lama lama juga manis sendiri"
"Uweeeeekk" Alana masih belum mau menerima rayuan dari Hanan, tapi lumayan. Alana sudah mau menjawab walaupun sepatah sepatah saja
"Ih, bunda tambah cantik kalau muntah begitu. Apa jangan jangan bunda..." Hanan mempraktikkan ibu hamil dengan tangannya didepan perutnya sendiri
"Pabriknya ditutup, nggak ada begitu begituan"
"Ih, bund.. Nggak boleh loh bicara seperti itu. Apa bunda tidak menginginkan bayi yang lahir dari rahim Bunda, hmm?"
"Orang pabriknya ditutup kok. Nggak produksi"
"Oh" Hanan tersenyum "Kapan bukanya bund, pemiliknya kan ingin kontrol"
"Nggak ada. Lagi digembok"
"Berarti ada kuncinya dong. Kuncinya mana bund"
"Nggak ada, semuanya sudah aku ikat"
Hanan berdiri menghampiri Alana. Wajahnya ia taruh diceruk leher Alana
Cup
Pipi Alana yang sudah menjadi sasaran empuk Hanan
Alana mendorong pipi Hanan
"Ih, minggir. Nggak usah nempel nempel atau rayu rayu. Nggak mempan"
"Masa ngambeknya lama bund... Nggak rugi nyuekin punya daddy bund"
"Sudah dibilang enggak ya enggak"
"Oh, jadi milik daddy dianggurin nih, nggak kangen?"
Alana tidak menjawab, tapi lirikannya membuat Hanan ngeri. Daripada singa betinanya ngamuk, mending Hanan bicara lainnya "Oiya bund, siang ini, kita dapat arisan"
"Kenapa baru ngomong !!" Alana berdiri
"Memangnya bunda mau ngapain" Hanan mendongak
"Kan kita mendapat jatah menjamuh juga. Terus menunya apa"
Hanan mengusap usap punggung Alana
Alana menggoyang goyangkan badan, agar Hanan tidak usah usap usap punggung Alana "Nggak usah pegang pegang, bisakan?!"
"Nggak bisa, tanganku gatal. Lama tidak membelai istri cantik kakak"
"Bohong !!"
"Dih istriku, jangan galak galak. Nanti kalau suamimu nggak peluk peluk, yang meluk siapa?"
Alana terdiam. Lalu Alana duduk kembali
Hanan mengambil tangan Alana, ia menaruhnya ditengah tengah tanggannya "Maafin daddy ya bund. Maafin daddy yang selalu kasar padamu"
Cup
Telapak tangan Alana dikecupnya
"Daddy cemburu bund "
"Cemburu sama siapa?" Alana tidak tau, karena dia tidak merasa menikung suaminya
"Sama mahasiswa yang berdasi" Hanan menatap Alana dalam "Pemuda itu bernama Budi. Dia pria yang lebih muda, lebih tampan. Pilihanmu kan? "
Alana terdiam
"Maafkan daddy ya bund. Daddy egois. Daddy nggak mau melepas bunda untuk Budi"
Hanan melepas tangan Alana, lalu melangkah keatas menuju kamarnya
Alana mengikuti arah Hanan melangkah. Menatap punggungnya, rasanya ingin menjerit dan memeluknya dari belakang. Tapi Alana takut dilempar oleh Hanan. Alana malu ditolak seperti kemarin. Harga dirinya hancur berkeping keping
-
Siang hari waktu arisan
Ilham dan Sifa sudah datang duluan. Seperti biasa, Ilham mengajak Imran jalan jalan kedepan, melongok sebelah kontrakan yang ramai
Ilham turun bersama Imran dalam gendongannya
"Oh, lagi pada ngumpul pak"
"Eh, iya pak dokter. Biasa, daripada berantem mending main catur. Siapa tau agustusan entar diikutkan turnamen" Jawab bapak bapak yang sedang konsentrasi dengan pionnya yang sudah diincar sama mentrinya musuh
"Oh gitu, sejuk ya pak disini" Tanya Ilham kembali sambil memperhatikan kuda yang akan ditelan oleh banteng
"Iya pak SKAK" Ucap pak Wardoyo kegirangan
"Wah aduh" Ilham ikut cenut cenut, tebakannya tepat
"Gimana sih brow... Gimana mau diikutin turnamen. Pionmu aja habis, ditambah kudanya lenyap. Tidur tidur tidur, gantian gantian gantian" Ucap Marsudi ingin menggantikan posisi Dayu yang kalah dikeok oleh Pakdhe Pipit
"Pakdhe sih, susah untuk ditaklukkan" Ucap Dayu kecewa
AHAHAHA
Tiba tiba
"Papa, tamu lainnya sudah pada datang, yuk masuk " Sifa memegang lengan Ilham
"Oh sudah pada datang?" Tanya Ilham
"Sudah, ikut grandma yuk" Sifa menjawab Ilham, sekaligus merayu Imran, tapi ditolak. Imran tidak mau diajak Sifa
"Mari pak kami permisi" Pamit Ilham
"Monggo monggo pak dokter"
BERSAMBUNG.....
saya suka saya suka saya suka