Hai, ini kisah pertamaku yang berkolaborasi dengan salah satu temanku Amanda. Karya ini murni hasil khayalan kami berdua. Semoga kalian suka ya? Ini cerita Kerajaan di abad 21.
Aithan Regner Cainio, adalah pangeran ketiga yang sebenarnya bukan ahli waris kerajaan. Makanya ia memilih menjauh dari istana dan akhirnya jatuh cinta pada Argani Christabel, seorang Mahasiswi asal Indonesia yang derajat sosialnya sangat berbeda jauh dari Aithan.
Setelah susah payah Aithan mendapatkan cinta Argani, ia justru dipanggil pulang ke istana untuk menjadi raja. Dan sebagai raja, Aithan hanya bisa menikah dengan putri bangsawan. Aithan hanya bisa menjadikan Argani sebagai selirnya. Sementara Argani tidak ingin cintanya dibagi.
Bagaimana Aithan dapat mempertahankan kedudukannya sebagai raja dibalik semua kelicikan di istana yang ingin menjatuhkannya? Apakah ia rela melepaskan cinta sejatinya demi tahta yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Aithan
Langkah Argani terhenti di depan pintu kamar. Sejak masuk ke apartemen mewah ini, ia langsung merasakan perbedaan antara dirinya dan Aithan yang begitu jauh. Mungkin tak masalah saat Aithan harus turun tangga. Namun bagaimana di saat Argani yang harus naik tangga?
"Ada apa, sayang?" Aithan yang berdiri di belakang Argani segera melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Ai, aku kembali ke asrama saja ya? Lagi pula semua peralatan kuliahku ada di sana."
"Aku dapat meminta Darren untuk mengambil nya." Aithan hendak mencari Darren namun Argani menahan tangannya.
"Ai, biarkan aku tetap di asrama ya? Aku akan tinggal di sini namun tak setiap hari."
"Kenapa?" tanya Aithan terlihat kecewa.
Argani memegang wajah Aithan. "Ai, ijinkan aku perlahan-lahan untuk bisa naik tangga. Aku belum terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Aku...."
Aithan memegang tangan Argani yang masih di pipinya. "Aku mengerti, sayang. Tapi malam ini kamu tidur di sini dulu ya? Kan kuliahnya juga nanti Senin."
Argani akhirnya mengangguk. Aithan jadi tersenyum senang. ia memeluk istrinya itu sambil mencium Argani, ia mengajaknya memasuki kamar.
Apartemen berlantai dua ini sejak masuk di lobby pun telah membuat Argani tercengang. Apalagi kamar Aithan yang ada di lantai paling atas apartemen ini. Di setiap lantai apartemen ini hanya memiliki 2 unit. Namun lantai atas justru di pakai semuanya oleh Aithan. Ada kolam renang dan fasilitas gym lagi.
Sedangkan kamar Aithan? Lebih mewah dari yang Argani bayangkan. Dengan perabotan nuansa khas hitam, putih, coklat tua. Terlihat sangat macho. Di satu dinding ada gambar pemain basket idolanya dan di dinding yang lain ada lambang club sepak bola Juventus.
"Kau mandilah! Aku sudah siapkan bajumu di walk in closet." kata Aithan sambil menunjuk sebuah pintu kayu berwarna putih yang menyatu dengan dinding kamar itu. "Kamar mandinya ada di sana!" Aithan menunjuk sebuah pintu kaca. Ia kemudian mencium dahi Argani sebelum keluar kamar.
Argani membuka pintu kayu yang berwarna putih itu. Ia langsung menelan salivanya saat melihat deretan baju, sepatu, ikat pinggang, jam tangan dan tas Aithan yang tertata rapih di rak dan laci yang ada. Lalu ia menemukan deretan baju perempuan, yang sesuai dengan ukurannya tergantung juga di sana. Ada sandal rumah dan beberapa juga sepatu sesuai dengan ukurannya.
Ia mengambil sebuah piyama dan sepasang baju dalam yang tersedia di sana lalu segera ke kamar mandi.
Kamar mandi di kamar Aithan ini memiliki pintu kaca yang digeser. Saat Argani masuk pun ia terkejut melihat kemewahan kamar mandi ini. Bak mandi yang besar, ada shower, dinding yang setengahnya di kelilingi kaca. Argani sampai bingung bagaimana harus mengoperasikan semua alat-alat ini. Terdapat juga deretan sabun, shampoo dan berbagai lulur yang kelihatannya belum pernah dibuka.
Ketika Argani keluar dari kamar mandi, Aithan sudah kembali berada di kamar. Pria itu pun terlihat sudah selesai mandi dan sudah ganti pakaian.
"Kamu mandi di mana?" tanya Argani lalu duduk di sofa.
Aithan yang sementara menyisir rambutnya tersenyum. "Di kamar mandi sebelah. Kamu mandinya lama sekali. Ingin mandi bersama, takutnya kamu pikir aku mesum."
Argani tertawa. "Aku lama di kamar mandi karena bingung bagaimana harus menyalahkan shower. Bagaimana harus memakai air panasnya. Sabun apa yang harus dipakai."
"Tahu begitu aku masuk saja ya tadi?" kata Aithan sambil mendekat dan ikut duduk di samping istrinya.
"Ai, mengapa ada baju-baju perempuan di dalam lemarimu? Bahkan ada dalaman yang sangat pas dengan aku. Sandal, sepatu bahkan lulur dan sabun khusus perempuan yang belum pernah dipakai. Apakah kamu yang menyiapkan ini semua?"
Aithan mengangguk. Seperti biasa, ia mengambil kedua tangan Argani dan menggenggamnya erat. "Sebelum kita ke Indonesia, aku sudah meyakinkan diriku untuk melamarmu. Aku sudah pesan gaun pengantinnya, jas ku, lalu membeli beberapa baju untukmu, juga sepatu dan sandal. Aku juga membeli sabun, shampo dan peralatan mandi perempuan."
"Mengapa kau melakukan semua itu? Kau kan belum tahu kalau aku akan menerimamu atau tidak."
Aithan mencium tangan Argani dengan lembut. "Aku hanya mengikuti kata hatiku, sayang. Kalaupun ternyata kau menolak, aku akan tetap menunggu. Walau pun sejujurnya aku akan sangat kecewa."
Kembali perasaan Argani dipenuhi rasa bahagia yang amat dalam karena Aithan terlihat sangat mencintainya. Dengan wajah berseri ia memeluk Aithan. Tentu saja Aithan menyambut pelukan itu dengan hati yang sama bahagianya.
"Kita sudah melalui perjalanan yang panjang. Sekarang tidur saja ya? Ini bahkan sudah jam 11 lewat." Aithan berdiri dan segera menarik tangan Argani. Saat perempuan itu berdiri, Aithan tiba-tiba mengangkat tubuhnya, menggendong dia ala bridal style.
"Ai.....!" Argani berteriak kaget.
"Aku belum sempat melakukan ini saat kita di Bandung, sayang. Makanya ingin lakukan sekarang. Kita kan pengantin baru."
"Dasar!" Argani memukul dada Aithan perlahan dan saat pria itu mulai berjalan, ia segera melingkarkan tangannya di leher Aithan.
Perlahan Aithan menurunkan tubuh istrinya, ia mengambil remote yang ada di atas nakas untuk mematikan lampu utama dan membiarkan lampu di samping kiri dan kanan ranjang masih tetap menyala.
"Ai...., ini foto aku kan? Ini fotoku yang hilang. Bagaimana ini bisa ada padamu? Kau mengikuti ku selama ini...." Argani tiba-tiba menjadi takut. Ia turun dari tempat tidur sambil memegang fotonya yang ada di atas nakas.
"Sayang...., kenapa kamu jadi takut padaku?" tanya Aithan sambil ikut turun dari ranjang. Ia mendekati Argani namun istrinya itu mundur beberapa langkah.
"Argani! Kamu kenapa?" Aithan terlihat jengkel dengan ketakutan Argani.
"Jelaskan mengapa foto ini bisa ada padamu! Kau seperti psikopat saja."
"Argani!" Aithan jadi marah. "Dengarkan penjelasan ku dulu."
"Baiklah." ujar Argani sambil tetap memasang jarak dengan Aithan.
"Kira-kira hampir dua tahun yang lalu, aku menemukan foto ini di dekat parkiran mobilku yang ada di kampus. Awalnya, aku sekedar memungutnya dan merasa kalau gadis di foto ini cantik. Aku mengambil dan membawanya pulang. Setiap kali aku melihat foto ini, aku semakin tertarik dan aku merasa kalau sudah jatuh hati pada gadis di foto ini. Aku mencoba mencari tahu siapa dirimu. Hampir semua fakultas ku datangi kecuali fakultas kedokteran karena aku tak pernah berpikir kalau kamu adalah calon dokter. Sampai akhirnya, setelah aku bertemu dengan Reza, aku melihatmu sedang duduk di bangku taman sambil belajar. Kamu tahu saat itu perasaanku sangat senang. Selama 4 bulan aku mencari keberadaan mu dan akhirnya bisa menemukanmu. Ingin rasanya aku memelukmu saat itu juga. Namun aku menahan semua rasa cintaku, aku ingin dekat denganmu secara alami. Jujur, aku yang meminta Darren untuk memasukan namamu di tim relawan ke Cina. Karena aku ingin semakin mengenal dirimu. Aku jatuh cinta padamu, Ar. Ini bukan obsesi gila yang membuatku menghalalkan secara cara untuk mendapatkan mu."
Argani masih diam saat mendengar penjelasan Aithan. Ia bingung.
"Ar....!" panggil Aithan sambil mendekat. "Tatap mataku. Lihat kalau semua yang kumiliki untukmu adalah sebuah ketulusan. Foto itu adalah awal aku tahu tentangmu. Aku yakin saat kamu kehilangan foto itu bukan karena kebetulan. Namun Tuhan sedang merencanakan pertemuan kita dengan cara yang unik. Jangan menganggap aku sebagai psikopat gila. Itu sangat menyakiti diriku."
Argani mengangkat wajahnya. Menatap mata Aithan yang sedang menatap matanya dengan pandangan yang sedikit berkaca-kaca. Hati Argani yang tadi takut langsung luluh. "Maafkan aku.....!" Argani langsung berlari dan memeluk Aithan sambil menangis.
"Seharusnya aku memang menceritakan foto itu saat kita mulai berhubungan. Aku justru melupakannya karena terlalu senang kau menerima cintaku." kata Aithan lirih sambil mengusap punggung istrinya. "Aku memang sangat jatuh cinta padamu, Ar. Namun jika saat itu kau menolak cintaku, aku pasti akan menerimanya walaupun sakit hati. Aku tak akan memaksanya. Karena aku tahu, cinta yang bertepuk sebelah tangan tak akan membawa akhir yang bahagia."
Argani melepaskan pelukannya. Ia kembali mendongak dan menatap suaminya. "Maaf ya, Ai. Aku tadi langsung shock dan berpikir aneh."
Aithan memegang kedua sisi wajah Argani. "Aku orang baik, Ar. Aku tak segila yang sempat kau bayangkan. Kau adalah hidupku, cintaku dan masa depan yang ingin ku raih dalam hidup ini. Aku tak akan pernah menyakitimu. Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Sebab jika itu terjadi, itu artinya kau sudah membunuhku." Aithan langsung mencium bibir Argani. Gadis itu pun langsung membalasnya dengan perasan yang sama. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk mengerti arti dari bahasa tubuh masing-masing. Karena setelah itu keduanya sudah dalam keadaan polos di atas ranjang untuk menuntaskan hasrat yang ada.
************
Sefiye menatap foto-foto kebersamaan Aithan dan Argani. Wajahnya terlihat ditekuk. Ia benci karena Darren membohonginya.
Sebagai kakak, Sefiye ingin Aithan tak menikah dengan sembarangan wanita. Sekalipun sebagai pangeran ketiga, Aithan tak terikat dengan aturan itu, namun Sefiye sudah terlanjur suka dengan putri Naysilla. Gadis itu berasal dari keluarga bangsawan. Aithan akan sangat cocok menikah dengannya. Makanya Sefiye sengaja mengirim mata-mata untuk mengawasi Aithan.Dan ternyata benar dugaannya. Aithan jatuh cinta pada si calon dokter yang adalah mahasiswa beasiswa. Jadi sudah jelas dari kasta mana gadis itu berada.
Sefiye ingin menyingkirkan semua penghalang yang akan menghalangi berkembangnya masa depan sang adik.
********
Ternyata si putri Sefiye biang keroknya.
Ada emak-emak yang mau ikut Amanda untuk memperkarakan Sefiye????
Salam manis ya.,.
Amanda