Follow Ig@rii.ena
Season.1
Tidak mendapatkan jawaban dari ibunya, saat menanyakan siapa ayah biologis dirinya.
Seorang anak laki-laki berusia lima tahun mencari ayahnya sendiri dengan menggunakan aplikasi kemiripan wajah, dari kalangan biasa, artis sampai kalangan pengusaha.
Hingga dia merasa yakin jika seseorang yang dilihatnya di suatu profil sebuah perusahaan memiliki wajah yang sangat mirip dengan dirinya, dan dia memiliki keyakinan kalau pria itulah ayahnya, lalu anak laki-laki itu datang sendiri untuk menemui pria yang di duga ayah biologisnya.
Apakah pria itu benar ayahnya atau hanya sekedar mirip saja ? Bukankah di dunia ini banyak yang namanya kebetulan ?
Season, 2
Biru, pria muda berusia dua puluh tujuh tahun, pria dengan ketampanan yang tidak diragukan lagi karena darah yang mengalir ditubuhnya lebih dominan wajah ayahnya daripada wajah ibunya.
Bertemu dengan dua gadis kecil yang rusuh, dan sayangnya tidak tahu siapa dirinya dengan menitipkan bekal makanan untuk karyawan di perusahaan milik keluarganya.
Bagaimana kisah seru kedua gadis centil yang bertemu dengan pria-pria dewasa yang salah satunya adalah Om-nya Biru sendiri?
Ikutin terus kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Memandikan
Bella membuka Kedua matanya karena merasa silau saat sinar matahari sudah masuk ke dalam kamarnya lewat celah kain gorden, Bella berusaha mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam.
Bella kembali memejamkan kedua matanya.
Dua kali dia melakukannya, enam tahun yang lalu, dia di bawah pengaruh obat yang diberikan oleh ibu tirinya dan malam tadi, gantian Alard yang melakukannya dibawah pengaruh obat juga.
Apakah ini cuma rencana dari dirinya ? Siapa yang yang ingin menjebaknya ?
Huh, pertanyaan bodoh. Tentu saja banyak perempuan-perempuan yang ingin menjadi istrinya.
Ketika Bella hendak menggerakkan badannya, Bella terasa badannya terasa sakit-sakit semua, saat mulutnya hendak mengeluarkan erangan, terlihat Alard yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai jubah mandinya.
" Kamu sudah bangun, Bel ? "
Bella tidak menjawab, hanya saja dia tidak mampu untuk bergerak karena area bawah tubuhnya serasa sangat sakit sekali.
Alard mengerti lalu langsung menggendong dan membawanya Bella ke kamar mandi.
" Turunkan aku ! Aku bisa mandi sendiri "
" Kau tidak akan mampu berdiri, biar aku membantumu "
Bella menggeleng gelengkan kepalanya, saat ini saja dirinya sudah malu setengah mati.
Tubuhnya yang polos hanya ditutupi oleh sarung bantal hotel yang Bella buka tadi secara terburu-buru.
" Aku tidak selemah itu, turunkan ! "
Alard tidak memiliki pilihan lain selain menurunkan Bella di dalam bak mandi lalu memandikannya, dia tidak mau mendengar protesan Bella yang menolak.
" Aku bisa mandi sendiri, aku mohon keluarlah ! "
" Bel, tidak ada yang perlu kau tutupi ! Aku sudah melihat semuanya, setiap inci dan berapa ukurannya sudah terekam di sini "
Alard menunjuk ke kepalanya.
Lalu Alard membersihkan tubuh Bella dengan lembut dan hati -hati, Alard bisa melihat bagaimana liarnya dirinya malam tadi memperlakukan Bella.
Dari leher, dada hingga ke perut Bella semua terdapat tanda kissmark termasuk di area paha dalam Bella.
Entah kenapa, hanya melihat Bella saja, hormon di tubuh Alard sudah beraksi dengan cepat. Kalau tidak mengingat kondisi Bella saat ini yang terlihat lemah, Alard pasti sudah melakukannya lagi dan itu atas dasar kesadaran yang penuh, bukan karena pengaruh obat.
Bella juga melihat kondisi kulitnya yang terlihat sangat mengerikan.
" Maaf ! "
Alard berucap pelan, apalagi ketika area intimnya di basuh oleh air, Bella tidak kuasa untuk menjerit.
" Aku akan memakaikan salepnya nanti "
" Tidak ! "
Bella menggeleng-gelengkan kepalanya kuat.
" Kamu tidak bisa melihatnya, maka, patuhilah, Bel ! Aku yang akan mengoleskannya, karena aku yang membuat seperti itu "
Tidak mau dibantah, Alard segera membalut tubuh polos Bella dengan handuk setelah Alard selesai membersihkan tubuh Bella, lalu menggendong Bella kembali dan membawanya ke atas tempat tidur.
Bella ingin menyembunyikan seluruh tubuhnya masuk kedalam bumi, dia benar-benar sangat malu. Melihat wajah Alard yang datar tanpa ekspresi saat mengoleskan salep pada area pribadinya, Bella hampir tidak percaya.
Pria berkuasa seperti Alard yang memiliki karyawan ribuan, dan beberapa orang pengawal yang selalu mendampingi dirinya tanpa terlihat mencolok, kecuali Kay dan satu orang pengawal sekaligus sopirnya. Saat ini tengah mengoleskan salep dengan sangat hati-hati pada area pribadi Bella.
Setelah selesai, dia hanya mengelap ujung jarinya dengan dua lembar tissue, kemana penyakit Mysophobia yang dimilikinya sejak kecil ? Pada Bella itu terkecuali.
Pakaian Bella tadi malam juga sudah tidak bisa
dikenakan lagi, tadi pagi Kay sudah mengantarkan semua yang dibutuhkan oleh bos-nya.
" Siapa yang memberimu obat malam tadi, apakah mantan pacarmu atau kekasihmu yang lain ? "
Bella memberanikan diri bertanya sembari memakai dress yang ada di dalam paper bag.
" Bukan siapa-siapa, hanya seseorang dan aku tidak memiliki keduanya seperti yang kamu sebutkan tadi "
Alard berjalan ke pintu karena pesanan sarapan paginya sudah datang.
" Sekarang makanlah ! Setelah itu kita pulang "
Tidak bertanya apa-apa lagi, Bella memakan sarapannya dibawah tatapan mata Alard yang terus tertuju pada dirinya.
...******...
Kasandra menggeliat malas mencoba mengumpulkan semua kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.
Kedua matanya membulat dengan sempurna mengingat apa yang terjadi tadi malam ketika makan malam bersama tuan Alard, bibir Kasandra membetuk senyuman kemenangan. Apalagi melihat seprai hotel yang acak-acakan seperti terkena badai tornado.
Tidak ada tanda tanda kehadiran orang lain di kamar itu selain dirinya, tetapi Kasandra tidak mempermasalahkan karena misinya sudah tercapai. Walaupun badannya terasa sakit semua, Kasandra justru merasa bahagia karena itu membuktikan bahwa malam tadi keduanya bergulat dengan sangat panas.
Setelah membersihkan dirinya di kamar mandi, Kasandra pulang ke rumahnya.
" Bagaimana, San ? Sesuai rencana ? "
Tante Rosa yang menunggu kepulangan Kasandra dirumah bertanya dengan tidak sabar.
" Tentu saja, Ma. Memangnya ada yang bisa menolak pesona seorang Kasandra ? Ini saatnya rasa sakit hati Mama karena perbuatan perempuan itu akan di bayar oleh anaknya sendiri, aku akan merebut suaminya dengan cara yang sama "
" Kau yakin tuan Alard tidak menggunakan pengaman ? "
" Yakin, Ma "
Tante Rosa menatap wajah Kasandra dengan tatapan sedikit ragu, bagaimana Kasandra bisa tahu Tuan Alard tidak memakai pengaman.
" Ma, usiaku sudah hampir tiga puluh tahun, tentu saja aku tahu cairan semen pria beraroma apa dan berwarna apa, tadi aku bisa melihat cairan itu mengotori alas kasur hotel dan ketika aku buang air kecil. Haish, Mama ini, membuat aku malu saja "
Kasandra memilih duduk di ruang keluarga karena berdiri terlalu lama membuat kakinya masih gemetaran.
Tante Rosa mengikuti Kasandra dari belakang.
" San, katakan pada Mama ! Bagaimana kau tahu cairan itu berwarna dan beraroma apa kecuali kau pernah melakukan sebelumnya sehingga kau tahu dengan pasti "
Tante Rosa menatap tajam tepat di manik mata Kasandra yang tersentak kaget.
" Aku...."
" Tidak ada penjelasan yang lebih rinci selain seseorang yang pernah melihat atau melakukannya, jangan kau kira Mama tidak tahu apa- apa. Dengan siapa kau pernah melakukannya ? Katakan pada Mama ! "
Wajah Tante Rosa terlihat gusar.
" Ma, tuan Alard tidak akan mungkin tahu jika aku sudah tidak perawan lagi. Eh, tidak, maksudku dia tidak akan akan bisa menghindar dari tanggung jawabnya jika aku hamil atau reputasi dia akan hancur "
Plak.
Tante Rosa memukul kepala Kasandra.
" Kau kira tuan Alard itu seperti Todi, kekasihmu yang kere itu ? Dia akan melakukan segala tes pada anak yang akan kau kandung bodoh ? Itu juga kalau kau hamil, kalau tidak ? Bagaimana kau memiliki sebuah bukti kalau tuan Alard yang sudah melakukan itu pada dirimu ? Kenapa aku bisa memilik anak sebodoh dirimu, Kasandra ? "
Plak, telapak tangan tante Rosa kali ini mendarat di bahu Kasandra dengan gemas.
" Kalau aku hamil ini pasti anaknya, Ma, karena aku sudah sangat lama ketika melakukannya dengan Todi "
Suara Kasandra melemah di ujung kalimat.
" Kenapa bisa kau serahkan kesucian-mu pada Todi ? Kau benar-benar bodoh Kasandra ! "
Tangan Tante Rosa sudah ingin menjambak rambut anaknya tapi tidak jadi.
" Kami saling mencintai, Ma "
" Cinta, kau makanlah cinta itu ! Cinta tidak bisa membuat kita kaya, kau lihat Bella sekarang ? Hanya karena malam itu kita menjualnya, dia bisa jadi istri pria hebat seperti tuan Alard "
" Sudah, istirahatlah sana ! Agar benih yang ada di perutmu bisa berkembang dan menjadi janin, lalu kita akan pergi ke kantor Raimond company untuk meminta pertanggung jawaban "
Bibir Tante Rosa membentuk senyuman licik, lalu bangun dari duduknya dan melangkah ke luar.
" Mama mau kemana ? "
" Ke butik, memang mau kemana lagi ? "
...****************...
udah candu sama karya nya mak riie 🤭