Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Tiga hari kemudian, Nafiza yang sedang membantu Umi menyiapkan sarapan dikejutkan oleh suara bel rumah yang berdering. Siapa yang bertamu sepagi ini? Ia mengernyitkan kening.
"Biar Umi yang lihat," kata Umi Maryam sambil mengelap tangannya dengan serbet dan bergegas menuju pintu depan.
Nafiza kembali fokus mengaduk adonan nasi goreng, tapi pikirannya melayang-layang. Ia menduga-duga siapa yang datang sepagi ini. Apa mungkin ... Zayn? Jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan. Ingatannya kembali pada percakapan mereka di rumah sakit, saat Zayn dengan berani menyatakan niatnya untuk melamar setelah masa Iddahnya selesai.
"Nafiza, ada Zayn di depan," suara Umi Maryam memecah lamunannya.
Nafiza tersentak. Pipinya langsung merona merah. "Zayn? Ada apa, Umi?" tanyanya, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Katanya mau menjemputmu untuk cek up ke rumah sakit," jawab Umi Maryam, tersenyum penuh arti.
"Hah? Cek up?" Nafiza pura-pura lupa. Padahal, ia memang ingat hari ini jadwal kontrolnya ke rumah sakit.
"Iya, Zayn sudah janjian sama dokter," lanjut Umi Maryam.
"Tapi Umi, aku kan bisa nyetir sendiri," protes Nafiza, merasa tidak enak merepotkan Zayn.
"Sudah, tidak apa-apa. Zayn sudah bersedia mengantarmu, kenapa ditolak? Kamu ini," Umi Maryam menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. "Lagipula, Umi percaya sama dia."
Nafiza menghela napas pasrah. Ia tahu tak mungkin bisa membantah Uminya. "Baiklah," jawabnya akhirnya.
"Nah, gitu dong. Sana, ganti baju dulu. Pakai yang rapi, ya," Umi Maryam mendorong Nafiza pelan ke arah kamarnya.
Dengan langkah sedikit malas, Nafiza menuju kamar. Ia membuka lemari dan memilih gamis berwarna kalem dengan motif bunga kecil-kecil. Setelah selesai berpakaian, ia mematut diri di depan cermin dengan jantung berdebar-debar.
Setelah merasa cukup sempurna akhirnya ia keluar dari kamarnya.
"Assalamualaikum," sapanya saat sudah di ruang tamu.
Zayn, yang sedang duduk santai di ruang tamu sambil mengobrol akrab dengan Abi Nafiza, langsung menoleh. Ia terpana melihat Nafiza yang terlihat begitu anggun dalam balutan set gamisnya, meskipun hanya terlihat matanya aja.
"Waalaikumsalam," jawab Zayn, matanya tak berkedip.
"Sudah siap, Nak?" tanya Abi-nya, tersenyum hangat.
"Sudah, Abi," jawab Nafiza, ikut tersenyum.
"Yasudah, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa berdoa," pesan Abi Nafiza.
"Siap, Abi," jawab Zayn, mengangguk.
"Kami pamit dulu ya, Abi, Umi," Nafiza mencium tangan kedua orang tuanya. Lalu di susul Zayn yang juga melakukan hal yang sama.
"Iya, hati-hati ya, Nak," balas Umi Maryam.
Saat mereka keluar rumah, Zayn membukakan pintu mobil untuk Nafiza. Nafiza tersenyum berterima kasih dan masuk ke dalam mobil. Zayn kemudian berputar dan duduk di kursi pengemudi.
Selama perjalanan, Nafiza menatap pemandangan di luar jendela. Ia merasa sedikit gugup berada di dekat Zayn.
"Kamu mau dengar musik?" tanya Zayn, memecah keheningan.
"Terserah kamu aja," jawab Nafiza singkat.
Zayn akhirnya menghidupkan musiknya dan memilih memutar lagu-lagu Islami. Suasana di dalam mobil menjadi lebih tenang.
Sesampainya di rumah sakit, Zayn langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang strategis. Ia kemudian turun dan membukakan pintu untuk Nafiza.
"Sudah sampai," ujarnya sambil tersenyum.
Nafiza membalas senyumnya dan turun dari mobil. Mereka berjalan berdampingan menuju gedung rumah sakit.
Saat tiba di bagian pendaftaran, Zayn dengan percaya diri menghampiri petugas. Dengan senyum ramah dan beberapa patah kata, ia berhasil mendapatkan nomor antrian Nafiza dengan cepat. Bahkan, ia mendapatkan nomor antrian yang lebih awal dari perkiraan.
"Sudah beres," kata Zayn, kembali menghampiri Nafiza. "Kita tinggal tunggu sebentar lagi."
Nafiza terheran-heran. "Kok bisa secepat itu? Antriannya kan biasanya panjang," tanyanya penasaran.
Zayn hanya tersenyum misterius. "Ada deh caranya. Yang penting kamu nggak perlu lama-lama nunggu," jawabnya, membuat Nafiza semakin penasaran.
Mereka kemudian duduk di ruang tunggu. Zayn menawarkan Nafiza untuk membaca majalah atau minum sesuatu, tapi Nafiza menolak. Ia memilih untuk membaca surat Ar Rahman di ponselnya. Zayn pun ikut membacanya menemani Nafiza.
Tidak lama kemudian, nama Nafiza dipanggil oleh petugas. Mereka berdua segera menuju ruang periksa dokter.
Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa kondisi Nafiza sudah semakin membaik.
Ia hanya perlu menjaga pola makan dan minum obat secara teratur.
"Alhamdulillah," ucap Nafiza lega.
"Kalau begitu, kita ambil resep obatnya dulu," kata Zayn.
Mereka berjalan menuju apotek dan dengan mudah mendapatkan obat yang diresepkan. Zayn kembali menunjukkan kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain, membuat proses pengambilan obat berjalan lancar.
"Semua sudah selesai. Sekarang kita pulang," kata Zayn, memimpin jalan menuju mobil.
Selama perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa semakin akrab. Nafiza mulai merasa nyaman dengan kehadiran Zayn. Ia tidak lagi merasa gugup seperti sebelumnya.
"Zayn," panggil Nafiza pelan.
"Ya?" jawab Zayn, menoleh ke arahnya.
"Terima kasih ya, sudah menemaniku hari ini," ucap Nafiza tulus.
"Sama-sama, Nafiza. Aku senang bisa menemanimu," jawab Zayn. "Sebenarnya, ada hal yang sangat ingin kutanyakan."
Nafiza menoleh, menatap Zayn dengan tatapan penuh tanya. "Apa itu?"
Zayn menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Saat di rumah sakit tempo hari, aku sudah mengungkapkan niatku untuk melamarmu setelah masa Iddahmu selesai. Sekarang ... apakah kamu bersedia menerimaku?"
Nafiza terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan datang, namun tetap saja ia merasa gugup.
"Zayn ..." gumam Nafiza lirih.
"Aku mengerti jika kamu masih ragu. Aku hanya ingin tahu jawabanmu," kata Zayn, menatap Nafiza dengan penuh harap. "Aku ingin membangun rumah tangga bersamamu, kita sama-sama belajar menuju Jannah-Nya. Apakah kamu bersedia?"
Bersambung ....