Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Solusi
Malam telah tiba, seperti janji yang telah Zhang Wei katakan sebelumnya dia akan mengajarkan Mia di waktu malam hari. Dia berjalan menyusuri taman. Dia menengadahkan pandangannya ke langit. Dia berjalan mundur sambil tertawa kecil.
“Ahaha lucu sekali bentuk awan itu. Mengapa terlihat seperti Johan.”
Dia terus berjalan mundur.
*bag
Dia menabrak sesuatu.
“Apa yang kau lakukan malam-malam begini?”
Mia membalikan badannya, ternyata itu Zhang Wei.
“Ternyata kau, aku ingin pergi ke kamarmu tapi aku melihat awan itu. Awan itu bentuknya lucu sekali.”
“Awan yang mana?”
Mia melihat ke atas, awan itu telah hilang.
“Tadi ada awan yang bentuknya mirip Johan.”
“Zhou.. han? Siapa itu Zhou Han?”
“Hah? Zhou Han? Bukan Zhou Han tapi Johan. Johan itu kucing peliharaan ku.”
“Oh.”
“Kau sendiri mengapa ada disini?”
“Ini kediaman ku, kemanapun aku pergi terserah padaku.”
“Kau benar juga.”
Zhang Wei melangkah pergi.
“Zhang Wei, kau lupa?”
“Lupa? Lupa apa?”
“Kau kan bilang akan mengajariku menulis dan membaca karakter Hanzi.”
“Ikutlah denganku.”
“Kemana?”
“Ke ruang baca.”
Zhang Wei mengajari Mia menulis dan membaca karakter Hanzi. Zhang Wei mengajari Mia dengan serius.
“Mengapa karakter Hanzi sulit di hafalkan dan ditulis?...”
Mia mengeluh. Zhang Wei menyentil pelan kening Mia.
“Cepat hafalkan, kau masih harus menepati janjimu padaku.”
“Tapi ini terlalu sulit…”
“Kau harus belajar.”
Mia terdiam sejenak, dia tampaknya memikirkan sesuatu.
“Zhang Wei… bagaimana kalau kau yang menulis saja dan aku yang menyebutkan setiap detailnya?”
“Bukankah itu sama saja dengan aku menjadi penulisnya?”
“Hehe, aku malas belajar… ku mohon padamu ya…”
Mia membujuk.
“Tidak.”
“Dasar kau manusia menyebalkan.”
“Kau ingin ingkar dengan perkataanmu?”
“Tidak, tidak.”
Mia lanjut belajar.
Setelah selesai belajar, Mia kembali ke kamarnya. Dia tidur di sebelah Dania dengan wajah yang letih. Mereka tertidur pulas.
“Mengapa dingin sekali?”
Mia merasakan dingin yang amat dingin, dia enggan membuka matanya.
“Iya, kok jadi dingin banget ya?”
Dania juga merasakan yang sama.
*tik tik
Bunyi rintik air terdengar.
Mia dan Dania membuka mata.
“Eh! Hujan!”
Mereka langsung terkejut saat melihat hujan yang turun dengan lebat telah membasahi tubuh mereka.
“Ayo, bangun!”
Dania membantu Mia bangun. Ternyata Mia dan Dania telah kembali ke tempat dimana mereka melihat awan hitam. Ya, mereka berada di parit, tubuh mereka di penuhi oleh lumpur.
Mereka berdua langsung mendirikan motor yang tumbang dan mencoba menghidupkan motor itu. Namun, motor itu tak mau hidup.
“Gimana ni?”
“Kita dorong ajah.”
“Okelah kita dorong ajah.”
“Kita udah kembali, kita harus cepet-cepet balik ke rumah sebelum awan hitam itu muncul lagi.”
“Kau benar.”
Di tengah derasnya hujan mereka berjalan sambil mendorong motor dengan tergesa-gesa.
“Ya Allah! Kalian kenapa penuh lumpur begitu?!”
Ibu Dania bertanya.
“Kami jatuh tadi ,mah.”
“Jatuh dimana?”
“Di parit, di dekat sawah om Herman.”
“Ya ampun… ada-ada saja kalian.”
Mereka segera mandi dan berganti pakaian.
“Kita lagi-lagi masuk ke dalam mimpi.”
“Jujur saja, walaupun kita sudah terbiasa tapi rasanya masih melelahkan.”
“Ya, keadaan yang tiba-tiba berubah membuat kita sedikit merasa aneh.”
“Apa kita pergi ke orang pintar ajah ya? Supaya kita tau apa yang terjadi sama kita?”
“Emang kau percaya ama dukun?”
“Enggak sih, tapi kita boleh coba.”
“Okelah, kita coba. Tapi kalau bisa kita nanya ke ustadz ajah jangan ke dukun, musyrik.”
“Oke, oke.”