Ujian Nasional sebentar lagi, namun Nelam sudah hamil. Dia tidak mengenali pria yang menghamilinya.
'Mereka suci dan aku penuh dosa'-Nelam.
Dibully, dihina, diremehkan. Bahkan teman dekatnya sendiri yang telah menjebaknya. Gara-gara dia, Nelam dihamili oleh pria tidak bertanggung jawab.
Akan kah Nelam mempertahankan bayinya dan apakah takdir mempertemukannya dengan pria yang sangat dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Nunna_mphi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Satu bulan sudah sang Ibu meninggal. Rasa rindu semakin melandanya. Nelam memeluk poto Ibu dan Ayahnya yang berpoto berdua dengan senyum kebahagiaan.
"Nelam kepengen liat senyum Ibu sama Ayah lagi, Nelam kangen kalian, hiks.. hiks.."
Tak lama Reno datang menghampiri Nelam, dia duduk di sisi ranjang membawakan plastik berisi makanan. "Kak, coba tebak nilai matematika ku berapa?" tanyanya membuat Nelam penasaran.
"Empat puluh lagi?"
Reno menggeleng lalu memberikan kertas ulangannya. Nelam membulatkan matanya senang.
95
Angka itu membuat Nelam terharu. Dia memeluk adik semata wayangnya. "Kakak bangga sama kamu. Makasih udah bikin kakak senang."
Reno menatap Nelam dengan tatapan sendu, "Kakak masih jadi penyanyi dangdut?" Kata Reno.
Nelam mengusap kepala adiknya, air mata lolos begitu saja dari matanya, "Yang terpenting Reno bisa sekolah."
"Kak, makasih. Reno janji gak bakal bikin kakak kecewa lagi. Reno mau nyari kerja juga."
"Tugas Reno cuma belajar. Jangan mikirin kerja!"
"Yaudah, ini Reno bawain bakso buat Kakak, Wangi kan," Reno menyodorkan plastik kepada Nelam, namun Nelam malah menjauhkan plastik itu dan menutup mulutnya. Kenapa dengan Nelam?
Nelam berlari dengan cepat menuju toilet karena ingin muntah.
"Aku mual banget. Mungkin aku masuk angin aja." Nelam meyakinkan.
Nelam berjalan menuju kamarnya karena tiba-tiba dia pusing dan tidak enak badan. Merehatkan dirinya cukup baik, namun setelah membaringkan badannya, Nelam malah ingin muntah lagi. Dia langsung berlari menuju toilet.
Reno mengintip Nelam yang sedang muntah-muntah. Namun Reno malah merasa risau dengan keadaan Nelam, dia memasuki kamar Nelam lalu memijat leher Nelam yang muntah di kamar mandi.
"Ayo ke dokter, Kak."
"Enggak Ren, Kakak cuma kelelahan aja."
"Yaudah Reno mau bantuin Pak Tatang bangun rumah, lumayan duitnya buat bayar SPP."
Nelam menggeleng lalu membersihkan mulutnya dengan handuk. "Enggak Ren, masa adik kakak yang ganteng ini jadi kuli bangunan, nanti jadi item."
"Enggak papa Kak," ujarnya. "Reno pamit, ya."
Nelam berjalan menuju kamarnya, lalu duduk di sisi ranjang, pikiran buruk bergelayut di otaknya saat dia melihat kalender di atas nakas.
"Aku telat menstruasi?"
Keringat dingin membuat Nelam cemas, dia memakai sweeter, lalu berjalan keluar kamar. Nelam berjalan menuju apotik yang jaraknya tidak jauh dari kontrakannya. Nelam berjalan sembari menahan mual.
Nelam yang cantik itu selalu digoda oleh para lelaki di kompleks itu, dia berjalan cepat saat melewati beberapa pria yang nongkrong di pinggir jalan.
"Tuh Si Kembang kompleks."
"Makin cantik aja dia."
"Heh Nelam!"
"Cantik-cantik sombong!"
Nelam berhenti di depan apotik Bu Ratna, Ibu dua anak itu menyapanya karena memang Nelam sudah langganan membeli obat saat Ibunya sakit dulu.
"Sore Neng."
"Sore Bu."
"Mau obat apa Nel?"
Nelam menggigit bibir bawahnya. "Bu, ada test pack gak?"
Bu Ratna mengerutkan keningnya. "Buat siapa Nel?"
"Eum, ada gak Bu? Nelam beli satu."
"Ada, bentar ya."
"Gak usah diplastikin Bu."
Bu Ratna memberikan benda kecil itu lalu Nelam memberikan uangnya sama Bu Ratna.
"Makasih Bu."
"Sama-sama Nel."
Nelam menerima benda kecil itu, kemudian berbalik badan, namun seorang wanita menyenggolnya membuat test pack-nya jatuh, Nelam segera memungutnya, lalu tengadah melihat seorang wanita yang tersenyum miring, Nelam segera memasukan benda itu pada sweeter-nya.
"Udah gak punya siapa-siapa, hamil, gak punya suami, miskin lagi," cibirnya.
"Aku gak hamil."
"Lon tuh paling jago ngebantah, dasar murahan, rasain hamil nanti di keluarin."
"Aku lagi males ladenin kamu."
Nelam pergi begitu saja meninggalkan Vera.
***
.
alat dan mesin USG nya yg salah apa memang takdir di tangan autor nihh